INDONESIAPERSADA.ID AWARD

Oleh: Ganjar Pranowo

(Catatan ini disiapkan Ganjar Pranowo sebagai Ketua Umum Persatuan Radio TV Publik Daerah Seluruh Indonesia – INDONESIAPERSADA.ID – untuk disampaikan dalam Malam Anugerah 5TH INDONESIAPERSADA.ID AWARD 2025, di Purworejo Jawa Tengah 26/11/2025)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera. Om swastiastu. Namo Buddhaya. Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para kepala daerah se-Indonesia, para pimpinan LPPL, para insan media, dan seluruh tamu undangan yang saya cintai.

Hari ini kita berdiri di hadapan kenyataan penting: LPPL adalah suara lokal yang terus berjuang meski sering tidak dilihat, tidak diprioritaskan, bahkan tidak dianggap penting. Radio dan TV lokal kita berjalan dengan kondisi—maaf saya katakan—serba kekurangan. Sementara dunia penyiaran komersial dan digital melaju seperti kereta cepat, LPPL kita kadang masih seperti berjalan kaki di pinggir rel.

Tetapi, sebelum kita bicara tentang masa depan, mari kita lihat dunia luar.

Ada radio komunitas Jepang yang bertahan puluhan tahun karena menjadi pusat informasi bencana—bahkan setelah gempa Tohoku 2011, lebih dari 30 radio komunitas kecil menjadi penyelamat informasi warga.

Ada BBC Local Radio di Inggris yang meski menghadapi tekanan digital, tetap didukung penuh negara karena dianggap penjaga integrasi komunitas.

Sebaliknya, ada contoh yang menyedihkan. Australia menutup 17 stasiun ABC lokal dalam satu dekade terakhir karena minim dukungan anggaran. Akibatnya, survei 2023 menunjukkan area yang kehilangan stasiun lokal mengalami penurunan partisipasi warga dalam urusan publik hingga 23%.

Di Indonesia sendiri, kita melihat banyak radio daerah yang dulu berjaya kini mati pelan-pelan. Radio yang pernah menjadi legenda daerah—yang menghidupkan musik lokal, drama radio, berita kampung—sekarang tinggal kenangan.

Data dari KPI dan PRSSNI menunjukkan: Lebih dari 260 radio lokal berhenti siaran atau berganti fungsi sejak 2018. Dari 11.000 lebih desa, hanya sebagian kecil yang masih memiliki akses konten lokal langsung dari radio atau TV publik.

Ini bukan sekadar hilangnya frekuensi. Ini hilangnya identitas daerah. Hilangnya cerita warga. Hilangnya ruang dialog publik yang bebas dari kepentingan pasar.

Lalu apa yang harus dilakukan LPPL agar tetap diikuti masyarakat?

Pertama, jadilah relevan dan dekat. Konten yang dicari masyarakat adalah konten yang menyentuh hidup mereka: banjir hari ini, harga gabah, UMKM baru, peluang kerja, hingga kisah budaya lokal. Jangan menjadi radio yang memutar lagu-lagu generik tanpa makna lokal.

Kedua, LPPL harus masuk ke dunia digital, bukan sekadar numpang lewat. Video pendek. Live streaming kegiatan warga. Podcast tokoh desa. Konser mini di studio. Jurnalisme warga lewat WhatsApp dan media sosial. Manfaatkan fakta bahwa hari ini, anak muda menghabiskan rata-rata 3–4 jam di platform video. Jika LPPL tidak hadir di sana, ia hilang dari peta perhatian publik.

Ketiga, bangun kembali kepercayaan publik. LPPL harus menjadi media yang jujur, berimbang, dan tidak melulu bicara seremonial pemerintah daerah. Masyarakat ingin media yang menyuarakan kebutuhan mereka, bukan hanya membacakan sambutan pejabat.

Bagaimana peran Pemda: mendukung atau mematikan?

Saya ingin sangat tegas: LPPL tidak boleh dimatikan. Yang harus dimatikan adalah cara mengelolanya yang kuno. Pemda harus hadir dalam tiga hal:

Pertama, Perlindungan Kebijakan. Banyak LPPL tidak punya kepastian kelembagaan. Kadang ditempatkan sebagai “unit buangan” dalam struktur dinas. Padahal di Inggris, Jepang, bahkan Korea Selatan, media lokal dipagari oleh aturan yang menjamin otonomi editorial dan keberlanjutan.

Kedua, Dukungan Anggaran dan Teknologi. LPPL tidak akan pernah menang kalau peralatannya kalah 20 tahun dari media komersial. Minimal, Pemda harus menyiapkan proyek transformasi digital: studio mini modern,

peralatan produksi mobile, server streaming, platform digital resmi. Di negara-negara maju, investasi digital media lokal dianggap setara pentingnya dengan investasi sekolah dan puskesmas – karena media publik menjaga literasi warga.

