Jurnalis Perempuan Jangan Hanya Beritakan Kabut Asap, Dorong Pencegahan Karhutla

Banjarmasin – Jurnalis perempuan didorong tidak sekadar memberitakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap ketika bencana telah terjadi tetapi harus mampu membaca potensi ancaman sejak dini dan mendorong pemerintah serta pemangku kepentingan, menyiapkan langkah pencegahan.

Gagasan tersebut disampaikan Ratna Sari Dewi, praktisi media dan Ketua Tim Berita TVRI Kalsel, saat Silaturahmi dan Diskusi Reflektif bertema “Perempuan dan Media: Merawat Kedaulatan Informasi, Menebar Keadilan” yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, FJPI Kalsel di Banjarmasin, Sabtu (29/8).

Menurut Dewi, karhutla bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Ancaman tersebut memiliki pola yang berulang, terutama ketika memasuki musim kemarau. Bahkan, potensi meningkatnya risiko kebakaran dapat diperkirakan berdasarkan kondisi cuaca dan fenomena iklim seperti El Niño.

“Ini kejadian yang berulang dan bisa diprediksi. Karena kita sudah tahu kapan akan mengalami kemarau,” ujarnya.

Karena itu, pemberitaan mengenai karhutla seharusnya tidak baru gencar ketika api telah membesar dan kabut asap mulai mengganggu masyarakat.

Media justru perlu membangun peringatan dini melalui pemberitaan yang mengingatkan pemerintah dan lembaga terkait mengenai ancaman yang akan dihadapi.

Dewi mencontohkan, langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum memasuki periode kemarau panjang. Pada periode sebelumnya, upaya seperti pendinginan dan penyiraman lahan telah dilakukan sebagai bagian dari antisipasi.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pencegahan bukan sesuatu yang mustahil dilakukan apabila dipersiapkan sejak awal.

“Selama ini kita sering hanya memberitakan peristiwa yang sudah terjadi atau akan terjadi, tanpa memberikan warning kepada para pemangku kepentingan tentang apa yang akan terjadi,” katanya.

Ratna mengingatkan, jika pers hanya berfungsi sebagai penyampai kejadian, posisi media massa berisiko tidak jauh berbeda dengan media sosial.

Saat ini masyarakat dapat merekam, mengunggah dan menyebarkan sebuah peristiwa dalam hitungan menit. Kecepatan tersebut menjadi tantangan bagi media massa untuk memberikan nilai tambah melalui informasi yang lebih mendalam, terverifikasi dan memiliki konteks.

Karena itu, media harus mengambil peran yang tidak dimiliki media sosial, yakni membaca persoalan, menggali akar masalah dan membangun agenda publik.

“Kalau kita tahu akan terjadi kemarau panjang, kita harus mulai berpikir: bagaimana persediaan air, bagaimana potensi kebakaran hutan, dan apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mencegahnya,” tuturnya.

Menurut Dewi, pola tersebut menjadi penting bagi jurnalis perempuan. Kepekaan terhadap persoalan sosial dan kemampuan melihat dampak sebuah kebijakan dari berbagai sisi dapat menjadi modal dalam menghasilkan pemberitaan yang lebih kritis dan berorientasi pada kepentingan publik.

Namun, Ia menegaskan, mendorong agenda preventif bukan berarti jurnalis boleh mencampurkan opini ke dalam berita.

Sebaliknya, pemberitaan tetap harus berpegang pada fakta, data dan prinsip jurnalistik. Analisis dapat diperkuat dengan menghadirkan akademisi, peneliti maupun ahli yang memiliki kompetensi sesuai isu yang diangkat.

“Cari narasumber yang kuat, cari akademisi untuk memperkuat analisa. Kita tidak boleh beropini, tetapi kita bisa mengarahkan agenda agar semua fokus pada preventif,” tegasnya.

Ratna juga mengaitkan penguatan fungsi preventif media dengan upaya menjaga kedaulatan informasi. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, pers dituntut tetap menjadi sumber informasi yang kredibel, mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, media tidak cukup hanya memberitakan seremoni pemerintahan atau peristiwa yang sedang ramai. Ada persoalan – persoalan publik yang membutuhkan pengawalan berkelanjutan hingga menghasilkan perubahan.

Salah satunya adalah isu karhutla. Media dapat mengawal kesiapan pemerintah menghadapi kemarau, ketersediaan air, kesiapan sarana pemadaman, kondisi lahan hingga kebijakan pencegahan.

Dengan pola pemberitaan tersebut, pers tidak hanya menjadi “pemadam” informasi setelah bencana terjadi, tetapi ikut mendorong sistem pencegahan berjalan.

