500 Peserta Ramaikan Tradisi Baayun Maulid

Banjarmasin – Pemerintah Kota Banjarmasin kembali menggelar Tradisi Baayun Maulid di halaman Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah, Minggu (6/9). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan harjad kota dan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diikuti sebanyak 500 peserta.

Tradisi Baayun Maulid merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Banjar yang dilaksanakan secara turun-temurun.

Ket foto : Wakil Walikota Banjarmasin Ananda saat Baayun Maulid

Dalam prosesi tersebut, anak ditempatkan di dalam ayunan dan diayun orang tua atau keluarga, sembari diiringi pembacaan Al-Quran, salawat, dan doa.

Kegiatan dibuka langsung Wakil Wali Kota, Ananda, dan turut dihadiri unsur Forkopimda Kota Banjarmasin, seluruh Kepala SKPD, serta jajaran terkait.

Usai meninjau pelaksanaan kegiatan, mewakili Wali Kota Banjarmasin, Ananda mengatakan Baayun Maulid tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan momentum menuju Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin.

“Alhamdulillah hari ini perayaan Baayun Maulid bertepatan di bulan kita akan memperingati 500 tahun Kota Banjarmasin. Harapannya ke depan Masjid Sultan Suriansyah ini menjadi ikon, bukan hanya ikon Banjarmasin, tetapi ikon Kalimantan Selatan, Kalimantan bahkan Indonesia,” ucapnya.

Ia menilai, keberadaan Masjid Sultan Suriansyah menjadi salah satu tonggak sejarah penting karena merupakan bagian dari sejarah awal Kota Banjarmasin, khususnya dalam perkembangan Islam.

Dirinya berharap Baayun Maulid dapat terus dikembangkan dan masuk dalam kalender kegiatan daerah hingga nasional.

“Kita berharap juga Baayun Maulid ini menjadi kalender event, bukan hanya Kota Banjarmasin, tapi mudah-mudahan menjadi kalender event Indonesia,” katanya.

Terkait keterbatasan fasilitas, Ananda menyampaikan pemerintah kota akan berupaya meningkatkan sarana pendukung di kawasan masjid, termasuk fasilitas toilet dan tempat wudhu.

“Sudah kita sampaikan, Insyaallah akan dianggarkan, paling lambat tahun depan insyaallah penambahan tempat wudu, WC dan kamar mandi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil menjelaskan, jumlah 500 peserta ditetapkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan 500 tahun Kota Banjarmasin.

“Untuk Baayun Maulid tahun ini diikuti 500 peserta. Jadi 500 peserta yang disiapkan slot kepanitiaan Masjid Sultan Suriansyah. Kebetulan juga di ulang tahun Kota Banjarmasin di bulan September, dan 500 itu bagian daripada 500 tahun Kota Banjarmasin,” terangnya.

Ia menambahkan, peserta merupakan warga Kota Banjarmasin yang ditentukan berdasarkan hasil koordinasi dan rapat kepanitiaan bersama pihak kecamatan serta unsur terkait lainnya.

Pelaksanaan Baayun Maulid juga tidak dipungut biaya atau gratis bagi peserta.

Sabil menilai tradisi tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat sehingga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan berskala lebih luas.

“Ini suatu kebudayaan, kebudayaan dari turun – temurun sebenarnya. Baayun Maulid adalah bagian daripada tradisi mengungkapkan rasa kebahagiaan akan munculnya Islam yang ada di Kalimantan,” jelasnya.

Terkait pengembangan kegiatan, Disbudporapar akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengingat Masjid Sultan Suriansyah juga berada dalam kewenangan provinsi.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang Baayun Maulid menjadi salah satu agenda budaya yang dikenal hingga tingkat nasional.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena jumlah peserta tahun ini masih terbatas menyesuaikan kapasitas lokasi.

“Kami mengucapkan pertama terima kasih dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kota Banjarmasin. Kami tidak bisa di tahun ini memfloating sesuai dengan kehendak karena keterbatasan tempat. Tahun depan nanti akan kami pikirkan lagi supaya dapat diperbanyak lagi pesertanya, termasuk supaya proporsional yang berminat itu dapat melaksanakan. Namun kami maksimalkan sesuai dengan tempat yang tersedia,” pungkasnya. (PEMKOBJM-SRI/RIW/EPS)

Penutupan Delapan Bandara Diperpanjang, Menhub Dudy: Keselamatan Jadi Prioritas Utama

Jakarta – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengatakan, pengoperasian kembali bandara terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau akan dilakukan ketika keselamatan sudah dapat diketahui secara pasti. Oleh sebab itu, melihat kondisi saat ini demi keselamatan penerbangan, maka penutupan delapan bandara terdampak kembali diperpanjang hingga 7 September 2026 pukul 18.00 WIB.

