Dinas Perindustrian Kalsel Ikuti Pameran Banjarmasin Festival Sasirangan

BANJARMASIN – Dalam rangka turutserta mendukung peningkatan produk sasirangan di daerah, salah satunya di Kota Banjarmasin. Maka, Dinas Perindustrian Kalsel turutserta dalam pagelaran Banjarmasin Festival Sasirangan (BSF) Tahun 2023.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan Mahyuni mengatakan, pada Pameran Banjarmasin Festival Sasirangan ini, Dinas Perindustrian Kalsel memamerkan produk sasirangan bordir Haji Imay.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalsel Mahyuni

“Produk sasirangan bordir Haji Imay ini, berasal dari pengrajin di kawasan Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka,” ungkap Mahyuni.

Sedangkan, lanjutnya, yang mengisi stand Dekranasda Provinsi Kalsel dari produk sasirangan gabungan beberapa pengrajin di Provinsi Kalimantan Selatan.

“Untuk produk sasirangan yang diandalkan tentunya memiliki motif khas seperti sisik tringgiling, pucuk kelakai, serta lainnya,” ucap Mahyuni. (SRI/RDM/RH)

Sambut Ramadhan, Disdag Kalsel Gelar Monitoring

BANJARMASIN – Menjelang Bulan Suci Ramadhan, Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, melaksanakan monitoring ke lapangan di beberapa distributor bahan pokok. Hal itu disampaikan, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, Birhasani, kepada sejumlah wartawan.

Foto bersama

Birhasani mengatakan, kegiatan monitoring ke lapangan di beberapa distributor bahan pokok, dinilai sangat penting untuk mengetahui ketersediaan pasokan, seperti minyak goreng, beras, gula pasir, dan tepung terigu, juga kondisi harganya di pasaran, dalam rangka memenuhi keperluan masyarakat di seluruh Kalimantan Selatan.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, Birhasani

“Monitoring kita gelar dengan rute, ke salah satu distributor di kawasan Gambut Kabupaten Banjar, dilanjutkan ke wilayah Pergudangan di Jalan Liang Anggang Kota Banjarbaru,” katanya setelah monitoring pada Jumat (10/3).

Disampaikan Birhasani, dari hasil monitoring ke lapangan ada empat titik yang dikunjungi, untuk distributor bahan pokok, seperti minyak goreng, gula pasir, dan tepung terigu, dipastikan aman di pasaran terutama ketersediaannya, begitupun harganya tidak mengalami kenaikan. Sehingga, warga diminta tidak perlu terlalu khawatir, menjelang sebentar lagi pelaksanaan Bulan Suci Ramadhan, yang hanya sepuluh hari lagi.

“Dari empat distributor besar yang dikunjungi rata-rata menyampaikan pasokannya aman, bahkan hingga tiga bulan ke depan,” jelasnya

Birhasani menambahkan, untuk kondisi beras, memang akhir-akhir ini terbatas. Ia menyarankan bagi pelaku usaha dapat berupaya memenuhi keperluan masyarakat, dengan cara melakukan pasokan beras luar daerah, seperti dari Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Memang persoalan beras ini tidak hanya di Kalsel, tetapi secara Nasional,” tutupnya

Untuk diketahui, kegiatan monitoring dipimpin Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel Birhasani, didampingi dari Bank Indonesia, Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah, Priatna Utama, diikuti Kabid Perlindungan Konsumen, Tertib, Niaga Dwi Ayu Mariati, serta Kabid Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Disdag Kalsel, Nazaruddin Alhaidar. (NHF/RDM/RH)

Pemprov Kalsel Rencanakan Bangun Miniatur Taman Mini

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pariwisata Kalsel, berencana akan membangun miniatur taman mini Kalsel. Hal itu disampaikan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, baru – baru tadi.