Dewi juga menilai kekuatan media akan semakin besar jika dilakukan melalui kolaborasi. Isu strategis tidak seharusnya berhenti sebagai berita satu media, tetapi dapat dikawal bersama sehingga menjadi perhatian publik dan mendorong respons pemerintah.

“Social power itu adalah gerakan kelompok yang bisa memengaruhi kebijakan pemerintah. Kita kuat kalau kita bersatu,” ujarnya.

Ia mengajak jurnalis perempuan membangun tradisi jurnalistik yang lebih kritis, prediktif dan solutif. Media harus berani membaca apa yang mungkin terjadi, mengingatkan publik dan pemerintah, sekaligus tetap menjaga independensi serta akurasi pemberitaan.

“Jangan hanya memberitakan peristiwa. Mulai peka terhadap apa yang akan terjadi, kita harus leading dan serentak memberitakannya,” pungkasnya. (FJPIKalsel-RIW/EPS)

Komisi VIII DPR RI Dorong Penguatan Mitigasi Karhutla di Kalimantan Selatan

Banjarbaru – Komisi VIII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke Kalimantan Selatan dalam rangka membahas mitigasi dan penanggulangan bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan, yang berpotensi terjadi selama musim kemarau.

Kedatangan Komisi VIII DPR RI disambut Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin di Ruang Haji Maksid Setdaprov Kalsel, Jumat (28/8).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kalimantan Selatan.

Salah satu perhatian utama adalah karhutla yang memiliki risiko lebih tinggi ketika kondisi cuaca memasuki musim kemarau.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin mengatakan, sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat sangat penting dalam memperkuat upaya mitigasi serta penanggulangan bencana.

“Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan koordinasi dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, aparat keamanan, hingga masyarakat,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, lanjut Syarifuddin, terus memperkuat langkah mitigasi dan penanggulangan karhutla melalui koordinasi bersama seluruh unsur terkait.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan daerah menghadapi potensi bencana, sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid mendorong BPBD Kalimantan Selatan, untuk semakin mempererat dan memperkuat upaya mitigasi bencana.

Menurut Abdul Wachid, mitigasi merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana karena langkah pencegahan dan kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi.

“BPBD memiliki peran strategis untuk memastikan kesiapan daerah, baik dari sisi personel, peralatan maupun koordinasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, serta seluruh unsur terkait,” sahutnya.

Terlebih, kondisi musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

“Karena itu, kesiapsiagaan harus terus diperkuat agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sedini mungkin,” sahutnya.

Abdul Wachid menegaskan, Komisi VIII DPR RI mendorong BPBD Kalsel untuk terus mempererat koordinasi dan sinergi dalam mitigasi bencana.

Dengan koordinasi yang semakin kuat, setiap potensi bencana diharapkan dapat diantisipasi dan ditangani secara lebih cepat dan tepat.

Ia juga berharap kesiapan personel, peralatan penanggulangan bencana, serta dukungan lintas sektor terus ditingkatkan. Hal tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat maupun lingkungan.

“Kunjungan kerja ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kondisi dan kebutuhan Kalimantan Selatan menghadapi potensi bencana, termasuk karhutla,” tutupnya.

Melalui penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, upaya mitigasi diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga mengutamakan pencegahan dan kesiapsiagaan sejak dini. (MRF/RIW/EPS)

Hadapi Ancaman Kemarau Panjang dan Karhutla, Korem 101/Antasari Gelar Salat Istisqa

Banjarmasin – Ratusan Prajurit dan PNS serta Persit KCK Koorcabrem 101 menggelar Salat Istisqa di halaman Masjid Miftahul Jannah Korem 101/Antasari, Banjarmasin, Jum’at (28/8).

Salat Istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar dan bermunajat memohon kepada Allah SWT agar segera turun hujan di wilayah Kalimantan Selatan yang hingga kini masih dilanda kemarau panjang.

Kegiatan ini dihadiri Danrem 101/Ant Brigjen TNI Ilham Yunus, KH. Ahmad Sawiti, Ustadz Ilham Humaidi, para PJU Korem 101/Antasari, para Dandim dan Danyonif, para Dan/Ka Balak Aju Kodam XXII/TB wilayah Banjarmasin, Ketua Persit KCK Koorcabrem 101 PD XXII/TB, para Prajurit, PNS dan Persit KCK Koorcabrem 101.

Danrem 101/Antasari mengatakan, Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

“Hari ini kita melaksanakan Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar batin dan munajat kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat Kalimantan Selatan,” harap Brigjen TNI Ilham Yunus.