Transformasi SDM

Tidak bisa lagi pola pikir lama: menunggu jam siaran. SDM LPPL harus menguasai: editing cepat, jurnalisme digital, visual storytelling, manajemen platform, hingga kolaborasi komunitas. Di Jepang, setiap penyiar komunitas diberi pelatihan tahunan wajib. Di kita? Banyak LPPL bahkan tak punya anggaran training.

Penyesuaian yang harus dilakukan LPPL untuk bertahan di era digital

Pertama, Reformasi kelembagaan. LPPL bukan kantor birokrasi, tetapi rumah kreativitas publik. Kedua, Pola kerja baru. Dari jadwal siaran harian menjadi produksi konten sepanjang waktu. Ketiga, Modernisasi teknologi. Dari mixer analog menjadi produksi digital penuh. Keempat, Dukungan regulasi internal. Standar editorial, SOP konten digital, hak cipta, fact-checking. Kelima, Ekosistem kemitraan. Kolaborasi dengan universitas, komunitas kreatif, UMKM, hingga influencer lokal.

Jika LPPL hanya mengandalkan APBD, dia akan terus hidup segan mati tak mau. Tapi jika dia membuka diri pada kolaborasi, dia akan lahir kembali sebagai pusat kreativitas daerah.

Penutup

Hadirin yang saya banggakan.

LPPL adalah penjaga jati diri daerah. Jika suara lokal padam, maka yang hilang bukan sekadar radio atau televisi, tetapi akar budaya kita. Kita punya pilihan: Membiarkan LPPL berjalan terseok-seok… atau membangunnya kembali menjadi kebanggaan daerah.

Hari ini, saya ingin mengajak semua Kepala Daerah: Mari kita nyalakan kembali obor penyiaran publik lokal. Beri mereka dukungan, modernisasi, dan ruang untuk tumbuh. Karena ketika LPPL maju, suara rakyatlah yang maju.

Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Gelar Mukernas VI, Ini Tiga Harapan Indonesia Persada.id

JAWA TENGAH – Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) VI Indonesia Persada.id yang diselenggarakan di Purworejo, Jawa Tengah, pada Kamis (27/11),  menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang akan menjadi arah pengembangan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) di seluruh Indonesia.

Rangkaian pembahasan komisi menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia, peningkatan kualitas siaran, serta penataan administrasi organisasi demi keberlanjutan LPPL di era digital.

Direktur Eksekutif Indonesia Persada.id, Putut Yulianto, saat menyampaikan paparannya. (Kanan)

Mukernas yang dipimpin Direktur Eksekutif Indonesia Persada.id, Putut Yulianto ini menetapkan, bahwa peningkatan kompetensi SDM LPPL merupakan hal penting. Ke depan, penyelenggaraan webinar, workshop, serta program pelatihan lainnya akan diperbanyak, agar kualitas penyiar, teknisi, dan manajemen LPPL terus meningkat dan mampu bersaing di industri penyiaran modern.

“Siaran berjejaring yang selama ini berjalan, akan terus dioptimalkan. Yakni melalui siaran berjejaring mix multi platform, konten LPPL dapat menjangkau lebih luas. Model siaran kolaboratif ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan bersama,” jelas Putut.

Dalam sidang Komisi V terkait sumber pendanaan organisasi, diputuskan bahwa setiap anggota aktif berkewajiban membayar iuran tahunan. Untuk mempermudah penyelesaian problem iuran, akan diterbitkan surat resmi sebagai dasar telaah staf dan pimpinan masing-masing LPPL.

“Organisasi juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri terkait integrasi dalam SIPD, guna memastikan alokasi anggaran yang lebih jelas dan sesuai regulasi,” tambahnya.

Saat sharing season, mukernas juga mendapat keluhan mengenai tuntutan royalti. Terkait isu tuntutan royalti lagu yang muncul di sejumlah LPPL. Persada.id segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, untuk mencari solusi terbaik dan memastikan LPPL tetap dapat beroperasi tanpa hambatan hukum.

Mukernas juga menargetkan, pada Mukernas 2026, jumlah keanggotaan LPPL akan meningkat. Upaya perbaikan mutu layanan dan penguatan kelembagaan diharapkan dapat menarik lebih banyak LPPL untuk bergabung dan aktif dalam organisasi.

“Banyak LPPL masih menghadapi kendala pada aspek perizinan digital dan penyiaran. Oleh karena itu, Komdigi diharapkan dapat memberikan pendampingan dan memfasilitasi penyelesaian perizinan agar seluruh LPPL dapat beroperasi sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tutupnya.

