PPRSAR Mulia Satria, Bantu Anak Penuhi Identitas Diri dan Bekali Keterampilan Hidup

BANJARBARU – Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSAR) Mulia Satria Provinsi Kalimantan Selatan, terus memperkuat upaya perlindungan dan pemberdayaan anak melalui berbagai program pembinaan komprehensif.

Selain memastikan pemenuhan kebutuhan dasar, panti ini juga aktif membantu klien anak untuk memperoleh identitas diri sebagai hak dasar yang wajib dipenuhi.

Kepala PPRSAR Mulia Satria, Sacik Kartikowati mengungkapkan, bahwa pihaknya secara berkelanjutan melakukan penelusuran keluarga dan program reunifikasi bagi anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki dokumen kependudukan, atau terpisah dari keluarganya.

“Kami membantu klien anak untuk mendapatkan dokumen identitas seperti akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak, karena itu menjadi dasar bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan hak-hak sosial lainnya,” ujar Sacik di Banjarbaru, Rabu (22/10).

PPRSAR Mulia Satria provinsi Kalimantan Selatan

Selain membantu administrasi kependudukan, lanjut Sacik, pihaknya juga memberikan pendampingan psikososial, berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) serta Dinas Sosial kabupaten/kota.

“Langkah ini sekaligus menjadi pintu awal bagi proses reunifikasi anak dengan keluarganya, agar mereka bisa kembali tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang aman dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Sacik menegaskan, PPRSAR Mulia Satria tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik anak, tetapi juga mengedepankan aspek emosional dan sosial agar mereka dapat kembali ke masyarakat dengan lebih percaya diri dan mandiri.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, PPRSAR Mulia Satria juga memberikan bimbingan belajar tambahan, bagi para klien di luar pendidikan formal yang mereka jalani di sekolah.

“Anak-anak di sini tidak hanya kami berikan fasilitas sekolah formal, tetapi juga bimbingan tambahan agar mereka mampu bersaing secara akademik ketika kembali ke lingkungan masyarakat,” jelas Sacik.

Bimbingan tersebut mencakup berbagai pelajaran seperti matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, serta pembinaan agama dan sosial.

Para anak juga dibekali dengan keterampilan praktis seperti komputer, bengkel, menjahit, dan memasak untuk memperkuat kesiapan mereka menghadapi kehidupan mandiri.

“Bimbingan agama dan sosial menjadi penting, karena kami ingin mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara mental dan spiritual. Ini bekal untuk masa depan mereka,” tutup Sacik.(SYA/RIW/EYN)

Serapan Dana KUR Kalsel Capai 5 Triliun Rupiah, Sektor Pertanian Jadi Penerima Terbesar

BANJARBARU – Serapan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Selatan, tercatat telah mencapai lebih dari Rp5 triliun. Angka ini menunjukkan tren positif dalam penyaluran KUR di daerah, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang membutuhkan tambahan modal usaha.

Plh Sekdaprov Kalsel (kanan)

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Ariadi Noor mengatakan, bahwa capaian tersebut menjadi bukti meningkatnya minat dan kepercayaan pelaku UMKM terhadap program pembiayaan yang difasilitasi pemerintah melalui KUR.

Pemerintah Provinsi Kalsel juga terus berupaya mempercepat penyerapan KUR dengan menggandeng pihak perbankan dan lembaga keuangan untuk memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat.

“Serapan dana KUR ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus mendorong peningkatan daya saing sektor UMKM di Kalimantan Selatan,” ujar Ariadi, baru – baru ini.

Dari total penyaluran tersebut, sektor pertanian menjadi penerima terbanyak dengan nilai mencapai Rp1,51 triliun atau sekitar 40,9 persen dari keseluruhan penyaluran KUR di Kalimantan Selatan.

Para penerima dana KUR di Kalsel.