Ia menyebut kejadian karhutla terbesar tercatat di tiga wilayah, antara lain Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Kota Banjarbaru.

Beberapa titik kebakaran masih terjadi di kawasan Banjarbaru, di antaranya Guntung Damar, Pengayuan hingga kawasan hutan lindung.

Penanganan karhutla, lanjutnya, terus dilakukan dengan melibatkan personel gabungan terdiri dari pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, masyarakat, dan relawan yang berjibaku melakukan pemadaman di tengah kondisi cuaca yang panas dan kering.

Menurutnya, kemarau panjang yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah, tetapi yang paling dirasakan yaitu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, hingga dampak terhadap kesehatan seperti ISPA dan aktivitas perekonomian masyarakat.

Korem 101/Antasari telah melaksanakan berbagai upaya dalam pencegahan karhutla, mulai sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, patroli terpadu, pemantauan wilayah, pemadaman melalui jalur darat, serta dukungan operasi udara melalui water bombing dan upaya modifikasi cuaca. Korem 101/Antasari juga akan membuat sumur bor disejumlah titik-titik vital.

“Mudah-mudahan munajat kita dengan beristighfar memohon ampun dan Salat Istisqa ini dikabulkan Allah SWT, turun hujan di Kalimantan Selatan,” pungkasnya. (PENREM-RIW/EPS)

Empat Nakes RSD Idaman Raih Penghargaan Nakes Teladan Tingkat Provinsi Kalsel 2026

Banjarbaru — Empat tenaga kesehatan (nakes) perwakilan Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru, berhasil mengukir prestasi membanggakan pada Seleksi Penganugerahan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam Puncak Acara Penganugerahan Penghargaan bagi Tenaga Kesehatan Teladan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan di Kota Banjarmasin, Rabu (26/8).

Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen RSD Idaman Kota Banjarbaru, menghadirkan inovasi, meningkatkan mutu pelayanan, serta memberikan layanan kesehatan berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan pasien.

Empat tenaga kesehatan RSD Idaman Kota Banjarbaru yang berhasil meraih penghargaan tersebut yakni:

Terbaik I Kategori Teknik Biomedika (ATLM)
Nakes: Rosida Arisanti, Amd.AK
Inovasi: “Dandaman” (Aplikasi Donor Darah Idaman).
Deskripsi: Aplikasi ini hadir untuk memberikan kemudahan dan efektivitas pengelolaan informasi serta pelayanan donor darah di lingkungan RSD Idaman Kota Banjarbaru.

Terbaik II Kategori Keperawatan
Nakes: Ns. Akhmad Azhar Basyir, S.Kep.
Inovasi: “SI IDAMAN BERKAH” (Sistem Identifikasi dan Monitoring Aktivitas Ibadah serta Nilai Rohaniah Berbasis Keperawatan Holistik).
Deskripsi: Inovasi ini mengintegrasikan pendekatan spiritual dalam asuhan keperawatan holistik, memastikan kebutuhan psikologis dan rohani pasien terpenuhi secara seimbang bersama perawatan fisik.

Terbaik III Kategori Dokter
Nakes: dr. William Saputra Sapang
Inovasi: “Kartu Resusitasi Neonatus”.
Deskripsi: Sarana penunjang kesiapsiagaan dan ketepatan tindakan resusitasi pada bayi baru lahir yang membutuhkan penanganan medis secara cepat dan darurat.

Terbaik III Kategori Dokter Spesialis (Bedah)
Nakes: dr. Dyah Paramita, Sp.B
Inovasi: “PARAMITA” (Panduan Rawat Luka Mandiri Tanpa Takut).
Deskripsi: Program edukasi interaktif untuk mendampingi pasien agar dapat merawat luka secara mandiri di rumah dengan benar, aman, dan percaya diri.

Direktur RSD Idaman Kota Banjarbaru, dr. Danny Indrawardhana, menyampaikan apresiasi setinggi – tingginya atas pencapaian para nakes tersebut.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi empat nakes kami yang sukses meraih predikat Nakes Teladan tingkat provinsi tahun ini. Capaian ini membuktikan tenaga kesehatan RSD Idaman memiliki dedikasi, kompetensi tinggi, serta semangat inovasi yang berkelanjutan demi pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar dr. Danny.

Ia menambahkan, keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan individu, melainkan pencapaian bersama seluruh keluarga besar RSD Idaman Kota Banjarbaru.

