GenRe 2026 Banjarbaru, Wujudkan Generasi Unggul dan Berprestasi

Banjarbaru – Energi muda, semangat kolaborasi, dan keberanian untuk membawa dampak positif mewarnai pelaksanaan Grand Final Apresiasi Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Banjarbaru Tahun 2026, yang berlangsung di Aula Gawi Sabarataan, Senin (27/4).

Kegiatan yang diselenggarakan DP3APMP2KB Kota Banjarbaru ini menjadi wadah bagi generasi muda Banjarbaru untuk menunjukkan potensi terbaik mereka sebagai pelopor, pendidik sebaya, sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.

Mengangkat tema “Rise with Passion, Inspire with Vision: Banjarbaru Emas in Action”, ajang ini hadir sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial bagi remaja.

Sebanyak 10 finalis terbaik berhasil melaju ke babak grand final setelah melewati berbagai tahapan seleksi dari total 43 peserta.

Dalam prosesnya, para finalis tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, wawasan, hingga kepedulian terhadap isu-isu remaja dan sosial.

Kepala DP3APMP2KB Kota Banjarbaru, Erma Epiyana Hartati menyampaikan, bahwa para finalis yang berhasil berdiri di panggung grand final merupakan representasi generasi muda pilihan yang diharapkan mampu membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Kalian adalah yang terbaik dari yang terbaik. Selempang yang akan dikenakan bukan sekadar simbol, tetapi tanggung jawab besar sebagai agen perubahan,” ujarnya.

Erma juga menekankan pentingnya kehadiran generasi muda yang mampu menjadi teladan, menyampaikan edukasi positif kepada teman sebaya, serta aktif mengambil peran dalam menghadapi berbagai tantangan remaja di era digital saat ini.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Banjarbaru, Rizana Mirza, yang hadir mewakili Wali Kota Banjarbaru, mengajak para finalis untuk memanfaatkan pengaruh dan platform yang dimiliki secara bijak, untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

“Gunakan platform yang kalian miliki baik di dunia nyata maupun di media sosial untuk menyebarkan virus-virus kebaikan. Jadilah pilar pendidik sebaya dan konselor sebaya yang tangguh,” pesannya.

Melalui ajang ini, diharapkan lahir generasi muda Banjarbaru yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepedulian sosial yang mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat dan masa depan Kota Banjarbaru. (DP3APMP2KBJB-RIW/EPS)

Pastikan Program Tepat Sasaran, Diskominfo Siapkan Integrasi Data Berbasis NIK

Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), terus mempercepat penguatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai langkah strategis, mewujudkan integrasi data antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang selama ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan rapat koordinasi DTSEN yang digelar Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Rabu (29/4).

Kegiatan ini diikuti berbagai perangkat daerah terkait, untuk memperkuat sinergi dan pemahaman dalam pengelolaan data.

Kepala Diskominfo Kalsel, Muhamad Muslim melalui Kepala Seksi Pengelolaan Data Statistik, Muhammad Hidayatullah menyampaikan, bahwa proses awal penguatan DTSEN telah dilakukan melalui pendaftaran dan aktivasi akun yang melibatkan Bappeda dan Diskominfo Kalsel.

Kasi Statistik Diskominfo Provinsi Kalsel, Muhammad Hidayatullah

“Alhamdulillah, pendaftaran akun DTSEN yang melibatkan Bappeda dan Diskominfo Kalsel sudah selesai dilakukan. Akun tersebut juga telah diaktivasi, dan selanjutnya akan kami tindak lanjuti melalui pengisian data yang diperlukan,” ujarnya.

Menurutnya, aktivasi akun tersebut menjadi langkah awal penting dalam memperbaiki tata kelola data di Kalimantan Selatan, sekaligus menjawab tantangan belum terintegrasinya data sektoral di sejumlah SKPD.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini masih banyak data antar perangkat daerah yang belum saling terkoneksi.

Oleh karena itu, kehadiran Portal Data Kalimantan Selatan diharapkan mampu menjadi penghubung kebutuhan data lintas sektor, termasuk dalam mendukung implementasi DTSEN.

