Antisipasi Insiden, Pemko Banjarbaru Perkuat Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis

BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru memperketat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi insiden seperti yang sempat terjadi di beberapa daerah lain. Upaya ini dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan pembentukan Satgas MBG di tingkat kota.

Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG di Ruang Tamu Utama Wali Kota Banjarbaru.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby menegaskan, bahwa pengawasan dan koordinasi di lapangan menjadi hal penting untuk memastikan makanan yang disalurkan benar-benar aman dan berkualitas.

“Langkah ini kita laksanakan dalam upaya pencegahan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Menurut Wali Kota, Pemko Banjarbaru telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) pembentukan Satgas MBG setelah melalui proses penyempurnaan.

Ia juga membuka kemungkinan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah dapur pengelola guna memastikan standar kebersihan dan mutu makanan tetap terjaga.

“Insya Allah, tidak menutup kemungkinan nanti kami akan menyidak beberapa dapur yang ada di Kota Banjarbaru,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Erna Lisa menyampaikan bahwa sejauh ini pelaksanaan program di Banjarbaru berjalan dengan baik dan tidak ditemukan kendala berarti.

“Untuk Banjarbaru, tidak ada masalah. Mudah – mudahan ke depan pun tidak akan terjadi apa-apa,” tutupnya.

Saat ini, terdapat 21 SPPG yang tersebar di lima kecamatan di Kota Banjarbaru. Masing – masing SPPG mampu menyiapkan lebih dari 3.000 porsi makanan bergizi setiap harinya, dengan pengawasan berlapis dari pihak terkait guna menjamin kualitas dan keamanan pangan bagi penerima manfaat. (BDR/RIW/RH)

Wujudkan Desa Maju, Pemprov Kalsel Dorong Sinergi Lewat Bimtek LKD

BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), terus mendorong penguatan kelembagaan desa dengan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) se-Kalimantan Selatan, yang berlangsung pada Jumat (17/10) di Banjarbaru.

Kegiatan ini diikuti 55 peserta dari unsur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), PKK, Karang Taruna, serta perwakilan RT dan RW dari 11 kabupaten di Kalimantan Selatan. Bimtek dibuka secara resmi Kepala Dinas PMD Provinsi Kalsel, Iwan Ristianto.

Dalam sambutannya, Iwan menegaskan pentingnya peran LKD sebagai motor penggerak partisipasi masyarakat di tingkat desa. Menurutnya, keberadaan LKD menjadi elemen penting dalam mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga desa, dan warga agar pembangunan benar – benar berangkat dari kebutuhan masyarakat.

Kepala Dinas PMD Provinsi Kalsel, Iwan Ristianto.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di bawah kepemimpinan Bapak Gubernur telah menetapkan semangat kerja ‘Bekerja Bersama, Merangkul Semua’. Ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi pembangunan yang sangat relevan dengan peran LKD,” ungkap Iwan.

Ia menjelaskan, makna “Merangkul Semua” adalah ajakan bagi seluruh elemen masyarakat desa untuk terbuka terhadap aspirasi dan potensi warga tanpa terkecuali.

Sementara “Bekerja Bersama” menjadi wujud sinergi antara pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan masyarakat dalam memastikan program pembangunan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Melalui Bimtek ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemahaman regulasi terbaru tentang peran LKD, penyusunan perencanaan pembangunan desa yang inklusif dan transparan, serta strategi memperkuat gotong royong dan swadaya masyarakat sebagai modal sosial desa.

Selain materi teknis, kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan praktik baik antar LKD dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, sehingga diharapkan terjalin jejaring kolaboratif antar pelaku pembangunan desa.

Iwan berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan secara aktif dan membawa pulang hasil pembelajaran yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing.

“Membangun Kalimantan Selatan berarti membangun desanya. Desa yang maju hanya bisa terwujud jika semua komponen bekerja bersama dan merangkul semua demi kemajuan Banua,” tutup Iwan.

Dengan adanya kegiatan ini, Dinas PMD Kalsel berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas kelembagaan desa agar semakin mandiri, partisipatif, dan adaptif dalam menghadapi dinamika pembangunan ke depan. (DPMD-KALSEL/MRF/RIW/RH)

Gerai Koperasi Merah Putih Mulai Dibangun Serentak, Kalsel Fokus di KDMP Indrasari

BANJAR – Ground breaking atau peletakan batu pertama gerai, gudang dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serentak dilaksanakan pada Jumat (17/10), termasuk di Kalimantan Selatan yang difokuskan di Koperasi Merah Putih Desa Indrasari, Martapura.