“Inovasi yang dihadirkan memberikan dampak langsung pada peningkatan mutu pelayanan. Kami berharap raihan ini memotivasi seluruh jajaran di RSD Idaman untuk terus berkreasi, meningkatkan kapasitas, serta konsisten menyajikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan humanis,” pungkasnya. (RSDIDAMAN-RIW/EPS)

DWP Kota Banjarmasin Resmi Dikukuhkan

Banjarmasin – Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Banjarmasin Masa Bakti 2024 – 2029 resmi dikukuhkan, pengukuhan dilakukan langsung Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Kalimantan Selatan, Masrupah, di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota Banjarmasin, Kamis (27/8).

Pengukuhan pengurus organisasi yang diketuai Farida Rachmawati tersebut, turut dihadiri Penasihat DWP Banjarmasin, Neli Listriani, Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, Kepala SKPD Lingkup Kota Banjarmasin dan sejumlah Ketua DWP se-Kalimantan Selatan.

Ket foto : Ketua DWP Banjarmasin Farida Rachmawati

Ketua DWP Provinsi Kalimantan Selatan, Masrupah menyampaikan, apresiasi terhadap pelaksanaan pengukuhan DWP Kota Banjarmasin. Ia menilai sejumlah program yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan organisasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, program – program yang dirancang DWP Kota Banjarmasin menunjukkan semangat dan komitmen untuk berkembang.

“Saya merasakan ada semangat yang luar biasa. Sepertinya Dharma Wanita Kota Banjarmasin akan maju pesat,” ujarnya.

Ia menilai DWP dapat mengambil peran membantu pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia mendorong agar setiap kegiatan DWP, seperti bazar maupun kegiatan lainnya, turut menjadi ruang untuk memasarkan produk – produk UMKM lokal.

Selain mendukung perekonomian, Ia berharap kegiatan DWP juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

“Jadi, kegiatan Dharma Wanita tidak hanya bermanfaat bagi internal organisasi, tetapi juga dapat membantu UMKM dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu Ketua DWP Kota Banjarmasin, Farida Rachmawati menyebut bidang pendidikan menjadi salah satu konsentrasi utama pihaknya melalui kegiatan pendampingan anak-anak sekolah.

Pengurus dan staf DWP turut membersamai siswa dalam kegiatan belajar bersama, memberikan pendidikan, hingga menghadirkan berbagai inovasi di lingkungan sekolah.

“Karena konsentrasi kami itu di pendidikan, ekonomi dan sosial,” ujarnya.

Pada bidang ekonomi, DWP Kota Banjarmasin berupaya mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, khususnya bagi anggota. Salah satunya melalui kegiatan bazar yang digelar dalam setiap pertemuan, sehingga produk hasil kreativitas anggota dapat dipasarkan dan memiliki nilai ekonomis.

Sementara di bidang sosial, DWP turut menjalankan berbagai kegiatan kepedulian kepada masyarakat. Di antaranya membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui pemberian bantuan kebutuhan sekolah pada awal tahun ajaran.

“Diharapkan Dharma Wanita Persatuan ini tidak hanya dipandang sebagai organisasi pelengkap pendukung istri ASN, tapi juga dapat hadir, berkembang, dan bermanfaat tidak hanya untuk anggotanya, tapi juga untuk masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, DWP Kota Banjarmasin diharapkan dapat terlibat dalam program sosial yang dijalankan DWP tingkat provinsi, termasuk program bantuan untuk kelompok masyarakat yang terdampak karhutla.

Sebelumnya, DWP bersama organisasi wanita lainnya juga turut berpartisipasi dalam pembagian masker kepada masyarakat melalui GOW.

Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu kunci agar berbagai program DWP dapat memberikan dampak yang optimal. Dengan tiga pilar program tersebut, DWP Kota Banjarmasin berkomitmen menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermanfaat bagi anggota, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. (PEMKOBJM-SRI/RIW/EPS)

150 Personel Fokus Basahi Titik Rawan Karhutla Hutan Lindung Liang Anggang

Banjarbaru – Sebanyak 150 personel dikerahkan setiap hari untuk melakukan pembasahan lahan gambut di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru.

Penanganan difokuskan pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap untuk mencegah bara kembali berkembang menjadi api dan memicu kabut asap.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Fathimatuzzahra

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalsel, Fathimatuzzahra mengatakan, operasi melibatkan Dishut, DLH, Dinas PUPR, Manggala Agni, KPH Kayu Tangi serta unsur lainnya.

TNI Angkatan Laut turut mengerahkan sekitar 27–35 personel, sementara Dinas Sosial mendukung melalui dapur umum.

“Sebanyak 150 personel hadir setiap hari. Dari Angkatan Laut juga kurang lebih 27 sampai 35 personel,” ujarnya di Posko Hutan Lindung Liang Anggang, Kamis (27/8).

