Gelar Pameran Temporer Kedua, Museum Lambung Mangkurat Hadirkan Pesona Budaya dalam Keberagaman
Para siswa antusias melihat benda koleksi Museum Lambung Mangkurat dalam Pameran Temporer
Banjarbaru – Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan menghadirkan pameran temporer kedua bertajuk Ragam Koleksi Museum Lambung Mangkurat: Pesona Budaya dalam Keberagaman untuk memberikan pengalaman baru bagi pengunjung sekaligus memperkenalkan kekayaan koleksi museum.
Pameran yang resmi dibuka Kepala Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya, Kamis (29/10), ini menjadi salah satu upaya museum tetap menghadirkan ruang edukasi dan apresiasi budaya bagi masyarakat, terutama menjelang revitalisasi gedung induk museum oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ady mengatakan, tema keberagaman dipilih untuk memberikan sesuatu yang berbeda kepada masyarakat dan pengunjung melalui koleksi-koleksi museum yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
“Kenapa tema ini kami angkat? Karena juga untuk memberikan hal baru bagi masyarakat dan para pengunjung, apalagi dalam waktu dekat gedung induk Museum Lambung Mangkurat akan direvitalisasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Menurut Ady, pameran ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat mengenal lebih dekat koleksi unggulan Museum Lambung Mangkurat yang memiliki daya tarik tersendiri bagi berbagai kalangan.

Antusiasme pengunjung terlihat dari perhatian siswa, guru pendamping, hingga masyarakat dan pegiat seni budaya terhadap sejumlah koleksi yang dipamerkan.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah baju Pangeran Antasari, yang menjadi koleksi unggulan atau masterpiece museum.
Sementara itu, kalangan pelajar terlihat tertarik dengan koleksi tulang paus yang turut dipamerkan.
Ady berharap pameran ini semakin dikenal masyarakat luas, termasuk melalui penyebarluasan informasi di media sosial, sehingga lebih banyak pengunjung yang datang dan mengenal kekayaan koleksi Museum Lambung Mangkurat.
“Kami melihat antusiasme siswa dan guru pendamping, juga masyarakat serta pegiat seni budaya. Mereka lebih memperhatikan koleksi unggulan kami, yaitu baju Pangeran Antasari. Sementara anak-anak lebih tertarik pada tulang paus,” katanya.
Ia juga memastikan Museum Lambung Mangkurat tetap membuka layanan kepada masyarakat meskipun gedung induk nantinya menjalani revitalisasi.
Ady menegaskan, museum memiliki banyak koleksi lain yang tidak kalah menarik untuk diperkenalkan kepada pengunjung, sehingga kegiatan edukasi dan pelestarian budaya tetap berjalan selama proses perbaikan gedung.
“Saya bisa meyakinkan masyarakat, Museum Lambung Mangkurat akan tetap buka dan tetap memberikan koleksi-koleksi terbaik untuk masyarakat. Kami memiliki banyak sekali koleksi yang tidak kalah dengan yang dipajang atau dipamerkan di gedung induk nantinya,” pungkasnya. (SYA/RIW/APR)
