Hadapi Karhutla dan Kemarau, Kebun Raya Banua Perkuat Perawatan Tanaman dan Kewaspadaan
Ket : Upaya Kebun Raya Banua menjaga tanaman di musim kemarau melalui pembokoran
Banjarbaru – Kemarau panjang yang menyebabkan kondisi lahan semakin kering menjadi tantangan bagi Kebun Raya Banua Provinsi Kalimantan Selatan, menjaga kelestarian tanaman koleksi.
Selain mengoptimalkan penyiraman, pengelola juga meningkatkan pemeliharaan tanaman dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala UPTD Kebun Raya Banua, Rahmat Maidiyanto mengatakan, kondisi kekeringan tahun ini tergolong ekstrem, bahkan lebih kering. Situasi tersebut berdampak pada sejumlah tanaman yang mengalami kekeringan berat meskipun penyiraman terus dilakukan.
“Kondisi saat ini di Kebun Raya cukup kering, bahkan hampir extreme, tetapi kami tetap mengupayakan optimalisasi, agar tanaman dan tumbuhan di Kebun Raya bisa terjaga” ujarnya, Rabu (14/10).
Untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, pengelola mengandalkan Embung Kebun Raya sebagai sumber air utama. Ketersediaan air dari embung hingga kini relatif mencukupi untuk menyuplai kawasan, dengan distribusi melalui jaringan penyiraman dan truk tangki.
Namun, tantangan tidak hanya terletak pada ketersediaan air, tetapi juga efektivitas penyalurannya ke setiap area. Karena itu, pengelola memperbaiki jaringan penyiraman yang rusak serta melakukan pembokoran atau pelubangan tanah di sekitar tanaman agar air lebih mudah meresap hingga ke bagian perakaran.
“Untuk sumber air, Alhamdulillah kita memiliki Embung Kebun Raya yang merupakan sumber air terbesar. Selama ini sumber air cukup untuk menyuplai seluruh area Kebun Raya,” jelas Rahmat.

Meski demikian, cuaca panas dan kondisi tanah yang sangat kering membuat beberapa tanaman mengalami kerusakan parah hingga sulit dipertahankan hidup.
Kondisi ini mendorong petugas untuk lebih intensif memantau perkembangan tanaman di setiap zona agar penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing koleksi.
Di sisi lain, ancaman karhutla juga menjadi perhatian serius. Pada Juli lalu, Kebun Raya Banua sempat terdampak kebakaran yang berasal dari kawasan di luar area pengelolaan, tepatnya wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan. Beruntung, api tidak merembet terlalu luas ke dalam kawasan konservasi.
“Terakhir terjadi di bulan Juli yang sebenarnya bukan puncaknya kemarau, tetapi kita mendapat kiriman dari area yang berbatasan langsung dengan hutan,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terhadap potensi kebakaran dari area sekitar yang dapat mengancam koleksi tumbuhan.
Rahmat menegaskan, upaya menjaga kelestarian Kebun Raya Banua membutuhkan keterlibatan seluruh petugas, baik dalam merawat tanaman maupun memantau kondisi lingkungan. Pengawasan di setiap zona akan terus diperkuat, disertai optimalisasi penyiraman dan pemeliharaan fasilitas pendukung.
“Strategi ke depan tetap mengoptimalkan penyiraman, kemudian memberikan semangat juga kepada kawan – kawan supaya lebih ekstra lagi memelihara dan memperhatikan tanaman di zona atau tanaman masing – masing, karena yang memperhatikan ini tentunya kalau bukan kita, siapa lagi,” tuturnya.
Melalui langkah tersebut, Kebun Raya Banua berupaya meminimalkan dampak kemarau ekstrem sekaligus mengantisipasi risiko karhutla. Perlindungan kawasan dan perawatan berkelanjutan diharapkan dapat menjaga keberlangsungan koleksi tumbuhan yang menjadi bagian penting dari fungsi konservasi Kebun Raya Banua. (BDR/RIW/EPS)
