Kurangi Dampak ISPA, RSJ Sambang Lihum Bagikan Masker bagi Klien

Banjar – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan menyiapkan masker bagi klien, sebagai langkah untuk mengurangi dampak paparan udara yang berpotensi memicu gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Bidang Penunjang Non Medik RSJ Sambang Lihum, Salbiah mengatakan, penyediaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan bagi klien, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik akibat kabut asap.

Menurutnya, penggunaan masker diharapkan membantu mengurangi paparan partikel dan asap yang terhirup, sehingga mampu menekan risiko gangguan pernapasan pada klien.

“Selain penyediaan masker, pihak rumah sakit juga terus memperhatikan kondisi lingkungan dan kesehatan klien sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan dan perlindungan selama kondisi udara kurang baik,” ujarnya, Selasa (29/9).

Salbiah mengimbau penggunaan masker dilakukan sesuai kebutuhan, terutama ketika berada di luar ruangan atau pada kondisi udara yang terpapar asap.

Selain itu, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan memastikan kondisi pasien saat ini aman dan pelayanan tetap berjalan normal setelah kawasan rumah sakit sempat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Salbiah menjelaskan, bahwa tindakan evakuasi yang dilakukan saat karhutla merupakan evakuasi internal dengan memindahkan pasien dari ruangan yang berada lebih dekat dengan lokasi kejadian ke ruangan lain yang dinilai lebih aman.

“Yang terdampak langsung itu ruangan Napza wanita sama ruang transit wanita. Jadi pasien yang di ruang tersebut kami pindahkan ke ruang MPKP, ke ruang seberangnya, karena posisinya agak jauh dengan lokasi kejadian kebakaran,” jelas Salbiah.

Menurutnya, pemindahan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan keselamatan pasien, terutama ketika asap dan titik api berada di sekitar kawasan rumah sakit.

Salbiah menegaskan, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Setelah penanganan kebakaran dilakukan dan situasi dinilai lebih terkendali, pasien yang sebelumnya dipindahkan kemudian dikembalikan ke ruangan masing – masing.

“Besoknya sudah kami pindahkan balik karena posisi kebakaran sudah ditangani. Jadi sekarang tidak ada lagi pasien yang dievakuasi dan mereka tetap di ruangan masing – masing sesuai dengan kondisi medisnya,” tutupnya. (MRF/RIW/EPS)

Terpapar Kabut Asap, SMA Banua Kalsel Lanjutkan PJJ

Banjarbaru – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti kawasan Gambut dan sekitarnya membuat SMA Banua Kalsel melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kebijakan tersebut diberlakukan sejak Jumat (25/9), setelah sekolah menemukan masih banyak titik kebakaran di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi dan sekitarnya.

Kepala Sekolah SMAN Banua Kalsel

Kepala SMA Banua Kalsel, Risa Lisdariani mengatakan, keputusan PJJ diambil untuk meminimalkan risiko paparan kabut asap terhadap siswa, mengingat sekolah menerapkan sistem boarding atau asrama.

“Mulai Jumat, 25 September 2026 kami mengadakan PJJ karena kondisi titik kebakaran banyak dijumpai di daerah Jalan Gubernur Syarkawi dan sekitarnya,” ujar Risa, Selasa (29/9).

Meski pembelajaran dilakukan dari lokasi masing-masing, Risa memastikan kualitas dan beban pembelajaran tetap dipertahankan. Jadwal pelajaran tidak mengalami perubahan dan siswa tetap mengikuti proses belajar sesuai ketentuan sekolah.

“Paradigma pembelajaran jarak jauh harus tetap menempatkan kualitas pembelajaran di atas segalanya. Tidak ada waktu dan jadwal pelajaran yang berubah, bahkan belajar mandiri juga tetap dilaksanakan seperti biasa,” jelasnya.