Menurut Ariadi, dominasi sektor pertanian menunjukkan bahwa masyarakat Kalsel masih sangat bergantung pada sektor pangan dan perkebunan, sebagai sumber utama penghidupan. Melalui dukungan pembiayaan KUR, diharapkan produktivitas petani dapat meningkat, ketahanan pangan daerah semakin kuat, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan akan terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha di sektor pertanian, termasuk petani kecil dan pelaku agribisnis. Kami juga akan memperkuat sinergi dengan perbankan dan lembaga keuangan agar penyaluran KUR berjalan optimal dan tepat sasaran,” tutup Ariadi. (MRF/RIW/EYN)

Sosialisasi Alat Tangkap JHD, Upaya Dislutkan Optimalkan Tangkapan Nelayan Kalsel

BANJARBARU  – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan mengakui, teknologi tangkap yang dimiliki nelayan di Pulau Jawa, lebih canggih dibanding nelayan Kalimantan Selatan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan Rusdi Hartono, melalui Kepala Bidang Tangkap Dislutkan Kalsel Fajar Pramono menjelaskan, eksplorasi lautan di Pulau Jawa, sudah sangat banyak dilakukan sejumlah pihak. Sedangkan di Provinsi Kalimantan Selatan masih sedikit.

Kabid Tangkap Dislutkan Kalsel, Fajar Pramono.

“Nelayan bisa melakukan migrasi dari Laut Jawa, Selat Makasar, serta melewati perairan Kalimantan Selatan, dengan jumlah Sumber Daya Manusia yang melakukan eksplorasi di Pulau Jawa sudah sangat banyak, sedangkan dari Kalsel masih sedikit,” ungkap Fajar, kepada sejumlah wartawan, Kamis (23/10).

Sementara, lanjut Fajar, teknologi penangkapan jauh lebih canggih yang digunakan nelayan Jawa.

“Sehingga wajar, jika teknologi penangkapan yang dipakai nelayan Jawa, lebih canggih dibanding nelayan Banua,” ucap Fajar.

Karena kurang canggihnya alat tangkap nelayan tersebut, maka menurut Fajar, pemanfaatan ikan dari laut Kalsel pun, masih kurang optimal.

“Pemanfaatan ikan di lautan tersebut lebih sedikit dimanfaatkan oleh nelayan kita, karena kekurangan yang dialami tersebut,” jelas Fajar.

Maka dengan begitu, tuturnya, terdapat kesenjangan hasil pemanfaatan, maka menjadi daya tarik bagi nelayan luar, yang mempunyai teknologi lebih canggih, untuk menangkap ikan di laut Kalsel.

Untuk itu Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan memberikan, sosialisasi serta pelatihan kepada para nelayan di Banua.

“Salah satunya sosialisasi alat tangkap, Jaring Hela Dasar (JHD) dan Jaring Tarik Berkantong, kepada nelayan Desa Hilir Muara, Kabupaten Kotabaru,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan tindak lanjut dari rapat dengar pendapat antara nelayan dan Komisi II DPRD provinsi, beberapa waktu lalu.

“Sosialisasi ini, tidak hanya berupa pemaparan materi, tetapi juga dilengkapi dengan praktik penggunaan alat tangkap, agar nelayan dapat memahami cara pengoperasian yang benar,” ucapnya.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan berharap, para nelayan di Banua, dapat menggunakan alat tangkap JHD sesuai arahan pada sosialisasi yang diberikan serta memahami aturan yang berlaku oleh kementerian Kelautan dan Perikanan. (SRI/RIW/EYN)

Gelar Bimtek, Dispar Kalsel Tekankan Pentingnya Produk Purun Geopark  Meratus

BANJARBARU – Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan,  melalui Bidang Pengembangan Destinasi, Seksi Pemberdayaan Masyarakat Wisata, menggelar Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Pariwisata Geopark Meratus 2025, bertempat di kantor Kelurahan Palam Kota Banjarbaru, Rabu (22/10)

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, melalui rilis yang disampaikan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Wisata, Dispar Kalsel, Musrefinah Ledya mengatakan, kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis memperkuat potensi lokal, khususnya melalui pengembangan produk purun yang menjadi ciri khas kawasan Geopark Meratus.

Dimana, produk purun tidak sekadar hasil kerajinan tangan, tetapi juga merupakan simbol keberlanjutan dan kearifan lokal masyarakat Banua.

