WSFest 2025 dan MTN Seni Budaya Resmi Dibuka, Banjarbaru Jadi Panggung Kreativitas Nasional
Pemukulan rebana jadi tanda dimulainya rangkaian WSFest 2025 dan MTN Kebudayaan
BANJARBARU – Wabul Sawi Festival (WSFest) 2025 yang dipadukan dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, resmi dibuka di salah satu hotel berbintang di Banjarbaru, Jumat (26/9).

Mengusung tema “Tahan Apilan Terus Bertahan”, kegiatan ini akan berlangsung hingga Sabtu (27/9) dengan menghadirkan 19 program yang tersebar di 6 titik di Kota Idaman.
MTN Seni Budaya merupakan program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan yang bertujuan menjaring, mengembangkan, dan menghubungkan talenta seni budaya Indonesia dengan peluang penguatan kapasitas maupun akses pasar.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, secara resmi membuka MTN Ikon Inspirasi di hadapan ribuan peserta. Ia menegaskan, program ini menjadi langkah strategis dalam mengelola potensi besar anak bangsa di bidang seni budaya.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, perlu sistem manajemen talenta yang modern agar para pelaku seni budaya dapat berkembang, mendapat kesempatan yang setara, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional,” ujarnya.
Mahendra menambahkan, pemerintah menyiapkan wadah pembinaan, akses pendanaan, kesempatan tampil di tingkat nasional hingga internasional, serta jejaring kolaborasi lintas sektor.
“Harapannya, ekosistem seni budaya yang produktif, inklusif, dan berkesinambungan dapat tercipta,” harapnya.
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, melalui Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Ariadi Noor, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini.
Ariadi menekankan pentingnya generasi muda tidak hanya cakap teknologi tetapi juga berakar kuat pada budaya.
Menurutnya, Wabul Sawi Festival menjadi ruang lahirnya generasi muda yang gemar membaca, menulis, merawat tradisi, dan menerjemahkannya dalam karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Festival ini bukan sekadar perayaan seni dan sastra, melainkan ajakan untuk membangun kesadaran bersama bahwa kebudayaan adalah identitas dan kekuatan bangsa,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Wabul Sawi Festival, Hudan Nur, menyebutkan kegiatan ini melibatkan puluhan sekolah, komunitas sastra, mahasiswa dari berbagai daerah di Kalsel, serta perwakilan dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Tak hanya itu, festival juga menghadirkan komunitas kampus, UKM, hingga warga binaan Lapas Perempuan yang memiliki talenta menulis.
“Targetnya kegiatan diikuti 1.000 peserta. Kita ingin semua kalangan bisa terlibat, termasuk mereka yang punya potensi namun jarang mendapat ruang tampil,” tutur Hudan yang juga dikenal sebagai penyair.
Program WSFest sendiri dikemas dalam beragam bentuk, mulai dari diskusi Oru (Obrolan Seru), Manyoto Tangah Hari, Malam Imaji, Edutown Selingkung Kota, hingga Antologi Karya Nusantara. (SYA/RIW/RH)
