Hidroponik, Alternatif Budidaya Sayuran di Tengah El Nino
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel saat panen sayuran Hidroponik
Banjarbaru – Pemanfaatan teknologi budidaya hidroponik menjadi salah satu alternatif menjaga produksi sayuran di tengah musim kemarau akibat fenomena El Nino.
Metode budidaya tanpa tanah ini memungkinkan masyarakat menanam berbagai jenis sayuran dengan pengelolaan air dan nutrisi lebih terukur, sehingga berpotensi mendukung ketersediaan pangan ketika kondisi cuaca kering membatasi kegiatan pertanian konvensional.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman menjelaskan, hidroponik menjadi pilihan mengembangkan budidaya sayuran, karena tidak bergantung pada lahan pertanian konvensional.
“Sistem ini memungkinkan tanaman dibudidayakan di berbagai tempat, termasuk pekarangan rumah, dengan memanfaatkan instalasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan,” ungkap Syamsir.
Menurut Syamsir, salah satu keunggulan hidroponik terletak pada pengaturan pemberian air dan nutrisi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Dengan sistem tersebut, penggunaan air dapat dikelola secara lebih terukur dibandingkan metode penyiraman yang tidak terkontrol.
“Hal ini menjadi penting ketika ketersediaan air mulai terbatas akibat musim kemarau berkepanjangan,” lanjutnya.
Meski demikian, budidaya hidroponik tetap memerlukan pengelolaan tepat.
Ketersediaan air harus dijaga, sementara kualitas air, konsentrasi nutrisi, tingkat keasaman, serta kondisi lingkungan perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh secara optimal.
Pengaturan tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas tanaman, terutama ketika suhu udara meningkat selama musim kemarau.
“Hidroponik juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk tetap melakukan kegiatan budidaya tanpa harus memiliki lahan pertanian yang luas,” lanjutnya.

Dengan memanfaatkan pekarangan atau ruang yang tersedia, masyarakat dapat mengembangkan produksi sayuran untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai kegiatan usaha produktif.
“Jenis sayuran seperti selada, pakcoy, dan kangkung, dapat menjadi pilihan untuk dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik,” ucap Syamsir.
Pemilihan jenis tanaman tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan sarana, serta kemampuan pengelola dalam melakukan perawatan.
Dengan perencanaan yang baik, kegiatan budidaya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas masing – masing.
Di tengah ancaman kemarau El Nino, diversifikasi metode budidaya menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Ketergantungan pada satu metode pertanian dapat meningkatkan risiko ketika kondisi cuaca tidak mendukung.
Karena itu, penerapan teknologi alternatif seperti hidroponik dapat melengkapi sistem pertanian yang telah berjalan, khususnya untuk komoditas sayuran.
“Selain berpotensi mendukung ketersediaan pangan, hidroponik juga dapat dikembangkan sebagai peluang usaha,” kata Syamsir.
Sayuran yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau dipasarkan kepada konsumen di lingkungan sekitar.
“Apabila dikembangkan secara komersial, pengelola perlu memperhitungkan biaya instalasi, benih, nutrisi, perawatan, serta peluang pasar agar kegiatan usaha dapat berjalan secara berkelanjutan,” tutup Syamsir. (MRF/RIW/APR)