“Tanaman purun yang tumbuh alami di lahan basah dimanfaatkan warga untuk membuat berbagai produk anyaman ramah lingkungan, seperti tas, tikar, dan keranjang,” ucapnya

Lediya menyampaikan, produk purun juga mengurangi penggunaan bahan plastik, pemanfaatan purun juga turut menjaga keseimbangan ekosistem alam. Oleh karena itu, kerajinan purun menjadi sarana pelestarian budaya anyaman tradisional Banjar yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Melalui keterampilan menganyam, nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan kini semakin dikenal hingga ke pasar modern.

“Dari sisi ekonomi, produk purun memberikan sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar kawasan Geopark Meratus. Kampung Purun menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, 0lahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Banjarbaru, diwakili Kasi Pembinaan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata Disporabudpar,  Silfiana Wahidah Hilmi

menambahkan, pihaknya menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini, yang merupakan bagian penting dari upaya bersama dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi para pelaku pariwisata, khususnya dalam pengelolaan kawasan Geopark Meratus sebagai salah satu destinasi unggulan Kalimantan Selatan.

“Geopark Meratus, yang kini telah mendapat pengakuan dari UNESCO merupakan warisan alam dan budaya yang sangat berharga. Tidak hanya menyimpan keunikan geologi dan keanekaragaman hayati, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya lokal yang patut kita jaga dan lestarikan,” katanya.

Lebih lanjut Silfiana menambahkan, Kota Banjarbaru sebagai salah satu pintu gerbang menuju kawasan Pegunungan Meratus memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan geopark ini.

Kampung Purun merupakan salah satu dari 3 Cluster yang masuk Geopark Meratus yang ada di Kota Banjarbaru.

Oleh karena itu, pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara biasa-biasa saja dibutuhkan SDM yang terampil, peka terhadap kearifan lokal, dan mampu mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini, para peserta dapat menyerap pengetahuan dan keterampilan praktis tentang bagaimana mengelola destinasi wisata berbasis geopark secara profesional, kreatif, dan bertanggung jawab,” tutupnya.

Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Pariwisata Geopark Meratus 2025 di Kota Banjarbaru,  menghadirkan narasumber praktisi pariwisata Novyandi Saputra, menyampaikan materi tentang peningkatan kapasitas pengelolaan produk di kampung purun. (DISPAR.KALSEL-NHF/RIW/EYN)

Perkuat Kesiapsiagaan, BPBD Kalsel Rutin Perbarui Peta Risiko dan Pos Siaga Bencana

Banjarbaru – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama jelang musim hujan. Upaya tersebut dilakukan melalui dua langkah utama, yakni pembaruan rutin peta risiko bencana dan pengaktifan pos-pos siaga di wilayah rawan banjir serta angin kencang.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Bambang Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya secara rutin memperbarui peta risiko bencana hidrometeorologi setiap pekan. Langkah ini dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemerintah kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

Menurut Bambang, pembaruan ini penting untuk memastikan sistem peringatan dini (early warning system) dapat direspon cepat dan tepat oleh petugas di lapangan.

Melalui data yang diperbarui secara berkala, BPBD dapat memantau potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang dengan lebih akurat, sehingga tindakan mitigasi bisa segera dilakukan sebelum bencana terjadi.

“Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi, terutama menjelang musim hujan yang diperkirakan akan meningkat pada akhir tahun ini,” ungkap Bambang, baru – baru ini.

Selain memperbarui peta risiko, BPBD Kalsel juga telah mengaktifkan sejumlah pos siaga bencana di wilayah yang tergolong rawan banjir dan angin kencang, khususnya di daerah dataran rendah serta sekitar bantaran sungai.

Pos-pos siaga ini berfungsi untuk mempercepat respon tanggap darurat, memastikan jalur komunikasi dan koordinasi antarpetugas tetap berjalan lancar, serta menjadi pusat informasi bagi masyarakat terdampak.

“Pengaktifan pos siaga dilakukan secara bertahap bersama BPBD kabupaten dan kota, dengan melibatkan relawan serta aparat desa setempat,” lanjut Bambang.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan kesiapsiagaan ini diiringi dengan peningkatan ketersediaan logistik dan peralatan evakuasi, agar penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi saat kondisi darurat terjadi.

Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap potensi risiko akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan, sekaligus memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. (MRF/RIW/APR)

Dorong Kesadaran Politik Berbasis Nilai Keagamaan, Bakesbangpol Kalsel Gelar Pendidikan Politik Bagi Masyarakat

Banjarmasin – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kalimantan Selatan, menggelar Pendidikan Politik bagi Masyarakat, yang dilaksanakan di salah satu hotel di Banjarmasin, pada Rabu (22/10).

Kegiatan yang digelar dengan mengangkat tema Membangun Kesadaran Politik Berbasis Nilai-Nilai Keagamaan ini, dibuka Kepala Bakesbangpol Provinsi Kalsel, Heriansyah diwakili Sekretaris, Sri Rahmah.

Sekretaris Bakesbangpol Kalsel, Sri Rahmah saat membuka kegiatan sosialisasi pendidikan politik

Pendidikan Politik bagi Masyarakat tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan.

Dalam sambutannya, Sri Rahmah menegaskan pentingnya pendidikan politik, yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, sebagai fondasi dalam membentuk karakter warga negara yang berakhlak mulia, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

“Dengan memahami nilai-nilai keagamaan, kita dapat membangun kesadaran politik yang kuat dan berlandaskan prinsip moral yang baik. Nilai seperti keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang dapat menjadi dasar membangun kesadaran politik yang sehat,” ujarnya.

Ia menilai, tema kegiatan tersebut sangat relevan dengan situasi bangsa saat ini. Dimana masyarakat perlu terus didorong untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik tanpa mengabaikan nilai moral dan spiritual.

Lebih lanjut, Sri Rahmah berharap, kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai strategi efektif dalam meningkatkan kesadaran politik masyarakat berbasis nilai-nilai keagamaan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta serta memperkuat silaturahmi dan kesadaran kolektif dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera,” tambahnya.

Ia juga berpesan agar para peserta dapat menjadi agen perubahan yang menularkan semangat politik yang santun, toleran, dan beretika di lingkungan masing-masing.

“Politik bukan ajang permusuhan, tetapi wadah untuk memperkuat persaudaraan dan kerukunan,” tutupnya. (BDR/RIW/APR)

Wujudkan Keamanan Pangan Siap Saji, Dinkes Banjarmasin Latih SPPG

Banjarmasin – Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, melalui Bidang Kesehatan Masyarakat Kelompok Kerja Kesehatan Lingkungan, menggelar Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji, bagi Pengolah Pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), belum lama tadi.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Ramadhan menjelaskan, digelarnya pelatihan ini, untuk mendorong terciptanya pelayanan pangan yang lebih higienis, sehat, dan layak konsumsi.

“Dinkes Banjarmasin bekerjasama dengan SPPG di Kota Banjarmasin, untuk dilatih oleh Kemenkes RI,” ungkap Ramadhan, pada Rabu (22/10).

Di kota Banjarmasin, lanjutnya, terdapat 1.000 SPPG. Dimana yang mengikuti secara langsung sebanyak 100, sedangkan 900 mengikuti melalui daring.

“Pelatihan ini diikuti sebanyak seratus peserta dari seribu SPPG yang ada di Banjarmasin, mengikuti secara langsung pelatihan, dan akan menyusul sembilan ratus lainnya melalui daring,” ucap Ramadhan.

Plt Kadinkes Banjarmasin Ramadhan

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama seluruh pelaku usaha kuliner, terutama bagi yang bergerak di sektor makanan siap saji.

“Pelatihan ini merupakan transfer ilmu, bagaimana cara mengolah makanan yang higienis, kemudian tidak terkontaminasi udara, serta bakteri,” tuturnya.

Pelatihan ini diajarkan langsung tenaga profesional, ahli gizi, serta lainnya.

“Pelatihan ini dilaksanakan selama satu hari pada Sabtu 18 Oktober lalu, dan peserta telah mendapatkan sertifikatnya,” ucap Ramadhan.

Dengan adanya pelatihan ini dapat menambah kompetensi, profesional para SPPG di Kota Banjarmasin.

“Meningkatnya profesional SPPG dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis di Kota Banjarmasin,” ujar Ramadhan.

Dalam kesempatan tersebut, Ramadhan mengatakan, dukungan Dinkes Banjarmasin terhadap keamanan pada dapur MBG, yang ditunjukkan dengan dilaksanakannya pelatihan pengolahan dapur yang bersih dan higienis. Dimana ini merupakan tata laksana pengolahan makanan dari program pemerintah pusat.

