Perkuat Peran Ayah, Wali Kota Lisa Instruksikan Seluruh SKPD Dukung GAMAS dan GEMAR

Banjarbaru – Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat pembangunan keluarga sebagai fondasi mencetak generasi unggul. Melalui Surat Edaran Wali Kota Banjarbaru Nomor: 000/2/VI/BIDKKK/2026, Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, secara resmi mengimbau para ayah untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR).

Gerakan ini merupakan langkah nyata Pemerintah Kota Banjarbaru, mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan sekaligus menjawab tantangan fenomena fatherless, yakni minimnya kehadiran figur ayah dalam tumbuh kembang anak.

Melalui GAMAS dan GEMAR, para ayah diharapkan tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi juga membangun ikatan emosional yang lebih kuat dengan anak, menumbuhkan rasa percaya diri mereka, serta memberikan dukungan nyata terhadap proses pendidikan sejak hari pertama sekolah hingga penerimaan hasil belajar.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Banjarbaru untuk mendukung penuh pelaksanaan gerakan tersebut.

“Saya mengimbau kepada seluruh pimpinan SKPD, camat, dan lurah se-Kota Banjarbaru agar memberikan dukungan kebijakan maupun imbauan kepada seluruh pegawai untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan GEMAR dan GAMAS,” ujarnya.

Begitu pula seluruh satuan pendidikan agar menginformasikan kepada ayah atau wali ayah peserta didik sehingga gerakan ini dapat terlaksana secara maksimal.

Lisa juga mengajak seluruh ayah maupun wali murid yang memiliki anak pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah untuk turut ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Menurutnya, kehadiran seorang ayah pada momen-momen penting pendidikan anak akan menjadi pengalaman berharga yang mampu membangun kedekatan keluarga sekaligus meningkatkan motivasi belajar anak.

Program ini menjadi bagian dari implementasi strategi nasional dalam penguatan ketahanan keluarga dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai langkah mewujudkan Banjarbaru Emas sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Pelaksanaan GEMAR telah dimulai sejak Juni 2026, sementara GAMAS mulai dilaksanakan pada Juli 2026, dengan menyesuaikan jadwal yang ditetapkan masing – masing satuan pendidikan di Kota Banjarbaru.

Melalui gerakan ini, Pemerintah Kota Banjarbaru ingin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan ibu, tetapi juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan peran aktif seorang ayah sebagai pilar utama membangun keluarga yang kuat dan generasi masa depan yang berkualitas. (MedCenBJB-RIW/EYN)

Perkuat Budaya Riset dan Inovasi, BRIDA Kalsel Kembali Gelar Kalsel Innovation Award dan Lomba Karya Tulis Ilmiah

Banjarbaru – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan akan menggelar dua kegiatan strategis, yakni Kalsel Innovation Award (KIA) 2026 dan Lomba Karya Tulis Ilmiah, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan, sekaligus memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kedua kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah memperkuat budaya riset, mendorong lahirnya inovasi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.

Kepala BRIDA KALSEL, Thaufik Hidayat.

Kepala BRIDA Provinsi Kalimantan Selatan, Thaufik Hidayat mengatakan, penyelenggaraan Kalsel Innovation Award dan Lomba Karya Tulis Ilmiah merupakan bentuk komitmen BRIDA, membangun ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan.

“Pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga ide-ide kreatif dan inovatif yang lahir dari berbagai kalangan, baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, maupun masyarakat,” ungkapnya, baru – baru ini.

Thaufik menjelaskan, Kalsel Innovation Award 2026 menjadi ajang apresiasi bagi inovasi – inovasi terbaik yang mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pelayanan publik maupun pembangunan daerah.

“Kompetisi ini terbuka untuk tiga kategori peserta, yakni Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Kalimantan Selatan, SKPD kabupaten dan kota, serta masyarakat umum,” lanjutnya.

