Banjarbaru – UPTD Kebun Raya Banua berhasil menemukan sebanyak 56 spesies tumbuhan endemik, dalam kegiatan eksplorasi di kawasan sekitar Gua Liang Bangkai, Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu.
Eksplorasi sebagai upaya konservasi tumbuhan khas dan endemik Kalimantan Selatan yang kini mulai jarang ditemukan di habitat aslinya.
Kepala UPTD Kebun Raya Banua, Rahmat Maidiyanto melalui Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan Exsitu, Muhammad Ferza Listyannoor mengatakan, kawasan sekitar Gua Liang Bangkai dipilih karena memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.
Menurut Ferza, kegiatan tersebut menjadi bagian dari fungsi Kebun Raya sebagai lembaga konservasi untuk menyelamatkan berbagai jenis tumbuhan khas daerah agar tetap lestari dan dapat dikenal generasi mendatang.
“Pelaksanaan eksplorasi yang dilaksanakan pada 21-25 April ini merupakan bagian dari fungsi Kebun Raya sebagai lembaga konservasi. Kami berupaya mencari dan menyelamatkan tanaman-tanaman khas Kalimantan Selatan yang keberadaannya mulai langka agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya, Selasa (19/5).
Ia menjelaskan, jenis tumbuhan yang ditemukan didominasi tanaman anggrek, begonia, serta berbagai tanaman hias dan keladi-keladian khas hutan Kalimantan.
Seluruh tumbuhan hasil eksplorasi nantinya akan dibawa ke Kebun Raya Banua untuk dibudidayakan dan menjalani perawatan intensif di kawasan konservasi exsitu.
Ferza menuturkan, proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua tumbuhan yang diambil dari habitat alami dapat langsung tumbuh dengan baik di lingkungan baru.
“Tumbuhan yang dibawa ke Kebun Raya belum tentu langsung bisa hidup. Karena itu perlu perawatan khusus agar dapat beradaptasi. Jika berhasil tumbuh, nantinya tanaman tersebut bisa menjadi koleksi konservasi sekaligus dibagikan untuk kepentingan edukasi maupun pelestarian,” jelasnya.
Selain melakukan penyelamatan tumbuhan dari alam, eksplorasi tahun ini juga disertai upaya pengembalian bibit tanaman langka ke habitat asalnya.
Salah satunya dilakukan terhadap jenis meranti-merantian yang sebelumnya telah dikembangkan di Kebun Raya Banua dan kini dibawa kembali ke Kabupaten Tanah Bumbu untuk mendukung pelestarian di daerah asalnya.
“Sekarang tanaman meranti sudah semakin jarang ditemukan. Jadi ada timbal balik dalam kegiatan ini, bukan hanya Kebun Raya yang mendapatkan manfaat, tetapi masyarakat dan lingkungan di daerah juga merasakan dampaknya,” katanya.
Kegiatan eksplorasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan tumbuhan khas Kalimantan Selatan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati daerah. (BDR/RIW/EPS)

