Bara Gambut Jadi Ancaman, Penanganan Karhutla Kalsel Difokuskan di Tiga Kawasan
Gubernur Kalsel Muhidin turut membantu pemadaman lahan terbakar akibat karhutla.(foto : Adpim)
Banjarbaru – Bara yang bertahan di bawah permukaan lahan gambut menjadi tantangan serius dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
Meski api di permukaan telah dipadamkan, asap masih muncul dari sejumlah titik dan berpotensi memicu kebakaran kembali.

Kondisi tersebut ditemukan di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, saat Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI sekaligus Koordinator Penanganan Karhutla Kalimantan, Hanif Faisol Nurofiq, meninjau langsung lokasi, Minggu (23/8).
Di sejumlah titik, lahan yang telah menghitam masih mengeluarkan asap. Setelah permukaan gambut digali, ditemukan bara yang tetap menyala di bawah tanah.
Gubernur Kalsel, Muhidin mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pemadaman tidak cukup hanya dilakukan pada api yang terlihat di permukaan.
“Setelah kemarin kami melakukan pemadaman di daerah sini, ternyata asapnya masih ada. Setelah digali ternyata di bawahnya ini masih ada bara,” ujar Muhidin.
Menurutnya, karakter lahan gambut membuat bara dapat bertahan di bawah permukaan dan terus menghasilkan asap selama berhari-hari apabila tidak dibasahi secara menyeluruh.
“Karena di sini lahan gambut, takutnya nanti malah terulang, berhari – hari asapnya terus ada,” katanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan pembasahan kawasan dengan mengalirkan air menuju kanal-kanal di sekitar lokasi karhutla.
Sebanyak 300 pompa air disiapkan untuk mendukung operasi. Rinciannya, 100 pompa berasal dari bantuan Haji Isam, 30 unit dari Kementerian Pertanian, 50 unit dari Kementerian Pertahanan, serta 120 unit dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Pompa tersebut akan dibagi ke tiga kawasan prioritas, masing-masing sekitar 100 unit, yakni Guntung Damar, Pengayuan, serta kawasan Hutan Lindung Liang Anggang dan sekitarnya.
Selain dukungan peralatan, Muhidin menyebut bantuan pembiayaan sebesar Rp7,6 miliar dari Haji Isam akan digunakan untuk membantu operasi penanganan selama dua pekan.
Sebelum turun ke lapangan, Muhidin bersama jajaran Forkopimda Kalsel terlebih dahulu melakukan koordinasi di VIP Room Bandara Syamsudin Noor.
Rombongan kemudian meninjau langsung titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan melakukan penyemprotan pada sejumlah bagian lahan gambut.
Sementara itu, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, hasil monitoring menunjukkan terdapat tiga kawasan yang menjadi sumber utama kabut asap di Kalimantan Selatan.
“Ada tiga lokasi penyebab utama kabut asap di Kalsel. Guntung Damar, kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, serta Pengayuan dan Peramuan,” ujar Hanif.
Berdasarkan prakiraan luasan karhutla, Guntung Damar mencapai sekitar 121,40 hektare. Kawasan Hutan Lindung Liang Anggang dan sekitarnya sekitar 167,50 hektare, sedangkan Pengayuan dan Peramuan menjadi yang terluas dengan sekitar 753,40 hektare.
Jika digabungkan, total prakiraan luasan pada tiga kawasan prioritas tersebut mencapai lebih dari 1.000 hektare.
Hanif menilai besarnya luasan membuat penanganan tidak dapat dilakukan parsial. Seluruh unsur harus bergerak secara terpadu dengan pengerahan personel, pompa, mobil tangki, sumber air, hingga dukungan water bombing.
“Untuk itu, setelah beberapa kali kita koordinasi dengan Pemprov Kalsel, kita akan mempercepat penanganannya sebagaimana arahan dari Pak Gubernur,” katanya.
Percepatan tersebut dinilai penting karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang.
“Apalagi menurut BMKG, kemarau ini akan panjang,” ujarnya.
Di tengah ancaman yang masih berlangsung, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan luas area terdampak karhutla hingga pertengahan 2026 masih jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Luas lahan terbakar hingga pertengahan tahun ini tercatat sekitar 8 ribu hektare. Angka tersebut jauh di bawah catatan tahun 2023 yang mencapai sekitar 190 ribu hektare.
Data itu menunjukkan skala kebakaran secara kumulatif belum sebesar 2023. Namun, pemerintah tetap mempercepat penanganan karena karakter kebakaran gambut memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan dan terus menghasilkan asap meski api di atas tanah telah padam.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menargetkan operasi pada tiga kawasan prioritas dilakukan secara masif dan serentak dalam waktu sekitar dua pekan.
Fokusnya bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga memastikan bara gambut benar-benar padam agar asap tidak terus muncul dan kebakaran tidak kembali berulang. (SYA/RIW/EPS)