Forkopimda Kalsel dan Kabupaten Banjar serta instansi terkait lainnya mengikuti proses ground breaking serentak melalui virtual

Acara tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar, termasuk Dandim 1006/Banjar Letkol Inf Bambang Prasetyo Prabujaya.

Letkol Bambang menyampaikan, kehadiran TNI AD melalui jajaran Kodim bertujuan untuk mendorong percepatan program pemerintah agar target pembangunan gerai KDMP dapat tercapai sesuai waktu yang ditetapkan.

“Pembangunan gerai ini ditarget rampung pada 30 Desember nanti, sehingga awal Januari 2026 kita sudah bisa melakukan soft opening,” ujarnya.

Ia berharap, keberadaan Koperasi Merah Putih nantinya mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi daerah.

“Kebutuhan koperasi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah desa dan kelurahan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kabupaten Banjar, I Gusti Made Suryawati, mengungkapkan, bahwa seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Banjar sudah memiliki badan hukum koperasi. Dari total 277 desa dan 13 kelurahan, saat ini sudah ada 14 koperasi yang memiliki gerai dan siap beroperasi.

“Sampai sejauh ini, tidak ada kendala berarti dalam pembangunan gerai di koperasi lainnya,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalimantan Selatan, Gusti Yanuar Nor Rifai, menambahkan, bahwa secara keseluruhan terdapat 2.013 KDMP di Kalsel. Dari jumlah tersebut, 142 koperasi telah berjalan aktif.

Ia menjelaskan, sebelum beroperasi penuh pada Januari 2026, pemerintah provinsi terus melakukan pelatihan manajemen bagi para pengurus koperasi dan aparatur desa.

“Ada sinergi antara Dinas Koperasi dan Dinas PMD untuk memperkuat pelaksanaan program KDMP ini. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” ucapnya. (SYA/RIW/RH)

Gelar Konferensi Internasional Mangrove Borneo 2025, ULM Dorong Kolaborasi Global Pelestarian Ekosistem Pesisir

BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi berbasis riset dan lingkunganz dengan menyelenggarakan Konferensi dan Lokakarya Internasional Mangrove Borneo: “Perhubungan Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Berkelanjutan, dan Penyerapan Karbon”, pada Kamis (15/10), di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin.

Pembukaan secara resmi conference internasional dengan menancapkan ikon ULM “burung Enggang” sebagai simbol kemuliaan

Kegiatan ini merupakan bagian dari Kolokium Pascasarjana Riset KUUB ke-2 (KPRC 2025) yang dirangkaikan dengan Konferensi Internasional Teknik Kimia dan Sains Terapan ke-6 (ICChEAS 2025), dan berlangsung selama empat hari, dari 15 hingga 18 Oktober 2025.

Kepada sejumlah wartawan, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada ULM atas terselenggaranya kegiatan ilmiah internasional ini. Kegiatan
mempertemukan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi industri, serta pemerhati lingkungan dari dalam dan luar negeri, untuk bersama-sama membahas berbagai isu penting terkait pelestarian ekosistem mangrove serta penguatan strategi keberlanjutan lingkungan di kawasan pesisir.

“Momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, khususnya ekosistem mangrove yang memiliki peran vital bagi keseimbangan lingkungan,” jelasnya

Lenih lanjut Hanif menambahkan, Mangrove adalah penyerap karbon alami yang sangat penting, sekaligus benteng pertahanan pesisir dari abrasi dan perubahan iklim. Forum seperti ini sangat strategis untuk merumuskan kebijakan dan inovasi pengelolaan yang lebih efektif.

Sehingga, hasil dari pertemuan ilmiah ini, dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat program restorasi dan konservasi ekosistem pesisir di Indonesia.

“Kegiatan ini menghadirkan berbagai pakar dan pembicara internasional yang membagikan hasil riset terkini seputar fungsi ekologis mangrove, potensi ekonomi biru, mitigasi perubahan iklim, serta inovasi teknologi dalam pengelolaan sumber daya pesisir,” pungkasnya. (NHF/RIW/RH)

Gali Strategi dan Inspirasi Memajukan Kebudayaan Banua, Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel Sowan ke Yogyakarta

YOGYAKARTA – Dalam rangka memperkuat pembangunan kebudayaan di Kalimantan Selatan, Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Selatan melakukan pembelajaran dari daerah yang telah mapan kebudayaannya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda peningkatan kapasitas kelembagaan dan penguatan fungsi pengawasan DPRD terhadap sektor kebudayaan, sekaligus upaya menggali strategi dan inspirasi dalam mengelola serta mengembangkan potensi budaya di daerah.