Ia berharap melalui ajang tersebut semakin banyak inovasi yang lahir dan dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, mendorong efisiensi penyelenggaraan pemerintahan, sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai sektor.

Selain Kalsel Innovation Award, BRIDA juga akan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tahun 2026.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan budaya riset dan semangat berkarya di Kalimantan Selatan melalui penyusunan karya ilmiah yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan.

Menurutnya, karya tulis ilmiah memiliki peran penting menghasilkan rekomendasi berbasis data dan kajian yang dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

“Kedua kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mampu membangun budaya berpikir ilmiah, kreatif, dan inovatif di tengah masyarakat,” ucapnya.

Ia mengajak seluruh perangkat daerah, akademisi, mahasiswa, pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum untuk berpartisipasi aktif dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana menunjukkan gagasan terbaik bagi kemajuan Kalimantan Selatan.

Melalui Kalsel Innovation Award dan Lomba Karya Tulis Ilmiah 2026, BRIDA Provinsi Kalimantan Selatan optimis akan lahir lebih banyak inovasi dan gagasan berkualitas yang dapat diimplementasikan dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing Kalimantan Selatan di tingkat nasional. (MRF/RIW/EYN)

Terima Massa Aksi, DPRD Kalsel Pastikan Aspirasi Masyarakat Disalurkan Sesuai Mekanisme

Banjarmasin – DPRD Provinsi Kalimantan Selatan menerima aspirasi ratusan massa yang tergabung dalam Forum Demokrasi Masyarakat Sipil, Ormas PEKAT IB Kalsel, dan GANTARA saat berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Kalsel, Senin (13/7) siang.

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Habib Hasyim bin Alwi Al bin Yahya, Sekretaris DPRD Kalsel, Muhammad Jaini (ki-ka).

Massa diterima Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Habib Hasyim bin Alwi Al bin Yahya, didampingi Sekretaris DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Jaini. Dalam aksi tersebut, demonstran menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya terkait penanganan perkara yang menyeret konten kreator Muhammad Ali Ridho atau Babeh Aldo, pemadaman listrik, hingga isu pembangunan di Kalimantan Selatan.

Menanggapi persoalan kelistrikan, Habib Hasyim menyampaikan informasi yang diterimanya, bahwa saat ini tidak lagi terjadi pemadaman bergilir di wilayah Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah.

DPRD juga mencatat aspirasi masyarakat terkait dugaan penyebab terjadinya gangguan listrik yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Habib Hasyim juga memberikan tanggapan mengenai adanya dugaan korupsi yang disebut sebagian peserta aksi sebagai penyebab pemadaman listrik, yang dinilai berbeda dengan penjelasan sebelumnya dari pihak PLN mengenai pekerjaan perbaikan jaringan.

Salah satu Ormas menyampaikan aspirasi.

“Kami akan meminta penjelasan mengenai substansi persoalan tersebut kepada instansi yang memiliki kewenangan dan data teknis,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris DPRD Kalsel, Muhammad Jaini menambahkan, kedepan akan dijadwalkan rapat kembali bersama pihak PLN Kalselteng untuk meminta penjelasan lebih rinci.

Terkait tuntutan demonstran mengenai perkara yang menyeret Babeh Aldo, DPRD Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan persoalan tersebut, bukan merupakan ranah maupun kewenangan lembaga legislatif daerah.

“Aspirasi yang menjadi kewenangan DPRD akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku, sedangkan hal-hal di luar kewenangan legislatif akan diteruskan kepada instansi yang berwenang,” tutupnya. (ADV-NHF/RIW/EYN)

Ramaikan Piala Dunia, Dispora Kalsel Gelar Nobar di Banjarmasin

Banjarmasin – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026, dengan melibatkan UMKM dan mengajak masyarakat berolahraga, di SKB Mulawarman, Banjarmasin, Minggu (12/7).

Kasi Pembinaan Prestasi Dispora Kalsel, Rijal Hamid.