Pelaksanaan PJJ juga mempertimbangkan kondisi siswa SMA Banua Kalsel yang berasal dari berbagai daerah. Sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel serta Pengawas Pembina agar kebijakan pembelajaran dapat menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan.

Evaluasi dilakukan setiap pekan. Dengan demikian, keputusan untuk kembali menerapkan pembelajaran tatap muka akan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan hasil evaluasi bersama.

“Kami meminta izin dengan Disdikbud untuk melaksanakan PJJ dengan evaluasi per minggu,” sebut Risa.

Selama PJJ, kegiatan akademik sekolah tetap berjalan. Sejumlah program pendidikan, termasuk Program Sekolah Unggul Garuda Transformasi, tetap dilaksanakan bagi siswa maupun guru.

Risa menegaskan, PJJ tidak berarti aktivitas pendidikan dihentikan. Sistem pembelajaran hanya dipindahkan dari lingkungan sekolah ke tempat masing-masing siswa sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi kabut asap. (SYA/RIW/EPS)

TPK Banjarmasin Catat 388.823 TEUs hingga Agustus, Jaga Keandalan Layanan Logistik

Banjarmasin – PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Petikemas (TPK) Banjarmasin mencatat pelayanan 388.823 TEUs atau setara 326.308 box hingga Agustus 2026, seiring dengan aktivitas distribusi barang melalui wilayah Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Capaian tersebut mendorong TPK Banjarmasin terus menjaga kesiapan operasional guna memastikan kegiatan pelayanan berjalan aman, lancar, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa.

Terminal Head Terminal Petikemas Banjarmasin, Sirin Purnomo mengatakan, volume pelayanan yang ditangani terminal perlu diimbangi dengan kesiapan operasional, baik dari sisi peralatan, sumber daya manusia, maupun proses perencanaan kegiatan.

“Volume pelayanan yang kami tangani menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk memastikan setiap proses di terminal tetap berjalan aman dan lancar. Karena itu, kesiapan peralatan, kompetensi personel, perencanaan operasional, dan koordinasi dengan pengguna jasa terus kami jaga secara beriringan,” ujar Sirin.

Menurutnya, kelancaran kegiatan di terminal tidak hanya ditentukan satu fungsi, tetapi merupakan hasil dari keterhubungan berbagai proses dan pihak dalam rantai logistik.

Karena itu, TPK Banjarmasin terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasional sekaligus memperkuat komunikasi dengan pengguna jasa untuk mengantisipasi dinamika pelayanan di lapangan.

“Masukan dari pengguna jasa menjadi bagian penting dalam evaluasi kami. Dengan komunikasi yang baik, kebutuhan operasional dapat dipahami lebih cepat dan ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan,” katanya.

Sirin menambahkan, aspek keselamatan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keandalan pelayanan.

“Produktivitas harus berjalan seiring dengan keselamatan. Setiap proses harus dilakukan sesuai prosedur agar kelancaran operasional tetap terjaga tanpa mengesampingkan aspek safety,” ujarnya.

Dari sisi pengguna jasa, Kepala Cabang PT Tanto Banjarmasin Rifqi Novega Dwi Putra mengatakan, bahwa dalam menjaga keandalan layanan, TPK Banjarmasin juga terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia, kesiapan peralatan, penguatan perencanaan dan pengendalian operasional, serta penerapan standar keselamatan dalam kegiatan terminal.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan tetap mampu mengikuti kebutuhan pengguna jasa sekaligus mendukung kelancaran distribusi barang melalui Kalimantan Selatan.

TPK Banjarmasin berkomitmen menjaga konsistensi kualitas layanan melalui penguatan kesiapan operasional dan komunikasi dengan seluruh pihak dalam rantai logistik.

Dengan pendekatan tersebut, aktivitas terminal diharapkan dapat terus memberikan dukungan terhadap kelancaran distribusi barang, konektivitas logistik, dan kegiatan ekonomi di Kalimantan Selatan serta wilayah sekitarnya. (Pelindo-RIW/EPS)

Respons Kekeringan, Pemko Banjarbaru Salurkan Air Bersih

Banjarbaru – Pemerintah Kota Banjarbaru kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Penyaluran dilakukan di Jalan Kuranji, Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru, Selasa (29/9).