Keputusan yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme, memperluas jaringan siaran, serta menjamin keberlanjutan LPPL dalam menghadapi tantangan era digital. (EYN/RIW/EYN)

Bangga! LPPL Abdi Persada FM Kembali Raih Penghargaan Radio Host Terbaik Indonesia Persada.id Award

JAWA TENGAH — Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Abdi Persada FM, mencatatkan prestasi membanggakan, dalam ajang Indonesia Persada.id Award 2025 yang diikuti seluruh LPPL di Indonesia. Kali ini Abdi Persada meraih penghargaan Kategori Radio Host Terbaik.

Acara penganugerahan tahun ini digelar di Purworejo, Jawa Tengah, pada Rabu (26/11) malam,  sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun ke-56 LPPL Irama FM, yang dipadukan dengan pertemuan nasional LPPL se Indonesia.

Pemotongan tumpeng oleh Bupati Purworejo, Jawa Tengah.

Acara dibuka langsung Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, di dampingi Direktur LPPL Irama FM, Aji Wahyudi, Ketua Harian Indonesia Persada.id, Syaifudin Ahmad, dan Ketua Umum Indonesia Persada.id, Ganjar Pranowo.

Bupati Purworejo, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi, atas terselenggaranya acara ini dan rasa bangga menjadi tuan rumah.

“Terima Kasih atas kehadiran para pelaku penyiar daerah dari berbagai provinsi, kehadiran bapak ibu semua menjadi kebanggaan kami,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur LPPL Irama FM Purworejo, Aji Wahyudi,  selaku penyelenggara dan tuan rumah, dalam sambutannya berharap, penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh insan Radio TV daerah untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghasilkan acara yang berkualitas, serta dapat dinikmati masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Ketua Harian Indonesia Persada.id, Syaifudin Ahmad mengatakan, hasil dari sowan ke Ketua Umum Indonesia Persada.id, diketahui bahwa kegiatan ini digelar, demi menjaga marwah nilai dan kesakralan. Oleh karena itu,  penghargaan, untuk tahun ini setiap kategori hanya menetapkan 1 pemenang.

“Kebijakan ini diambil agar penghargaan memiliki bobot lebih tinggi, lebih prestisius, dan benar-benar menjadi simbol pencapaian tertinggi bagi LPPL yang memenangi kategori tersebut” ujarnya.

Ditamba Ketua Umum Indonesia Persada.id, Ganjar Pranowo, dalam sambutannya  menyampaikan l berdasarkan pertemuan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Bali 2023, lalu telah disepakati visi dan misi, yaitu mewujudkan organisasi dengan sumber daya manusia, yang mampu mewujudkan Lembaga penyiaran Radio atau Televisi Lokal, sebagai media penyebarluasan informasi terpercaya.

“Maka kita berharap betul, lembaga ini mendorong pemerintah daerah untuk bisa memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada masyarakat,” katanya.

Selain LPPL Abdi Persada FM yang memenangkan kategori Radio Host Terbaik Indonesia Persada.id Award 2025, sejumlah LPPL lainnya juga meraih prestasi yang sama, pada kategori berbeda.

Untuk kategori Persada.id Talk Terbaik diraih Sasaraina FM, dan kategori Reporter Terbaik diraih LPPL Gema Randik Musi Banyuasin. Sedangkan kategori Kearifan Lokal Terbaik diraih LPPL Irama Purworejo, kategori Program Interaktif Terbaik diraih LPPL Suara Lumajang, dan kategori LPPL Paling Inovatif diraih LPPL Tuntung Pandang. (EYN/RIW/EYN)

Membanggakan!Dislutkan dan TP PKK Kalsel Raih Juara 2 Lomba Masak Serba Ikan Nasional

BANJARMASIN – Dinas Kelautan dan Perikanan, bersama TP PKK Kalsel berhasil meraih Juara 2 Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional 2025.

Kepala Dislutkan Kalsel Rusdi Hartono menyatakan, apresiasi dan kebanggaan kepada Ketua TP PKK Kalsel Fathul Jannah, atas capaian juara 2 lomba masak serba ikan tingkat nasional 2025, pada kategori Menu Keluarga.

“Prestasi ini menjadi kebanggan bagi Banua sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kreativitas olahan ikan, meningkatkan konsumsi ikan, serta memperkenalkan kekayaan kuliner berbasis perikanan dari Kalimantan Selatan ke tingkat nasional,” ungkap Rusdi, saat ditemui di Banjarmasin, Selasa (25/11).

