Belajar dari Yogyakarta, Komisi IV Dorong Penguatan Tata Kelola Cagar Budaya

Yogyakarta — Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Selatan menggali strategi penguatan regulasi dan tata kelola pelestarian budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai bahan pembelajaran untuk diterapkan di Kalimantan Selatan.

Kunjungan kerja ke Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan DIY, Senin (28/9), menjadi kesempatan bagi jajaran Komisi IV untuk melihat secara langsung bagaimana pemerintah daerah mengelola kawasan cagar budaya melalui regulasi dan kelembagaan yang terintegrasi.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, Gusti Iskandar Sukma Alamsyah

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, Gusti Iskandar Sukma Alamsyah mengatakan, Yogyakarta memiliki pengalaman yang dapat menjadi referensi bagi Kalsel dalam memperkuat upaya pelestarian budaya.

Menurutnya, Kalimantan Selatan juga memiliki kekayaan budaya dan alam yang tidak kalah besar, sehingga perlu didukung dengan kebijakan dan tata kelola yang mampu menjaga keberlangsungannya.

“Melihat Yogyakarta sebagai daerah yang sangat kental dengan akar budayanya, kami menilai Kalsel memiliki banyak potensi budaya khas yang harus terus kita angkat dan lestarikan,” kata Gusti Iskandar.

Ia menilai salah satu hal penting yang dapat dipelajari adalah bagaimana Yogyakarta membangun wadah pengelola khusus untuk menangani kawasan cagar budaya secara lebih terpadu.

Di Yogyakarta, Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya atau BPKCB berperan mengoordinasikan perencanaan, konservasi, pemanfaatan hingga pengawasan kawasan cagar budaya.

Dengan pola pengelolaan tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi Kalsel dalam menyusun formulasi kebijakan yang sesuai dengan karakteristik daerah.

Foto bersama

“Kita melihat di Yogyakarta sudah ada badan pengelola khusus yang menangani cagar budaya dan cagar alam secara terpadu. Ini tentu menjadi salah satu hal yang bisa kita pelajari untuk Kalsel,” jelasnya.

Gusti Iskandar menyebut, Kalsel memiliki sejumlah potensi yang perlu mendapatkan perhatian serius, termasuk Geopark Meratus.

Keberadaan Geopark Meratus, tidak hanya berkaitan dengan kekayaan geologi dan alam, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya yang berkembang di kawasan tersebut.

Karena itu, pengelolaan potensi tersebut membutuhkan regulasi yang kuat dan tata kelola yang jelas agar upaya pelestarian dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan untuk kepentingan masyarakat.

“Hasil kunjungan ke Yogyakarta dapat menjadi masukan bagi DPRD Kalsel dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ke depan,” harapnya.

Gusti Iskandar menambahkan, penguatan regulasi tidak hanya menjaga keberadaan cagar budaya, tetapi juga memastikan potensi budaya dan kekayaan alam Kalsel dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Melalui pembelajaran dari Yogyakarta, Komisi IV DPRD Kalsel mendorong agar pelestarian budaya di daerah dapat dilakukan secara lebih terarah, terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat pengembangan potensi Geopark Meratus sebagai salah satu kekayaan penting Kalimantan Selatan.

“Potensi yang kita miliki harus terus kita angkat dan lestarikan. Tentunya ini membutuhkan dukungan regulasi dan tata kelola yang baik,” pungkasnya. (ADV-NHF/RIW/EPS)

Target 196 Medali, Dispora Optimis Tercapai di Akhir Tahun

Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel terus mengejar peningkatan prestasi olahraga daerah. Hingga September 2026, kontingen cabang olahraga yang difasilitasi melalui program Pelatda telah menyumbangkan 66 medali, terdiri dari 24 emas, 20 perak dan 22 perunggu.

Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hapiz, melalui Kepala Seksi Pembibitan dan Tenaga Keolahragaan, Rijal Hamid mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari keikutsertaan atlet Kalsel dalam berbagai kejuaraan nasional (Kejurnas) maupun event terbuka.

Ket foto : Kasi Pembibitan dan Tenaga Keolahragaan Dispora Kalsel Rijal Hamid

“Alhamdulillah untuk tahun 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dispora memfasilitasi Pelatda cabang olahraga yang ada di Kalimantan Selatan. Saat ini sudah menyumbangkan sebanyak 66 medali, terdiri dari 24 emas, 20 perak dan 22 perunggu,” ujar Rijal Hamid, Selasa (29/9).

Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah indikator kinerja utama (IKU) Dispora Kalsel yang ditetapkan sekitar 198 medali.

Karena itu, Dispora masih membuka peluang penambahan medali dari sejumlah cabang olahraga yang dijadwalkan bertanding hingga penghujung tahun.

“Kami menyadari memang ini masih belum sesuai dengan target yang diinginkan. Tetapi kita akan tetap terus melakukan kolaborasi dengan cabang olahraga, Pemerintah Provinsi, KONI dan semua yang terkait untuk peningkatan prestasi dan medali Kalimantan Selatan ke depannya,” katanya.

Rijal menjelaskan, keterbatasan anggaran turut memengaruhi jumlah cabang olahraga dan atlet yang dapat difasilitasi.

Dengan efisiensi anggaran yang tersedia, Dispora memprioritaskan cabang olahraga yang dinilai memiliki peluang memberikan kontribusi prestasi.

“Dengan efisiensi anggaran yang tersedia, akhirnya kita hanya bisa mengirimkan cabang olahraga yang memang prioritas untuk berangkat dan mendapatkan hasil medali,” jelasnya.

Menurutnya, dukungan pemerintah tidak semata-mata diarahkan pada jumlah atlet yang diberangkatkan, tetapi juga pada peluang capaian prestasi dari setiap keikutsertaan.

Pada 2026, terdapat sekitar 200 atlet yang mendapat dukungan dalam anggaran program tersebut.

Rijal menegaskan, pencapaian medali tidak dapat dihitung secara sederhana berdasarkan jumlah atlet yang dikirim.

Setiap cabang olahraga memiliki nomor pertandingan, tingkat persaingan dan peluang medali yang berbeda.

“Harapan kami dengan sisa bulan menuju akhir tahun ini, ada beberapa cabang olahraga yang akan bisa menyumbangkan beberapa medali supaya IKU Dispora Kalimantan Selatan bisa tercapai,” tuturnya.

Dispora Kalsel pun akan terus mendorong kolaborasi dengan KONI dan pengurus cabang olahraga untuk mengoptimalkan sisa kalender pertandingan 2026.

Tambahan medali dari cabang olahraga yang masih bertanding diharapkan dapat mempersempit selisih capaian terhadap target IKU.

“Walaupun memang masih jauh dari standar, kita akan terus berupaya. Karena kalau kita mengirim 200 atlet, bukan berarti 200 atlet tersebut bisa mendapatkan medali,” pungkasnya. (DISPORAKALSEL-SRI/RIW/EPS)

Kunjungi Diskominfo, Mahasiswa Poliban Dalami Wawasan Keamanan Siber dan Informasi

Banjarbaru – Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika (TI) Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) mendapat wawasan tentang keamanan siber saat mengunjungi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (30/9).

Kunjungan yang berlangsung di Aula Diskominfo Kalsel tersebut dipimpin Koordinator Program Studi Teknik Informatika Poliban, Fuad Sholihin, dan disambut Kepala Diskominfo Kalsel, Muhamad Muslim yang diwakili Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi, Sucilianita Akbar.

Sucilianita mengatakan, kunjungan tersebut menjadi ruang berbagi wawasan antara dunia pendidikan dan pemerintah, khususnya terkait keamanan siber serta pengelolaan informasi di era digital.

“Alhamdulillah, hari ini dosen dan mahasiswa dari Poliban berkunjung ke Diskominfo Kalsel. Ini menjadi ruang untuk berbagi wawasan antara dunia pendidikan dan pemerintah, khususnya terkait keamanan siber dan pengelolaan keamanan informasi,” ujarnya.

Menurutnya, keamanan siber saat ini menjadi tantangan yang perlu dipahami generasi muda, terutama mahasiswa yang nantinya akan menjadi sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.

“Cyber security sekarang menjadi sebuah tantangan di era digital. Keamanan informasi harus terus kita gaungkan kepada anak muda, khususnya mahasiswa yang nantinya akan menjadi SDM dan mengisi kebutuhan di bidang teknologi informasi,” katanya.

