23 Januari 2026

Sampah Jadi Energi, Inovasi Pemprov Kalsel Untuk Banua Bersih Dan Berkelanjutan

BANJARBARU – Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), selama ini kerap menjadi pemandangan yang tak sedap. Namun, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tidak ingin kondisi itu terus berlarut.

Dengan berbagai inovasi, sampah kini dipandang bukan lagi sekadar masalah, melainkan dapat menjadi peluang dan sumber energi baru bagi masyarakat Banua.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalsel, Fatimatuzzahra, menyampaikan, bahwa pihaknya tengah mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah. Salah satu yang kini dikembangkan adalah penggunaan alat pemilah atau gibrik, di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R. Dengan teknologi ini, sampah dapat dipilah sejak awal, sehingga lebih mudah dimanfaatkan kembali.

Plt Kepala DlH Kalsel, Fatimatuzzahra

“Untuk sampah organik, hasilnya bisa diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan bagi kebutuhan pertanian. Sedangkan sampah anorganik yang bernilai ekonomi dapat disetor ke bank sampah,” ungkap Fatimatuzzahra.

Tidak berhenti sampai di situ, Pemprov Kalsel melalui DLH Kalsel juga menyiapkan langkah yang lebih besar. Sampah anorganik yang selama ini sulit terurai, kini dapat diolah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel), bahan bakar alternatif yang berpotensi menggantikan batubara. RDF dinilai lebih ramah lingkungan dan menjadi bagian dari transisi menuju energi bersih.

“Tentu ini menjadi kebanggaan, dimana permasalahan sampah dapat terpecahkan,” lanjut Fatimatuzzahra.

Sebagai tindak lanjut, DLH Kalsel telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan industri. Di antaranya adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa dan PT KOR di Kabupaten Tabalong. Kedua perusahaan tersebut akan menjadi mitra dalam pemanfaatan RDF, sehingga sampah benar-benar dapat dikonversi menjadi energi.

Menurut Fatimatuzzahra, kerja sama ini merupakan langkah penting untuk mengurangi timbunan sampah di TPA sekaligus memberikan manfaat bagi dunia industri.

“Dengan pengolahan sampah menjadi RDF, kita tidak hanya menekan masalah sampah, tapi juga mendukung program energi bersih dan berkelanjutan di Kalimantan Selatan,” sahut Fatimatuzzahra.

Inovasi ini membuka harapan baru bagi Banua. Sampah yang biasanya hanya dianggap beban, kini bisa memberi nilai tambah. Masyarakat bisa ikut berperan melalui bank sampah, petani dapat memanfaatkan kompos, sementara industri mendapat energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Dengan langkah nyata ini, Pemprov Kalsel berharap Banua bisa menjadi contoh bagaimana sampah diubah menjadi peluang. Sebuah bukti bahwa masalah lingkungan, jika dikelola dengan baik, justru bisa menjadi sumber keberlanjutan bagi generasi mendatang. (MRF/RIW/RH)

Tinggalkan Balasan

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.