Syarifuddin mengatakan, saat ini pihaknya masih menjalin koordinasi dan komunikasi dengan seluruh Kabupaten dan Kota, terkait rencana pembangunan miniatur taman mini Kalsel, yang berlokasi di kawasan Kiram Park, Kabupaten Banjar, dipilihnya akses itu dekat dengan Bandara.

“Tahun 2023 akan dilakukan pembebasan lahan sekitar 15 hektar, dimana dari tiga belas kabupaten dan kota, masing-masing mendapatkan lahan 1 hektar, sedangkan untuk provinsi seluas 2 hektar,” katanya.

Syarifuddin menjelaskan, adanya taman mini Kalsel ini, nantinya akan menampilkan ke khasan atau potensi dari pariwisata dan ekonomi kreatif, dari setiap kabupaten/m dan kota. Terkait konsepnya seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di DKI Jakarta.

“Semoga berjalan lancar, dalam rangka mengembangkan pariwisata berbasis ekraf,” ucapnya

Lebih lanjut Syarifuddin menambahkan, rencananya setelah dilakukan penyusunan konsep miniatur taman mini Kalsel, tahun 2023 ini dilakukan pembebasan lahan, dan di 2024 mendatang pembangunan fisik secara bertahap.

“Kita masih menghitung dengan kabupaten dan kota untuk anggarannya,” tutup Syarifuddin. (NHF/RDM/RH)

Dekranasda Provinsi Kalsel Berikan Dukungan Digelarnya BSF di Banjarmasin

BANJARMASIN – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Selatan memberikan apresiasi dan dukungan atas diselenggarakan Banjarmasin Festival Sasirangan (BSF) di Kota Banjarmasin.

Dukungan ini disampaikan langsung Ketua Harian Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan Mahyuni mewakili Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan Raudhatul Jannah, pada saat menghadiri Pembukaan Pameran Banjarmasin Festival Sasirangan (BSF), di Siring Menara Pandang, Kota Banjarmasin, Jumat (10/3).

Ketua Harian Dekranasda Provinsi Kalsel Mahyuni

Mahyuni mengatakan, Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan, terhadap Pameran BSF yang diselenggarakan Dekranasda Kota Banjarmasin.

“Ibu Ketua Dekranasda Provinsi Kalsel mendukung sekali dengan kegiatan ini, hal tersebut disampaikan pada saat Dekranasda Kota Banjarmasin melakukan audiensi bersama Dekranasda Provinsi,” ungkap Mahyuni.

“Bahkan Dekranasda Provinsi Kalsel memberikan masukan kepada Dekranasda Kota Banjarmasin, oleh karena itu, dukungan diberi,” ucapnya.

Sehingga, lanjut Mahyuni, dengan digelarnya Pameran BSF ini, dapat membuka gairah dan pengetahuan kepada masyarakat, jika saat ini produk sasirangan sudah memiliki tampilan kekinian.

“Saat ini sasirangan yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan sudah terdaftar sejak Tahun 2023 sebagai warisan budaya tak benda,” jelas Mahyuni.

Dengan terdaftarnya sasirangan tersebut, maka sasirangan terhindar dari adanya pengakuan dari daerah atau negara lain.

“Kami memberikan masukan kepada Dekranasda Kota Banjarmasin, agar terus mengembangkan sasirangan pewarna alam, karena memiliki nilai jual yang tinggi,” ucap Mahyuni. (SRI/RDM/RH)

DPRD Kalsel Monitoring Pembangunan Jembatan Penghubung Antar Dua Kabupaten

BANJARMASIN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan didampingi Dinas terkait melakukan monitoring pembangunan jembatan di perbatasan Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar, Kamis (9/3).

Sekretaris Komisi III DPRD Kalsel, Gusti Abidinsyah mengatakan rencananya di tahun 2023 ini akan diluncurkan pembangunan jembatan yang menghubungkan antara tiga desa yaitu Desa Jejangkit Kabupaten Batola serta Desa Galam Rabah dan Desa Tajau Landung Kabupaten Banjar.

