Gelar Rakor POPT, BPTPH Kalsel Harapkan Strategi Pengendalian Adaptif Untuk Menuju Swasembada Pangan
BANJARMASIN – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan, melalui Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), menggelar rapat koordinasi Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perlindungan Tanaman, yang dilaksanakan disalah satu hotel berbintang di Kota Banjarmasin. Rakor dimulai sejak Senin (23/6) hingga Selasa (24/6), di buka langsung Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, dan diikuti POPT se-Kalimantan Selatan serta Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Kegiatan ini merupakan bagian penting dari siklus penguatan kelembagaan teknis perlindungan tanaman, khususnya dalam menghadapi dinamika lapangan yang semakin kompleks. Seperti iklim, serangan OPT, serta efisiensi sumber daya yang tersedia.
Rakor ini menjadi forum bersama untuk membahas capaian, kendala, serta strategi pengendalian yang lebih adaptif ke depan untuk menuju swasembada pangan.

Dalam kondisi anggaran yang terbatas, Syamsir mendorong POPT untuk mengedepankan kreativitas, strategi adaptif, dan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, saat ini dunia tengah menghadapi perubahan besar, seperti iklim tak menentu, musim yang sulit diprediksi, dan serangan OPT yang semakin ganas seperti wereng, tikus, dan penyakit tanaman baru.
“Pentingnya peran POPT sebagai barisan pertama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah dinamika dan tantangan yang semakin kompleks,” ungkap Syamsir.

Sementara itu, Kepala BPTPH Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni, menambahkan, bahwa rakor ini merupakan forum penting untuk mengevaluasi capaian, membahas kendala di lapangan, dan menyusun langkah-langkah strategis ke depan.
“Ini adalah ruang refleksi dan sinergi. Kami ingin para POPT semakin siap menghadapi dampak perubahan iklim dan dinamika serangan OPT dengan pendekatan yang lebih terarah dan efisien,” sahut Lestari.
Pada kegiatan hari kedua dalam rangka sosialisasi dan koordinasi lintas sektor mengenai penanggulangan bencana banjir, berhadir Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin, I Putu Eddy Purna Wijaya, yang memberikan perhatian khusus terhadap isu “Antisipasi Banjir Pada Lahan Pertanian Rawan Banjir.”
I Putu Eddy menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat petani dalam menghadapi ancaman banjir musiman yang kerap merugikan sektor pertanian di Kalimantan Selatan.
”Melalui kegiatan ini, diharapkan POPT se-Kalimantan Selatan dan Perwakilan Dinas Kab/Kota se-Kalimantan Selatan dapat memahami strategi pencegahan banjir secara komprehensif serta mampu menerapkan solusi berbasis kearifan lokal dan teknologi tepat guna di lapangan,” ungkap I Putu Eddy.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik menjelaskan, bahwa ketersediaan data meteorologi seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, serta prediksi musim tanam dan panen sangat penting dalam pengambilan keputusan oleh para petani, penyuluh, dan dinas pertanian.
”Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel juga tengah mengembangkan sistem informasi berbasis digital dan aplikasi mobile untuk mempercepat distribusi informasi iklim kepada masyarakat tani secara real time dan mudah dipahami,” tutup Johannes.
Pada penutupan rakor POPT, Kepala BPTPH Kalsel Lestari Fatria Wahyuni, mengucapkan terimakasih kepada seluruh narasumber dalam kegiatan “Rapat Koordinasi POPT Perlindungan Tanaman”, yang dilaksanakan selama dua hari di Banjarmasin. (MRF/RIW/RH)