“Perkembangan saat ini menunjukkan masih banyak data di beberapa SKPD yang belum saling terintegrasi. Kami berharap kehadiran Portal Data Kalimantan Selatan dapat menjembatani kebutuhan data antar-SKPD, khususnya dalam mendukung DTSEN,” tambahnya.

Selain persoalan integrasi, Ia juga menyoroti masih adanya keterbatasan pemahaman teknis di tingkat pelaksana.

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu kendala optimalisasi sistem, sehingga kegiatan sosialisasi dan koordinasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan pemahaman serta menyamakan persepsi antarinstansi.

Ke depan, Pemprov Kalsel menargetkan integrasi data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK), sehingga seluruh kebutuhan data lintas sektor dapat terhubung dalam satu sistem yang terpadu.

“Kami berharap DTSEN dapat mengoneksikan kebutuhan data lintas sektor, termasuk sektor kesehatan, berbasis NIK penduduk. Dengan demikian, data pada KTP dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depan, cukup menggunakan NIK seperti halnya sistem pada sektor perpajakan,” pungkasnya.

Melalui integrasi data yang semakin kuat, pemerintah optimis berbagai intervensi program, khususnya di bidang sosial dan kesehatan, dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. (BDR/RIW/APR)

Kunjungan Wisata Geopark Meratus Menurun, Status UNESCO dan Agenda Internasional Jadi Harapan Pemulihan

Banjarbaru – Kunjungan wisata ke kawasan Geopark Meratus pada awal tahun 2026 mengalami penurunan, seiring tren lesunya sektor pariwisata di Kalimantan Selatan pada triwulan pertama. Meski demikian, peluang pemulihan dinilai terbuka melalui penguatan agenda pariwisata dan eksposur internasional.

Wakil Sekretaris Badan Pengelola Geopark Meratus, Theodorik Rizal Manik mengungkapkan, penurunan tersebut tercermin dari data tingkat hunian kamar hotel yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“Pada Desember 2025 tingkat hunian kamar mencapai 59,80 persen, namun turun menjadi 49 persen di Januari dan kembali turun ke 44 persen pada Februari,” ujarnya di Banjarbaru, Rabu (29/4).

Wakil Sekretaris Badan Pengelola Geopark Meratus, Theodorik Rizal Manik

Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi minimnya agenda wisata dan kegiatan berskala besar di awal tahun. Berbeda dengan akhir tahun, yang biasanya didorong berbagai event, termasuk kegiatan keagamaan seperti Haul Sekumpul yang berdampak signifikan terhadap pergerakan wisatawan.

“Di awal tahun memang belum banyak event, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ini berpengaruh langsung terhadap kunjungan wisata,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya optimis, kondisi tersebut bersifat sementara. Sejumlah agenda pariwisata yang akan digelar dalam waktu dekat diharapkan mampu mendorong kembali minat kunjungan wisatawan ke Kalimantan Selatan, termasuk kawasan Geopark Meratus.

Selain mengandalkan event, status Geopark Meratus sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark, juga dinilai menjadi kekuatan utama dalam menarik perhatian wisatawan, khususnya dari mancanegara.

“Status UNESCO memberikan eksposur yang besar. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan kunjungan, tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga internasional,” katanya.

Ia menegaskan, Geopark Meratus tidak hanya menawarkan destinasi wisata, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang mengintegrasikan aspek geologi, keanekaragaman hayati, budaya, serta penelitian ilmiah.

“Geopark ini tidak semata pariwisata. Di dalamnya ada edukasi, penelitian, dan pelestarian lingkungan yang menjadi satu kesatuan,” tambahnya.

Dalam waktu dekat, Geopark Meratus juga dijadwalkan menerima kunjungan tim peneliti dari Prancis yang dipimpin seorang ahli geologi. Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkuat aspek penelitian, tetapi juga memberikan dampak promosi bagi kawasan tersebut di tingkat global.