Sucilianita menambahkan, mahasiswa Teknik Informatika memiliki peran penting dalam penerapan keamanan informasi ketika nantinya terjun ke dunia kerja, termasuk di lingkungan pemerintahan.

“Generasi seperti mereka inilah yang nantinya akan memberikan dan menerapkan keamanan informasi dalam mengelola data di era digital saat ini,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan, Diskominfo Kalsel terbuka terhadap peluang kerja sama dengan lembaga pendidikan dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi.

“Diskominfo Kalimantan Selatan terbuka untuk bekerja sama dengan lembaga pendidikan maupun pihak lainnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Program Studi Teknik Informatika Poliban, Fuad Sholihin mengatakan, kunjungan ke instansi merupakan bagian dari upaya memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa di luar lingkungan kampus.

Menurut Fuad, setiap tahun Poliban melaksanakan kuliah umum maupun kunjungan ke berbagai instansi untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memberikan gambaran mengenai dunia kerja sesuai bidang keilmuan.

“Setiap tahunnya kami melaksanakan kuliah umum dan kunjungan ke instansi. Setiap instansi yang kami datangi memberikan pengalaman khusus kepada mahasiswa yang nantinya dapat diterapkan di kampus maupun setelah mereka lulus,” ungkapnya.

Ia menilai kunjungan ke Diskominfo Kalsel memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung penerapan teknologi informasi di lingkungan pemerintahan.

“Minimal mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana penerapan di lapangan. Apalagi hal ini sangat berkesinambungan dengan jurusan mereka, sehingga mereka mendapatkan bayangan setelah lulus, terutama di bidang teknologi dan informasi,” katanya.

Fuad berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat silaturahmi sekaligus membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan antara Poliban dan Diskominfo Kalsel.

“Kami berharap silaturahmi ini terus berjalan dan bisa berkembang menjadi kerja sama dengan Diskominfo. Mudah – mudahan mahasiswa mendapatkan bekal yang sangat bagus dari kegiatan ini,” pungkasnya.

Selain mendapatkan materi mengenai keamanan siber dan pengelolaan informasi, para mahasiswa juga berkesempatan melihat secara langsung fasilitas penyiaran di kabin siar LPPL Radio Abdi Persada FM. (BDR/RIW/EPS)

Perlindungan Anak Tak Lagi Dipandang Sepele, Temukan Kekerasan Laporkan

Banjarmasin – Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) menggelar kegiatan Edukasi Pencegahan dan Penanganan Perlindungan Khusus Anak di Aula Kayuh Baimbai, Rabu (30/9).

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 70 peserta yang berasal dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kelurahan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), pengelola daycare, serta pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP).

Ket foto : Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin

Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, memberikan perlindungan kepada anak.

“Upaya pencegahan kekerasan kepada anak ini kan tidak mungkin dilakukan pemerintah saja, tetapi membutuhkan kepedulian dan keberanian masyarakat untuk ikut mengawasi lingkungan sekitar”, ujar Yamin.

Yamin juga mengingatkan agar setiap persoalan yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak tidak ditutup – tutupi.

“Apabila ditemukan adanya dugaan kekerasan, masyarakat segera menyampaikan informasi kepada pihak yang berwenang agar dapat ditangani dengan cepat,” lanjutnya.

Hal tersebut menjadi bagian dari upaya Pemko Banjarmasin, untuk memastikan anak mendapatkan lingkungan yang aman dan terlindungi.

Penanganan yang cepat juga dinilai penting untuk mencegah kekerasan berulang serta membantu proses pemulihan korban.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Banjarmasin, M Ramadhan mengatakan, edukasi tersebut diikuti 70 peserta yang terdiri dari LPM, unsur kelurahan, LKSA, pengelola daycare, dan sebagian pengurus DWP.

Menurutnya, kegiatan itu tersebut menjadi bagian dari langkah promotif dan preventif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perlindungan anak.

“Harapannya masyarakat bisa menjadi pelopor terhadap pencegahan kekerasan terhadap anak dan menjadi pelapor apabila terjadi kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Ramadhan menyebut, meningkatnya angka kasus dalam tiga tahun terakhir salah satunya dipengaruhi semakin tingginya keberanian masyarakat untuk melapor dan kepercayaan terhadap UPTD PPA. Ia menegaskan, laporan yang masuk akan ditangani secara maksimal.

