13 Februari 2026

UPB Sungai Tabuk Dukung Ketahanan Pangan, Hasilkan 3 Ton Benih Padi Per Hektare

BANJAR – Unit Produksi Benih (UPB) Sungai Tabuk, yang dikelola Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Provinsi Kalimantan Selatan, terus menunjukkan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan daerah.UPB Sungai Tabuk, yang berlokasi di Kabupaten Banjar ini, memiliki luas lahan sekitar 10 hektare dan menjadi salah satu pusat perbanyakan benih padi unggul terbesar di Kalimantan Selatan.

Keberadaan UPB ini berperan strategis dalam memastikan ketersediaan benih unggul dan berkualitas yang sangat dibutuhkan oleh para petani di daerah.

Penanggung Jawab UPB Sungai Tabuk, Khairiyadi menjelaskan, bahwa proses produksi benih dilakukan secara rutin dua kali dalam setahun, baik pada musim tanam kemarau maupun musim hujan. Dengan pola produksi seperti ini, pasokan benih padi unggul dan benih lokal yang adaptif terhadap kondisi lingkungan di Kalsel selalu tersedia dan berkesinambungan. Sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi setiap musim tanam.

Penanggung Jawab UPB Sungai Tabuk, Khairiyadi

“Keberadaan UPB Sungai Tabuk sangat penting karena berfungsi sebagai penjamin mutu benih padi. Dengan benih unggul yang berkualitas, produktivitas lahan pertanian dapat ditingkatkan, sehingga hasil panen menjadi lebih maksimal. Hal ini tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah,” ungkap Khairiyadi pada Selasa (9/9).

Meski demikian, Khairiyadi mengakui bahwa produksi benih padi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan, terutama serangan hama, kerap menjadi kendala yang harus diatasi tim UPB.

Hama seperti walang sangit, hawar daun, dan busuk batang biasanya masih dapat dikendalikan dengan tindakan pengendalian rutin. Namun, ancaman utama justru datang dari hama tikus dan burung pipit yang sulit diberantas secara tuntas, karena populasinya cepat berkembang dan sering menyerang tanaman padi saat mendekati masa panen.

“Ancaman hama tikus dan burung pipit ini tidak hanya kami rasakan, tetapi juga dialami para petani di sekitar lahan. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan kelompok tani dan instansi terkait untuk melakukan upaya pengendalian secara terpadu, agar kerugian bisa ditekan seminimal mungkin,” lanjut Khairiyadi.

Meski menghadapi tantangan tersebut, produktivitas UPB Sungai Tabuk tetap terjaga. Rata-rata hasil yang diperoleh mencapai 5 ton gabah kering panen per hektare. Setelah melalui proses pengeringan, pembersihan, dan pengemasan sesuai standar, benih padi yang siap tanam mencapai sekitar 3 ton per hektare.

Benih-benih ini kemudian disalurkan kepada para petani di berbagai daerah di Kalimantan Selatan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk musim tanam berikutnya.

Lebih jauh, Khairiyadi menegaskan bahwa keberhasilan UPB Sungai Tabuk dalam menjaga kontinuitas pasokan benih merupakan bukti nyata peran penting unit ini dalam mendukung program pemerintah daerah, khususnya di bidang ketahanan pangan. Dengan adanya ketersediaan benih yang bermutu, diharapkan produktivitas pertanian di Kalimantan Selatan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Ia juga mengajak para petani untuk memanfaatkan benih unggul yang dihasilkan UPB agar hasil panen lebih optimal, serta menerapkan pola tanam dan pengendalian hama secara terpadu.

“Kami berharap kolaborasi antara UPB, pemerintah daerah, dan petani terus terjalin, sehingga target swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani bisa tercapai,” pungkasnya.

Dengan kinerja yang konsisten, tambahnya, UPB Sungai Tabuk kini dipandang sebagai salah satu motor penggerak utama dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah. Peran strategis ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi padi di Kalimantan Selatan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. (MRF/RIW/RH)

Tinggalkan Balasan

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.