Penutupan dilakukan di Bandara Soekarno Hatta, Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Budiarto Curug Tangerang, Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan, Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam Sumsel.

“Keselamatan menjadi prioritas kita. Kami melihat situasi terakhir berdasarkan informasi yang diberikan BMKG. Jadi kami belum bisa memastikan kapan akan berakhir karena cuaca terlalu dinamis. Tadi disampaikan BMKG bahwa setiap layer ketinggian arah anginnya cepat berubah, sehingga ini yang harus kita pastikan,” ujar Menhub Dudy, di Jakarta, Minggu (6/9) malam.

Hingga saat ini, Kementerian Perhubungan terus memantau perkembangan aktivitas dan penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Salah satu upayanya adalah melakukan paper test setiap 30 menit sekali di seluruh bandara, untuk mengetahui apakah penyebaran abu semakin melebar atau berkurang.

Jika kondisi sudah kembali normal dan bandara dapat kembali beroperasi, Menhub Dudy menegaskan, akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu pada pesawat yang akan digunakan.

“Biasanya semua airlines sudah menyiapkan. Kalau ada apa-apa, jika harus menginap, mereka akan tutup mesinnya. Itu pun nanti kalau misalnya (bandara) sudah buka, mereka harus melakukan pemeriksaan dulu sebelum beroperasi untuk memastikan tidak ada debu di mesin. Kita pastikan harus dicek dulu sebelum beroperasi untuk keselamatan penerbangan,” ujar Menhub Dudy. (Kememhub-RIW/EPS)

Peringati Harpelnas, Dirut BSI Sambut dan Layani Nasabah Dengan Sepenuh Hati

Jakarta – Memperingati Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 yang mengusung tema “Think Customer”, jajaran Direksi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) turun langsung menyambut dan melayani nasabah di sejumlah kantor cabang, pada Jumat (4/9).

Kehadiran para direksi menjadi bentuk apresiasi sekaligus komitmen BSI untuk terus menghadirkan layanan sepenuh hati yang mengutamakan kebutuhan nasabah.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo secara langsung menyambut nasabah yang datang ke Kantor Cabang The Tower. Dengan senyum hangat, Ia turut mendampingi petugas frontliner melayani kebutuhan nasabah.

Pada kesempatan tersebut, Anggoro yang didampingi SEVP Operations, Ana Nurul Khayati, juga berdialog dengan nasabah untuk mendengarkan harapan serta masukan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan, sembari menyerahkan bingkisan apresiasi.

Wakil Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta menyambut nasabah di BSI Tower. Dalam kesempatan tersebut, Ia menjelaskan transformasi teknologi informasi yang telah dilakukan pada Mei 2026 sehingga layanan BSI kini semakin cepat, aman, dan andal.

Sementara itu, SEVP Funding & Transaction Ida Triana Widowati menyambut nasabah di Kantor Cabang BSI Jakarta Barat.

‘’Selamat datang dan terima kasih telah menjadi nasabah BSI,’’ sapa Dirut kepada setiap pengunjung cabang BSI The Tower yang datang.

Ia menyapa setiap pengunjung dan turut mendampingi petugas customer service maupun teller memberikan pelayanan. Di antara tamu yang hadir adalah Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widiasanti.

Anggoro mengatakan segenap jajaran direksi BSI mengucapkan terima kasih kepada nasabah setia yang telah bertumbuh bersama BSI.

Mengusung tema “Terima Kasih Telah Tumbuh Bersama Kami: Kesetiaan Anda, Amanah yang Kami Jaga Sepenuh Hati”, Harpelnas tahun ini menjadi momentum bagi BSI menyampaikan apresiasi kepada lebih dari 24 juta nasabah yang telah tumbuh bersama perusahaan.

Kepercayaan nasabah merupakan motivasi utama bagi BSI untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan di seluruh kanal.

BSI berkomitmen menghadirkan pengalaman perbankan syariah yang aman, nyaman, mudah, dan andal bagi seluruh nasabah.

Dalam rangkaian Harpelnas 2026, BSI juga meluncurkan film pendek “Antara Ibu, Kopi, dan Mimpi” yang mengangkat kisah seorang pemuda yang berjuang melanjutkan pendidikan sambil merintis usaha kedai kopi.

“Harpelnas menjadi momentum bagi kami untuk menyapa kembali nasabah setia sekaligus menghadirkan berbagai promo dan program spesial sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaan yang telah diberikan kepada BSI,” ujar Anggoro.

Saat ini seluruh kanal layanan BSI telah terintegrasi sehingga menghadirkan pengalaman transaksi yang semakin seamless bagi nasabah.

