13 Januari 2026

Pekan Budaya Banua 2025 Resmi Dibuka, Angkat Harmoni dalam Transformasi Budaya

Pemukulan alat musik bonang menjadi tanda resmi dibukanya Pekan Budaya Banua Tahun 2025

BANJARBARU – Pekan Budaya Banua 2025 secara resmi dibuka di Lapangan Dr. Murdjani Banjarbaru, Rabu (3/12) malam. Pembukaan ditandai pemukulan alat musik Bonang oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Bupati Hulu Sungai Tengah, Wakil Wali Kota Banjarmasin, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel.

Event tahunan yang berlangsung hingga Minggu (7/12) ini, menyuguhkan berbagai atraksi budaya, mulai dari tarian, musik khas Banjar, permainan tradisional Banua, kuliner Nusantara, wastra Banjar dan Nusantara, hingga grand final pemilihan Nanang Galuh Kalsel sebagai puncak acara.

Penampilan tari tradisional dalam pembukaan Pekan Budaya Banua Tahun 2025

Mengusung tema “Berkolaborasi dan Bertransformasi dalam Harmoni Budaya”, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang besar untuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah.

Sekdaprov Kalsel, Muhammad Syarifuddin, dalam sambutannya menekankan, bahwa Pekan Budaya Banua bukan sekadar perayaan seni dan tradisi, namun bagian penting dalam memperkuat jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Dalam dunia yang terus berubah, budaya harus tetap relevan. Melalui kolaborasi antar komunitas, antar daerah, dan antar generasi, kita dapat menciptakan transformasi budaya yang selaras dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai ragam kegiatan yang tersaji menjadi bukti kayanya budaya Banua dan besarnya potensi ekonomi kreatif untuk terus dikembangkan.

“Pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kita semua. Seniman, komunitas budaya, akademisi, pelaku UMKM, hingga masyarakat luas memiliki peran penting dalam mewariskan tradisi kepada generasi muda,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, Galuh Tantri Narindra menambahkan, bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam memajukan kebudayaan.

“Keberhasilan kemajuan kebudayaan diukur melalui Indeks Pembangunan Kebudayaan. Karena itu, kegiatan seperti ini harus terus diperbanyak sebagai ruang ekspresi bagi budayawan,” jelasnya.

Ia menyebut sebanyak 40 booth UMKM terlibat dalam gelaran ini yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi budaya serta membuka peluang usaha bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kita berharap akan ada pergerakan ekonomi kreatif dan ekonomi budaya di Kalimantan Selatan,” pungkasnya. (SYA/RIW/RH)

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.