“Melalui pelatihan ini, Dinkes Kota Banjarmasin ingin memastikan seluruh pengolah pangan di Banjarmasin, memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan dalam pengolahan makanan,” jelas Ramadhan.

Karena, lanjutnya, makanan yang sehat dan higienis adalah fondasi utama kesehatan masyarakat. (SRI/RIW/APR)

Wagub Kukuhkan Ayah Bunda Santri Kalsel, di Peringatan Hari Santri 2025

Banjarbaru — Suasana khidmat mewarnai pelaksanaan Apel Hari Santri Tahun 2025, yang digelar di halaman Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, Banjarbaru, Selasa (22/10).

Dalam momentum penuh makna tersebut, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman secara resmi memasangkan selempang kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Tambrin, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Kalsel, Lita Ariani Tambrin, sebagai Ayah dan Bunda Santri Tahun 2025.

Acara pengukuhan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri yang tahun ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.”

Pemasangan slempang Ayah dan Bunda Santri merupakan simbol komitmen bersama dalam memperkuat peran keluarga dan pesantren dalam menumbuhkan generasi muda yang berkarakter, berilmu, dan berakhlak karimah.

Dalam wawancaranya, Muhammad Tambrin menyampaikan rasa syukur dan harunya atas amanah yang diberikan.

“Penyelempangan pita sebagai ayah dan bunda santri Kalsel ini kami maknai sebagai amanah mulia untuk terus berkontribusi dalam pembinaan karakter dan keagamaan para santri. Kami memiliki santri yang spritual yang jumlahnya ribuan santri di Kalsel ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, gelar Ayah Santri bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjadi teladan bagi para santri.

“Kami sangat bersyukur dan terhormat atas kepercayaan ini. Gelar Ayah dan Bunda Santri bukan kebanggaan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk menebar kebaikan dan semangat pembinaan umat,” tambahnya.

Sebagai bentuk komitmen, Tambrin menegaskan akan terus mendukung kegiatan pembinaan santri di berbagai daerah, baik melalui pendampingan moral, dukungan program pesantren, maupun kegiatan pembinaan keagamaan lainnya.

“Insya Allah, kami akan terus hadir dan berkontribusi dalam setiap kegiatan pembinaan santri dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu, Lita Ariani Tambrin mengungkapkan, bahwa peran Bunda Santri menjadi ruang bagi dirinya untuk lebih dekat dengan dunia pesantren dan para santri.

“Menjadi Bunda Santri berarti menjadi sosok yang menghadirkan kasih sayang, memberikan motivasi, dan menumbuhkan keikhlasan dalam jiwa para santri. Kami ingin terus mendukung tumbuhnya karakter kuat dan berakhlakul mulia di lingkungan pesantren,” ucapnya.

Lita selanjutnya menyampaikan harapan, agar momentum Hari Santri menjadi energi baru bagi seluruh santri untuk terus berprestasi dan menebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Kami berharap para santri menjadi generasi berilmu, beriman, dan berakhlakul karimah, serta mampu membawa nilai Islam yang menyejukkan di tengah masyarakat,” tutur Lita.

Lebih lanjut, keduanya sepakat bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri masa kini.

“Keluarga adalah madrasah pertama. Peran orang tua sangat menentukan agar nilai-nilai pesantren tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan anak-anak kita,” ungkapnya.

Menutup wawancara, mereka berpesan kepada seluruh orang tua agar terus mempercayai dan mendukung pendidikan berbasis pesantren.

“Mari kita sinergikan peran keluarga dan pesantren agar lahir generasi yang tangguh dalam iman, cerdas dalam ilmu, dan luhur dalam akhlak,” pesan mereka berdua.

Momentum pengukuhan Ayah dan Bunda Santri di Hari Santri Nasional ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah, keluarga, dan pesantren dalam mencetak generasi penerus bangsa yang religius dan berdaya saing global. (KemenagKalsel-RIW/APR)

Museum Lambung Mangkurat, Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 Kategori Museum

Jakarta – Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2025, museum kebanggaan Banua ini berhasil meraih penghargaan Kategori Museum atas komitmen dan kontribusinya dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia.