Suasana Monitoring Komisi III DPRD Kalsel Terkait Pembangunan Jembatan Penghubung Antar Dua Kabupaten

“Insya Allah, tahun ini akan direalisasikan, karena panjang jembatan ini mencapai sekitar 80 meter”, katanya kepada wartawan, Jum’at (10/3).

Gusti Abidinsyah mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan khususnya Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor yang sudah mengalokasikan dana untuk pembangunan jembatan ini. Mengingat akses jembatan yang menghubungkan kedua kabupaten ini sangat penting dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Dari informasi Dinas PUPR, rencana pembangunan jembatan di desa tersebut dibiayai oleh APBD murni tahun 2023. Untuk titik lokasi jembatan ini akan digeser dari jembatan yang lama berupa ulin, dan jangka waktu penyelesaian pembangunan jembatan ini antara 7-8 bulan,” terangnya.

Kedatangan rombongan Komisi III DPRD ini disambut baik oleh warga sekitar. Apalagi setelah mengetahui dalam waktu dekat jembatan penghubung di Desa nya akan dibangun. Warga setempat berharap proses pembentukannya berjalan lancar dan cepat. (NRH/RDM/RH)

Festival Panahan Piala Paman Birin Digelar di Kota Banjarmasin

BANJARMASIN – Dalam rangka pembinaan dan pencarian bibit atlet muda panahan. Maka, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pemuda dan Olahraganya menggelar, Festival Panahan Piala Paman Birin Tingkat Pelajar Usia 11 sampai 18 Tahun se Kalimantan Selatan, di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mulawarman, Jumat (10/3).

Dibuka Plt Asisten III Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kalsel Subhan Noor Yaumil mewakili Gubernur Kalsel Sahbirin Noor.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan terhadap peningkatan olahraga Panahan,” ungkap Subhan, kepada sejumlah wartawan.

Dan, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap dengan digelarnya, Festival Panahan Piala Paman Birin tingkat pelajar ini, dapat melahirkan atlet muda handal kedepannya, bagi Provinsi Kalimantan Selatan.

“Dengan digelarnya Festival Panahan Piala Paman Birin ini, sebagai bentuk dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan Hermansyah mengatakan, untuk peserta yang mengikuti kegiatan Festival Panahan Piala Paman Birin Tingkat Pelajar ini diikuti sebanyak 170 atlet berusia 11 sampai 18 Tahun.

“Atlet muda tersebut berasal dari perwakilan 13 Kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan Kalimantan,” ucapnya.

Sehingga, tambahnya, diharapkan kegiatan ini dapat melahirkan talenta talenta muda panahan.

“Karena panahan ini masuk ke dalam Desain Besar Olahraga Nasional, untuk dapat dikembangkan di Provinsi Kalimantan Selatan,” jelas Hermansyah.

Pada Festival Panahan Piala Paman Birin ini, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan menyediakan, total hadiah sebesar Rp 30 juta rupiah.

Sedangkan, Kabag Pembudayaan Olahraga Dispora Kalsel Budiono mengatakan, maksud tujuan dari dilaksanakan Festival Panahan Piala Paman Birin Tingkat Pelajar Se Kalsel ini, dalam rangka meningkatkan daya saing keolahragaan dan pembudayaan olahraga di Provinsi Kalimantan Selatan.

“Diharapkan jiwa sportifitas atlet muda panahan di Provinsi Kalimantan Selatan, dapat meningkatkan,” ucap Budiono. (SRI/RDM/RH)

Dua Negara Asal Timur Tengah Lirik Kopi di Kalsel

BANJARBARU – Sejumlah pengusaha mulai bergerak menanamkan modal pasca pandemi COVID-19. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), sektor pertanian menjadi salah satu tujuan.