Semoga, lanjutnya, capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk terus berinovasi dan mencintai sumber daya perikanan lokal.

Dijelaskan Rusdi, keikutsertaan pada lomba tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Kalsel Muhidin, serta Ketua TP PKK Kalsel Fathul Jannah, untuk menggelorakan Gerakan Makan Ikan di seluruh lapisan masyarakat.

“Kompetisi tersebut menjadi wadah kreativitas kader penggerak konsumsi ikan dari berbagai daerah untuk menyajikan hidangan berbahan dasar ikan inovatif, sehat, dan bergizi tinggi,” ujar Rusdi.

Sehingga melalui kompetisi ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong pemanfaatan ikan sebagai sumber protein berkualitas, guna mendukung tumbuh kembang anak dan mewujudkan Generasi Emas 2045.

Pada lomba tersebut, Kalsel melalui TP PKK membawa olahan ikan unggulan khas Banua, sebagai bentuk promosi kekayaan kuliner daerah.

“Misi kami adalah terus mengampanyekan konsumsi ikan sebagai gaya hidup sehat bagi keluarga,” ucap Rusdi.

Karena, tuturnya, ikan bukan hanya lezat dan mudah diolah, tetapi juga menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi generasi masa depan.

“Dari dapur kreatif para peserta Lomba Masak Serba Ikan, kita bangun budaya makan ikan yang menyenangkan, sehat, dan berkelanjutan, untuk seluruh masyarakat Indonesia,” ucap Rusdi.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kalsel Fathul Jannah Muhidin, bersama dinas terkait terus menggelorakan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Banua, sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat.

Pada ajang Lomba Masak Serba Ikan Tahun 2025 Tingkat Nasional di Jakarta, Dislutkan Kalsel bersama TP PKK Kalsel berhasil meraih juara dia, sekaligus memperkuat posisi Kalsel sebagai daerah inovasi kuliner ikan yang kompetitif secara nasional. (DISLUTKAN.KALSEL/SRI/RIW/EYN)

Peringati Hari Guru Nasional 2025, Kalsel Tekankan Penguatan Karakter dan Profesionalitas Guru

BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menggelar upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025, yang berlangsung di halaman Kantor Gubernur Kalsel, Banjarbaru, Selasa (25/11).  Bertindak sebagai inspektur upacara, Sekretaris Daerah Provinsi, Muhammad Syarifuddin.

Syarifuddin menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi–tingginya kepada seluruh guru di Kalimantan Selatan, yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam mencerdaskan generasi bangsa. Guru disebut sebagai pilar utama pendidikan, yang tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter peserta didik, agar siap menghadapi tantangan zaman.

Ia menegaskan, bahwa peringatan Hari Guru Nasional menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama, dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.

Pemerintah Provinsi Kalsel, lanjutnya, terus berupaya meningkatkan kompetensi pendidik melalui berbagai pelatihan, peningkatan kualitas kurikulum, serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang lebih merata dan modern.

“Guru tidak hanya menjadi pengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi inspirasi dan pembentuk karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa cinta sesama dan kepedulian terhadap lingkungan,” ucap Syarifuddin.

Syarifuddin juga menyoroti pentingnya peran guru sebagai teladan moral. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai–nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta kesadaran menjaga lingkungan hidup.

Ia berharap, seluruh pendidik di Kalimantan Selatan dapat terus meningkatkan profesionalitas, beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembelajaran, serta membangun suasana belajar yang humanis dan inklusif.

“Pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan sehingga pelajar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berempati, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” lanjut Syarifuddin.

Dilanjutkan Syarifuddin, dengan tema peringatan Hari Guru tahun ini yang menekankan pentingnya transformasi peran pendidik di tengah perubahan global, Pemprov Kalsel berkomitmen menguatkan sinergi bersama para guru dalam mewujudkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berkepribadian baik demi masa depan Kalimantan Selatan yang lebih maju. (MRF/RIW/EYN)

Gelar Seminar Corporate Farming, Upaya Brida Kuatkan Ekonomi dan Produksi Pertanian Kalsel

BANJARBARU – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan, terus memperkuat langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan seminar kajian pengembangan corporate farming, yang digelar di Aula BRIDA Kalsel, Selasa (25/11). Kegiatan ini menghadirkan akademisi, perangkat daerah, penyuluh, pegiat pertanian, serta pelaku usaha yang bergerak di bidang pangan dan agribisnis.

Kepala BRIDA Provinsi Kalsel, Taufik Hidayat.