Penyaluran bantuan dipimpin langsung Wali Kota Erna Lisa Halaby. Kehadiran Wali Kota sekaligus untuk meninjau kondisi warga serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat di tengah musim kemarau tetap terpenuhi.

Penyaluran air bersih tersebut merupakan respons Pemko Banjarbaru terhadap aduan masyarakat mengenai kesulitan mendapatkan air bersih.

Wali Kota Erna Lisa Halaby mengatakan, di kawasan Jalan Kuranji terdapat sejumlah sumur warga yang mulai terdampak kekeringan. Namun, masih ada pula sumur yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Kawasan di Jalan Kuranji ini memang ada sebagian sumur warga yang terdampak kekeringan. Namun, Alhamdulillah sebagian sumur warga masih dapat digunakan. Hari ini kita ada lima tangki pendistribusian air bersih untuk masyarakat,” ujarnya.

Dengan penyaluran di Kelurahan Guntung Manggis, distribusi bantuan air bersih oleh Pemko Banjarbaru telah mencapai 54 titik.

Sebelumnya, bantuan telah disalurkan di 53 titik berdasarkan kebutuhan serta laporan dan aduan masyarakat.

“Ini sudah titik ke-54 untuk titik pendistribusian. Sebelumnya 53 titik dan ini bertambah lagi berdasarkan aduan dari masyarakat. Kita langsung memberikan dan mendistribusikan air bersih ini kepada masyarakat,” katanya.

Selain mengandalkan sumber daya pemerintah daerah, penanganan kekeringan juga dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri.

Sebelumnya, TNI Angkatan Udara turut membantu mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak.

“Alhamdulillah kami juga berkolaborasi dan bersinergi dengan TNI-Polri. Kemarin TNI AU juga memberikan distribusi air bersih untuk masyarakat. Tentunya kita harus bergotong royong untuk menghadapi kekeringan di masyarakat ini,” tuturnya.

Selain memastikan ketersediaan air bersih, Wali Kota bersama tim medis turut memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Pemantauan dilakukan dengan mengunjungi sejumlah warga, termasuk masyarakat yang mendapatkan layanan homecare.

Dari hasil pemantauan sementara, belum ditemukan warga yang mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi kekeringan.

Pemko Banjarbaru memastikan penyaluran air bersih dan pemantauan kesehatan akan terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.

Pemerintah daerah juga akan terus merespons aduan masyarakat serta memperkuat koordinasi dengan unsur terkait untuk menghadapi dampak kekeringan selama musim kemarau. (BDR/RIW/EPS)

Tinjau IPA 2 Bandarmasih, Ini Pesan Wali Kota Hadapi Krisis Air Bersih

Banjarmasin – Wali Kota, Muhammad Yamin, bersama Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, didampingi Direktur Utama PT PAM Bandarmasih Zulbadi, meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Bandarmasih di kawasan Jalan Pramuka, Selasa (29/9).

Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin menyampaikan, kunjungan ini untuk melihat langsung pengolahan serta ketersediaan air baku di PT PAM Bandarmasih.

Ket foto : Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin

Mengingat, saat ini Kota Banjarmasin sedang mengalami kekurangan air baku, akibat musim kemarau panjang tahun ini.

“Peninjauan ini untuk memastikan pengolahan air bersih oleh PT PAM Bandarmasih,” ungkap Yamin.

Selain itu, lanjut Yamin, kunjungan ini juga untuk memastikan ketersediaan air baku memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Kota Banjarmasin.

“Air baku di IPA 2 ini berasal dari Sungai Tabuk,” ucapnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Banjarmasin terus berusaha mengatasi permasalahan air baku yang terjadi saat ini.