Untuk layanan tatap muka, BSI didukung oleh 1.030 kantor cabang di seluruh Indonesia. Sementara bagi nasabah yang mengutamakan kemudahan digital, tersedia aplikasi BYOND by BSI, internet banking, 5.999 ATM/CRM (Cash Recycling Machine), layanan BSI Call 14040, serta portal resmi BSI www.bankbsi.co.id.

Anggoro menambahkan, pertumbuhan jumlah nasabah yang konsisten setiap tahun tidak terlepas dari transformasi menyeluruh yang terus dijalankan BSI.

Upaya tersebut semakin diperkuat melalui dukungan strategis dari Danantara Indonesia. Hasil transformasi tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah nasabah BSI yang kini mencapai 24,3 juta, dengan pengguna aplikasi BYOND by BSI yang telah menembus 7,2 juta pengguna.

Komitmen BSI untuk “Melayani Sepenuh Hati” juga diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Mulai dari partisipasi aktif dalam Program Magang Nasional, penyelenggaraan BSI Scholarship, pengembangan Desa BSI, hingga penyaluran bantuan sosial kemanusiaan dan zakat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, BSI berharap dapat terus tumbuh bersama masyarakat serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi negeri. (RIW/EPS)

BWS Hidupkan Kembali Sungai Pekapuran

Banjarmasin – Setelah sekitar dua dekade tidak tersentuh pengerukan, Sungai Pekapuran, yang dikenal masyarakat sebagai Sungai Guring, di Kota Banjarmasin kini kembali ditangani.

Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III memperkuat penanganan sungai tersebut sebagai upaya mengembalikan fungsi aliran, memperkuat sistem tata air, serta mendukung pengendalian banjir di Kota Banjarmasin.

Ket foto : Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin saat melakukan peninjauan

Sejak Agustus 2026, BWS Kalimantan III bersama Pemerintah Kota Banjarmasin kembali melakukan pengerukan di kawasan Pekapuran Raya hingga Sungai Baru.

Pekerjaan dilakukan menggunakan excavator amphibi, yang memungkinkan penanganan endapan pada bagian alur sungai yang sulit dijangkau dengan peralatan konvensional.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan kapasitas aliran Sungai Pekapuran yang selama bertahun-tahun mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Kepala BWS Kalimantan III Banjarmasin, Sandi Erryanto, bersama jajaran teknis secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang membutuhkan tindak lanjut.

Monitoring mencakup perkembangan pekerjaan, kondisi fisik di lapangan, kualitas pekerjaan, aspek keselamatan kerja, hingga berbagai kendala teknis selama pelaksanaan.

Penanganan Sungai Pekapuran menjadi penting karena merupakan salah satu bagian dari sistem tata air di kawasan Banjarmasin.

Pendangkalan dan penyempitan alur yang berlangsung dalam waktu panjang turut mengurangi kapasitas sungai mengalirkan air.

Sebelum penanganan diperkuat melalui dukungan BWS Kalimantan III, Pemerintah Kota Banjarmasin telah melakukan sejumlah langkah awal.

Di antaranya pembersihan sungai, pembongkaran bangunan yang berada di atas badan sungai, serta pengerukan pada sejumlah bagian alur yang terhubung dengan sistem Sungai Pekapuran.

Kini, langkah tersebut diperkuat melalui penanganan yang lebih terintegrasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Setelah sekitar 20 tahun, pengerukan kembali dilakukan. Endapan yang selama bertahun-tahun memenuhi alur sungai mulai ditangani, membuka kembali ruang aliran Sungai Pekapuran agar fungsi tata airnya dapat dipulihkan secara bertahap.

Sandi Erryanto mengatakan, monitoring dan evaluasi lapangan dilakukan untuk memastikan pekerjaan sesuai dengan perencanaan serta setiap persoalan dapat segera ditindaklanjuti.

“Monitoring dan evaluasi ini kami lakukan untuk melihat langsung perkembangan pekerjaan di lapangan, termasuk kondisi fisik, kualitas pekerjaan, serta kendala yang perlu segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Menurutnya, pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur. Keberlanjutan fungsi sungai juga membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan serta dukungan pemerintah daerah dan masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR menegaskan, bahwa penanganan sungai membutuhkan kolaborasi lintas kewenangan.

“Penanganan sungai tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Pemerintah kota melakukan apa yang menjadi kewenangannya, sementara dukungan pemerintah pusat melalui BWS Kalimantan III sangat penting untuk memastikan penanganan sungai berjalan secara lebih terintegrasi,” kata Yamin.

