Puluhan Ribu Penonton Telah Mendengar Loncengnya, Kini The Bell: Panggilan untuk Mati Hadir di Banjarmasin!
Banjarmasin – Setelah sukses menggelar rangkaian special screening hingga roadshow di beberapa kota, film horor The Bell: Panggilan untuk Mati, melanjutkan perjalanannya melalui cinema visit di Banjarmasin pada Selasa (12/5).
Kehadiran para cast dan filmmaker menjadi kesempatan spesial bagi penonton untuk bertemu langsung, sekaligus merasakan lebih dekat dengan atmosfer film yang tengah ramai diperbincangkan ini.
Sejak resmi tayang di bioskop, The Bell: Panggilan untuk Mati telah berhasil menarik lebih dari 84.000 penonton, dan menjadi salah satu film horor Indonesia yang ramai diperbincangkan.
Antusiasme tersebut terlihat dari tingginya respons publik selama rangkaian special screening, roadshow, hingga penayangan reguler di seluruh bioskop Indonesia.
Cinema visit The Bell: Panggilan untuk Mati di Banjarmasin, dihadiri Bhisma Mulia, Sita Permatasari, serta Executive Producer Avesina Soebli.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan film ini untuk menyapa penonton di Banjarmasin, sekaligus mengenalkan Penebok, sosok horor baru yang lahir dari folklore lokal Indonesia, dan mulai menarik perhatian banyak penonton sejak penayangannya di bioskop.
Sejak resmi tayang, The Bell: Panggilan untuk Mati menjadi salah satu film horor yang banyak dibicarakan, karena menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Tidak hanya menawarkan ketegangan, film ini juga membawa nuansa budaya lokal yang kuat dan terasa dekat dengan kehidupan generasi saat ini.
Ceritanya berangkat dari rasa penasaran dan obsesi terhadap viralitas, sesuatu yang akrab dengan kehidupan digital anak muda masa kini, lalu berkembang menjadi pengalaman yang perlahan membangun rasa tidak nyaman dan membuat penonton terus tenggelam dalam atmosfer filmnya.
Selain ceritanya yang relevan, pendekatan visual yang digunakan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Sutradara Jay Sukmo menghadirkan tiga aspek rasio gambar yang berbeda untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita, menciptakan pengalaman menonton yang lebih imersif dan jarang ditemui di film horor Indonesia.
Pendekatan ini membuat The Bell tidak hanya menghadirkan rasa takut, tetapi juga pengalaman sinematik yang terasa lebih intens dilayar lebar.
Bhisma Mulia mengungkapkan, bahwa respons penonton selama rangkaian promosi menjadi salah satu hal yang paling berkesan baginya.
“Banyak yang bilang mereka datang karena penasaran, tapi setelah nonton justru kebawa sama atmosfer filmnya. Itu yang menurut saya menarik dari The Bell, karena rasa takutnya bukan cuma dari apa yang muncul di layar, tapi juga dari situasi yang terasa dekat dengan kehidupan sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Sita Permatasari mengaku antusias dapat hadir langsung menyapa penonton di Banjarmasin.
Menurutnya, pengalaman menonton The Bell: Panggilan untuk Mati akan terasa berbeda ketika disaksikan langsung di bioskop.
“Film ini punya atmosfer yang kuat dan perlahan bikin penonton masuk ke dalam ceritanya. Menurut saya, sensasi itu akan lebih terasa kalau ditonton langsung di layar lebar bersama teman, sodara dan orang yang kalian sayang,” ungkapnya.
Executive Producer Avesina Soebli berharap, rangkaian cinema visit ini dapat membuat semakin banyak penonton semakin tertarik untuk menyaksikan The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop.
“Kami ingin penonton merasakan pengalaman horor yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga memiliki cerita dan atmosfer yang kuat. The Bell menghadirkan folklore lokal yang dekat dengan budaya kita sendiri, sehingga pengalaman menontonnya terasa lebih dekat, intens, dan berbeda,” pungkasnya. (TheBell-RIW/EPS)
