15 Agustus 2026

Masuki Era Baru, Inaga Didorong Jadi Agen Budaya Berbasis Komunitas

Banjarbaru – Pemajuan kebudayaan di Kalimantan Selatan memasuki arah baru. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), mulai menggeser pola pengelolaan kebudayaan dari yang sebelumnya berorientasi pada kegiatan atau event, menjadi pembangunan ekosistem budaya yang lebih inklusif dan berbasis komunitas.

Arah baru tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi dan penyusunan program Ikatan Nanang Galuh (Inaga) se-Kalimantan Selatan, sekaligus menjadi ruang untuk menyatukan gagasan dan merumuskan program kerja yang selaras dengan kebijakan pemerintah daerah, di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, Jumat (14/8) sore.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, diwakili Kepala Bidang Kebudayaan, Edy Suwarto mengatakan, perubahan strategi tersebut merupakan bagian dari evaluasi terhadap kinerja pemajuan kebudayaan di daerah, termasuk melihat capaian Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Kalimantan Selatan yang masih berada di bawah angka nasional.

Dimana paradigma ini mencakup sejumlah pendekatan, bukan sekadar event menuju ekosistem, dari pola eksklusif menjadi inklusif berbasis komunitas, serta dari pelestarian semata menuju pemberdayaan ekonomi budaya yang diharapkan turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah atau PAD.

“Ini adalah era baru tata kelola kebudayaan di Provinsi Kalimantan Selatan. Kami akan hadir secara grassroot, menguatkan dari akar rumput, karena ekosistem kebudayaan itu tumbuh dari komunitas,” tegas Edy.

Menurutnya, Inaga Kalsel menjadi salah satu komunitas strategis yang dapat dilibatkan dalam arah baru tersebut. Selama ini, keberadaan Nanang Galuh lebih banyak diposisikan sebagai objek kegiatan kebudayaan.

Ke depan, mereka diharapkan menjadi mitra pemerintah sekaligus agen budaya yang aktif dalam pemajuan kebudayaan di daerah.

Edy menilai posisi Inaga cukup strategis karena para anggotanya tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan.

Kondisi ini menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan program kebudayaan hingga ke tingkat komunitas.

“Kalau selama ini mereka sebagai objek, ke depan mereka menjadi rekan Disdikbud dalam pemajuan kebudayaan. Mereka strategis dan terpilih sebagai agen budaya,” katanya.

Lebih lanjut Edy menambahkan, tidak hanya di ruang komunitas, agen budaya juga nantinya diharapkan berperan dalam penguatan kebudayaan di lingkungan pendidikan, termasuk keterlibatan dalam pengembangan muatan lokal di sekolah.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebudayaan lebih dekat dengan generasi muda, sekaligus memastikan nilai, tradisi, seni, dan identitas budaya Banua tidak hanya dipertahankan, tetapi terus berkembang sesuai tantangan zaman.

Dengan tuntutan peran yang semakin besar, Disdikbud Kalsel juga menyiapkan pola kerja yang lebih terukur melalui perjanjian kinerja bersama Inaga di Kalimantan Selatan.

Dengan demikian, peran para agen budaya tidak sekadar simbolis, tetapi memiliki kontribusi nyata dalam mendukung agenda pemajuan kebudayaan daerah.

Ke depan, kolaborasi Disdikbud, Inaga, komunitas budaya, pelaku seni, dunia pendidikan, dan masyarakat diharapkan mampu membangun ekosistem kebudayaan Kalsel yang lebih kuat, inklusif, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Banua.

“Selama ini sangat eksklusif, ke depan kita pastikan inklusif dan berbasis komunitas. Anggaran kita arahkan agar langsung berdampak kepada pelaku dan ekosistem budaya,” tutup Edy. (DISDIKBUDKALSEL-NHF/RIW/APR)

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.