Setelah sebelumnya pengusaha dari negara Oman melihat peluang investasi kilang minyak di Kotabaru, belakangan ini ada dua pengusaha dari Qatar dan Yaman yang tertarik menanamkan modalnya di provinsi ini.

Bedanya, kedua negara itu berencana berinvestasi di sektor pertanian yakni biji kopi.

Ditemui di ruang kerjanya baru-baru tadi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Endri mengatakan, meski kondisi geografis Kalsel didominasi oleh dataran rendah, peluang untuk memaksimalkan potensi biji kopi di provinsi ini masih sangat tinggi.

Kepala DPMPTSP Kalsel, Endri

“Kan ada dua jenis kopi yakni robusta dan arabica, kalau arabica ya kita tidak bisa, tapi untuk robusta bisa, karna masih bisa ditanam di dataran rendah,” ungkapnya.

Endri menyebut, saat ini pihaknya masih proses peninjauan lahan untuk para investor Timur Tengah ini. Ia juga meminta kepada Pemkab/ko menyiapkan lahan pertanian serta merincikan potensi bibit yang cocok untuk ditanam.

“Karena investasi itu sifatnya berkelanjutan, makanya yang saat ini harus dipastikan adalah ketersediaan lahannya,” ucapnya.

Tak hanya dari negara asing, minat berinvestasi sektor pertanian kopi di Kalsel juga diminati oleh Aceh. Endri menyebut, pengusaha asal Aceh itu ingin membangun usaha “wisata kopi” di Banua ini.

“Calon investor itu sebelumnya juga sudah punya usaha serupa di tempat asalnya (Aceh),” bebernya.

Dirincikannya, wisata kopi itu berupa lahan pertanian kopi yang didalamnya disediakan berbagai fasilitas, mulai dari penginapan hingga pengalaman meminum kopi hasil racikan sendiri bagi wisatawan.

“Ini potensi yang sangat besar, karena dari penghasilan penginapan saja itu mencapai Rp300 juta perbulan,” bebernya.

Diharapkan, ketertarikan pengusaha untuk menanamkan modalnya di provinsi ini terus mengalami peningkatan. Apalagi Kalsel sendiri akan menjadi provinsi yang bertetangga langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam, Kaltim.

“Kita akan sangat terbuka dengan calon investor, kita juga tengah menyusun potensi investasi di seluruh wilayah Kalsel,” tutupnya. (SYA/RDM/RH)

MENUJU PROVINSI LAYAK ANAK, PEMPROV KALSEL SUSUN RAD KLA TAHUN 2023

BANJARMASIN – Tahun ini, Kalimantan Selatan menargetkan dapat meraih predikat Provinsi Layak Anak. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan itu, adalah dengan menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) dan penguatan gugus tugas Kota Layak Anak Tingkat Provinsi. Penyusunan RAD ini dilakukan pada kegiatan rapat koordinasi lintas sektor, yang digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalsel itu, digelar di Banjarmasin pada Kamis (8/3).

Kepada wartawan, Kepala DPPPA Provinsi Kalsel, Adi Santoso mengatakan, penyusunan RAD ini bertujuan untuk mempercepat upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak, serta meningkatkan efektivitas pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak secara terkoordinasi, terencana dan berkesinambungan, guna mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak secara sistematis, terarah, dan tepat sasaran.

“Saat ini 12 kabupaten kota di Kalimantan Selatan sudah berstatus Kabupaten atau Kota Layak Anak, dan hanya menyisakan kabupaten Kotabaru,” ujar Adi.

Oleh karena itu, menurut Adi, pada pertemuan ini, juga dibahas apa saja kendala dari upaya perwujudan Kabupaten/Kota Layak Anak, terutama di kabupaten Kotabaru.

Sementara itu, Kabid Pemenuhan Hak Anak DPPPA Provinsi Kalsel, Andrian Anwari menjelaskan, setidaknya ada 5 klaster penilaian untuk mendapatkan predikat KLA. Diantaranya terkait pemenuhan hak sipil anak, dan pemenuhan hak mendapatkan perlindungan.