“Kalau memang ada permasalahan, segera informasikan, sehingga semakin mengurangi kekerasan yang berulang dan semakin cepat tertangani korban sehingga mental health-nya semakin recovery kembali,” tutupnya. (PEMKOBJM-SRI/RIWEPS)

Kurangi Dampak ISPA, RSJ Sambang Lihum Bagikan Masker bagi Klien

Banjar – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan menyiapkan masker bagi klien, sebagai langkah untuk mengurangi dampak paparan udara yang berpotensi memicu gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Bidang Penunjang Non Medik RSJ Sambang Lihum, Salbiah mengatakan, penyediaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan bagi klien, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik akibat kabut asap.

Menurutnya, penggunaan masker diharapkan membantu mengurangi paparan partikel dan asap yang terhirup, sehingga mampu menekan risiko gangguan pernapasan pada klien.

“Selain penyediaan masker, pihak rumah sakit juga terus memperhatikan kondisi lingkungan dan kesehatan klien sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan dan perlindungan selama kondisi udara kurang baik,” ujarnya, Selasa (29/9).

Salbiah mengimbau penggunaan masker dilakukan sesuai kebutuhan, terutama ketika berada di luar ruangan atau pada kondisi udara yang terpapar asap.

Selain itu, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan memastikan kondisi pasien saat ini aman dan pelayanan tetap berjalan normal setelah kawasan rumah sakit sempat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Salbiah menjelaskan, bahwa tindakan evakuasi yang dilakukan saat karhutla merupakan evakuasi internal dengan memindahkan pasien dari ruangan yang berada lebih dekat dengan lokasi kejadian ke ruangan lain yang dinilai lebih aman.

“Yang terdampak langsung itu ruangan Napza wanita sama ruang transit wanita. Jadi pasien yang di ruang tersebut kami pindahkan ke ruang MPKP, ke ruang seberangnya, karena posisinya agak jauh dengan lokasi kejadian kebakaran,” jelas Salbiah.

Menurutnya, pemindahan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan keselamatan pasien, terutama ketika asap dan titik api berada di sekitar kawasan rumah sakit.

Salbiah menegaskan, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Setelah penanganan kebakaran dilakukan dan situasi dinilai lebih terkendali, pasien yang sebelumnya dipindahkan kemudian dikembalikan ke ruangan masing – masing.

“Besoknya sudah kami pindahkan balik karena posisi kebakaran sudah ditangani. Jadi sekarang tidak ada lagi pasien yang dievakuasi dan mereka tetap di ruangan masing – masing sesuai dengan kondisi medisnya,” tutupnya. (MRF/RIW/EPS)

Terpapar Kabut Asap, SMA Banua Kalsel Lanjutkan PJJ

Banjarbaru – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti kawasan Gambut dan sekitarnya membuat SMA Banua Kalsel melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kebijakan tersebut diberlakukan sejak Jumat (25/9), setelah sekolah menemukan masih banyak titik kebakaran di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi dan sekitarnya.

Kepala Sekolah SMAN Banua Kalsel

Kepala SMA Banua Kalsel, Risa Lisdariani mengatakan, keputusan PJJ diambil untuk meminimalkan risiko paparan kabut asap terhadap siswa, mengingat sekolah menerapkan sistem boarding atau asrama.

“Mulai Jumat, 25 September 2026 kami mengadakan PJJ karena kondisi titik kebakaran banyak dijumpai di daerah Jalan Gubernur Syarkawi dan sekitarnya,” ujar Risa, Selasa (29/9).

Meski pembelajaran dilakukan dari lokasi masing-masing, Risa memastikan kualitas dan beban pembelajaran tetap dipertahankan. Jadwal pelajaran tidak mengalami perubahan dan siswa tetap mengikuti proses belajar sesuai ketentuan sekolah.

“Paradigma pembelajaran jarak jauh harus tetap menempatkan kualitas pembelajaran di atas segalanya. Tidak ada waktu dan jadwal pelajaran yang berubah, bahkan belajar mandiri juga tetap dilaksanakan seperti biasa,” jelasnya.

Pelaksanaan PJJ juga mempertimbangkan kondisi siswa SMA Banua Kalsel yang berasal dari berbagai daerah. Sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel serta Pengawas Pembina agar kebijakan pembelajaran dapat menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan.