Personel bekerja dengan sistem sif dan disebar melalui sejumlah pos. Dari sekitar 960 hektare kawasan yang dipantau, perhatian diarahkan antara lain ke Penggalaman, Jalan Kurnia, Karya Manuntung dan Makmur Jaya.

Jalan Kurnia menjadi salah satu titik yang ditangani intensif karena sebelumnya mengalami kebakaran cukup parah.

“Ini lokasi-lokasi yang sudah ada asap. Apabila kita biarkan akan ada api dan itu akan menyebar. Potensial sekali untuk terjadinya kabut asap yang besar,” tegas Fathimatuzzahra.

Menurutnya, karakter lahan gambut membuat pembasahan harus dilakukan secara berkelanjutan. Titik yang sebelumnya tidak lagi mengeluarkan asap dapat kembali aktif ketika cuaca panas dan angin menguat.

“Kadang-kadang sudah tidak ada asap, tiba-tiba dengan adanya angin dan panas yang tinggi muncul lagi. Itu sangat membahayakan,” katanya.

Untuk memperkuat pembasahan, 50 dari 100 pompa Dongfeng milik Pemprov Kalsel ditempatkan di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, sedangkan 50 lainnya dialokasikan ke Guntung Damar.

Selain itu, tersedia 12 unit Alkon serta dukungan pompa dari dunia usaha, di antaranya 13 unit dari Adaro dan 10 unit dari Binuang Mitra Bersama.

“Kalau Dongfeng ini berfungsi semua, diharapkan beban kerja 150 personel bisa dikurangi. Personel lainnya bisa bergerak menggunakan pompa portable, Alkon atau pompa jinjing,” jelasnya.

Pembasahan mulai menunjukkan hasil. Kepulan asap di sejumlah titik disebut mulai berkurang setelah air berhasil masuk ke lahan gambut.

“Hari ini asapnya agak berkurang karena sebagian air sudah masuk dengan pompa yang kita tempatkan,” ungkapnya.

Namun, Fathimatuzzahra menegaskan, keberhasilan pembasahan sangat bergantung pada pasokan air. Aliran sebelumnya sempat terganggu akibat perbaikan pipa berdiameter delapan inci hingga membuat sejumlah titik mengalami kekeringan. (SYA/RIW/EPS)

DPRD Dorong Pendapatan Non-Tiket Trans Banjarbakula

Jakarta – Pengembangan transportasi publik tidak harus selalu bergantung pada pendapatan dari tiket penumpang. Berangkat dari konsep tersebut, Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan mendorong Trans Banjarbakula mulai mengembangkan sumber pendapatan baru dari sektor non-tiket.

Gagasan ini menjadi salah satu hasil kunjungan kerja Komisi III DPRD Kalsel ke Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, untuk mempelajari pengelolaan pendapatan non-farebox yang telah diterapkan pada layanan TransJakarta, baru-baru tadi.

Ketua Komisi III DPRD Kalsel, Mustaqimah

Ketua Komisi III DPRD Kalsel, Mustaqimah mengatakan, pembelajaran dari Jakarta penting untuk melihat peluang yang dapat diterapkan di Banua, khususnya memperkuat pembiayaan transportasi publik tanpa harus membebani masyarakat melalui kenaikan tarif.

Trans Banjarbakula perlu memiliki terobosan dalam mengoptimalkan aset dan potensi ekonomi yang ada di sekitar layanan transportasi publik.

“Konsep pendapatan non-tiket dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung peningkatan kualitas dan jangkauan layanan Trans Banjarbakula,” katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya ingin mempelajari secara langsung bagaimana mekanisme yang diterapkan TransJakarta dalam mengelola berbagai sumber pendapatan di luar tiket.

Dari hasil pembelajaran tersebut, konsep yang sesuai akan dikaji untuk kemudian dikembangkan di Kalimantan Selatan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah bagaimana TransJakarta memanfaatkan aset transportasi sebagai bagian dari sumber pendapatan baru.

“Tidak hanya mengandalkan penjualan tiket, pengembangan bisnis dilakukan melalui berbagai skema, seperti naming rights, branding pada halte dan bus, pemanfaatan ruang komersial, hingga kerja sama dengan berbagai mitra,” jelas Mustaqimah.

Bagi Mustaqimah, pola seperti ini menjadi peluang yang patut dipertimbangkan untuk Trans Banjarbakula. Aset yang selama ini hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan publik, menurutnya, dapat dikembangkan secara produktif selama tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.

Konsepnya bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi menciptakan sumber pembiayaan tambahan agar pelayanan transportasi publik dapat terus berkembang.