Kepala Seksi Pembinaan Prestasi Dispora Kalsel, Rijal Hamid, didampingi Kepala Seksi Pembudayaan Olahraga, Muhammad Nashir mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Kalsel agar seluruh SKPD menggelar nobar sebagai bentuk dukungan terhadap perhelatan sepak bola terbesar di dunia.

“Kegiatan nobar tidak hanya menjadi ajang menyaksikan pertandingan bersama, tetapi juga dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM di sekitar SKB Mulawarman,” ungkap Rijal.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, Dispora ingin menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat. Sebelum nobar, masyarakat juga berolahraga seperti bermain mini soccer, kemudian menikmati kuliner dari UMKM yang ada di sekitar lokasi.

Dispora Kalsel juga berencana kembali menggelar nobar pada pertandingan perebutan tempat ketiga dan partai final Piala Dunia 2026.

“Lokasi kegiatan akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama Kepala Dispora Kalsel, dengan rencana dipusatkan di halaman Kantor Dispora Kalsel agar dapat menampung lebih banyak masyarakat,” ucap Rijal.

Selain itu, Rijal mengungkapkan minat masyarakat memanfaatkan fasilitas olahraga di SKB Mulawarman terus meningkat.

Karena itu, Dispora Kalsel menargetkan sejumlah pembenahan fasilitas, seperti pembangunan ruang ganti, musala, penataan akses di sekitar lapangan mini soccer, hingga renovasi lintasan lari.

“Kami ingin masyarakat semakin nyaman berolahraga di SKB Mulawarman. Harapannya, fasilitas yang lebih baik akan mendorong semakin banyak warga beraktivitas fisik sehingga budaya olahraga di tengah masyarakat terus berkembang,” ucap Rijal. (DISPORAKALSEL-SRI/RIW/EYN)

Dispora Gelar Pelatihan Peningkatan Pemuda di Kandangan

Hulu Sungai Selatan – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kalimantan Selatan, kembali melaksanakan Pelatihan Peningkatan Digitalisasi Strategi Marketing bagi Wirausaha Muda di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah Tahun 2026, di Kandangan, baru baru tadi.

Pelatihan dibuka Kadispora Kalsel Pebriadin Hapiz diwakili Kabid Pengembangan Pemuda Rika Ayu Zaenab, serta Kasi Kewirausahaan, Kemitraan, dan Penghargaan Pemuda Iqbal Khoirul Anam.

“Kali ini pelatihan kami gelar untuk tiga daerah Tapin, HSS, dan HST,” ungkap Rika.

Mengingat, lanjutnya, di era transformasi digital ini, tantangan wirausaha tidak lagi soal kualitas produk, tetapi seberapa cepat wirausaha muda beradaptasi dengan teknologi.

“Peningkatan kompetensi digital, seperti digital marketing dan publik speaking, menjadi kunci agar produk lokal kita baik jasa, kuliner, maupun olahan hasil perkebunan dapat menjangkau pasar yang lebih luas, profesional, dan berdaya saing,” jelas Rika.

Dimana diharapkan kegiatan ini mampu mewujudkan sinergi dan perhatian pemerintah untuk menciptakan wirausaha muda yang tangguh, inovatif, dan adaptif, sekaligus mendukung target peningkatan rasio kewirausahaan nasional.

“Dispora berpesan, manfaatkan kegiatan ini dengan maksimal, jadikan digitalisasi strategi marketing sebagai senjata utama untuk menaikkan kelas usaha kalian. Sehingga berkontribusi langsung pada perekonomian Kalimantan Selatan,” tutur Rika lebih lanjut.

Pada kesempatan tersebut, Dispora Kalsel mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan aktif, dalam pelaksanaan kegiatan ini.

“Kami berharap, peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini dengan sungguh – sungguh,” ucapnya.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku wirausaha muda di tiga kabupaten tersebut.