Kepala BRIDA Kalsel, Taufik Hidayat menjelaskan, bahwa konsep corporate farming menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong pertanian modern yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu bersaing dalam skala besar. Melalui pendekatan ini, pola usaha tani rakyat yang sebelumnya berjalan secara individual dapat diintegrasikan ke dalam manajemen yang lebih terkoordinasi, sehingga mendorong produktivitas dan efisiensi produksi.

Menurut Taufik, corporate farming tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga menyasar penguatan ketahanan pangan daerah, peningkatan pendapatan petani, serta pembukaan peluang investasi yang lebih luas.

Dengan manajemen yang profesional, petani dapat lebih mudah mengakses teknologi pertanian, pembiayaan, hingga pemasaran produk.

“BRIDA Kalsel saat ini tengah melakukan kajian mendalam untuk memetakan potensi dan kesiapan daerah dalam menerapkan model corporate farming,” ucap Taufik

Dalam kegiatan seminar tersebut, sejumlah narasumber memaparkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan bahwa penerapan corporate farming di Kalimantan Selatan, berjalan sesuai karakteristik wilayah.

Taufik menambahkan, bahwa kajian ini diharapkan melahirkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif, sehingga pemerintah daerah dapat mengambil langkah terukur untuk meningkatkan produksi pertanian secara signifikan.

“Seminar ini bertujuan menggali masukan ilmiah dan teknis agar konsep corporate farming dapat diterapkan secara tepat di Kalimantan Selatan. Hasil kajian nantinya akan menjadi dasar pengambilan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas peluang investasi, dan menciptakan model pertanian modern yang berkelanjutan,” lanjut Taufik.

Ia juga menegaskan, bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ekonomi daerah. Dengan adanya kajian corporate farming, pemprov berharap produksi pertanian dapat meningkat, rantai pasok lebih efisien, dan daya saing produk lokal semakin kuat di pasar nasional maupun internasional.

“Melalui riset, inovasi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, konsep corporate farming diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern di Kalimantan Selatan,” tutup Taufik. (MRF/RIW/EYN)

Inflasi Terjaga, Belanja Pemerintah Jadi Stimulus Perekonomian Kalsel

BANJARMASIN – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan (DJPb Kalsel) mengumumkan, bahwa kondisi ekonomi dan fiskal daerah menunjukkan performa yang sangat positif dan stabil hingga akhir Oktober 2025. Dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata – rata nasional, pengelolaan anggaran yang efektif, dan dukungan kuat terhadap sektor-sektor kunci seperti UMKM, Kalsel berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan lokal dan global.

Hal ini disampaikan Catur Ariyanto Widodo, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan, saat Publikasi ALCo Regional Kalimantan Selatan realisasi hingga 31 Oktober 2025, dikantornya pada Selasa (25/11).

Hadir pula Abien Prastowidodo, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Selatan, Sugiyarto, Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, Kanwil DJP Kalimantan Selatan dan Tengah, Antonius Arie Wibowo, Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum, dan Informasi, Kanwil DJKN Kalimantan Selatan dan Tengah, serta tamu undangan lainnya.

Catur memaparkan, pertumbuhan ekonomi Kalsel mencapai 5,19% (yoy) pada Triwulan III 2025, didukung sektor pertambangan, pertanian, dan industri pengolahan.

Pengelolaan fiskal berjalan optimal, dengan belanja APBN mencapai 78,45 persen dari pagu dan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang dominan sebesar Rp25,71 triliun.

“Kinerja APBD juga menunjukkan surplus yang tinggi, menandakan potensi besar untuk percepatan pembangunan,” jelas Catur.

Dukungan terhadap UMKM berjalan efektif, dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp4,17 triliun dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp56,52 miliar, yang menjadi bukti komitmen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, bagi Kalimantan Selatan.

Catur menambahkan, hingga Oktober 2025, Neraca Perdagangan Kalsel mencatatkan surplus sebesar US$775,67 juta. Meski masih mencetak surplus, angka ini mengalami kontraksi sebesar 29,67% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kinerja ini dipengaruhi nilai Ekspor Oktober yang tercatat sebesar US$877,65 juta (turun 31,0% secara year-on-year) dan nilai Impor sebesar US$101,98 juta (turun 39,4% secara year-on-year).

Dari sisi harga, tingkat inflasi di Kalimantan Selatan pada Oktober 2025 tercatat sebesar 3,11% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,42. Angka ini berada di atas tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,86% (yoy).

Secara bulanan (month-to-month), Kalsel mengalami inflasi sebesar 0,36%, berbeda dengan kondisi nasional yang mencatatkan inflasi lebih rendah (0,28%).

“Tekanan inflasi bulan ini terutama didorong kenaikan harga pada kelompok pengeluaran tertentu. Komoditas penyumbang utama andil inflasi adalah emas perhiasan, ikan gabus, dan telur ayam ras,” ujarnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas pangan seperti cabai rawit, cabai merah, dan terong justru memberikan andil deflasi, membantu menahan laju inflasi lebih lanjut.