“Permasalahan kurangnya air baku ini hendaknya tidak terjadi lagi tahun tahun berikutnya, apabila kemarau panjang terjadi kembali,” jelas Yamin.

Menurut Yamin, untuk selanjutnya Pemko Banjarmasin akan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berencana membangun embung.

“Baru baru tadi kami dipanggil Gubernur Kalsel Muhidin untuk membicarakan rencana awal pembangunan embung tersebut,” ucap Yamin.

Oleh karena itu, pihaknya meminta jajaran PT PAM Bandarmasih dan Pemko Banjarmasin untuk menindaklanjuti arahan gubernur tersebut.

Sementara itu, Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin mengatakan, Polresta Banjarmasin ikut mengantisipasi kurangnya air baku IPA 2 akibat musim kemarau panjang.

“Kepolisian mengantisipasi munculnya persoalan, khususnya terkait kamtibmas, akibat kurang air baku,” ungkap Riza.

Mengingat, lanjutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat, yang perlu diantisipasi bersama sama dengan pemerintah daerah.

“Polresta Banjarmasin juga turut serta menyediakan air bersih di kawasan yang terkena dampak kekeringan,” ucap Riza. (SRI/RIWEPS)

Perkuat Prestasi Atlet, Dispora Hadirkan Tenaga Ahli dan Terapis Olahraga

Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) terus memperkuat sistem pendampingan atlet, tidak hanya dari sisi latihan, tetapi juga pemulihan dan dukungan tenaga ahli.

Langkah tersebut dilakukan melalui Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan dengan memfasilitasi tenaga ahli untuk mendukung kegiatan pemusatan latihan daerah (Pelatda) maupun pendampingan atlet saat menghadapi berbagai kejuaraan.

Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hafiz, melalui Kepala Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Zulhaidir mengatakanz saat ini pihaknya telah menyiapkan 20 terapis yang menjadi bagian dari sistem pendampingan atlet.

“Untuk saat ini kami memfasilitasi tenaga ahli yang mensupport kegiatan pemusatan latihan daerah atau pendampingan. Ada 20 terapis, kemudian ada strength and conditioning konsultan dari PPFI serta beberapa pelatih nasional yang mendampingi sejumlah cabang olahraga,” ujar Zulhaidir, Selasa (29/9).

Menurutnya, keberadaan tenaga ahli menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi atlet, terutama ketika menjalani latihan intensif maupun pertandingan.

Terapis, misalnya, berperan membantu proses pemulihan atlet setelah menjalani latihan maupun pertandingan.

Sementara konsultan olahraga memberikan pendampingan kepada pelatih daerah agar program latihan dapat dilakukan secara lebih terukur.

Dispora Kalsel juga menyiapkan penguatan dukungan dengan menargetkan penambahan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog olahraga, fisioterapis dan dokter olahraga.

“Kita berharap ke depan sport science ini bisa dilengkapi dengan psikolog olahraga, fisioterapi dan juga dokter,” jelasnya.

Zulhaidir menyebut, pendampingan tenaga ahli tersebut telah dilakukan selama kurang lebih empat tahun. Pendampingan tidak hanya diberikan ketika atlet bertanding, tetapi juga sejak menjalani latihan di daerah.

Dampaknya, kata dia, mulai terlihat dari kemampuan atlet menjaga kebugaran selama mengikuti kompetisi, termasuk dalam menghadapi pertandingan multi-event maupun single-event.

“Di setiap kegiatan kejuaraan nasional mereka melakukan pendampingan, baik saat atlet latihan maupun pertandingan. Bagaimana atlet saat bertanding dan setelah bertanding bisa kembali bugar dengan dilakukan terapi. Itu kelihatan dari perolehan medali yang kita raih selama ini, baik multi-event maupun single-event,” katanya.

Saat ini, setiap single-event umumnya didampingi satu hingga dua terapis, sedangkan pada multi-event seluruh terapis dikerahkan untuk mendukung kebutuhan atlet.

Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan awal program pendampingan. Dari sebelumnya hanya dua terapis, kini Dispora Kalsel telah memiliki 20 terapis.

Meski demikian, Zulhaidir mengakui kebutuhan tenaga pendamping masih cukup besar. Mengingat, terdapat 21 cabang olahraga dalam program pemusatan latihan daerah yang membutuhkan dukungan tenaga profesional secara berkelanjutan.

Untuk tenaga dokter, idealnya diperlukan sedikitnya 2 hingga 4 orang. Sementara kebutuhan psikolog olahraga diperkirakan dapat mencapai 6 hingga 10 orang.

“Harapannya memang ada tambahan, tetapi dengan efisiensi anggaran kita memaklumi. Paling tidak kita optimalkan yang ada dulu. Kita berharap ada tambahan psikolog olahraga dan dokter ke depan kalau anggaran mencukupi,” pungkasnya.

Penguatan tenaga pendamping tersebut menjadi bagian dari upaya Dispora Kalsel membangun pembinaan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga memastikan atlet memperoleh dukungan menyeluruh sejak latihan, kompetisi hingga proses pemulihan. (DISPORAKALSEL-SRI/RIW/EPS)

Komisi II Pelajari Skema Kredit UMKM BPD DIY

Yogyakarta — Komisi II DPRD Kalimantan Selatan mempelajari skema pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diterapkan BPD Daerah Istimewa Yogyakarta dengan bunga kredit sebesar 3 persen.

Kunjungan Senin (28/9) tersebut, menjadi bagian dari upaya Komisi II DPRD Kalsel untuk menggali berbagai inovasi pengembangan sektor UMKM, khususnya terkait kemudahan akses permodalan bagi masyarakat.

Ketua Komisi II DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi

Ketua Komisi II DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi mengatakan, skema pembiayaan dengan bunga rendah menjadi salah satu hal penting yang perlu dipelajari untuk melihat kemungkinan penerapannya di Kalimantan Selatan.

Menurutnya, UMKM memiliki peran besar menggerakkan perekonomian masyarakat. Karena itu, dukungan terhadap pelaku usaha tidak cukup hanya melalui pembinaan, tetapi juga harus dibarengi dengan akses permodalan yang terjangkau.

“Yang kita pelajari di sini bagaimana pola kredit untuk UMKM, termasuk bagaimana bunga yang diberikan bisa rendah, sehingga tidak terlalu membebani masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya,” katanya.

Ia menjelaskan, pengalaman BPD DIY akan menjadi bahan masukan Komisi II DPRD Kalsel, mendorong penguatan kebijakan pembiayaan UMKM di daerah.

Yani Helmi menilai, kemudahan memperoleh modal dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha.

Namun demikian, menurutnya, pemberian kredit tetap harus disertai dengan mekanisme yang tepat agar pembiayaan benar-benar diterima oleh pelaku UMKM yang membutuhkan dan mampu mengembalikannya sesuai ketentuan.

“Artinya bukan hanya bunganya yang kita lihat, tetapi juga bagaimana sistemnya berjalan, siapa yang mendapatkan, dan bagaimana pengawasannya. Ini yang penting untuk kita pelajari,” jelasnya.

Yani Helmi menambahkan, Komisi II DPRD Kalsel berharap hasil kunjungan tersebut menjadi referensi mendorong pengembangan program pembiayaan UMKM di Kalimantan Selatan.

Penguatan
UMKM perlu menjadi perhatian bersama karena sektor ini berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat dan pembukaan lapangan pekerjaan.