“Pelatihan Digitalisasi Strategi Marketing bagi Wirausaha Muda di Tapin, HSS, serta HST, dapat bermanfaat untuk kemajuan pemuda setempat,” ujar Rika.(DISPORAKALSEL-SRI/RIW/EYN)

Dua Tahun Berturut-turut Tak Masuk Daftar Kasus ILC, Menaker: Bukti Dialog Sosial di Indonesia Terwujud

Jenewa — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan bahwa Indonesia mencatat capaian positif di forum ketenagakerjaan internasional. Selama dua tahun berturut-turut, Indonesia tidak tercantum dalam daftar kasus, baik long list maupun short list of country cases, pada Konferensi Perburuhan Internasional atau International Labour Conference (ILC).

Menaker mengatakan, capaian tersebut menjadi bukti komitmen Indonesia memenuhi standar ketenagakerjaan internasional, sekaligus menjaga hubungan industrial yang harmonis dan konstruktif.

Menurutnya, hal ini tidak lepas dari kerja bersama pemerintah, pekerja/buruh, dan pengusaha dalam membangun dialog sosial.

“Capaian ini mencerminkan dialog sosial di Indonesia terwujud serta terpeliharanya hubungan industrial yang harmonis dan konstruktif di antara para pemangku kepentingan ketenagakerjaan,” kata Menaker Yassierli saat silaturahmi bersama Delegasi Tripartit Indonesia di sela-sela ILC ke-114, Jenewa, Selasa (9/6).

Menaker menyampaikan, capaian ini penting bagi masyarakat karena hubungan industrial yang kondusif berdampak langsung pada dunia kerja sehari-hari. Ketika pekerja, pengusaha, dan pemerintah memiliki ruang dialog yang sehat, persoalan ketenagakerjaan dapat dibahas lebih terbuka, penyelesaian masalah kerja memiliki saluran yang jelas, dan keberlangsungan usaha dapat tetap terjaga.

Dalam pertemuan tersebut, Menaker juga menekankan pentingnya soliditas Delegasi Tripartit Indonesia pada ILC ke-114.

Menurut Menaker, komposisi perwakilan dari pekerja, pengusaha, dan pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia menempatkan dialog sosial sebagai bagian penting dalam perumusan kebijakan ketenagakerjaan.

Kebijakan yang menyangkut pekerja dan dunia usaha, kata Menaker, perlu dibangun melalui keterlibatan para pihak agar lebih adil, realistis, dan dapat dilaksanakan.

“Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kemitraan tripartit Indonesia, sekaligus memperteguh komitmen kita dalam membangun hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkeadilan,” ujar Menaker.

Menaker juga menyampaikan apresiasi kepada unsur pekerja/buruh dan pengusaha atas kontribusi aktif dalam menjaga kondusivitas hubungan industrial nasional, termasuk dalam pelaksanaan May Day 2026 yang berlangsung aman dan tertib.

Menaker menilai, soliditas tripartit semakin penting di tengah perubahan dunia kerja global. Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), ekonomi platform, transisi hijau, dan perubahan demografi menghadirkan tantangan baru bagi perlindungan pekerja, penciptaan pekerjaan layak, serta keberlangsungan usaha.

Karena itu, Indonesia memandang transformasi dunia kerja perlu dikelola secara inklusif melalui penguatan dialog sosial, peningkatan keterampilan tenaga kerja, perluasan perlindungan sosial, serta penerapan standar ketenagakerjaan yang adaptif dan selaras dengan norma internasional.

Sejumlah agenda strategis ILC ke-114 juga menjadi perhatian Indonesia, antara lain pembahasan standar kerja layak dalam platform economy, kesetaraan gender di dunia kerja, penguatan dialog sosial dan tripartisme, serta laporan implementasi konvensi dan rekomendasi ILO.

Menaker menegaskan, partisipasi Indonesia dalam ILC tidak hanya untuk menyuarakan kepentingan nasional, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun tata kelola ketenagakerjaan global yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan sosial.