Sementara itu, realisasi Belanja Negara mencapai Rp32,29 triliun (78,45% dari pagu). Berbeda dengan bulan sebelumnya, pertumbuhan belanja negara kini mengalami kontraksi tipis sebesar 1,14% (yoy). Kontraksi ini dipengaruhi penurunan pada Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar 10,14% dan melambatnya pertumbuhan Transfer ke Daerah (TKD) yang kini hanya tumbuh 1,47% (yoy).

Meski demikian, TKD masih mendominasi struktur belanja dengan porsi 79,63% (Rp25,71 triliun). Di sisi penerimaan, Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp11,31 triliun atau 51,29% dari target penerimaan tahunan. Capaian ini mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 27,35% (yoy), yang utamanya disebabkan penurunan penerimaan perpajakan (Pajak Dalam Negeri) dan PNBP.

Namun, terdapat catatan positif pada penerimaan Kepabeanan dan Cukai yang tumbuh impresif 192,50% (yoy). Ketimpangan antara realisasi pendapatan dan belanja ini, mengakibatkan defisit anggaran melebar menjadi Rp20,98 triliun.

Di sisi lain, kinerja APBD Regional Kalimantan Selatan hingga Oktober 2025 masih mencatatkan surplus anggaran sebesar Rp9,27 triliun, dengan nilai SiLPA mencapai Rp16,39 triliun.

Surplus ini terbentuk dari realisasi Pendapatan Daerah yang mencapai Rp36,04 triliun (85,91% dari target), meskipun secara total pendapatan ini turun 6,01% (yoy).

“Kabar baiknya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) mampu tumbuh positif 1,09 persen, didorong kenaikan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan pajak daerah,” tambahnya

Sementara itu, realisasi Belanja Daerah tercatat sebesar Rp26,77 triliun atau baru mencapai 52,61% dari pagu. Penyerapan belanja ini masih mengalami kontraksi sebesar 9,36% (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kontraksi terdalam masih terjadi pada komponen Belanja Modal yang terkoreksi signifikan sebesar 28,67% (yoy), mengindikasikan perlunya akselerasi fisik di sisa tahun anggaran. (DJPbKalsel-RIW/EYN)

Berbaur Duduk di Jalan, Ketua DPRD Kalsel Supian HK Temui Aksi Massa BEM se-Kalsel

BANJARMASIN –Badan Eksekutif Mahasiswa se- Kalimantan Selatan, menyampaikan aspirasi, sehubungan adanya percepatan pembahasan dan rencana pengesahan RUU KUHAP, yang dinilai mengandung banyak pasal bermasalah, berpotensi mengancam prinsip-prinsip due process of law , melemahkan perlindungan HAM, serta membuka ruang kriminalisasi masyarakat sipil.

Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Supian HK, didampingi Ketua Komisi I, Rais Ruhayat, anggota Komisi II, Firman Yusi, anggota Komisi III, Husnul Fatahillah; Sekretaris DPRD Kalsel, Muhammad Jaini, serta pejabat kepolisian, berbaur dan duduk bersama massa aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalsel, yang menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, Senin (24/11) sore.

Ketua DPRD Provinsi, Ketua Komisi I, anggota Komisi II, anggota Komisi III, Sekretaris DPRD Kalsel, serta pejabat kepolisian, duduk berbaur dengan mahasiswa.

Kehadiran Ketua DPRD bersama jajaran, menunjukkan apresiasi positif terhadap aspirasi mahasiswa yang menyuarakan keberatan terkait percepatan pengesahan RUU KUHAP serta isu lingkungan di Kalsel.

Aksi massa yang dimulai sekitar pukul 15.00 WITA ini menyoroti percepatan pengesahan RUU KUHAP yang dinilai memiliki sejumlah pasal bermasalah, serta berpotensi mengancam prinsip proses hukum dan hak asasi manusia.

“Kami minta DPRD Kalsel selaku wakil rakyat mau mendengarkan dan menyampaikan aspirasi kami,” ujar salah seorang koordinator lapangan, M Anzari.

Selain menyoroti RUU KUHAP, mahasiswa juga mengeluhkan minimnya perhatian legislatif terhadap isu lingkungan, termasuk pengawasan pertambangan dan perlindungan kawasan Meratus.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kalsel Supian HK meminta mahasiswa tetap tenang. Bahwa DPRD tidak menutup telinga. Aspirasi masyarakat harus diteruskan, apalagi jika menyangkut hajat publik yang luas.