“Dengan mempelajari pola pembiayaan yang telah berjalan di daerah lain, dapat menemukan formula yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Kalimantan Selatan,” tutupnya. (ADV-NHF/RIW/EPS)

Komitmen TPK Banjarmasin Dukung Operasional Aman dan Nyaman bagi Pengemudi

Banjarmasin – Terminal Petikemas Banjarmasin terus memperkuat transformasi operasional melalui pengembangan fasilitas dan tata kelola layanan yang mendukung terciptanya kegiatan kepelabuhanan yang aman, tertib, efisien, dan nyaman, termasuk bagi para pengemudi truk sebagai bagian penting dalam rantai logistik.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyediaan Shelter Waiting Area, fasilitas ruang tunggu khusus bagi pengemudi truk yang menunggu giliran atau jadwal pelayanan bongkar muat.

Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya penataan alur kendaraan di dalam kawasan terminal agar proses pelayanan dapat berlangsung lebih teratur sekaligus mendukung aspek keselamatan operasional.

Melalui Shelter Waiting Area, pengemudi memiliki ruang yang lebih layak dan nyaman untuk beristirahat selama menunggu pelayanan.

Penataan ini juga membantu mengurangi potensi antrean kendaraan di area yang tidak diperuntukkan sebagai tempat menunggu, sehingga pergerakan kendaraan di lingkungan terminal dapat berlangsung lebih tertib.

Shelter Waiting Area dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, antara lain tempat istirahat, mushala, toilet, air minum, serta kopi gratis yang dapat dimanfaatkan pengemudi selama menunggu giliran pelayanan.

Selain itu di shelter waiting area juga terdapat fasilitas Post Gate untuk menyelesaikan kendala saat pelayanan di Main Gate seperti, adanya ketidaksesuaian data antara fisik container dan sistem permohonan, adanya temuan kerusakan container dan juga kendala atau pemasangan stiker Truck Identifcation Number (TID).

Terminal Head TPK Banjarmasin Sirin Purnomo mengatakan, penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya terminal untuk meningkatkan kualitas layanan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.

“Kami ingin memastikan bahwa peningkatan operasional dan produktivitas terminal berjalan seiring dengan peningkatan kenyamanan bagi para pengemudi. Shelter Waiting Area ini merupakan salah satu bentuk perhatian kami terhadap pengguna jasa, sekaligus bagian dari penataan alur kendaraan agar lebih tertib, aman, dan nyaman selama berada di kawasan terminal,” ujar Sirin Purnomo.

Menurut Sirin, pengemudi truk memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran rantai logistik, sehingga pengalaman mereka selama berada di terminal juga menjadi bagian dari kualitas pelayanan secara keseluruhan.

“Bagi kami, pelayanan bukan hanya tentang proses bongkar muat, tetapi juga bagaimana setiap orang yang terlibat di dalamnya mendapatkan lingkungan kerja dan pelayanan yang aman serta nyaman. Kami akan terus melakukan penyempurnaan terhadap fasilitas maupun proses operasional sesuai kebutuhan di lapangan,” tambah Sirin.

Sementara itu, Yudi, salah seorang pengemudi truk eksternal yang menggunakan fasilitas terminal, menyampaikan bahwa keberadaan Shelter Waiting Area memberikan ruang yang lebih nyaman bagi pengemudi ketika menunggu jadwal pelayanan.

“Sekarang kalau menunggu tidak perlu lama-lama di dalam truk. Ada tempat untuk istirahat, bisa minum, ada kopi, toilet dan mushala juga. Jadi lebih nyaman dan tidak terlalu khawatir mengganggu jalur kendaraan lain,” ujar Yudi.

Menurutnya, fasilitas tersebut juga memberikan ruang bagi pengemudi untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan sebelum kembali melanjutkan aktivitas.

“Yang paling terasa itu tempat menunggunya lebih nyaman dan tertata. Jadi kita bisa istirahat sambil menunggu panggilan untuk pelayanan berikutnya,” tambahnya.

Kehadiran Shelter Waiting Area menjadi salah satu bagian dari transformasi Terminal Petikemas Banjarmasin dalam meningkatkan pengelolaan alur kendaraan, mulai dari akses masuk hingga proses pelayanan bongkar muat.