Penghargaan diserahkan langsung Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam acara Malam Apresiasi Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 yang mengusung tema “Merawat Harmoni Budaya, Menginspirasi Dunia”, di Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (21/10).

Museum Lambung Mangkurat diwakili Raudati Hildayati, selaku Plt Kepala Museum Lambung Mangkurat sekaligus Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, yang menerima langsung apresiasi tersebut.

Proses penyerahan penghargaan Kategori Museum dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia tahun 2025.(foto : MuslamKalsel)

Kategori Museum dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia, dinilai dari berbagai aspek, mulai dari kualitas koleksi dan pelayanan, pengelolaan museum, hingga dampak (outcome) terhadap masyarakat dan pelestarian budaya.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh penerima penghargaan, termasuk Museum Lambung Mangkurat.

Ia juga berpesan kepada pihak museum untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan koleksi serta menggandeng generasi muda untuk lebih mencintai sejarah dan kebudayaan Banjar.

“Museum Lambung Mangkurat juga harus menjadi garda terdepan dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Sementara itu, Raudati Hildayati menyampaikan, penghargaan ini menjadi motivasi bagi Museum Lambung Mangkurat untuk terus meningkatkan kualitasnya.

“Kami akan terus berupaya meningkatkan pelayanan, memperkaya koleksi, serta menggandeng generasi muda agar semakin mencintai sejarah dan kebudayaan Banjar,” ujarnya.

Selain kategori Museum, penghargaan ini juga diberikan kepada berbagai pihak lain yang berkontribusi dalam pelestarian budaya Indonesia, antara lain kategori Pemerintah Daerah, Taman Budaya, Anjungan Daerah TMII, serta Lembaga dan Perorangan Asing. (MuslamKalsel-SYA/RIW/APR)

Pokdarwis dan Masyarakat, Garda Terdepan Pengembangan Geopark Meratus

Barito Kuala – Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, melalui Bidang Pengembangan Destinasi, di Seksi Pemberdayaan Masyarakat Wisata, menggelar Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Pariwisata Geopark Meratus 2025, di Kantor Desa Anjir Serapat Muara, Kabupaten Batola, Selasa (21/10)

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, melalui rilis yang disampaikan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Wisata, Dispar Kalsel, Musrefinah Ledya menjelaskan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat sekitar, menjadi garda terdepan dalam Pengembangan Geopark Meratus. Karena itu pihaknya untuk terus konsisten, memberikan program melakukan peningkatan kapasitas pengelola destinasi wisata, khususnya terkait pengembangan Geopark Meratus.

“Bimtek ini sangat penting untuk mendorong potensi wisata daerah,” ucapnya

Disampaikan Lediya, terdapat 195 desa di Kabupaten Barito Kuala , dan Desa Anjir Serapat Muara menjadi salah satu desa wisata yang potensial dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah daerah meyakini, dengan pengelolaan yang baik, kegiatan wisata di desa ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

“Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan masyarakat dalam mengembangkan destinasi wisata yang berkelanjutan di wilayah Barito Kuala,” jelasnya

Sementara itu, narasumber dari Geopark Meratus Kalimantan Selatan, Ramadhan Jayusman menambahkan, keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya ditentukan keindahan alam atau popularitas destinasi, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola dan menghadirkan pengalaman berkesan bagi wisatawan.

“Saat ini pariwisata telah menjadi salah satu sektor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah,” ungkapnya

Ramadhan menilai, melalui pengelolaan yang baik, destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi juga menghadirkan nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang mampu menciptakan ikatan emosional antara wisatawan dan masyarakat setempat.

“Cerita yang disampaikan dengan baik mampu menghidupkan kembali nilai-nilai lokal, meningkatkan daya tarik wisata, dan memperkuat identitas daerah,” tambahnya.

Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Pariwisata Geopark Meratus 2025, di Kabupaten Barito Kuala, menghadirkan narasumber dari Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, Sahabat Bekantan Indonesia, Amelia Rizki, Kepala Desa Anjir Serapat Muara Kecamatan Anjir Muara, para analis, pelaksana bidang pariwisata Disporbudpar Batola, serta peserta bimtek dari berbagai unsur masyarakat. (DISPAR.KALSEL-NHF/RIW/APR)

Exit mobile version