‎Kunjungan ini dipimpin Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel, Gusti Iskandar Sukma Alamsyah, bersama sejumlah anggota Komisi IV dan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan.

suasana pertemuan di Dinas Kebudayaan DIY

Rombongan diterima langsung Budi Husada, Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY, beserta jajarannya, baru-baru tadi.

‎Dalam sambutannya, Gusti Iskandar Sukma Alamsyah menyampaikan, bahwa Yogyakarta dipilih sebagai lokasi kunjungan karena dikenal sebagai salah satu daerah dengan sistem pengelolaan kebudayaan yang sudah sangat baik dan terstruktur.

‎Menurutnya, Dinas Kebudayaan DIY merupakan lembaga yang telah berdiri sejak tahun 1997 dan berhasil mengintegrasikan berbagai unsur pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan budaya secara berkelanjutan. Sehingga, pihaknya ingin belajar dari pengalaman dan keberhasilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta dalam mengelola dan melestarikan kebudayaan.

“Kami melihat Yogyakarta sebagai salah satu daerah yang mampu memadukan nilai-nilai tradisi dan kemajuan zaman dengan baik. Hal ini tentu menjadi referensi penting bagi kami di Kalimantan Selatan dalam merancang strategi kebudayaan ke depan,” ujar Gusti Iskandar.

‎Gusti Iskandar menegaskan, bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya DPRD untuk melakukan komparasi dan kajian substantif terhadap model pengelolaan kebudayaan yang berhasil diterapkan di daerah lain.

Menurutnya, kebudayaan merupakan fondasi penting dalam pembangunan karakter daerah dan identitas masyarakat, sehingga memerlukan perhatian yang serius dari seluruh pemangku kepentingan.

‎“Kalsel memiliki warisan budaya yang sangat kaya, mulai dari kesenian tradisional, kerajinan rakyat, bahasa, hingga adat istiadat. Namun jika tidak ada langkah nyata untuk melestarikan, meneliti, dan mempromosikannya, maka kebudayaan itu bisa perlahan hilang.

“Karena itu kami menilai sudah saatnya Kalimantan Selatan memiliki Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri agar arah pembangunan kebudayaan lebih terarah dan berkelanjutan,” tambahnya.

‎Selama pertemuan, jajaran Dinas Kebudayaan DIY memaparkan berbagai program unggulan yang dijalankan, mulai dari pemeliharaan situs sejarah dan cagar budaya, pengembangan seni pertunjukan, pendidikan budaya di sekolah, hingga pemberdayaan komunitas seni dan pelaku budaya. Dinas juga memaparkan bagaimana pemerintah daerah mendorong partisipasi masyarakat melalui dukungan terhadap kelompok kesenian lokal, penyelenggaraan festival budaya, serta integrasi nilai-nilai budaya dalam sektor pariwisata.

‎Budi Husada dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan DPRD Kalsel yang menjadikan Yogyakarta sebagai rujukan dalam pengembangan kebudayaan. Ia menegaskan bahwa Yogyakarta selalu terbuka untuk bekerja sama dan berbagi pengalaman dengan daerah lain.

‎“Yogjakarta selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kami percaya bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi pembangunan masa depan. Semoga kunjungan ini menjadi langkah awal untuk mempererat kerja sama antar daerah dalam bidang kebudayaan,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Budi Husada menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kebudayaan di Yogyakarta tidak lepas dari sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan komunitas budaya. Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator dan pelindung nilai-nilai budaya, sementara masyarakat didorong untuk menjadi pelaku utama dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal.

‎Rombongan Komisi IV DPRD Kalsel juga berdiskusi terkait tantangan yang dihadapi dalam pelestarian budaya di era modern, terutama terkait pergeseran nilai akibat perkembangan teknologi dan globalisasi.
(ADV-NHF/RIW/RH)

Komisi I DPRD Kalsel: Skema PPPK Paruh Waktu Jadi Solusi Realistis Penataan Tenaga Non-ASN di Banua

JAKARTA – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), menggali sejumlah informasi berkenaan dengan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang ada di Banua.

Dipimpin Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalsel, Habib Hamid Bahasyim, rombongan bertandang langsung ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPANRB) baru-baru tadi.