“Seluruh Delegasi Indonesia perlu terus menjaga soliditas, memperkuat koordinasi, dan aktif me mbangun kolaborasi dengan negara-negara sahabat selama pelaksanaan konferensi ini,” kata Menaker. (KemenakerRI-RIW/EYN)

Hadapi Risiko Pekerjaan Tergeser AI, Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan Tenaga Kerja

Jenewa — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, mengajak negara-negara anggota Asia Pacific Group (ASPAG), memperkuat kerja sama pelatihan dan pengembangan keterampilan masa depan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Asia Pacific Group Ministerial Meeting pada rangkaian Konferensi Perburuhan Internasional atau International Labour Conference (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss, sebagai respons atas perubahan dunia kerja akibat disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Indonesia percaya, kerja sama antarnegara kini semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak dapat di hadapi sendiri. Kekuatan kita ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar,” kata Menaker Yassierli pada Selasa (9/6).

Menaker mengatakan, negara-negara Asia Pasifik menghadapi tantangan ketenagakerjaan yang semakin kompleks, mulai dari pengangguran, meningkatnya pekerjaan informal, risiko pergeseran pekerjaan akibat disrupsi teknologi dan AI, hingga kebutuhan kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal.

Menurut Menaker, kerja sama antarnegara diperlukan agar setiap negara dapat saling berbagi pengalaman, kebijakan, dan praktik baik dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, sekaligus memastikan pekerja tetap memperoleh perlindungan yang layak.

Menaker menyampaikan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menempatkan pengembangan keterampilan sebagai prioritas untuk menjawab ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri yang terus berubah.

Salah satu langkah yang dilakukan Indonesia adalah Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Program ini memberikan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan di industri, dengan dukungan uang saku dari pemerintah setara upah minimum. Tahun ini, program tersebut ditargetkan menjangkau 150.000 peserta pemagangan.

Selain itu, Pemerintah Indonesia menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang menyasar lulusan sekolah menengah atas dan sederajat. Program ini ditargetkan menjangkau 300.000 peserta.

Menaker menegaskan, kedua program tersebut dirancang inklusif. Kesempatan peningkatan keterampilan dibuka secara setara bagi perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat dari wilayah terpencil dan perbatasan.

Bagi masyarakat, kerja sama keterampilan masa depan penting karena perubahan dunia kerja sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pencari kerja membutuhkan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, lulusan baru membutuhkan pengalaman kerja, pekerja membutuhkan keterampilan baru agar tetap relevan, dan kelompok rentan membutuhkan akses yang lebih adil untuk masuk ke pasar kerja.

Dalam forum ASPAG, Indonesia juga membuka ruang kerja sama pada sejumlah bidang prioritas, meliputi pengembangan kurikulum pelatihan vokasi untuk keterampilan masa depan, pembentukan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, pengembangan komunitas di sektor pertanian, serta pembentukan klinik produktivitas dan pusat teknologi tepat guna.

Menurut Menaker, bidang kerja sama tersebut dapat memberi manfaat nyata bagi pekerja dan masyarakat. Kurikulum vokasi diperlukan agar pelatihan selaras dengan kebutuhan industri.

Pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas penting untuk membuka akses kerja yang lebih setara. Pengembangan komunitas pertanian dapat membantu masyarakat meningkatkan produktivitas.

Sedangkan klinik produktivitas dan pusat teknologi tepat guna dapat membantu pekerja serta pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan.

“Indonesia siap berbagi dan belajar. Kita memiliki banyak hal yang dapat saling ditawarkan untuk membangun kawasan yang lebih kuat dan tangguh bagi para pekerja,” ujar Menaker.

Melalui kerja sama ASPAG, Indonesia ingin memastikan perubahan teknologi dan industri tidak membuat pekerja tertinggal, tetapi menjadi peluang untuk memperluas keterampilan, membuka akses kerja yang lebih adil, dan memperkuat perlindungan pekerja. (KemenakerRI-RIW/EYN)

Wamenaker: LKS Bipartit Sarana Penting Mencegah Perselisihan Hubungan Industrial

Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor menegaskan, bahwa Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit merupakan sarana penting mencegah perselisihan hubungan industrial melalui penguatan komunikasi dan dialog antara pekerja dan pengusaha di tempat kerja.