TransJakarta sendiri telah berkembang pesat. Pada 2025, layanan ini memiliki 232 rute dengan 5.227 unit bus dan mampu menjangkau sekitar 91,8 persen populasi Jakarta dalam radius 500 meter.

Meski demikian, transportasi publik tetap memiliki fungsi sosial sehingga tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pendapatan penumpang. Karena itu, strategi pendapatan non-farebox menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan layanan.

“Komisi III DPRD Kalsel bersama Pemerintah Provinsi Kalsel akan melihat berbagai kemungkinan pengembangan sumber pendapatan non-tiket yang realistis diterapkan di Trans Banjarbakula.

Ke depan, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan dunia usaha, pemanfaatan ruang komersial, promosi, branding, maupun bentuk kemitraan,” pungkasnya. (ADV-NHF/RIW/EPS)

Hadapi Ancaman Digital, Diskominfo Kalsel Perkuat Kerja Sama dengan PSSN

Banjarbaru – Perlindungan data pribadi dan keamanan di ruang digital menjadi perhatian dalam kerja sama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Selatan dengan Politeknik Siber dan Sandi Negara (PSSN).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama yang berlangsung di Aula Diskominfo Kalsel, Banjarbaru, Kamis (27/8). Penandatanganan dilakukan Kepala Diskominfo Provinsi Kalsel, Muhamad Muslim bersama Direktur PSSN, Arnoldus Triono.

Ket : Penandatanganan kerja sama Diskominfo Kalsel dan PSSN

Kepala Diskominfo Kalsel, Muhamad Muslim mengatakan, kerja sama dengan PSSN penting untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam memahami keamanan siber dan menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.

“Kerja sama ini sangat penting untuk memperkuat sumber daya manusia dan pemahaman kita terkait keamanan siber, mudahan-mudahan hal ini juga dapat menguatkan upaya kita terutama dalam menghadapi berbagai ancaman di ruang digital,” kata Muslim.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dalam menjaga keamanan informasi dan data pribadi.

Karena itu, kolaborasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi di bidang siber dan persandian dinilai diperlukan.

Selain kerja sama di bidang keamanan siber, Diskominfo Kalsel juga akan menjadi tempat pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa PSSN.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis sekaligus memperkuat keterkaitan antara pendidikan dan kebutuhan di lingkungan pemerintahan.

Sementara itu, Direktur PSSN, Arnoldus Triono menyampaikan, kolaborasi dengan Diskominfo Kalsel diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam meningkatkan kesadaran terhadap keamanan informasi dan perlindungan data pribadi.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam meningkatkan dan mengoptimalkan kesadaran keamanan informasi serta dapat berkontribusi terhadap Diskominfo Kalsel terkait peningkatan pencegahan siber” ujar Arnoldus.

Arnoldus menambahkan, kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan pemahaman mengenai keamanan digital, baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat.

Selain penandatanganan perjanjian kerja sama, kegiatan dirangkai dengan Sosialisasi Perlindungan Data Pribadi. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai bahaya pinjaman online serta judi online sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan dalam menggunakan layanan dan teknologi digital.

Melalui kerja sama ini, Diskominfo Kalsel dan PSSN diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dalam bidang keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di era digital. (BDR/RIW/EPS)

Tunjukkan Talenta di Panggung Kemerdekaan PRSPDNF, Wagub Kalsel : Disabilitas Terus Berkarya Tanpa Batas

Banjar – Penyandang disabilitas menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya melalui Mini Konser Kemerdekaan Tahun 2026, yang digelar di halaman Panti Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Netra dan Fisik (PRSPDNF) Fajar Harapan, Martapura, Kabupaten Banjar, Rabu (26/8) malam.

Aksi mereka mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman. Menurutnya, mini konser bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan dedikasinya kepada masyarakat.

“Hari ini kita semua ikut menjadi bagian dari puncak kegiatan Merdeka Berkarya bagi Penyandang Disabilitas yang dikemas dalam bentuk Konser Kemerdekaan. Di sini kita bukan hanya menikmati konser musik, tetapi sekaligus merayakan panggung kesetaraan,” ujar Hasnuryadi.

Ia mengatakan, kemampuan seseorang tidak seharusnya diukur dari keterbatasan fisik, melainkan dari semangat untuk berkarya dan memberikan kontribusi.

Hal tersebut terlihat dari penampilan Netra dan Fisik atau Netfis Band, grup musik binaan PRSPDNF Fajar Harapan yang para personelnya merupakan penyandang disabilitas netra.

“Kami bangga dengan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Netfis Band. Penglihatan yang terbatas tidak membuat mereka berhenti berkarya. Tanpa melihat, rasanya mustahil memainkan alat musik, tetapi itu tidak berlaku bagi personel Netfis Band,” katanya.