Penanganan Sungai Pekapuran juga tidak berhenti pada pengerukan. Upaya tersebut diarahkan untuk mengembalikan kapasitas aliran sungai dan menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir yang lebih luas, termasuk pengelolaan muka air serta dukungan infrastruktur pengendalian banjir.

Bagi Banjarmasin, sungai bukan sekadar bagian dari lanskap kota. Sungai merupakan bagian penting dari sistem tata air sekaligus ruang hidup masyarakat.

Karena itu, kembalinya pengerukan Sungai Pekapuran setelah sekitar dua dekade menjadi momentum penting. Bukan sekadar mengangkat endapan dari dasar sungai, tetapi juga membuka kembali ruang bagi sungai untuk menjalankan fungsinya.

Setelah 20 tahun, Sungai Pekapuran kembali ditata. Sungai yang lama mengalami pendangkalan kini perlahan kembali mendapatkan ruang untuk mengalir dan menjadi bagian dari upaya Banjarmasin memperkuat sistem tata air dan pengendalian banjir. (PEMKOBJM-SRI/RIW/EPS)

Antasan Banjar 2026 “Re-connecting” Pertemukan MusikTradisi dan Ekosistem Kebudayaan Banua

Banjarmasin – Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting”  kembali hadir sebagai Festival Pertunjukan Musik Etnik Kontemporer/World Music yang berbasis pada pengetahuan tradisi Kalimantan Selatan, pada 4-6 September 2026 di Kawasan UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan.

Festival ini menjadi ruang pertemuan antara musik tradisi, penciptaan kontemporer, talenta, maestro, komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, serta masyarakat dalam satu ekosistem kebudayaan.

Penyelenggaraan Antasan Banjar 2026 terlaksana melalui kerja sama Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin, serta  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, sebagai mitra utama.

Festival ini juga didukung sejumlah mitra strategis, yaitu Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM, Kesultanan Banjar, Indonesia World Music Series (IWMS), dan DPW GEKRAFS Kalimantan Selatan.

Kolaborasi lintas sektor tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan musik tradisi membutuhkan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pendidikan, komunitas, pelaku seni, dan sektor ekonomi kreatif.

Antasan Banjar pertama kali hadir sebagai bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2025 di Kalimantan Selatan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik tumbuh bagi Antasan Banjar untuk berkembang sebagai festival dengan identitas dan perjalanan programnya sendiri.

Antasan Banjar dibangun dari kegelisahan untuk menghadirkan ruang yang memungkinkan musik tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai warisan yang dipertunjukkan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus dibaca, dikembangkan, dan dihubungkan dengan praktik musik hari ini.

Melalui perjalanan tersebut, Antasan Banjar berkembang menjadi festival yang mempertemukan musik tradisi, musik etnik kontemporer, dan world music dengan pengetahuan kebudayaan Kalimantan Selatan, sebagai salah satu pijakannya.

Salah satu program utama Antasan Banjar 2026 adalah Panggung Saka 15 Kelompok Musik, yang mempertemukan kelompok-kelompok musik dari berbagai wilayah. Sebanyak 13 kelompok berasal dari Kalimantan Selatan, sementara dua kelompok lainnya berasal dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Kelompok yang terlibat dari Kalimantan Selatan, adalah Sanggar Campala Riza (Hulu Sungai Tengah), Sanggar Bima Cili (Hulu Sungai Tengah), Sanggar Karamunting (Hulu Sungai Selatan), Posko La Bastari (Hulu Sungai Selatan), Serangkai Mata (Tabalong), Sanggar Kemilau Intan (Kabupaten Banjar), AHMA Project (Kabupaten Banjar), Balahidang Etnika (Banjarmasin), Kuartal (Banjarmasin), dan Samudera Etnik Ansambel (Banjarmasin).

Sementara itu, keterlibatan kelompok dari luar Kalimantan Selatan diwakili Pucuk Pakis dari Kalimantan Barat dan Petala Borneo dari Kalimantan Timur, serta kelompok lain dalam rangkaian showcase yang memperluas perjumpaan musikal lintas wilayah.

Program Panggung Saka menjadi ruang apresiasi sekaligus pertemuan antarkelompok, memperlihatkan beragam pendekatan mengolah pengetahuan tradisi menjadi praktik musikal yang hidup dan berkembang.

Antasan Banjar 2026 juga menghadirkan  Gelar Karya Maestro, melalui kolaborasi dengan UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan. Program ini menghadirkan maestro yang memiliki pengalaman panjang menjaga dan mengembangkan pengetahuan musik tradisi.

Salah satunya adalah Siti Maimunah, maestro vokal tradisi Basyair dan musik panting, yang merepresentasikan kekayaan tradisi musikal masyarakat Banjar.