Sebelumnya, PPPK Paruh Waktu merupakan skema kepegawaian yang disiapkan pemerintah sebagai bagian dari penataan tenaga non-ASN sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri PANRB Nomor B/1511/M.SM.01.00/2023 tentang Pendataan Tenaga Non-ASN.

Habib Hamid Bahasyim menyampaikan,
banyak informasi digali Komisi I DPRD Provinsi Kalsel, diantaranya berkenaan dengan kejelasan pengangkatan, perpanjangan kontrak kerja, hingga kewajiban serta hak yang didapatkan PPPK Paruh Waktu.

“Kita berharap teman-teman PPPK Paruh Waktu nanti juga mendapatkan hak-hak yang pantas. Termasuk kesehatan dan jaminan hari tua,” katanya

Lebih lanjut, Habib Hamid berharap skema PPPK Paruh Waktu ini menjadi solusi yang benar-benar realistis dalam rangka penataan tenaga non-ASN di daerah tanpa menimbulkan gejolak baru di lapangan.

Foto bersama : sumber Humas DPRD Kalsel

Rombongan Komisi I diterima pihak KEMENPANRB yang membidangi perencanaan dan pengadaan, Firdaus. Ia mengatakan bahwa setiap masukan dan pertanyaan akan menjadi bahan bagi pihaknya untuk menentukan kebijakan lainnya ke depan. (ADV-NHF/RIW/RH)

Kunker ke BP Taskin, Komisi III DPRD Kalsel Bahas Perencanaan Pengentasan Kemiskinan

JAKARTA – Dalam upaya memperkuat langkah penanggulangan kemiskinan di daerah, Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan melakukan kunjungan kerja ke Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di Jakarta, baru-baru tadi.

suasana pertemuan ke Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Jakarta

Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi sekaligus berdiskusi langsung mengenai perencanaan mengenai strategi serta program percepatan pengentasan kemiskinan yang dijalankan pemerintah pusat. Hasil dari pertemuan tersebut diharapkan menjadi bahan masukan penting bagi pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan pengentasan kemiskinan di Kalimantan Selatan.

Rombongan dipimpin Achmad Maulana, Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalsel, bersama seluruh anggota komisi. Kehadiran mereka diterima langsung Tenaga Ahli Utama BP Taskin beserta jajaran.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak
membahas berbagai aspek penting, mulai dari sinkronisasi program pusat dan daerah, pemberdayaan masyarakat miskin, hingga penyusunan Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD) agar sejalan dengan kebijakan nasional.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalsel, Achmad Maulana, memegang mic

Tenaga Ahli Madya BP Taskin, Dina menjelaskan pentingnya harmonisasi kebijakan daerah dengan arah nasional.
BP Taskin mendorong agar alokasi anggaran daerah benar-benar mendukung percepatan pengentasan kemiskinan.

“Kami siap memberikan pendampingan serta dukungan dalam penyusunan kebijakan tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dina menyampaikan bahwa BP Taskin telah menyusun Rencana Induk Pengentasan Kemiskinan Nasional, yang dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun RPKD untuk dipedomani daerah.

“Melalui keterbukaan untuk berdiskusi dengan pemerintah daerah mana pun, termasuk Kalsel, agar RPKD mereka selaras dengan rencana induk yang telah disusun,” tambahnya.

Sementara itu, Achmad Maulana menyampaikan apresiasinya atas penjelasan dan penerimaan yang diberikan BP Taskin.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BP Taskin karena telah memberikan penjelasan yang begitu terang mengenai arah kebijakan pengentasan kemiskinan. Kami memahami bahwa BP Taskin bukan lembaga pengelola program, namun memiliki peran strategis dalam memberikan akses dan dukungan percepatan kebutuhan provinsi maupun kabupaten/kota kepada pemerintah pusat,” jelasnya.

Maulana menambahkan, langkah konkret selanjutnya perlu segera dilakukan di tingkat daerah. Pihaknya akan mendorong agar segera digelar rapat koordinasi melalui Bappeda, dengan menghadirkan BP Taskin dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Kami akan bahas lebih lanjut arah kebijakan dan langkah strategis pengentasan kemiskinan di Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, Komisi III DPRD Kalsel berharap terjalin sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan BP Taskin, sehingga upaya pengentasan kemiskinan di Kalimantan Selatan dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan berkelanjutan. (ADV-NHF/RIW/RH)

Exit mobile version