Evaluasi dilakukan setiap pekan. Dengan demikian, keputusan untuk kembali menerapkan pembelajaran tatap muka akan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan hasil evaluasi bersama.

“Kami meminta izin dengan Disdikbud untuk melaksanakan PJJ dengan evaluasi per minggu,” sebut Risa.

Selama PJJ, kegiatan akademik sekolah tetap berjalan. Sejumlah program pendidikan, termasuk Program Sekolah Unggul Garuda Transformasi, tetap dilaksanakan bagi siswa maupun guru.

Risa menegaskan, PJJ tidak berarti aktivitas pendidikan dihentikan. Sistem pembelajaran hanya dipindahkan dari lingkungan sekolah ke tempat masing-masing siswa sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi kabut asap. (SYA/RIW/EPS)

TPK Banjarmasin Catat 388.823 TEUs hingga Agustus, Jaga Keandalan Layanan Logistik

Banjarmasin – PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Petikemas (TPK) Banjarmasin mencatat pelayanan 388.823 TEUs atau setara 326.308 box hingga Agustus 2026, seiring dengan aktivitas distribusi barang melalui wilayah Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Capaian tersebut mendorong TPK Banjarmasin terus menjaga kesiapan operasional guna memastikan kegiatan pelayanan berjalan aman, lancar, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa.

Terminal Head Terminal Petikemas Banjarmasin, Sirin Purnomo mengatakan, volume pelayanan yang ditangani terminal perlu diimbangi dengan kesiapan operasional, baik dari sisi peralatan, sumber daya manusia, maupun proses perencanaan kegiatan.

“Volume pelayanan yang kami tangani menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk memastikan setiap proses di terminal tetap berjalan aman dan lancar. Karena itu, kesiapan peralatan, kompetensi personel, perencanaan operasional, dan koordinasi dengan pengguna jasa terus kami jaga secara beriringan,” ujar Sirin.

Menurutnya, kelancaran kegiatan di terminal tidak hanya ditentukan satu fungsi, tetapi merupakan hasil dari keterhubungan berbagai proses dan pihak dalam rantai logistik.

Karena itu, TPK Banjarmasin terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasional sekaligus memperkuat komunikasi dengan pengguna jasa untuk mengantisipasi dinamika pelayanan di lapangan.

“Masukan dari pengguna jasa menjadi bagian penting dalam evaluasi kami. Dengan komunikasi yang baik, kebutuhan operasional dapat dipahami lebih cepat dan ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan,” katanya.

Sirin menambahkan, aspek keselamatan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keandalan pelayanan.

“Produktivitas harus berjalan seiring dengan keselamatan. Setiap proses harus dilakukan sesuai prosedur agar kelancaran operasional tetap terjaga tanpa mengesampingkan aspek safety,” ujarnya.

Dari sisi pengguna jasa, Kepala Cabang PT Tanto Banjarmasin Rifqi Novega Dwi Putra mengatakan, bahwa dalam menjaga keandalan layanan, TPK Banjarmasin juga terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia, kesiapan peralatan, penguatan perencanaan dan pengendalian operasional, serta penerapan standar keselamatan dalam kegiatan terminal.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan tetap mampu mengikuti kebutuhan pengguna jasa sekaligus mendukung kelancaran distribusi barang melalui Kalimantan Selatan.

TPK Banjarmasin berkomitmen menjaga konsistensi kualitas layanan melalui penguatan kesiapan operasional dan komunikasi dengan seluruh pihak dalam rantai logistik.

Dengan pendekatan tersebut, aktivitas terminal diharapkan dapat terus memberikan dukungan terhadap kelancaran distribusi barang, konektivitas logistik, dan kegiatan ekonomi di Kalimantan Selatan serta wilayah sekitarnya. (Pelindo-RIW/EPS)

Respons Kekeringan, Pemko Banjarbaru Salurkan Air Bersih

Banjarbaru – Pemerintah Kota Banjarbaru kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Penyaluran dilakukan di Jalan Kuranji, Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru, Selasa (29/9).

Penyaluran bantuan dipimpin langsung Wali Kota Erna Lisa Halaby. Kehadiran Wali Kota sekaligus untuk meninjau kondisi warga serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat di tengah musim kemarau tetap terpenuhi.