“Nilai rata-rata kabupaten Kotabaru untuk penilaian 5 klaster itu masih rendah. Bahkan masih di bawah nilai minimal 500 poin,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Andrian, pihaknya terus melakukan pendampingan kepada kabupaten Kotabaru, agar dapat meningkatkan penilaian menuju Kabupaten Layak Anak. Sehingga target Provinsi Layak Anak, juga dapat tercapai.

Pada rakor ini, gugus tugas KLA, juga diharapkan dapat mendorong seluruh kebijakan terkait anak, ke dalam seluruh unsur perencanaan pembangunan. (RIW/RDM/SA)

BI, DPRD KALSEL, PEMPROV KALSEL DAN BKKBN BERSINERGI PERCEPAT PENURUNAN PREVALENSI STUNTING DI BANUA

BANJARMASIN – Percepatan penurunan stunting di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) perlu dilakukan secara konvergen, holistik, integratif, dan berkualitas melalui sinergi berbagai pihak.

Pesan itu mengemuka dari kegiatan siaran pers bersama antara Bank Indonesia (BI), DPRD Provinsi Kalsel, Pemerintah Provinsi Kalsel, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalsel, bertempat di kantor DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (10/3).

Foto : Suasana Siaran Pers BI, DPRD Kalsel, Pemprov Kalsel, BKKBN dan Persroom DPRD Kalsel

Isu stunting menjadi perhatian besar Pemerintah, dan strategi untuk menurunkan angka stunting telah dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No.72/2011. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Kalsel merupakan provinsi dengan angka penurunan prevalensi tertinggi di Indonesia, dari semula 30,0 persen pada 2021, menjadi 24,6 persen pada 2022. Kendati demikian, angka prevalensi stunting di Kalsel masih lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 24,4 persen.

Ketua DPRD Provinsi Kalsel, Supian HK mengatakan pihaknya sangat serius menangani masalah stunting. Saat ini DPRD Provinsi Kalsel tengah menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) untuk mengatasi masalah stunting.

“Sebelumnya kami telah melakukan audiensi ke kantor pusat BKKBN dalam rangka percepatan penyusunan Raperda tentang stunting,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala Perwakilan BI Kalsel, Wahyu Pratomo, mengatakan dalam sudut pandang makro ekonomi, ikhtiar penurunan stunting tidak bisa dipisahkan dari upaya pemberdayaan dan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

“Hal itu sejalan dengan peran BI di daerah, yakni mendukung pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkesinambungan. Oleh karenanya, BI berkomitmen mendukung penuh upaya pengentasan stunting di Kalsel,” tuturnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengatakan dukungan BI terhadap penanganan stunting tercakup dalam lima aspek. Kelima aspek itu adalah pengendalian inflasi, pemberdayaan UMKM, ekonomi digital, pengelolaan uang Rupiah, dan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).

Seluruh aspek tadi, kata Wahyu, bertujuan memperkuat ketahanan dan mengakselerasi pemulihan ekonomi, yang pada gilirannya akan berkontribusi terhadap penurunan angka stunting.

“Khusus aspek terakhir, pada lingkup kepedulian sosial, BI akan memprioritaskan penyalurannya ke lima daerah dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Kalsel, yakni Barito Kuala, Kotabaru, Hulu Sungai Tengah, Balangan, dan Hulu Sungai Utara,” jelasnya.

Sedangkan Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel, Sopyan, menjelaskan ada lima pilar percepatan penanganan stunting, yaitu komitmen dan visi kepemimpinan, kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku.

Selanjutnya kovergensi, koordinasi, dan konsolidasi program pusat, daerah, dan desa. Kemudian gizi dan ketahanan pangan, serta pemantauan dan evaluasi. Terkait pilar yang pertama, BKKBN mengapresiasi inisiatif DPRD Provinsi Kalsel yang tengah menyusun Raperda tentang stunting.