“LKS Bipartit hadir sebagai forum komunikasi dan konsultasi yang berfungsi memecahkan persoalan ketenagakerjaan secara dini sekaligus menciptakan ketenangan bekerja. Karena itu, LKS Bipartit tidak boleh dipandang sekadar sebagai kewajiban administratif perusahaan,” kata Afriansyah.

Afriansyah menyampaikan hal tersebut saat membuka Webinar Sharing Session bertajuk “Menuju Hubungan Industrial Bebas Konflik melalui LKS Bipartit” yang diselenggarakan secara daring, Selasa (9/6).

Berdasarkan data Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP), hingga April 2026 tercatat sebanyak 28.236 LKS Bipartit telah terbentuk di berbagai perusahaan di Indonesia.

Keberadaan forum tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat dialog sosial dan membangun hubungan industrial yang harmonis.

Afriansyah mengatakan, berbagai perselisihan hubungan industrial umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Perselisihan sering kali berawal dari komunikasi yang tersendat, aspirasi yang tidak tersampaikan, atau kebijakan perusahaan yang belum dipahami secara utuh oleh para pihak.

“LKS Bipartit berperan sebagai ruang dialog awal, ruang klarifikasi, sekaligus mekanisme deteksi dini terhadap potensi persoalan di tingkat perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, apabila forum tersebut berfungsi dengan baik, berbagai per soalan dapat dibicarakan sebelum berkembang menjadi perselisihan terbuka.

Aspirasi pekerja dapat didengar lebih awal, sementara perusahaan memiliki ruang untuk menjelaskan kebijakan dan kondisi usaha secara terbuka sehingga solusi dapat dicari bersama.

Ia menambahkan, semangat dialog dan musyawarah tersebut sejalan dengan nilai-nilai Hubungan Industrial Pancasila yang terus didorong penerapannya di lingkungan kerja.

“Kehadiran pemerintah dalam hubungan industrial bukan untuk memenangkan salah satu pihak, melainkan memastikan ruang dialog tetap terbuka, hak-hak pekerja terlindungi, dan keberlangsungan usaha tetap terjaga,” tegas Afriansyah.

Melalui webinar ini, Ia berharap pemahaman mengenai LKS Bipartit tidak berhenti pada aspek pemenuhan regulasi, tetapi berkembang menjadi praktik nyata yang dijalankan secara aktif dan dipercaya pekerja maupun pengusaha.

Dengan demikian, potensi perselisihan dapat dikenali, dibicarakan, dan diselesaikan sejak dini demi terciptanya hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan. (KemenakerRI-RIW/EYN)

Berbagi Qurban 2026, Pelindo Regional 3 Sub Regional Kalimantan Salurkan 19 Sapi dan 13 Kambing

Banjarmasin — Dalam rangka memeringati Hari Raya Iduladha 1447 H, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 Sub Regional Kalimantan kembali melaksanakan program sosial keagamaan bertajuk Pelindo Berbagi Qurban 2026, sebagai bentuk kepedulian dan komitmen perusahaan kepada masyarakat sekitar wilayah operasional.

Pada tahun 2026, khusus di wilayah Banjarmasin, Pelindo Group menyalurkan sebanyak 19 ekor sapi dan 13 ekor kambing yang berasal dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta bantuan sosial dari berbagai entitas Pelindo Group.

Kegiatan penyerahan hewan qurban tersebut dihadiri jajaran manajemen Pelindo Group, mitra kerja, stakeholder, serta panitia qurban dari masing-masing entitas perusahaan.

Dalam sambutannya, Subregional Head Kalimantan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Sugiono menyampaikan, bahwa momentum Hari Raya Iduladha menjadi sarana untuk memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama.