Hasnuryadi menilai, keberadaan Netfis Band dan PRSPDNF Fajar Harapan menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar apabila diberikan ruang, kesempatan, dan dukungan untuk mengembangkan kemampuan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pemberdayaan penyandang disabilitas dengan membuka ruang interaksi sosial yang lebih luas dan inklusif.

“Disabilitas bukanlah halangan untuk berkarya, berekspresi dan menginspirasi. Kita semua memiliki hak yang sama untuk didengar, dihargai dan diberi ruang,” tegasnya.

Menurut Hasnuryadi, keberhasilan rehabilitasi sosial tidak hanya diukur dari pelayanan yang diberikan di dalam panti, tetapi juga dari banyaknya kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk tampil dan berinteraksi secara langsung di tengah masyarakat.

“Rehabilitasi sosial yang sebenarnya bisa kita lihat dari seberapa banyak program yang memberikan kesempatan kepada disabilitas untuk tampil di depan publik,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Hasnuryadi juga menyerahkan bantuan kursi roda kepada sejumlah klien penyandang disabilitas. Bantuan itu menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam mendukung aktivitas dan kemandirian penyandang disabilitas.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, M Farhanie, didampingi Kepala PRSPDNF Fajar Harapan, Andrie Iswandy, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata aktualisasi diri dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.

Ia menilai penampilan para penerima manfaat menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi dan menghasilkan karya.

“Anak-anak penerima manfaat, dalam hal ini fisik netra yang sudah lama terbentuk, yaitu Net Peace Band, bisa tampil dan berkarya. Mereka luar biasa, tidak kalah dengan kita yang secara fisik normal,” ujar Farhanie.

Ia menambahkan, kemampuan para penerima manfaat juga terlihat dari rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa para penyandang disabilitas mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

Selain penampilan musik, Mini Konser Kemerdekaan juga diisi dengan berbagai pertunjukan seni, termasuk tari.

Farhanie berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga para penerima manfaat memiliki ruang yang lebih luas untuk mengekspresikan diri, mengembangkan bakat, dan berkarya tanpa dibatasi kondisi fisik.

“Jadi mereka merdeka berkarya dan tidak ada batasnya. Kita harapkan kawan-kawan penerima manfaat ini terus ceria dan tidak mengurangi kekurangan diri mereka. Mereka juga bisa berkarya dengan baik,” tutupnya. (BDR/RIW/EPS)

Tiga Titik Karhutla Banjarbaru Ditangani dengan Strategi Permanen, Air Jadi Kunci Putus Kebakaran Berulang

Banjarbaru – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru mulai bergeser dari sekadar mengejar titik api menuju pengendalian kawasan secara permanen. Tiga wilayah yang menjadi fokus utama, yakni Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang dan Pekayuan, disiapkan dengan sistem pembasahan hingga jaringan cadangan air untuk memutus siklus kebakaran berulang.

Pemerintah menyiapkan perendaman lahan, penempatan pompa portabel, kolam biofloc, hingga pencarian sumber air bawah tanah untuk mempertahankan kelembapan kawasan selama musim kemarau.

Gubernur Kalsel bersama Wamenko Pangan dan Kapolda Kalsel meninjau posko pengayuan di Banjarbaru.(Foto : Adpim)

Strategi tersebut dibahas saat Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq dan Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan meninjau Posko Pantau Pekayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Rabu (26/8) sore.

Gubernur Muhidin mengatakan keterbatasan air menjadi salah satu persoalan utama yang harus segera diselesaikan agar penanganan karhutla lebih efektif.

“Kita mengalami kekurangan air di sini. Karena itu, bagaimana kita menyikapi dan mengatasi persoalan air ini harus segera dibahas dan ditindaklanjuti,” ujar Muhidin.

Ia meminta setiap hasil koordinasi segera diterjemahkan menjadi langkah di lapangan. Ketika kebakaran membesar, penanganan juga harus dilakukan cepat, termasuk menggunakan water bombing apabila kondisi dan status kedaruratan memungkinkan.

Masyarakat, lanjut Muhidin, juga memiliki peran penting dengan segera melaporkan kemunculan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.

Menurutnya, target penanganan bukan sebatas memastikan api padam. Sistem air, peralatan, personel hingga pola pencegahan harus dibangun agar kawasan yang sama tidak terus terbakar setiap musim kemarau.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, pola penanganan untuk tiga kawasan prioritas kini semakin jelas.

“Dengan telah ditemukannya strategi permanen ini, kita sedikit lebih tenang untuk bersama-sama menghadapi musim kemarau yang relatif panjang,” kata Hanif.