Penataan tersebut diharapkan dapat menciptakan pergerakan kendaraan yang lebih teratur sekaligus memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi para pengemudi.

Terminal Petikemas Banjarmasin akan terus melakukan pengembangan dan penyempurnaan layanan dengan mengedepankan keselamatan, efisiensi operasional, serta kenyamanan pengguna jasa, sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kepelabuhanan yang semakin baik dan responsif terhadap kebutuhan di lapangan. (Pelindo-RIW/EPS)

Menuju akreditasi, RSGM Gusti Hasan Aman Tingkatkan Kompetensi Pegawai

Banjarmasin – Rumah Sakit Gigi dan Mulut atau RSGM Gusti Hasan Aman Kalimantan Selatan, terus memperkuat kompetensi dan kualitas sumber daya manusia, sebagai bagian dari persiapan menghadapi akreditasi rumah sakit.

Upaya tersebut dilakukan melalui workshop Pendidikan dan Pelatihan atau Diklat, yang kali ini mengangkat materi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi atau PPI di lingkungan rumah sakit.

Direktur RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel, drg Mashuda (kiri)

Direktur RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel, drg Mashuda, usai membuka kegiatan Senin (28/9, mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi pegawai, baik tenaga medis maupun nonmedis.

Menurutnya, akreditasi tidak hanya berkaitan dengan rumah sakit maupun institusi pendidikan, tetapi juga mencakup akreditasi bidang pendidikan dan pelatihan.

drg Mashuda menjelaskan, bagi tenaga medis, pendidikan dan pelatihan sangat penting karena menjadi salah satu bagian dalam pemenuhan Satuan Kredit Profesi atau SKP, yang dibutuhkan untuk pengembangan kompetensi dan pemenuhan persyaratan perpanjangan izin praktik sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jadi akreditasi itu tidak hanya akreditasi rumah sakit dan pendidikan, tetapi ada juga akreditasi diklat. Diklat ini pendidikan dan pelatihan yang nantinya dapat memberikan SKP Kementerian Kesehatan bagi tenaga medis,” katanya.

Ia menyampaikan, pengembangan kompetensi juga berlaku bagi tenaga nonmedis. Dalam pengembangan mutu sumber daya manusia rumah sakit, setiap pegawai didorong memenuhi pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan, termasuk pemenuhan 20 jam pelajaran atau 20 JP dalam satu tahun.

Workshop kali ini secara khusus membahas Pencegahan dan Pengendalian Infeksi atau PPI. drg Mashuda menilai materi tersebut penting karena lingkungan rumah sakit memiliki risiko paparan infeksi yang berbeda dengan lingkungan kerja pada umumnya.

Melalui kegiatan ini, seluruh pegawai diharapkan memahami cara melindungi diri saat bekerja, termasuk penerapan kebersihan tangan yang benar serta langkah yang harus dilakukan ketika terjadi kontak dengan darah maupun cairan tubuh pasien.

“Harapannya tidak hanya staf medis, tetapi staf nonmedis dan seluruh pegawai bisa memahami bagaimana melindungi dirinya sendiri, mulai dari cara mencuci tangan yang baik hingga apa yang dilakukan ketika terkontak dengan cairan tubuh atau darah,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan workshop tersebut, RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel juga mendapatkan pendampingan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.

drg Mashuda menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut, terutama karena RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel tengah mempersiapkan penguatan bidang diklat sekaligus menghadapi proses akreditasi pada tahun mendatang.

Selain meningkatkan pemahaman pegawai terkait PPI, kegiatan tersebut juga menjadi langkah awal bagi RSGM Gusti Hasan Aman untuk mengembangkan penyelenggaraan workshop secara mandiri.