“Harapannya, kunjungan ini bisa membantu memperkenalkan Geopark Meratus ke dunia internasional sekaligus mendukung pemulihan sektor pariwisata,” pungkasnya. (SYA/RIW/APR)

El Nino Ancam Perpanjang Kemarau, BPBD Kalsel Tekankan Langkah Mitigasi

Banjarbaru – Fenomena El Nino diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau di Kalimantan Selatan, dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat ancaman bencana tidak hanya terbatas pada karhutla, tetapi juga banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, baru-baru ini menjelaskan, bahwa perubahan pola cuaca yang tidak menentu menuntut adanya kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh pihak.

Menurut Ronny, dua potensi bencana utama yang harus diantisipasi bersama adalah banjir dan kebakaran hutan serta lahan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra

Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana sewaktu-waktu.

“Risiko bencana di daerah kita merupakan ancaman nyata yang harus dihadapi bersama. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalisir dampaknya,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, lanjutnya, terus meningkatkan berbagai upaya pencegahan, mulai dari pemantauan wilayah rawan hingga penguatan koordinasi lintas sektor.

“Sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk memastikan penanganan bencana dapat berjalan secara efektif,” sahut Ronny.

Di sisi lain, BPBD Kalsel juga menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap penanggulangan bencana.

Selama ini, kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan masih sering dianggap sebagai beban biaya. Padahal, menurut Ronny, mitigasi justru merupakan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat besar.

Ia menjelaskan, secara global setiap satu rupiah yang diinvestasikan dalam mitigasi bencana dapat menghemat hingga empat sampai tujuh rupiah dalam biaya penanganan darurat dan pemulihan.

“Hal ini menunjukkan bahwa langkah pencegahan jauh lebih efisien dibandingkan penanganan saat bencana sudah terjadi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, BPBD Kalsel terus mendorong penguatan kapasitas relawan serta pengembangan sistem peringatan dini sebagai bagian dari strategi mitigasi.

Selain itu, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Ronny menegaskan bahwa upaya penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan pemerintah semata, melainkan membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

“Dengan berbagai langkah tersebut, diharapkan dampak bencana di Kalimantan Selatan dapat diminimalisir, sekaligus meningkatkan keselamatan masyarakat dan ketahanan daerah dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin dinamis,” tutup Ronny. (MRF/RIW/APR)

Hadapi Kemarau, Pemprov Kalsel Fokuskan Peran Kabupaten/Kota Tangani Karhutla

Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memfokuskan keterlibatan pemerintah kabupaten kota, untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagai langkah strategis menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi lebih kering tahun ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, pada Selasa (28/4) siang menjelaskan, peran aktif pemerintah kabupaten kota sangat penting, sebagai upaya pencegahan maupun penanganan karhutla.

Menurutnya, masing – masing daerah memiliki kewenangan serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap kondisi wilayahnya, sehingga mampu mengambil langkah cepat dan tepat ketika terjadi potensi kebakaran.

Ia menyebutkan, keterlibatan pemerintah daerah tidak hanya sebatas penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi juga mencakup upaya pencegahan sejak dini.

Diantaranya melalui sosialisasi kepada masyarakat, patroli rutin di wilayah rawan, serta kesiapan tim untuk melakukan penanganan awal apabila muncul titik api.

“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal sebelum meluas,” ujar Ronny.

Selain itu, Pemprov Kalsel juga terus mendorong peningkatan kesiapsiagaan di seluruh wilayah, terutama pada daerah yang memiliki lahan gambut dan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.

Langkah ini dinilai penting untuk meminimalisir dampak yang dapat ditimbulkan, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

“Koordinasi lintas daerah terus diperkuat, termasuk dengan berbagai instansi terkait seperti TNI, Polri, serta relawan kebencanaan. Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam memastikan penanganan karhutla dapat berjalan secara efektif, cepat, dan terintegrasi,” lanjut Ronny.

Di samping itu, pemantauan di titik-titik rawan kebakaran juga terus ditingkatkan dengan memanfaatkan berbagai metode, baik melalui patroli darat maupun pemantauan berbasis teknologi.

Pemerintah juga memastikan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, seperti peralatan pemadam dan sumber air, agar dapat digunakan secara optimal saat dibutuhkan

“Peningkatan kesiapsiagaan ini menjadi prioritas, terutama dalam menghadapi musim kemarau. Kami ingin memastikan seluruh daerah siap menghadapi potensi karhutla,” tambahnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan secara lebih efektif, sehingga dampaknya dapat diminimalisir.