Ia menegaskan, DPRD Kalsel memiliki kewenangan menyampaikan rekomendasi resmi ke DPR RI, sehingga suara daerah tetap tersampaikan pada tingkat nasional.

“Apa -apa yang adik-adik sampaikan hari ini, akan kami bawa dalam rapat pimpinan dan komisi terkait,” jelasnya.

sumber Humas DPRD Kalsel.

Supian HK menyampaikan, terkait isu lingkungan, perlunya pengawasan lebih kuat dan menyatakan isu tersebut akan dibawa dalam pembahasan lintas komisi.

“Kami tidak anti kritik. Justru masukan seperti inilah yang membuat DPRD bekerja lebih hati-hati,” katanya.

Setelah lebih dari satu jam aksi berjalan kondusif, massa meminta dialog dilanjutkan di dalam gedung DPRD tanpa pembatasan jumlah peserta. Pimpinan DPRD menyanggupi dialog, namun dengan syarat maksimal 20 perwakilan masuk ke ruang pertemuan, menimbang kapasitas dan keamanan gedung.

Dua perwakilan BEM, Adi Jayadi dan M Anzari, disilakan melihat langsung ruangan dialog. Setelah ditinjau, mereka menilai ruangan terlalu kecil dan meminta dialog dipindah ke ruang utama rapat paripurna. Permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan pimpinan DPRD.

Ketika perwakilan BEM kembali ke luar untuk musyawarah internal, Ketua DPRD Kalsel, harus meninggalkan lokasi karena agenda perjalanan dinas luar daerah yang sudah terjadwal dan tidak dapat ditunda.

Namun, aksi tetap dikawal anggota DPRD lainnya serta jajaran Sekretariat DPRD Kalsel. Setelah bermusyawarah, massa menolak pembatasan jumlah peserta dialog dan menyatakan akan masuk secara paksa.

Puluhan massa lalu mendorong pintu gerbang DPRD. Aparat kepolisian yang siaga dari dalam pagar membentuk pagar betis untuk menahan massa agar tidak merangsek masuk. Aksi dorong – dorongan berlangsung singkat, sebelum massa akhirnya mundur.

Tak lama, massa membakar spanduk yang mereka bawa sambil kembali berorasi. Aparat tetap bertindak humanis dan terukur, memastikan situasi tetap aman tanpa adanya korban. Sekitar pukul 18.00 WITA, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib. (ADV-NHF/RIW/EYN)

Pansus III DPRD Kalsel, Setujui Draf Ranperda Penambahan Penyertaan Modal Bank Kalsel

BANJARMASIN – Setelah melalui beberapa kali pembahasan bersama pihak terkait, akhirnya Panitia Khusus III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (Pansus III DPRD Kalsel), menyetujui draf Rancangan Peraturan Daerah Tentang Penambahan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Kalsel, kepada Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan.

Ketua Pansus III DPRD Kalsel, Rosehan Noor Bachri, saat memimpin rapat.

Ketua Pansus III DPRD Kalsel, Rosehan Noor Bachri, usai menggelar rapat pembahasan, baru-baru tadi menyampaikan, pertemuan ini merupakan tahapan finalisasi dari pembahasan penyusunan draf ranperda penambahan penyertaan modal untuk Bank Kalsel, yang nilainya mencapai 400 milyar. Penyertaan modal ini nantinya dilakukan secara bertahap selama 2 tahun anggaran, yakni 200 milyar di tahun 2026 dan 200 milyar lagi di tahun 2027.

“Hari ini diputuskan untuk penyertaan modal dari pemerintah provinsi sebanyak 400 milyar, dilakukan dengan bertahap. Yang pertama di tahun 2026, 200 milyar, kemudian pada tahun 2027, 200 milyar”, ujarnya.

Dengan penambahan ini, Rosehan berharap, selain untuk menjaga investasi Pemprov Kalsel ke Bank Kalsel, sahamnya tetap lebih besar dibandingkan saham milik pemerintah kabupaten/kota. Selain itu, diharapkan nantinya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Kalsel.

“Saya juga mengingatkan kepada Bank Kalsel supaya penyertaan modal ini betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalimantan Selatan,” pintanya

Lebih lanjut Rosehan menambahkan, adanya pesan dari Menkeu RI bahwa uang yang ada di pemerintah provinsi dimanfaatkan betul – betul, sehingga kehidupan perekonomian di Kalimantan Selatan dapat menjaga stabilitas nasional.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Kalsel, Fachruddin menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada Pansus III DPRD Kalsel, atas disetujuinya draf ranperda penambahan penyertaan modal untuk Bank Kalsel.

