Rubuha, Metode Alami Pengendalian Hama Tikus

BANJARBARU – Balai Pengendalian dan Pengawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan, mengimbau para petani agar tidak melakukan pembasmian hama tikus dengan cara melepas ular di area pertanian.

Kepala BPTPH Provinsi Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni mengatakan, bahwa pelepasan ular dinilai berisiko bagi keselamatan manusia dan sulit dikontrol pergerakannya di lapangan. Sebagai alternatif, Lestari menyarankan penggunaan rumah burung hantu (Rubuha) yang dinilai lebih efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Kepala BPTPH Provinsi Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni

Burung hantu merupakan predator alami tikus yang mampu memangsa tikus dalam jumlah cukup besar setiap malam. Dengan menempatkan rubuha di sekitar lahan pertanian, populasi tikus dapat ditekan tanpa mengganggu ekosistem.

“Pergerakan ular sulit diawasi, sehingga berpotensi membahayakan petani maupun masyarakat sekitar,” ujarnya baru-baru ini.

Sementara, burung hantu cenderung menetap di area yang disediakan rubuha, sehingga pengendalian hama lebih terfokus. Ini membantu petani melindungi hasil panen secara berkelanjutan tanpa menimbulkan ancaman bagi manusia.

Ia juga mendorong petani untuk membangun rubuha secara berkelompok atau gotong royong, sehingga cakupan pengendalian hama menjadi lebih luas dan biaya pembuatan lebih efisien.

“Jika rubuha dibangun secara kolektif, maka satu kawasan persawahan bisa dilindungi secara menyeluruh dan hasilnya akan lebih maksimal,” lanjut Lestari.

Selain menggunakan rubuha, BPTPH Kalsel juga mengimbau petani menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu kombinasi antara pengendalian hayati, kultur teknis, dan monitoring rutin terhadap populasi hama. Dengan pendekatan ini, ancaman serangan tikus bisa ditekan sejak dini tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Upaya ini diharapkan dapat mengurangi kerugian hasil panen akibat serangan hama tikus yang sering kali menyebabkan penurunan produksi padi secara signifikan.

Pemerintah Provinsi Kalsel berkomitmen mendukung petani melalui pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta edukasi terkait pengendalian hama yang ramah lingkungan.

“Tujuannya agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga dan produktivitas pertanian tidak terganggu,” tutup Lestari. (MRF/RIW/RH)

Kalsel Raih Peringkat Pertama Indeks Ketahanan Pangan Nasional 2025

BANJARBARU – Provinsi Kalimantan Selatan berhasil meraih peringkat pertama nasional, dalam Indeks Ketahanan Pangan (IKP) tahun 2025 dengan nilai 81,98 persen.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, Saptono, menyampaikan kabar gembira ini pada Selasa (9/9).

Menurutnya, pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Selatan, karena selama tiga tahun terakhir posisi indeks ketahanan pangan tertinggi selalu dipegang Provinsi Bali.

Kabid Ketahanan Pangan, Saptono

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga para petani. Upaya menjaga ketersediaan stok pangan, menjaga stabilitas harga, serta penanganan daerah rawan pangan secara tepat menjadi kunci utama pencapaian ini,” ujar Saptono.

Selain prestasi di tingkat provinsi, Saptono juga menyampaikan, bahwa Kabupaten Balangan berhasil menempati peringkat ke-4 terbaik se-Indonesia untuk kategori indeks ketahanan pangan di tingkat kabupaten. Hal ini semakin memperkuat posisi Kalimantan Selatan sebagai salah satu daerah yang serius menggarap sektor ketahanan pangan.

“Capaian ini menunjukkan bahwa upaya yang kita lakukan tidak hanya berdampak di level provinsi, tetapi juga dirasakan hingga ke kabupaten/kota,” tambahnya.

Saptono berharap capaian ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang, sehingga kesejahteraan masyarakat terus meningkat dan Kalimantan Selatan dapat menjadi lumbung pangan nasional yang berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi Kalsel berkomitmen melanjutkan berbagai program strategis, termasuk penguatan cadangan pangan, pengembangan pertanian berbasis teknologi, dan pemberdayaan petani agar produksi tetap terjaga sepanjang tahun.

“Jika produksi pangan stabil dan masyarakat memiliki akses yang baik terhadap bahan pangan, maka ketahanan pangan akan semakin kokoh. Inilah yang terus kita upayakan,” tutup Saptono. (MRF/RIW/RH)

Direnovasi, Titian Kampung Hijau Ditargetkan Selesai Desember 2025

BANJARMASIN – Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Banjarmasin, mulai melakukan perbaikan Jalan Titian di Kawasan Kampung Hijau, Kelurahan Sungai Bilu, Kecamatan Banjarmasin Timur.

“Jalan Titian Kampung Hijau mulai diperbaiki,” ungkap Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin Suri Sudarmadiyah, Selasa (9/9).

Kadis PUPR Kota Banjarmasin Suri Sudarmadiyah

Suri menjelaskan, prioritas pekerjaan adalah pada jalan titian yang mengalami kerusakan, agar kawasan disekitarnya dapat tersambung kembali.

“Pekerjaan perbaikan jalan titian tersebut, sudah mencapai 30 persen, atau 52 meter dari total perbaikan jalan titian sepanjang 88 meter,” ujarnya.

Dijelaskan Suri, rencananya jalan titian tersebut akan dicor dengan beton tipis, yang disesuaikan dengan fondasi dari kayu Ulin dibawahnya.

“Kami akan menyesuaikan dengan kekuatan fondasi, serta angkutan yang melintas di jalan titian, seperti roda dua, pada saat pengecoran beton,” ucapnya.

Dengan rencana pekerjaan pada tahan pertama, pembuatan jalan titian, kemudian pada tahap kedua memasuki tahapan pengecoran.

“Untuk pekerjaan jalan titian Kampung Hijau ini, sama seperti titian di Mantuil,” ujarnya.

Dikatakan Suri, untuk pekerjaan perbaikan jalan titian tersebut, akan terus terus berjalan. Sehingga diharapkan dapat selesai sesuai dengan waktunya.

“Pekerjaan perbaikan jalan titian Kampung Hijau ditarget dapat selesai pada akhir Desember atau pada pekan ketiga Desember,” ungkapnya lagi.

Sehingga, lanjut Suri, pihaknya berharap para pekerja dapat melakukan percepatan pekerjaan, agar jalan titian ini dapat segera dimanfaatkan warga setempat.

“Meski terdapat kendala untuk pengangkutan bahan baku seperti kayu ulin ke lokasi pekerjaan, namun semua dapat diatasi,” ucapnya.

Namun, lanjut Suri, percepatan pembangunan tersebut tetap memperhatikan mutu atau kualitas yang dihasilkan.

“Selama perbaikan jalan titian ini, untuk aktivitas warga telah dibuatkan akses jalan darurat,” ujarnya.

Seperti ketahui, jalan titian Kampung Hijau di Kelurahan Sungai Bilu, mendadak ambruk pada Rabu (6/8) lalu.

Kondisi jalan titian tersebut, diketahui memang sudah mengalami kemiringan sejak lama. Untungnya, pada peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa. (SRI/RIW/RH)

Exit mobile version