Selain itu, keterlibatan aktif seluruh pihak, termasuk masyarakat, diharapkan mampu menciptakan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.

“Melalui upaya terpadu ini, diharapkan wilayah Kalimantan Selatan dapat lebih siap dalam menghadapi musim kemarau, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Ronny. (MRF/RIW/EPS)

Perkuat Integritas ASN, Pemprov Kalsel Gandeng KPK Gelar Monitoring Sertifikasi PAKSI dan API

Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, terus memperkuat upaya pencegahan korupsi melalui penguatan kapasitas aparatur.

Salah satunya melalui kegiatan monitoring Pelatihan Integritas Lembaga Eksekutif dan Sertifikasi Penyuluh Anti Korupsi (PAKSI) serta Ahli Pembangun Integritas (API), yang digelar di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru, Rabu (29/4).

Sekretaris Daerah Kalsel menyampaikan sambutan dalam kegiatan Monitoring Evaluasi Pelatihan Integritas Lembaga Eksekutif dan Sertifikasi Paksi

Kegiatan ini dihadiri jajaran KPK RI, para peserta PAKSI dan API di Kalimantan Selatan, kepala SKPD lingkup Pemprov Kalsel, serta Inspektorat.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin menegaskan, bahwa penguatan integritas aparatur menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan pemberantasan korupsi yang semakin kompleks.

“Skor Indeks Persepsi Korupsi tahun 2025 berada di angka 3,4. Ini menjadi alarm keras bahwa pencegahan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan, tetapi harus dibangun dari dalam melalui SDM yang berintegritas,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan PAKSI dan API memiliki peran strategis sebagai agen perubahan, dalam membangun budaya anti korupsi di lingkungan birokrasi, mulai dari level pimpinan hingga pelaksana.

“Penguatan integritas aparatur telah menjadi agenda penting Pemprov Kalsel, sejalan dengan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi dan rencana aksi KPK,” jelasnya.

Ia juga mendorong seluruh peserta untuk memanfaatkan forum ini secara optimal, tidak hanya sebagai ajang evaluasi, tetapi juga untuk merumuskan langkah perbaikan yang konkret dan terukur.

“Kompetensi yang diperoleh harus segera diimplementasikan di satuan kerja masing – masing. Perangkat daerah juga harus memberikan ruang dan dukungan bagi PAKSI dan API dalam menjalankan fungsinya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syarifuddin menekankan pentingnya sinergi antara aparat pengawas internal pemerintah, pimpinan SKPD, serta para agen integritas dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Kolaborasi ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Kalimantan Selatan yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme,” pungkasnya. (SYA/RIW/EPS)

Percepat Revisi Perda TJSLP, Bappeda Harapkan CSR Lebih Tepat Sasaran dan Terintegrasi

Banjarbaru – Pemprov Kalsel melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mempercepat penyusunan revisi Raperda Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP), untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha, sekaligus memastikan program tanggung jawab sosial perusahaan lebih terarah dan berdampak nyata.

Pembahasan revisi Perda Nomor 1 Tahun 2014 tersebut, digelar di Ruang Halid Maksum, kantor Bappeda Kalsel, Senin (27/4).

Sekda Kalsel saat menyampaikan sambutan dalam rapat penyusun Raperda TJSLP

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin menegaskan, pembangunan tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah, melainkan memerlukan kolaborasi kuat dengan dunia usaha dan masyarakat.

“Program TJSLP harus kita dorong menjadi instrumen strategis, bukan sekadar kewajiban administratif. Ini penting untuk mendukung pencapaian RPJMD dan juga target pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan perusahaan di Kalimantan Selatan harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah, yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kalsel, Suprapti Tri Astuti menjelaskan, bahwa revisi regulasi difokuskan pada penguatan integrasi program TJSLP dengan perencanaan pembangunan daerah.