Dengan adanya penambahan modal ini tentunya akan mengembalikan posisi Pemprov Kalsel, sebagai pemegang kendali saham Bank Kalsel.

“Alhamdulillah hari ini Pansus III DPRD Kalsel menyetujui (ranperda) untuk selanjutnya disahkan menjadi Perda penambahan modal sebesar 400 milyar. Dengan setor 400 milyar ini akan mengembalikan posisi pemegang saham pengendalinya adalah pemerintah provinsi”, ujarnya.

Terkait beberapa pesan dan catatan Pansus III pada saat pembahasan, akan menjadi perhatian serius Bank Kalsel dalam rangka perbaikan dan peningkatan kinerja ke depan.

“Beberapa pesan dari Pansus ini akan jadi pengingat kami untuk lebih meningkatkan kinerja lagi, meningkatkan pemberian kredit, dan mayoritasnya adalah masyarakat Kalimantan Selatan”, pungkasnya

Rapat finalisasi tersebut selain dihadiri langsung Direktur Utama Bank Kalsel beserta jajaran, juga diikuti para pejabat dari Bappeda, Bapenda, BPKAD, Biro Hukum dan Biro Perekonomian Setdaprov Kalsel. (ADV-NHF/RIW/EYN)

Ratusan Atlet 23 Provinsi di Indonesia, Ramaikan Kejurnas Tenis Meja 2025 di Kalsel

BANJARMASIN – Kejuaraan Nasional Tenis Meja Tahun 2025, resmi digelar di Kalimantan Selatan, setelah dibuka Gubernur Muhidin, diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Ariadi Noor, di GOR Hasanuddin HM, Senin (24/11).

Kejurnas Tenis Meja 2025 resmi dibuka.

Dalam sambutannya yang dibacakan Ariadi Noor, Gubernur menyampaikan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sangat mengapresiasi dan mendukung pelaksanaan Kejurnas Tenis Meja ini.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, saya menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada panitia pelaksana, PB PTMSI, KONI, para sponsor serta seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga kejurnas ini terselenggara,” ungkapnya.

Gubernur berharap, kejurnas ini dapat memberikan manfaat sebesar besarnya, tidak hanya sebagai ajang kompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga sebagai wadah mempererat silaturrahmi, meningkatkan sportivitas, serta membangun semangat kebersamaan di antara seluruh atlet, pelatih, official, dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.

“Kalsel merasa bangga dan terhormat menjadi tuan rumah Kejurnas Tenis Meja ini,” ucapnya.

Selain menjadi ajang prestasi, lanjut Gubernur, kejurnas ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat pembinaan olahraga, memperluas minat masyarakat, dan mengukur kualitas atlet atlet terbaik dari seluruh Indonesia.

“Saya berharap, para atlet yang bertanding dapat menunjukkan performa terbaiknya, menjunjung tinggi semangat fair play, dan menjadikan rally, setiap pukulan, dan setiap set sebagai pengalaman berharga untuk meningkatkan kualitas diri,” ujarnya.

Jadikan kompetisi ini sebagai ruang bertumbuh, bukan semata mencari kemenangan. Karena sejatinya, menurut Gubernur, kemenangan terbesar adalah ketika mampu mengalahkan rasa takut, rasa ragu, dan keterbatasan dalam diri masing masing.

“Kepada para pelatih dan ofisial, saya berharap dapat memberikan pendampingan yang terbaik, membimbing atlet dengan penuh dedikasi, serta menjaga semangat kebersamaan dan persaudaraan antar daerah,” ucapnya.

Gubernur menegaskan, untuk para wasit dan juri agar dapat menjalankan tugas dengan penuh integritas, objektivitas, dan profesionalisme. Sebab, keberhasilan kejuaraan tidak hanya ditentukan kualitas atlet, tetapi juga keadilan dan ketegasan seluruh perangkat pertandingan.

“Semoga kehadiran Kejurnas Tenis Meja 2025 di Kalsel mampu memberikan dampak positif bagi sektor olahraga, pariwisata, hingga perekonomian lokal,” ucap Gubernur.

Sementara itu, Ketua Panitia Kejurnas Tenis Meja Kalsel, Ahmad Faridi mengatakan, kejurnas ini diikuti total 500 peserta dari 23 provinsi di Indonesia, dan mempertandingkan 17 kategori. Terdiri dari kelompok umur serta dewasa, dengan memakai sistem gugur..

Kejurnas Tenis Meja Tahun 2025 ini, dihadiri langsung Ketua Umum Pengurus Besar Pesatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) Peter Layardi Lay, Ketua PTMSI Kalsel Surya Dharma, dan Sekretaris PTMSI Kalsel Irwansyah. (SRI/RIW/EYN)

Exit mobile version