“Jika Raperda itu rampung, maka Kalsel akan menjadi provinsi pertama yang membuat Perda tentang stunting. Oleh sebab itu, dengan semangat pentahelix, kami mendorong segenap pemangku kepentingan dan masyarakat umum untuk turut mensukseskan program stunting, salah satunya dengan berpartisipasi lewat program BAAS,” terangnya.

Sementara Kepala Biro Perekonomian Provinsi Kalsel, yang diwakili oleh Kepala Bagian Kebijakan Perekonomian, Agussalim, mengatakan persoalan stunting telah menjadi fokus utama pihaknya, mengingat Kalsel masuk dalam 12 provinsi prioritas penurunan stunting.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemprov Kalsel adalah menurunkan angka inflasi, sehingga daya beli masyarakat akan meningkat, dan pada gilirannya akan menurunkan angka stunting. Pihaknya juga menargetkan angka stunting di Kalsel akan turun di angka 14 persen pada 2024.

“Pemerintah Provinsi Kalsel mengajak seluruh komponen untuk bergerak aktif dan bersatu padu untuk mempercepat penurunan stunting, sehingga target prevalensi stunting 14 persen pada tahun 2024 dapat terwujud,” tambahnya.

Kedepan, Bank Indonesia akan terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan segenap pemangku kepentingan terkait untuk mendukung upaya pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Foto : Penyerahan Cinderamata oleh Kepala Perwakilan BI Kalsel kepada Ketua DPRD Kalsel

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cinderamata Bank Indonesia dan DPRD Kalsel serta penyerahan secara simbolis Baju Seragam dari Bank Indonesia kepada Anggota Persroom Dewan. ( (NRH/RDM/SA)

KALSEL SIAP SUPLAI PADI UNTUK IKN 2024

BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalsel terus bergerak meningkatkan perekonomian masyarakat, termasuk di bidang Pertanian. Angka produksi padi yang akan dicapai Provinsi Kalsel ditahun 2023 ini sekitar 1,2 Juta ton.

Kepada Abdi Persada FM, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalsel Syamsir Rahman menyampaikan, Kalsel diminta oleh Kementerian Pertanian untuk menjadi salah satu penyangga pangan untuk Ibu Kota Negara (IKN) pada tahun 2024 mendatang. Untuk itu, pihaknya akan terus berbenah untuk meningkatkan capaian produksi padi, salah satunya membenahi area persawahan yang sering tergenang air pada musibah banjir pada 3 tahun belakangan ini.

“Untuk memperbaiki sektor pertanian harus dilakukan bersama-sama, seperti Balai Wilayah Sungai dan PU Perairan yang diharapkan dapat membantu membuat pengerukan sungai dan bangkalnya sungai, agar pengairan pada pertanian dapat lebih baik lagi,” ungkap Syamsir Rahman, baru-baru tadi.

Syamsir menambahkan, menyambut sebagai penyangga pangan nasional pada tahun 2024 mendatang, pihaknya berharap adanya pangan cadangan untuk Kebutuhan IKN.

“Yang dibutuhkan oleh IKN kurang lebih 200-300 ribu ton padi, yang akan disuplai dari Kalsel,” ucapnya.

Kendala untuk mencapai target produksi padi di Kalsel, salah satunya ada pada sektor lapangan, yang mana Kalsel mengalami musibah banjir pada 3 tahun kebelakang, dikarenakan masih ada tupoksi-tupoksi yang belum berjalan, seperti kerjasama peningkatan pertanian dari berbagai pihak. Maka dari itu,  untuk memperbaiki sektor pertanian harus dilakukan bersama-sama, seperti kerjasama bersama Balai Wilayah Sungai, PU Pengairan, dan Kabupaten/Kota masing-masing untuk peningkatan produktifitas. (MRF/RDM/SA)

Exit mobile version