Penyaluran air bersih tersebut merupakan respons Pemko Banjarbaru terhadap aduan masyarakat mengenai kesulitan mendapatkan air bersih.

Wali Kota Erna Lisa Halaby mengatakan, di kawasan Jalan Kuranji terdapat sejumlah sumur warga yang mulai terdampak kekeringan. Namun, masih ada pula sumur yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Kawasan di Jalan Kuranji ini memang ada sebagian sumur warga yang terdampak kekeringan. Namun, Alhamdulillah sebagian sumur warga masih dapat digunakan. Hari ini kita ada lima tangki pendistribusian air bersih untuk masyarakat,” ujarnya.

Dengan penyaluran di Kelurahan Guntung Manggis, distribusi bantuan air bersih oleh Pemko Banjarbaru telah mencapai 54 titik.

Sebelumnya, bantuan telah disalurkan di 53 titik berdasarkan kebutuhan serta laporan dan aduan masyarakat.

“Ini sudah titik ke-54 untuk titik pendistribusian. Sebelumnya 53 titik dan ini bertambah lagi berdasarkan aduan dari masyarakat. Kita langsung memberikan dan mendistribusikan air bersih ini kepada masyarakat,” katanya.

Selain mengandalkan sumber daya pemerintah daerah, penanganan kekeringan juga dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri.

Sebelumnya, TNI Angkatan Udara turut membantu mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak.

“Alhamdulillah kami juga berkolaborasi dan bersinergi dengan TNI-Polri. Kemarin TNI AU juga memberikan distribusi air bersih untuk masyarakat. Tentunya kita harus bergotong royong untuk menghadapi kekeringan di masyarakat ini,” tuturnya.

Selain memastikan ketersediaan air bersih, Wali Kota bersama tim medis turut memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Pemantauan dilakukan dengan mengunjungi sejumlah warga, termasuk masyarakat yang mendapatkan layanan homecare.

Dari hasil pemantauan sementara, belum ditemukan warga yang mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi kekeringan.

Pemko Banjarbaru memastikan penyaluran air bersih dan pemantauan kesehatan akan terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.

Pemerintah daerah juga akan terus merespons aduan masyarakat serta memperkuat koordinasi dengan unsur terkait untuk menghadapi dampak kekeringan selama musim kemarau. (BDR/RIW/EPS)

Tinjau IPA 2 Bandarmasih, Ini Pesan Wali Kota Hadapi Krisis Air Bersih

Banjarmasin – Wali Kota, Muhammad Yamin, bersama Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, didampingi Direktur Utama PT PAM Bandarmasih Zulbadi, meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Bandarmasih di kawasan Jalan Pramuka, Selasa (29/9).

Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin menyampaikan, kunjungan ini untuk melihat langsung pengolahan serta ketersediaan air baku di PT PAM Bandarmasih.

Ket foto : Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin

Mengingat, saat ini Kota Banjarmasin sedang mengalami kekurangan air baku, akibat musim kemarau panjang tahun ini.

“Peninjauan ini untuk memastikan pengolahan air bersih oleh PT PAM Bandarmasih,” ungkap Yamin.

Selain itu, lanjut Yamin, kunjungan ini juga untuk memastikan ketersediaan air baku memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Kota Banjarmasin.

“Air baku di IPA 2 ini berasal dari Sungai Tabuk,” ucapnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Banjarmasin terus berusaha mengatasi permasalahan air baku yang terjadi saat ini.

“Permasalahan kurangnya air baku ini hendaknya tidak terjadi lagi tahun tahun berikutnya, apabila kemarau panjang terjadi kembali,” jelas Yamin.

Menurut Yamin, untuk selanjutnya Pemko Banjarmasin akan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berencana membangun embung.

“Baru baru tadi kami dipanggil Gubernur Kalsel Muhidin untuk membicarakan rencana awal pembangunan embung tersebut,” ucap Yamin.

Oleh karena itu, pihaknya meminta jajaran PT PAM Bandarmasih dan Pemko Banjarmasin untuk menindaklanjuti arahan gubernur tersebut.

Sementara itu, Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin mengatakan, Polresta Banjarmasin ikut mengantisipasi kurangnya air baku IPA 2 akibat musim kemarau panjang.

“Kepolisian mengantisipasi munculnya persoalan, khususnya terkait kamtibmas, akibat kurang air baku,” ungkap Riza.