“Melalui revisi ini, kami ingin memastikan program TJSLP benar – benar selaras dengan RKPD dan mampu mendukung pencapaian SDGs, sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini proses revisi telah memasuki tahap harmonisasi, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha, guna menghasilkan regulasi yang implementatif dan akuntabel.

Sebagai langkah konkret, Pemprov Kalsel juga mengembangkan sistem digital melalui aplikasi E-Optima TJSLP. Platform ini dilengkapi fitur katalog kebutuhan berbasis spasial, yang memungkinkan perusahaan menyalurkan program CSR secara lebih tepat sasaran dan merata.

“Dengan sistem ini, perusahaan dapat melihat langsung kebutuhan di lapangan, sehingga intervensi yang dilakukan lebih terukur dan berdampak,” tambah Astuti. (SYA/RIW/EPS)

Balik Nama Kendaraan Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Warga Tetap Diminta Cek Status Kendaraan

Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), terus memberikan kemudahan layanan administrasi bagi masyarakat, salah satunya pada proses balik nama kepemilikan kendaraan bermotor.

Kini, proses balik nama tidak lagi mewajibkan penggunaan KTP pemilik lama, selama seluruh dokumen persyaratan dinyatakan lengkap.

pembayaran pajak kendaraan bermotor di UPPD Samsat Bapenda Kalsel

Kepala Bapenda Provinsi Kalimantan Selatan, Subhan Nor Yaumil, baru-baru ini menjelaskan, bahwa kebijakan ini mengacu pada Peraturan Kepolisian Nomor 7 Tahun 2021, tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor, yang memberikan kemudahan dalam proses administrasi kendaraan.

Menurut Subhan, sejumlah dokumen yang harus disiapkan dalam proses balik nama antara lain KTP pemilik baru, STNK dan BPKB asli, bukti pelunasan pajak kendaraan bermotor, serta kuitansi pembelian.

Dengan kelengkapan tersebut, masyarakat tidak lagi harus menghadirkan KTP pemilik lama dalam proses pengurusan.

“Ini tentu memudahkan masyarakat, terutama dalam transaksi jual beli kendaraan yang sering kali terkendala karena tidak adanya KTP pemilik sebelumnya,” ujar Subhan.

Namun demikian, Ia menegaskan, bahwa KTP pemilik lama tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, seperti pada proses balik nama kendaraan yang berasal dari hibah atau warisan. Dalam kasus tersebut, dokumen tambahan seperti surat keterangan waris juga harus disertakan.

“Selain memberikan kemudahan, kami juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti sebelum melakukan balik nama kendaraan, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah melakukan pengecekan status kendaraan atau cek blokir,” lanjut Subhan.

Subhan menjelaskan, pengecekan ini bertujuan untuk memastikan kendaraan tidak dalam kondisi bermasalah, seperti terlibat kecelakaan, pelanggaran lalu lintas, atau dalam status pemblokiran.

Dengan memastikan status kendaraan sejak awal, proses administrasi dapat berjalan lebih lancar tanpa hambatan di kemudian hari.

Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa proses balik nama kendaraan harus dilakukan di Samsat induk, karena memerlukan penerbitan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) baru di Direktorat Lalu Lintas Polda Kalimantan Selatan.

Sementara itu, layanan Samsat keliling atau mobile belum dapat melayani penerbitan BPKB.

“Dengan memastikan seluruh persyaratan lengkap dan status kendaraan jelas, proses balik nama akan lebih cepat dan tidak menemui kendala,” tutup Subhan. (MRF/RIW/EPS)

Peneliti Gemologi Prancis Kunjungi Museum Lambung Mangkurat, Dalami Sejarah Intan Kalsel

Banjarbaru – Kunjungan tim peneliti gemologi internasional asal Prancis ke Kalimantan Selatan, tidak hanya berfokus pada aktivitas lapangan di kawasan pertambangan dan perdagangan intan, tetapi juga menyentuh aspek sejarah dan edukasi. Salah satu agendanya adalah kunjungan ke Museum Lambung Mangkurat, Senin (27/4).

