Kalsel Alami Krisis Wirausaha Muda

BANJARMASIN – Provinsi Kalimantan Selatan, saat ini mengalami penurunan atau krisis wirausaha muda.

Kabid Pengembangan Pemuda Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel Muhammad Anugrah menyampaikan, krisis wirausaha muda ini, dapat diketahui dari berkurangnya jumlah pemuda yang mau berwirausaha.

Kabid Pengembangan Pemuda Dispora Kalsel

“Dari sejuta pemuda di Kalsel, hanya 140 ribu diantaranya yang terdata memiliki kemauan berwirausaha,” ungkapnya, kepada sejumlah wartawan, belum lama tadi.

Sementara, lanjut Anugrah, Provinsi Kalimantan Selatan ditargetkan mampu menumbuhkan sebanyak
25 persen wirausaha muda, dari total 1 juta pemuda.

“Karena adanya target 25 persen tersebut, maka Dispora Kalsel terus berusaha meningkatkan minat pemuda di Banua dalam sektor wirausaha,” ucapnya.

Dikatakan Anugrah, Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan, meminta dukungan 13 pemerintah, untuk meningkatkan minat pemuda untuk berwirausaha.

“Peningkatan minat wirausaha muda ini merupakan agenda nasional, sehingga Dispora Kalsel berupaya melaksanakan agenda tersebut,” ujarnya.

Dimana dalam melaksanakan kegiatan ini, diperlukan kerjasama seluruh pihak, tidak hanya Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, tetapi juga perlu mendapat dukungan dari seluruh daerah di Banua.

“Wirausaha sangat penting saat ini, karena sulitnya mencari pekerjaan. Sehingga peningkatan minat wirausaha muda perlu dilakukan, agar para pemuda di Banua dapat membuka peluang usaha sendiri,” ucap Anugrah. (SRI/RIW/RH)

Lanjutkan Bimtek Story Telling, Dispar Kalsel Perkuat Kapasitas SDM Pokdarwis di HSU

HULU SUNGAI UTARA – Demi memperkuat kapasitas Sumber Daya Manusia, Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan melalui Bidang Pengembangan Destinasi, Seksi Pemberdayaan Masyarakat, kembali melanjutkan Bimbingan Teknis Story Telling Destinasi Pariwisata Kalsel 2025, ke Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), pada Rabu (30/7).

Kabid Pengembangan Destinasi Dispar Kalsel (kemeja biru) didampingi Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten HSU (PDH putih)

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, melalui Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Mugeni dalam sambutannya menyampaikan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, telah melakukan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, karena tidak lepas dari peran masyarakat.

Oleh karena itu, kapasitas SDM Kelompok Sadar Wisata perlu diperkuat melalui Bimtek Story Telling Destinasi Pariwisata.

“Pokdarwis ini merupakan garda terdepan dari setiap destinasi unggulan yang telah dimiliki,” ucapnya.

Mugeni menjelaskan, Bimtek Story Telling Destinasi Pariwisata Kalsel 2025, ini dilaksanakan sejalan dengan majunya perkembangan dunia pariwisata. Sehingga, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) harus memiliki kemampuan untuk bercerita (story telling). Mereka Menjadi narator alami di destinasi mereka sendiri, menyediakan informasi
budaya dan kearifan lokal yang tidak tertulis dalam brosur.

“Peran mereka menghadirkan pengalaman otentik bagi wisatawan, dan menjadi jembatan antara wisatawan dan kearifan lokal,” papar Mugeni.

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten HSU, Syaifullah mengungkapkan, saat ini telah terbentuk dan aktif beberapa Pokdarwis yang tersebar di berbagai desa wisata.

Diantaranya Pokdarwis ltik Alabio di Kecamatan Sungai Pandan, yang memperkenalkan peternakan itik lokal dan kuliner khas. Pokdarwis Kerbau Rawa di Kecamatan Danau Panggang, yang fokus pada pelestarian budaya kerbau rawa dan wisata rawa, Pokdarwis Pasar Terapung di Amuntai Selatan, mengelola aktivitas wisata berbasis pasar air dan budaya sungai, dan beberapa Pokdarwis lainnya berbasis alam, religi, serta edukasi pertanian

“Kelompok Sadar Wisata HSU ini, bukan hanya menjaga tempat wisata, juga menjadi pelaku langsung dalam pembangunan narasi lokal,” ungkapnya

Lebih lanjut Syaifullah menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi Bimbingan Teknis Story Telling Destinasi Pariwisata Kalsel 2025, yang digelar Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan melalui Bidang Pengembangan Destinasi, Seksi Pemberdayaan Masyarakat. Pihaknya akan selalu siap untuk berkolaborasi untuk peningkatan kapasitas SDM Pokdarwis tersebut

“Mari angkat cerita-cerita kecil dari kampung, sungai, rawa, ladang, agar dunia mengenal Kalimantan. Tidak hanya karena hutannya, tetapi juga kemampuan yang mampu bercerita dengan hati dan jujur tentang keindahan daerahnya,” tutup Syaifullah. (DISPAR.KALSEL-NHF/RIW/RH)

Sambut 14 Agustus, Inilah Tema dan Logo Resmi Harjad Provinsi Kalsel Ke-75

BANJARMASIN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, resmi menetapkan pemenang lomba desain logo dan tema, dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan.