Mashuda mengatakan, pihaknya juga mendapatkan pendampingan terkait akun Satu Sehat. Ke depan, bidang diklat RSGM Gusti Hasan Aman diharapkan dapat memperoleh akreditasi dari Kementerian Kesehatan sehingga mampu menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan secara mandiri serta menghasilkan kegiatan yang memiliki SKP Kemenkes.

“Dengan kemampuan tersebut, workshop tidak hanya ditujukan bagi pegawai internal RSGM, tetapi juga berpotensi dibuka bagi stakeholder maupun tenaga kesehatan dari luar rumah sakit,” harapnya.

Khusus sebagai rumah sakit yang bergerak di bidang pelayanan gigi dan mulut, RSGM Gusti Hasan Aman juga akan mengembangkan berbagai pelatihan yang berkaitan dengan kedokteran gigi dan mulut, termasuk pelatihan bagi dokter spesialis maupun tenaga kesehatan lainnya.

drg Mashuda menambahkan, dengan pengembangan pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga kompetensi seluruh pegawai terus meningkat.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat kesiapan RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel dalam menghadapi proses akreditasi serta meningkatkan penerapan standar keselamatan dan pencegahan infeksi di lingkungan rumah sakit.

“Pegawai kita sudah siap dalam menjalankan tugas dan menghadapi akreditasi, serta seluruh pegawai, agar mampu menjaga diri dan mencegah terjadinya infeksi di rumah sakit,” pungkasnya. (NHF/RIW/EPS)

Kebutuhan Dasar Warga Jadi Perhatian, Dinsos Kalsel Salurkan Bantuan Air Bersih

Banjarmasin – Keterbatasan akses air bersih yang dialami sebagian masyarakat di Kota Banjarmasin mendapat respons melalui penyaluran bantuan air bersih oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Memasuki hari kedua penanganan, Dinas Sosial Provinsi Kalsel bersama sejumlah pihak terkait kembali mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di beberapa titik yang membutuhkan.

Penyaluran dilakukan di Masjid Miftahul Janah, Jalan HKSN Kompleks AMD Permai, Perumahan Pemprov Abdi Persada, kawasan HKSN dekat SMP 13 Banjarmasin, serta di samping Musholla Mahallul Khair, kawasan Pelabuhan Lama.

Kegiatan tersebut merupakan hasil sinergi Dinas Sosial Provinsi Kalsel, TP PKK Provinsi Kalsel dan PDAM Bandarmasih, dengan melibatkan unsur Pramuka Kwarda Provinsi Kalsel.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalsel, Muhammad Farhanie melalui Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Bidang Penanggulangan Bencana, Yoefi Fahromi mengatakan, penyaluran air bersih merupakan bentuk respons pemerintah dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.

Menurutnya, air bersih menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat sehingga bantuan didistribusikan langsung ke sejumlah lokasi yang mengalami keterbatasan akses.

“Penyaluran ini merupakan bagian dari penanganan krisis air bersih untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar. Kami bersama pihak terkait berupaya agar bantuan dapat diterima langsung warga yang membutuhkan,” ujar Yoefi.

Dalam proses pendistribusian, air bersih diangkut menggunakan mobil tangki menuju lokasi yang telah ditentukan. Warga kemudian mengambil air dengan membawa wadah masing-masing.

Penyaluran bantuan tersebut turut dihadiri Staf Ahli TP PKK Provinsi Kalsel Gusti Muhammad dan Ketua Bidang II TP PKK Provinsi Kalsel Anie Hanisyah.

Keterlibatan TP PKK, PDAM Bandarmasih dan unsur Pramuka Kwarda Provinsi Kalsel menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor untuk mendukung masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih.

Dinsos Kalsel memastikan distribusi bantuan terus memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi krisis air bersih.

Penyaluran bantuan air bersih ini sekaligus menunjukkan adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, TP PKK, PDAM Bandarmasih dan unsur masyarakat dalam merespons kebutuhan dasar warga di sejumlah wilayah Kota Banjarmasin. (BDR/RIW/EPS)

Exit mobile version