Festival juga menghadirkan Meutuo Delis, maestro  sensapi dari masyarakat Dayak Deah, yang membawa pengetahuan musikal dan karakter bunyi tradisi Dayak ke dalam ruang festival.

Kehadiran para maestro menjadi penting bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari proses pewarisan pengetahuan. Festival mempertemukan pengetahuan yang hidup pada para maestro dengan generasi talenta dan publik, sehingga tradisi dapat dipahami melalui pengalaman langsung, bukan semata-mata melalui dokumentasi.

Rangkaian Antasan Banjar 2026 juga diperkuat melalui  Lab-Batang Banyu Series, sebuah program yang dikembangkan melalui kerja sama Antasan Banjar Festival dan Kesultanan Banjar, dengan dukungan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin.

Mengangkat topik “Musik Tradisi dalam Lanskap Pemajuan Kebudayaan Daerah”, program ini menghadirkan  Muhammad Budi Zakia Sani, akademisi musik dari Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM, Meutuo Delis, maestro sensapi Dayak Deah, serta Emil Salim, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin.

Lab-Batang Banyu menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik, pengetahuan maestro, dan kebijakan kebudayaan daerah.

Pembahasan diarahkan pada bagaimana musik tradisi ditempatkan sebagai bagian dari proses pemajuan kebudayaan, sekaligus memiliki ruang tumbuh di tengah perubahan sosial dan perkembangan ekonomi kreatif.

Kehadiran kelompok dari luar Kalimantan Selatan menjadi bagian dari upaya Antasan Banjar untuk membangun jejaring musik yang lebih luas.

Pertemuan dengan Pucuk Pakis dari Kalimantan Barat dan Petala Borneo dari Kalimantan Timur, serta kelompok lainnya seperti Lantunan Keroncong Banua dan TK Scoterist Reggae dari Banjarmasin, memperlihatkan beragam kemungkinan perjumpaan musikal dalam lanskap kebudayaan Kalimantan.

Melalui jejaring tersebut, Antasan Banjar tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga menjadi titik temu antarkomunitas dan antardaerah.

Pertukaran pengalaman, gagasan, dan praktik diharapkan membuka peluang kolaborasi baru sekaligus memperkuat posisi musik tradisi dan musik etnik Kalimantan dalam jaringan yang lebih luas.

Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang panggung dan pertunjukan. Festival ini berupaya membangun hubungan antara tradisi, talenta, maestro, pendidikan, pemerintah, komunitas, ekonomi kreatif, dan jejaring musik.

Melalui Panggung Saka, gelar karya maestro, Lab-Batang Banyu, dan berbagai ruang pertemuan lainnya, Antasan Banjar menempatkan festival sebagai bagian dari proses panjang penguatan ekosistem musik tradisi Kalimantan Selatan.

Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” adalah ruang untuk mempertemukan kembali pengetahuan dan praktik, generasi dan tradisi, komunitas dan public agar musik tradisi tidak hanya terus terdengar, tetapi juga terus tumbuh sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan Banua. (AntasanBanjar-RIW/EPS)

Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia, Wamenko Pangan Minta Kalsel Siapkan Perda Pencegahan

Banjarbaru – Penanganan karhutla di Kalimantan Selatan diperkuat melalui penegakan hukum hingga penyusunan regulasi baru. Hasil identifikasi kepolisian menunjukkan kebakaran tidak semata dipengaruhi kondisi alam, tetapi juga aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak.

Hal itu menjadi salah satu hasil evaluasi penanganan karhutla yang dipimpin Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, di Posko Induk BPBD Kalsel, Banjarbaru, baru-baru tadi.

Wamenko Pangan minta Pemprov Kalsel siapkan Perda Pencegahan Karhutla

“Dari identifikasi Polda Kalimantan Selatan, ternyata kebakaran kita benar-benar tidak karena kondisi alam. Ada upaya-upaya dari sektor kesengajaan maupun tidak kesengajaan dari ulah manusia,” ujarnya.

Menurutnya, proses hukum terhadap kasus yang ditemukan harus tetap berjalan secara tegas.

“Kita akan kawal terus penegakan hukum ini melalui Polda Kalimantan Selatan dan seluruh jajaran pengamanan yang ada di Kalimantan Selatan,” katanya.

Selain penindakan, pendekatan persuasif akan diperkuat melalui pembentukan tim Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Tim lapangan direncanakan melibatkan RT/RW, Bhabinkamtibmas, Babinsa, penyuluh pertanian serta unsur lainnya.

“Kita tidak bisa menangani ini sendiri. Berapa kekuatan kita kalau tidak didukung masyarakat? Kemudian tidak boleh ada sumber api,” tegas Hanif.