Kepada sejumlah wartawan, ditemui di ruang kerjanya Rabu (30/7) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Galuh Tantri Narindra, melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalsel, Suharyanti, mengatakan, respons positif dari masyarakat sudah terlihat, sejak lomba dibuka pada Maret hingga Juni 2025. Sehingga total peserta mencapai 80 orang untuk lomba tema hari jadi, dan 110 peserta untuk lomba logo.

“Peserta yang ikut ini tersebar dari kabupaten/kota mengirimkan karya kreatifnya,” ungkap Yanti.

Disampaikan Suharyanti, setelah semua karya masuk, pertengahan Juni lalu, tim dewan juri mulai melakukan proses penilaian. Dimana, tim juri terdiri dari budayawan, seniman dan akademisi.

Selanjutnya dari proses penilaian tim juri, didapat 10 besar peserta, dan akhirnya terpilih 3 karya terbaik dari masing – masing kategori.

“Tiga karya terbaik diserahkan kepada Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin, untuk dipilih secara langsung, sebagai tema dan logo resmi HUT ke-75,” jelasnya

Lebih lanjut Suharyanti menambahkan, hasil pemenang lomba tema adalah Ela dari Kabupaten Balangan dengan tema “Begawi Tuntung, Banua Bauntung, Rakyat Himung.

SK pemenang Lomba Tema

Sedangkan lomba logo dimenangkan Kevyn Hidayat dari Kota Banjarmasin, dengan desain visual yang memadukan kain sasirangan warna biru dan kuning keemasan, serta ornamen Jamang Rumah Bubungan Tinggi, yang mencerminkan semangat bekerja tuntas, kemajuan daerah dan kebahagiaan rakyat.

SK pemenang Lomba Logo

“Juara 1 lomba tema dan logo, akan menerima tropi dan penghargaan dari Gubernur Kalsel Muhidin, pada puncak Hari Jadi Kalsel Kamis 14 Agustus 2025 di kota Banjarbaru. Sedangkan Juara 2 dan 3, mendapatkan tropi dan penghargaan, saat pembukaan Karasminan Banua Seribu Sungai di Taman Budaya Kalsel, Sabtu 16 Agustus malam di Banjarmasin,” tutupnya. (NHF/RIW/RH)

Mentaos, Jadi Percontohan Kelurahan Bebas Maladministrasi Pertama di Indonesia

BANJARBARU – Kelurahan Mentaos, Kota Banjarbaru, resmi ditetapkan sebagai Kelurahan Bebas Maladministrasi pertama di Indonesia, oleh Ombudsman Republik Indonesia.

Penetapan dilakukan bersamaan dengan pencanangan program serupa untuk seluruh kelurahan di Banjarbaru, serta peluncuran pembangunan zona integritas di lingkungan Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja (Diskopumnaker), Kelurahan Guntung Manggis, Sungai Besar, dan Mentaos.

Walikota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, mengatakan, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi menjadikan Kota Banjarbaru sebagai model pemerintahan daerah yang bersih, adil, dan profesional dalam melayani masyarakat.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby saat menyampaikan sambutan

“Melalui pencanangan ini, kami ingin seluruh aparatur memahami bahwa pelayanan publik tidak sekadar tugas administratif, tapi bagian dari amanah untuk membangun kepercayaan masyarakat,” ujarnya, saat penetapan, Rabu (30/7).

Menurutnya, keberhasilan program bebas maladministrasi bergantung pada perubahan budaya kerja, terutama dalam hal etika pelayanan, akuntabilitas, dan konsistensi aparatur pemerintah.

“Semoga ini dapat memperkuat tata kelola pemerintahan visi Banjarbaru Emas,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, program ini merupakan terobosan baru bagi Ombudsman RI. Dimana pihaknya menerapkan inovasi terkait dengan pencanangan desa dan kelurahan bebas maladministrasi.

“Dan ini di mulai dari Kalimantan Selatan khususnya kota Banjarbaru,” terangnya.

Yeka juga menilai program Kelurahan Bebas Maladministrasi dapat menjadi role model nasional dalam memperbaiki wajah pelayanan publik secara menyeluruh, sekaligus mendorong kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.

“Jika masyarakat disambut dengan ramah oleh petugas kelurahan atau puskesmas, itu sudah mencerminkan keberhasilan seorang kepala daerah,” jelasnya. (SYA/RIW/RH)

Exit mobile version