Di Guntung Damar, pemerintah memilih strategi perendaman dengan memanfaatkan air dari sistem Irigasi Riam Kanan.

Namun, aliran air belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena masih terdapat sejumlah bagian sungai yang terbuka. Pemerintah kemudian memperkuat tabat atau dinding penahan air hingga sekitar satu meter.

Setelah proses tersebut selesai, kawasan utama ditargetkan dapat terendam dalam satu hingga dua hari. Pembasahan selanjutnya diarahkan ke zona di sekitarnya menggunakan pompa portabel.

Kementerian Pertahanan telah menyediakan 50 pompa portabel, sementara Kementerian Pertanian menambah 30 unit. Penanganan juga diperkuat dengan blocking, pompa air dan ekskavator long arm.

“Kita harapkan dalam waktu dua sampai tiga hari area tersebut dapat terendam sehingga api dapat kita fokuskan pada daerah sekitar dan zona utama,” ujarnya.

Tantangan berbeda dihadapi di Pekayuan. Kawasan yang ditangani mencapai sekitar 900 hektare, dengan sekitar 500 hektare di antaranya disebut mengalami kebakaran berulang.

Pemerintah mulai membangun jaringan titik air menggunakan kolam biofloc portabel. Enam unit telah tersedia, masing-masing berkapasitas sekitar 12 ribu liter.

“Yang sudah siap hari ini ada enam unit biofloc. Kita siapkan agar keenam unit tersebut siap digunakan. Setiap kolam memiliki kapasitas 12.000 liter,” jelas Hanif.

Kolam dapat dipindahkan mendekati kawasan yang membutuhkan pasokan. Air dari sumber di pinggir jalan kemudian didistribusikan secara estafet hingga mendekati titik kebakaran.

Jumlahnya secara bertahap ditargetkan mencapai sekitar 144 unit, dengan pola penempatan berjarak sekitar 250 x 250 meter. Sistem ini diharapkan membentuk jaringan cadangan air yang dapat digunakan ketika kebakaran muncul.

Pemerintah juga melakukan survei geolistrik untuk mencari sumber air permanen. Survei awal menemukan potensi sumber air pada kedalaman sekitar 40 meter dengan debit yang dinilai cukup besar.

Strategi darat menjadi semakin penting karena operasi modifikasi cuaca (OMC) tidak selalu dapat dilakukan akibat bergantung pada kondisi awan.

“Kita melakukan perang darat,” tegas Hanif.

Penggunaan air untuk penanganan karhutla juga tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan. Pemerintah harus menjaga ketersediaan air Waduk Riam Kanan yang memiliki fungsi lebih luas.

Hanif menyebut muka air Dam Riam Kanan berada di kisaran 56,25 meter. Tanpa tambahan pasokan yang berarti, muka air diperkirakan turun sekitar 2,5 sentimeter per hari.

Dalam sekitar 30 hari terakhir, daerah tangkapan air Riam Kanan disebut belum memperoleh imbuhan air yang signifikan. Pada saat bersamaan, aliran keluar mencapai sekitar 12.500 liter per detik.

Kondisi itu harus diperhitungkan karena sistem Riam Kanan juga menopang kebutuhan masyarakat dan operasional pembangkit listrik.

Berdasarkan proyeksi klimatologi BMKG Kalimantan Selatan, hujan signifikan diperkirakan baru terjadi pada dasarian ketiga November. Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan pemadaman, pasokan air masyarakat dan keberlangsungan fungsi Riam Kanan selama kemarau.

Sementara itu, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan sekitar 350 personel gabungan dikerahkan untuk menangani kawasan Pekayuan.

Personel berasal dari TNI, Polri, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan serta unsur perusahaan. Mereka dibagi dalam tiga sif agar operasi dapat berjalan berkelanjutan.

“Area yang menjadi tanggung jawab kami kurang lebih 900 hektare,” kata Rosyanto.

Selain posko utama, sejumlah posko tambahan dibangun di sekitar kawasan untuk memperpendek waktu respons ketika muncul titik api.

Pencarian sumber air juga menjadi prioritas. Tim di lapangan telah menemukan sumber air dengan debit yang dinilai cukup besar untuk mendukung operasi.

Penanganan berikutnya tidak hanya menyasar kebakaran yang sedang berlangsung. Kepolisian bersama unsur terkait mulai melibatkan akademisi untuk merumuskan pencegahan jangka panjang.

Salah satu pendekatan yang disiapkan adalah pembuatan biopori oleh masyarakat dan pemilik lahan. Biopori diharapkan membantu mempertahankan kelembapan lapisan tanah setelah pemadaman. (

Exit mobile version