Hanif juga mendorong penyusunan Peraturan Daerah (Perda) untuk memperketat penggunaan api, terutama di Guntung Damar, Landasan Ulin dan Liang Anggang.

Menurutnya, tiga kawasan tersebut membutuhkan perlakuan khusus karena karakter lahan gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan meski terlihat padam.

“Sepertinya kita tidak boleh bertoleransi terkait penyiapan lahan melalui metode bakar. Apa pun alasannya, mau bakar terkendali atau tidak terkendali, masalahnya yang dibakar adalah gambut,” jelasnya.

Pemerintah daerah didorong segera menyusun naskah akademik dan naskah urgensi. Regulasi juga diharapkan mengatur penguatan tata ruang dan penyediaan sumber air, termasuk pembangunan embung untuk mendukung penanganan karhutla.

“Selain mencegah api muncul dengan cara apa pun, maka memperbanyak sumber air wajib dilakukan,” katanya.

Hanif meminta regulasi disiapkan sejak sekarang agar pengalaman penanganan karhutla tahun ini dapat menjadi dasar membangun sistem pencegahan jangka panjang.

“Peraturan daerah ini harus kita bangun sekarang. Kalau sudah hujan, lupa orang,” pungkasnya. (SYA/RIW/EPS)

Rudy Ariffin Wafat, Kalsel Kehilangan Tokoh Pemersatu

Banjarbaru – Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Gubernur Kalsel periode 2005-2015, Rudy Ariffin. Almarhum dikenang sebagai tokoh pemersatu yang telah memberikan pengabdian panjang bagi Banua.

Hasnuryadi menyampaikan belasungkawa tersebut, saat menghadiri pemakaman Rudy Ariffin di Taman Makam Bahagia, Banjarbaru, Minggu (6/9).

Prosesi pemakaman turut dihadiri Wakil Gubernur Kalsel, Hasnuryadi Sulaiman

“Kami bersama keluarga Provinsi Kalimantan Selatan menyampaikan duka cita yang mendalam. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un atas kepulangan tokoh pemersatu Banua Kalimantan, Bapak Rudy Ariffin,” ujar Hasnuryadi.

Rudy Ariffin memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode, yakni 2005-2010 dan 2010-2015. Hasnuryadi berharap pengabdian dan perjuangan almarhum dapat diteruskan keluarga maupun generasi berikutnya.

“Kami tentunya mendoakan mudah-mudahan almarhum Abah (Rudy Ariffin) diberikan tempat terbaik di sisi Allah, diterima semua amal ibadah beliau dan dihapuskan semua dosa dan kesalahan beliau,” katanya.

Duka juga disampaikan Gubernur Kalsel periode 2016-2024, Sahbirin Noor, yang turut menghadiri pemakaman. Ia mengenang Rudy Ariffin sebagai salah satu tokoh Banua yang memberikan banyak sumbangsih selama memimpin Kalsel.

“Beliau ini adalah tokoh Banua kita, yang dua periode memimpin pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan. Cukup banyak sumbangsih yang telah beliau berikan kepada masyarakat Banua kita,” ujarnya.

Sahbirin mengaku memiliki banyak pengalaman dan pelajaran dari Rudy Ariffin, bahkan sejak dirinya masih muda dan aktif dalam berbagai kegiatan.

“Dulu zaman kita masih muda-muda, masih jadi aktivis, sudah banyak belajar dari beliau. Mudah – mudahan ini menjadi sesuatu yang berharga untuk pembelajaran bagi warga Banua kita,” tuturnya.

Ia pun menyampaikan penghargaan atas pengabdian Rudy Ariffin selama hidupnya.

“Kita tentunya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada beliau, sembari mendoakan mudah – mudahan almarhum mendapatkan tempat yang sungguh sangat layak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.

Rudy Ariffin meninggal dunia akibat sakit pada Minggu (6/9) sekitar pukul 11.00 WITA. Sebelum mengembuskan napas terakhir, almarhum sempat menjalani perawatan selama dua hari di RS Amanah Medical Center Banjarmasin. (SYA/RIW/EPS)

Pemprov Kalsel Dukung BUMDesa Perkuat Usaha Pertanian hingga Pascapanen

Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong pengembangan usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) melalui dukungan sarana dan prasarana pertanian

Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan untuk kegiatan produksi dan panen, tetapi juga mencakup penguatan sektor pascapanen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Kalsel, Iwan Ristianto mengatakan, bantuan sarana dan prasarana diberikan kepada BUMDesa yang dinilai mampu mengelola usaha sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat desa.

Menurut Iwan, kemampuan BUMDesa mengembangkan usaha berbasis potensi lokal menjadi salah satu indikator penting dalam melihat keberhasilan pengelolaan badan usaha milik desa.