Mengingat, lanjutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat, yang perlu diantisipasi bersama sama dengan pemerintah daerah.

“Polresta Banjarmasin juga turut serta menyediakan air bersih di kawasan yang terkena dampak kekeringan,” ucap Riza. (SRI/RIWEPS)

Perkuat Prestasi Atlet, Dispora Hadirkan Tenaga Ahli dan Terapis Olahraga

Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) terus memperkuat sistem pendampingan atlet, tidak hanya dari sisi latihan, tetapi juga pemulihan dan dukungan tenaga ahli.

Langkah tersebut dilakukan melalui Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan dengan memfasilitasi tenaga ahli untuk mendukung kegiatan pemusatan latihan daerah (Pelatda) maupun pendampingan atlet saat menghadapi berbagai kejuaraan.

Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hafiz, melalui Kepala Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Zulhaidir mengatakanz saat ini pihaknya telah menyiapkan 20 terapis yang menjadi bagian dari sistem pendampingan atlet.

“Untuk saat ini kami memfasilitasi tenaga ahli yang mensupport kegiatan pemusatan latihan daerah atau pendampingan. Ada 20 terapis, kemudian ada strength and conditioning konsultan dari PPFI serta beberapa pelatih nasional yang mendampingi sejumlah cabang olahraga,” ujar Zulhaidir, Selasa (29/9).

Menurutnya, keberadaan tenaga ahli menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi atlet, terutama ketika menjalani latihan intensif maupun pertandingan.

Terapis, misalnya, berperan membantu proses pemulihan atlet setelah menjalani latihan maupun pertandingan.

Sementara konsultan olahraga memberikan pendampingan kepada pelatih daerah agar program latihan dapat dilakukan secara lebih terukur.

Dispora Kalsel juga menyiapkan penguatan dukungan dengan menargetkan penambahan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog olahraga, fisioterapis dan dokter olahraga.

“Kita berharap ke depan sport science ini bisa dilengkapi dengan psikolog olahraga, fisioterapi dan juga dokter,” jelasnya.

Zulhaidir menyebut, pendampingan tenaga ahli tersebut telah dilakukan selama kurang lebih empat tahun. Pendampingan tidak hanya diberikan ketika atlet bertanding, tetapi juga sejak menjalani latihan di daerah.

Dampaknya, kata dia, mulai terlihat dari kemampuan atlet menjaga kebugaran selama mengikuti kompetisi, termasuk dalam menghadapi pertandingan multi-event maupun single-event.

“Di setiap kegiatan kejuaraan nasional mereka melakukan pendampingan, baik saat atlet latihan maupun pertandingan. Bagaimana atlet saat bertanding dan setelah bertanding bisa kembali bugar dengan dilakukan terapi. Itu kelihatan dari perolehan medali yang kita raih selama ini, baik multi-event maupun single-event,” katanya.

Saat ini, setiap single-event umumnya didampingi satu hingga dua terapis, sedangkan pada multi-event seluruh terapis dikerahkan untuk mendukung kebutuhan atlet.

Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan awal program pendampingan. Dari sebelumnya hanya dua terapis, kini Dispora Kalsel telah memiliki 20 terapis.

Meski demikian, Zulhaidir mengakui kebutuhan tenaga pendamping masih cukup besar. Mengingat, terdapat 21 cabang olahraga dalam program pemusatan latihan daerah yang membutuhkan dukungan tenaga profesional secara berkelanjutan.

Untuk tenaga dokter, idealnya diperlukan sedikitnya 2 hingga 4 orang. Sementara kebutuhan psikolog olahraga diperkirakan dapat mencapai 6 hingga 10 orang.

“Harapannya memang ada tambahan, tetapi dengan efisiensi anggaran kita memaklumi. Paling tidak kita optimalkan yang ada dulu. Kita berharap ada tambahan psikolog olahraga dan dokter ke depan kalau anggaran mencukupi,” pungkasnya.

Penguatan tenaga pendamping tersebut menjadi bagian dari upaya Dispora Kalsel membangun pembinaan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga memastikan atlet memperoleh dukungan menyeluruh sejak latihan, kompetisi hingga proses pemulihan. (DISPORAKALSEL-SRI/RIW/EPS)

Exit mobile version