Perkuat Tata Pamer dan Perawatan Karya Seni, Museum Lambung Mangkurat Gelar Sosialisasi
Plt Kepala Museum Lambung Mangkurat (kuning) saat memberikan buku tentang karya Gusti Sholihin kepada Kepala Disdikbud Kalsel (biru)
BANJARBARU – Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan, kembali memperkuat kapasitas pengelolaan karya seni melalui kegiatan sosialisasi hasil kajian tata ruang pamer Gusti Sholihin, yang digelar pada Kamis (11/12).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan standar penataan karya seni yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Galuh Tantri Narindra menyampaikan, sosialisasi ini tidak hanya membahas penataan karya, tetapi juga menyangkut perawatan, penyajian, hingga pemahaman publik terhadap karya seni.
“Dalam sosialisasi ini kami melibatkan akademisi dan kurator yang sudah diakui, sehingga karya-karya yang ditampilkan benar-benar kurasi terbaik. Yang hadir di museum adalah karya yang memang layak dipamerkan,” ujarnya.
Galuh Tantri menegaskan, kegiatan tersebut memperkaya wawasan tidak hanya bagi pengelola museum, tetapi juga masyarakat dan pelaku seni.
“Sosialisasi ini bukan hanya soal karya, tetapi juga bagaimana cara menampilkan dan memelihara karya seni tersebut. Tadi saya lihat ada beberapa yang mengalami kerusakan, dan bagaimana proses perbaikannya itu menjadi pengetahuan penting. Museum Lambung Mangkurat melakukan semua tahap itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, peningkatan standar tata pamer juga akan mendorong para seniman untuk semakin produktif dan menghadirkan karya berkualitas.
“Melalui sosialisasi ini, para seniman Banua semakin terdorong untuk berkarya. Masyarakat juga mendapat tambahan pengetahuan tentang seni rupa, khususnya lukisan, sehingga ekosistem seni di Kalsel ikut tumbuh,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Kepala Museum Lambung Mangkurat, Raudati Hildayati menyampaikan, bahwa sosialisasi kajian tata ruang pamer menjadi ruang belajar bersama, untuk semakin memperkuat kualitas museum sebagai wadah edukasi kebudayaan.
“Tidak hanya soal penempatan karya, tetapi bagaimana karya dapat bercerita kepada pengunjung. Kami ingin museum menjadi tempat yang hidup, tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga membangun pengalaman,” ujarnya.
Raudati menambahkan, kegiatan ini juga menjadi evaluasi internal untuk meningkatkan standar konservasi dan pemeliharaan.
“Dengan adanya masukan dari kurator dan akademisi, kami jadi lebih memahami metode terbaik dalam menjaga kondisi karya. Ini penting agar setiap lukisan dan benda pamer dapat dipertahankan kualitasnya dalam jangka panjang,” katanya. (SYA/RIW/RH)