“Dukungan pemerintah diberikan untuk membantu BUMDesa meningkatkan produktivitas sekaligus mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” ungkapnya, baru – baru ini.

Kepala Dinas PMD Provinsi Kalsel Iwan Ristianto

Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah pertanian, mengingat sektor tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan di tingkat desa.

Iwan menjelaskan, penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya dilakukan pada tahap produksi hingga panen. Penanganan pascapanen juga menjadi bagian penting agar hasil pertanian memiliki kualitas yang baik dan dapat memberikan nilai tambah bagi BUMDesa maupun masyarakat.

“Penguatan sektor pascapanen penting dilakukan, karena hasil pertanian tidak hanya membutuhkan proses produksi dan panen, tetapi juga penanganan yang baik sebelum dipasarkan,” ujar Iwan.

Salah satu bentuk dukungan pemerintah diberikan kepada BUMDesa di Kabupaten Tapin. BUMDesa tersebut mendapatkan peralatan yang digunakan untuk menunjang proses pengeringan dan pengemasan hasil pertanian.

“Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu BUMDesa meningkatkan kualitas hasil produksi sebelum dipasarkan kepada konsumen,” lanjut Iwan.

Dengan adanya fasilitas pengeringan, hasil pertanian dapat ditangani secara lebih baik setelah proses panen. Sementara dukungan peralatan pengemasan diharapkan dapat membuat produk lebih siap dipasarkan dan memiliki nilai tambah.

“Pengembangan usaha BUMDesa harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan potensi desa, proses produksi, panen, hingga pascapanen dan pemasaran,” tutup Iwan. (MRF/RIW/APR)

Kejurprov NPC Kalsel Resmi Digelar

Banjarmasin – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) resmi digelar, setelah dibuka Kadispora Kalsel Pebriadin Hapiz didampingi Ketua NPC Kalsel Sumansyah, di Kantor Sekretariat NPCI Kalsel, Banjarbaru, Jumat (4/9).

Pebriadin menyampaikan apresiasi, atas dilaksanakan Kejurprov NPC Kalsel ini, mengingat, kejurprov tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan sekaligus mengevaluasi perkembangan atlet disabilitas di Kalsel, khususnya pada cabang olahraga yang dinilai memiliki potensi besar untuk berprestasi di tingkat nasional.

Pelaksanaan Kejurprov menjadi momentum penting untuk melihat sejauh ini bagaimana pembinaan atlet yang selama ini dilakukan memberikan hasil.

“Hari ini kita membuka kegiatan Kejurprov untuk teman-teman yang berada dalam ekosistem atlet disabilitas. Kita berharap melalui kegiatan ini bisa mengevaluasi pembinaan yang selama ini berjalan,” ungkap Pebriadin.

Menurutnya, pelaksanaan kejuaraan juga dirancang secara efisien dengan tetap mempertimbangkan efektivitas pertandingan, termasuk kondisi cuaca yang menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga.

Kadispora Kalsel Pebriadin Hapiz

Pebriadin menjelaskan, para atletik dan para panahan dipilih karena menjadi salah satu cabang olahraga unggulan atau lumbung medali bagi Kalsel.

Fokus tersebut bukan berarti mengesampingkan cabang olahraga lainnya, tetapi sebagai strategi untuk memaksimalkan pembinaan pada nomor-nomor yang memiliki peluang prestasi lebih besar.

“Kita mencoba untuk memaksimalkan pembinaan pada nomor-nomor unggulan untuk kemudian dievaluasi. Harapannya, ketika berada di level nasional, kita bisa kembali memetik hasil dari pembinaan yang selama ini dilakukan,” katanya.

Ia menambahkan, persaingan olahraga disabilitas di daerah lain juga semakin berkembang. Karena itu, Kalsel perlu melakukan intensifikasi pembinaan sekaligus mempertahankan capaian yang telah diraih.

“Nomor-nomor lain tetap kita lakukan pembinaan. Namun, untuk saat ini kita fokus pada nomor – nomor unggulan. Ke depan, nomor-nomor potensial juga akan kita kompetisikan sehingga menambah semangat atlet untuk lebih giat berlatih,” jelasnya.

Selain peningkatan intensitas latihan dan kompetisi, Dispora Kalsel juga mendorong agar pembinaan atlet disabilitas ke depan mulai diperkuat dengan pendekatan sport science, sehingga proses latihan dan peningkatan performa atlet dapat dilakukan secara lebih terukur.

Sementara itu, Ketua Umum NPCI Kalsel, Sumansyah, menyampaikan Kejurprov kali ini mempertandingkan para atletik dan para panahan dengan sejumlah nomor pertandingan.