“Melalui program Pelindo Berbagi Qurban 2026, kami ingin terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar sekaligus mempererat hubungan harmonis antara perusahaan dengan lingkungan sekitar. Kami berharap bantuan hewan qurban ini dapat memberikan kebahagiaan, keberkahan, dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Sugiono.

Ia juga menegaskan, bahwa Pelindo tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata, tetapi turut berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat melalui berbagai program sosial yang berkelanjutan.

Program Pelindo Berbagi Qurban merupakan agenda rutin tahunan yang menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai perusahaan, membangun hubungan yang baik dengan masyarakat serta mendukung terciptanya lingkungan sosial yang harmonis.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 Sub Regional Kalimantan berharap semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang tercermin dalam kegiatan ini dapat terus terjaga dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. (Pelindo-RIW/EYN)

LPPL Abdi Persada FM Siap Jalin Kerja Sama dengan Densus 88, Perkuat Edukasi Pencegahan Radikalisme

Banjarbaru – Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Abdi Persada FM, menjalin kerja sama dengan Satgaswil Kalimantan Selatan Densus 88 Antiteror Polri, dalam upaya memperkuat edukasi dan literasi masyarakat terkait pencegahan paham radikalisme dan intoleransi.

Rencana kerja sama tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Kepala Unit (Kanit) Pencegahan Satgaswil Kalimantan Selatan Densus 88 Antiteror Polri, Alim Sumartono dengan Direktur LPPL Abdi Persada FM, Syarifah Norhani.

Alim Sumartono mengatakan, media memiliki peran strategis menyampaikan edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait bahaya radikalisme, intoleransi, dan penyebaran paham yang bertentangan dengan ideologi negara.

Menurutnya, pendekatan pencegahan melalui edukasi dan literasi publik menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di era digital yang ditandai dengan cepatnya arus informasi.

“Media menjadi mitra penting dalam membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam menerima informasi serta mampu menangkal paham – paham yang berpotensi memecah persatuan,” ujarnya, saat bertandang ke kantor LPPL Abdi Persada FM di Banjarbaru, Selasa (26/5).

Ia menjelaskan, kerja sama yang direncanakan nantinya dapat diwujudkan melalui berbagai program siaran edukatif, dialog interaktif, kampanye literasi digital, hingga penyebarluasan informasi mengenai pentingnya menjaga persatuan dan toleransi di tengah masyarakat.

Sementara itu, Direktur LPPL Abdi Persada FM, Syarifah Norhani menyambut baik rencana kerja sama tersebut, dan menilai kolaborasi antara media publik dan aparat penegak hukum sangat penting dalam memperkuat edukasi masyarakat.

Menurutnya, sebagai media publik daerah, LPPL Abdi Persada FM memiliki tanggung jawab menghadirkan siaran yang tidak hanya informatif dan menghibur, tetapi juga memberikan nilai edukasi bagi masyarakat.

“Kami siap mendukung program-program edukasi yang bertujuan meningkatkan literasi masyarakat, khususnya terkait pencegahan radikalisme, intoleransi, dan penyalahgunaan media digital,” katanya.

Syarifah menambahkan, pihaknya juga akan menyampaikan rencana kerja sama tersebut kepada Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Selatan sebagai bentuk koordinasi dan dukungan terhadap penguatan program edukasi publik di daerah.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, media, dan aparat penegak hukum sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga keamanan dan persatuan di Banua.

“Melalui siaran radio yang menjangkau masyarakat luas, pesan-pesan edukasi diharapkan dapat lebih mudah diterima masyarakat hingga ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan,” lanjutnya.

Kerja sama tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan media massa dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, damai, dan kondusif.

“Selain itu, kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah preventif dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk penyebaran paham radikal yang kini berkembang melalui berbagai platform digital dan media sosial,” tutup Syarifah. (MRF/RIW/EYN)

Exit mobile version