Tim dari Laboratoire de Gemmologie yang dipimpin Agatha Cristol, didampingi Badan Pengelola Geopark Meratus, Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel, serta Bappeda Kalsel, memanfaatkan kunjungan tersebut untuk memperdalam pemahaman tentang sejarah geologi, budaya, dan perkembangan industri intan di daerah ini.

Tim Gemologi Prancis melihat benda koleksi museum tentang pendulangan intan.(foto : Muslam Kalsel)

Di museum, rombongan meninjau berbagai koleksi artefak yang menggambarkan keterkaitan masyarakat lokal dengan kekayaan alam, khususnya intan yang menjadi salah satu identitas Kalimantan Selatan.

Plt Kepala Museum Lambung Mangkurat, Raudati Hildayati, menyambut positif kunjungan tersebut dan menilai kehadiran peneliti internasional menjadi momentum penting, memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi dan referensi ilmiah.

“Kunjungan ini sangat berarti bagi kami. Museum tidak hanya menjadi ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran yang mampu menjembatani pengetahuan lokal dengan kajian ilmiah internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, interaksi langsung antara peneliti dan pengelola museum turut membuka ruang pertukaran pengetahuan, terutama terkait karakteristik geologis intan Kalimantan yang memiliki keunikan tersendiri.

“Kami berharap melalui kunjungan ini, potensi dan kekayaan sejarah intan Kalimantan Selatan semakin dikenal luas, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset ke depan,” tambahnya.

Kunjungan ke Museum Lambung Mangkurat menjadi pelengkap dari rangkaian kegiatan penelitian yang berlangsung pada 26 April hingga 2 Mei 2026.

Sebelumnya, tim juga telah mengunjungi lokasi penambangan tradisional intan di Cempaka, tempat pengolahan, serta pasar intan. (SYA/RIW/EPS)

Rumah Produksi Bigfast Diresmikan, Wali Kota Erna Lisa Halaby Dorong UMKM Banjarbaru Tembus Pasar Nasional

Banjarbaru – Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, meresmikan Rumah Produksi UMKM Bigfast di Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Senin (27/4).

Peresmian tersebut menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Banjarbaru, memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pengembangan dan pemberdayaan produk lokal.

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota didampingi Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Banjarbaru, Camat Liang Anggang, serta Lurah Landasan Ulin Barat.

Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan komitmen bersama, mendukung pertumbuhan UMKM di Kota Banjarbaru.

Rumah produksi Bigfast sendiri merupakan unit usaha milik Ani, yang memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih lantai.

Produk ini diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas dengan kualitas yang terus ditingkatkan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Banjarbaru menyampaikan apresiasi terhadap semangat dan konsistensi pemilik usaha. Ia menilai, keberadaan rumah produksi ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kebangkitan ekonomi masyarakat.

“Rumah produksi Bigfast ini walaupun sederhana, diharapkan ke depan mampu menyuplai hingga ke seluruh Indonesia. Pemerintah Kota Banjarbaru juga akan terus mendorong penggunaan produk lokal, termasuk di lingkungan perkantoran,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa produk Bigfast telah mulai digunakan di sejumlah tempat usaha, seperti pusat perbelanjaan dan restoran, yang menjadi indikasi positif terhadap kualitas dan kepercayaan pasar.

Lebih lanjut, Wali Kota menekankan pentingnya inovasi bagi pelaku UMKM agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri yang semakin dinamis, terutama di era digital saat ini.

Ia juga menyoroti bahwa tantangan utama UMKM terletak pada standarisasi produk dan efisiensi produksi, sehingga kehadiran rumah produksi ini diharapkan dapat menjadi solusi.

“Usaha kecil dan menengah adalah tulang punggung ekonomi kota. Karena itu, saya berpesan agar pengelola rumah produksi ini terus berinovasi dan menciptakan terobosan agar produk lokal memiliki daya saing,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Wali Kota Banjarbaru menyampaikan ucapan selamat kepada pimpinan dan seluruh karyawan Rumah Produksi Bigfast, serta apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan fasilitas tersebut.

Peresmian ini diharapkan menjadi momentum bagi UMKM di Banjarbaru untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional. (MedCenBjb-RIW/EPS)

Exit mobile version