“Untuk para atletik, ada nomor tolak lempar dan untuk para panahan. Total atlet yang mengikuti sekitar 100 lebih dari kabupaten/kota,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, khusus nomor tolak lempar terdapat 14 nomor pertandingan, sedangkan para panahan mempertandingkan empat nomor.

Kejurprov ini juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap atlet yang telah menjalani program pembinaan.

Menurut Sumansyah, performa atlet dalam kejuaraan akan menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan keberlanjutan pembinaan dan komposisi atlet pada program tahun berikutnya.

“Bisa saja atlet yang sudah dibina dan dilatih selama sembilan bulan ternyata tidak mengalami kemajuan. Kemudian ada atlet dari kabupaten atau kota yang mampu melebihi limitnya, sehingga berpotensi menggantikan atlet yang sebelumnya masuk program pembinaan pada 2027,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta seluruh pengurus NPCI kabupaten/kota terus memberikan dukungan terhadap atlet, terutama melalui latihan rutin dan pembinaan berkelanjutan di daerah masing-masing.

“Kami mengimbau kepada seluruh ketua NPCI kabupaten/kota untuk memberikan yang terbaik kepada anggota maupun atletnya, memberikan latihan di masing – masing kabupaten/kota dan tetap menjaga solidaritas dalam NPCI,” ucap Sumansyah. (DISPORAKALSEL-SRI/RIW/APR)

Izin BPOM Terbit, Bakula Water Siap Masuk Pasar Umum

Banjarbaru – Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Bakula Water segera dipasarkan kepada masyarakat setelah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 31 Agustus 2026.

Kepala Dinas PUPR Kalimantan Selatan, Muhammad Yasin Toyib mengatakan, terbitnya izin tersebut menjadi tahap penting setelah fasilitas produksi dan berbagai kebutuhan pendukung disiapkan.

“Alhamdulillah per tanggal 31 Agustus sudah keluar surat izin edar dari BPOM, sehingga otomatis Bakula Water sudah bisa diedarkan untuk masyarakat umum,” ujar Yasin di BPAM Banjarbakula, Kamis (3/9).

Menurutnya, investasi untuk pengembangan Bakula Water mencapai sekitar Rp5,6 miliar, mencakup mesin pengolahan, bangunan hingga sarana pendukung distribusi.

Dengan mulai beroperasinya AMDK tersebut, BPAM Banjarbakula diharapkan memiliki tambahan sumber pendapatan bagi daerah.

Terlebih, kinerja pendapatan BPAM tahun ini telah melampaui target, yakni dari target Rp25 miliar menjadi sekitar Rp30 miliar hingga awal September.

“Saya mengucapkan apresiasi setinggi – tingginya kepada teman-teman BPAM Banjarbakula atas kerja keras mereka selama ini, termasuk dalam menjaga mutu dan pengelolaan layanan,” katanya.

Kepala Dinas PUPR (kuning) didampingi Kepala BPAM Banjarbakula saat memberikan keterangan kepada wartawan

Kepala BPAM Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas, memastikan kesiapan produksi tidak terkendala dari sisi sumber air baku. Saat ini pihaknya tinggal menuntaskan kebutuhan kemasan dan label sebelum pemasaran dimulai.

“Secara produksi kami tidak ada masalah untuk sumber air baku. Tinggal menunggu form dan labelnya. Insyaallah dalam waktu dekat siap untuk dipasarkan,” ujar Wahyu.

Fasilitas Bakula Water memiliki kapasitas produksi sekitar 4.000 botol per jam. Produk disiapkan dalam beberapa ukuran, yakni 220 mililiter, 330 mililiter, 600 mililiter, 1.200 mililiter, serta galon.

Pada tahap awal, pemasaran akan diarahkan ke lingkungan Pemerintah Provinsi Kalsel sebelum diperluas secara bertahap kepada masyarakat umum.

“Sebarannya sementara ini untuk kalangan Pemprov dulu, nanti akan disebarluaskan ke masyarakat umum secara bertahap,” jelasnya.

Untuk harga, kemasan 330 mililiter dipatok Rp31.500 per pak, sedangkan galon Rp50.500, sesuai tarif yang ditetapkan dalam peraturan daerah.

BPAM Banjarbakula juga menyiapkan rencana pengembangan varian baru dengan tingkat pH lebih tinggi. Namun, langkah tersebut akan dilakukan setelah melihat respons pasar terhadap produk Bakula Water yang lebih dahulu dipasarkan.

“Ke depan kemungkinan kami akan menambah varian jenis baru untuk pH yang lebih tinggi. Tetapi bertahap, kita lihat dulu respons pasar untuk versi biasa ini,” pungkasnya. (SYA/RIW/APR)

Exit mobile version