14 Juni 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

IHK Beras Kabupaten Tapin Masuk 10 Besar Nasional

2 min read

Pertanian di Desa Lawahan (Tambarangan), Tapin Selatan, yang masih aman dari banjir dan hama tungro. Foto : (Ist / Fa'i)

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) secara nasional menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) beras di Kabupaten Tapin, Kalsel, mengalami kenaikan tak biasa. Pekan ketiga Februari 2023, daerah tersebut masuk dalam deretan 10 besar dari 147 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Plt Asisten Bidang Perekonomian dan Keuangan Setdaprov Kalsel, Nurul Fajar Desira, menyampaikan, Pemprov Kalsel melalui instansi terkait segera menindaklanjuti permasalahan ini. Begitu pula penyebab terjadinya lonjakan tersebut.

Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Nurul Fajar Desira, mengikuti rakor pengendalian Inflasi secara virtual diikuti BPS dan Kadin Kalsel. Tapin masuk deretan 10 besar nasional perkembangan IHK komoditi beras.

“Harga beras di Tapin memang tinggi. Sehingga, akan segera dilakukan pemantauan ke sejumlah lokasi dan ini menjadi catatan kami,” ujarnya usai mengikuti rakor pengendalian inflasi besama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian secara virtual yang juga diikuti pemda se Indonesia, di ruang Command Center Setdaprov Kalsel, Senin (27/2).

Kendati begitu, menurutnya, dari sekian ratus daerah di Indonesia yang memiliki potensi besar terhadap kenaikan harga. Ia memastikan, tak ada daerah lain lagi di Kalsel selain Kabupaten Tapin.

“Kota lain di Kalsel, Alhamdulillah, tidak masuk dalam perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) beras yang tinggi. Jadi, hanya Tapin saja yang masuk deretan nasional,” jelas mantan Kepala Bappeda Kalsel lulusan dari luar negeri ini.

Sementara itu, Ketua Kadin Kalsel, Shinta Laksmi Dewi, menyampaikan, siap mengajak Kamar Dagang dan Industri lainnya untuk turut andil dalam mengatasi permasalahan beras di daerah.

“Kami telah melakukan penandatangan kesepahaman (MoU) untuk membeli 100 ton beras dari Jawa Tengah dan kami harapkan ketersediaan pasokan beras di Kalsel tetap terpenuhi,” paparnya.

Sebagai tindaklanjut atas terjadinya kenaikan harga komoditi beras di Kalsel, ia juga bakal maksimal melakukan upaya agar inflasi bisa turun.

“Tentu ini juga sebagai langkah mencegah terjadinya pertumbuhan angka inflasi,” imbuhnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, petani asal Margasari, Rifa’i, membeberkan, saat ini di wilayahnya banyak terjadi gagal panen akibat banjir. Sehingga, padi yang ditanam warga mengalami kerusakan.

“Biasanya dapat 25 karung hingga 1 ton, kini hanya mendapat 10 – 12 karung itu pun tidak hanya di daerah Margasari, tetapi dampak ini juga terdapat di Desa Pandahan. Kalau rata-rata menyusut sekarang sekitar 10 persen,” ucapnya.

Ditambah lagi desa yang terletak di Kecamatan Candi Laras, Kabupaten Tapin ini juga mengalami ketersediaan pupuk dan pestisida yang langka di tingkat produsen. Barang yang didapat pun cukup membuat kesusahan bagi petani.

“Kalau pun ada itu mahal. Sebelumnya harganya yang dibeli sekitar Rp60.000, kini rata-rata sudah mencapai Rp125.000,” ungkapnya.

Dari dampak ini, dia merincikan, harga gabah kering untuk jenis siam di daerahnya sudah menembus Rp13.000 – Rp14.000 per liter.

“Kalau sudah jadi beras itu harganya di pasaran bisa Rp16.000 – Rp17.000 per liter. Kalau ditanya untung tidak juga karena pupuk dan lainnya naik, tetapi, dengan menurunnya produksi bagaimana nanti untuk modal tanam berikutnya,” tutupnya. (RHS/RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.