Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kalsel, Komitmen Perkuat Ketahanan Pangan

BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, terus memperkuat ketahanan pangan melalui program optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan Syamsir Rahman, melalui Sekretaris, Imam Subarkah mengungkapkan, optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan. Pihaknya menekankan pentingnya tiga aspek utama sebagai dasar pelaksanaan, yaitu Survei Investigasi dan Desain (SID), Validasi dan legalitas lahan, serta Kesesuaian teknis lahan.

“Ketiganya menjadi kunci agar program berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” ucap Imam, baru – baru tadi.

Sekretaris Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kalimantan, Imam Subarkah

Kalimantan Selatan sendiri, ungkap Imam, mendapat alokasi lahan 60 hektare untuk optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah. Dari 60 ribu hektare tersebut 30 ribu hektare untuk kegiatan cetak sawah, dan 30 ribu hektare lainnya untuk optimalisasi lahan pada tahun 2025 ini. Pelaksanaan kegiatan akan dilakukan dengan dua metode yaitu swakelola dan kontrak pihak ketiga melalui e-katalog.

“Dengan kerja sama lintas sektor dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian, program ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam transformasi pertanian lahan rawa di Kalimantan Selatan,” lanjut Imam.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan juga memastikan bahwa pembagian pekerjaan akan diserahkan kepada masing-masing kabupaten dengan penunjukan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), meski sebagian kegiatan tetap dikendalikan di tingkat provinsi.

Tahun ini, pihaknya akan melibatkan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai mitra pelaksana SID, menggantikan Politeknik Negeri Banjarmasin yang sebelumnya terlibat dalam tahap awal.

“Verifikasi lapangan sangat penting agar data lahan yang sudah teridentifikasi benar-benar siap untuk ditindaklanjuti. Ini menyangkut legalitas, kondisi fisik lahan, hingga aspek sosial di wilayah tersebut,” sahut Imam.

Pihaknya menargetkan, hasil dari kegiatan ini sudah bisa dimanfaatkan untuk musim tanam kedua di bulan September 2025, yang bertepatan dengan musim hujan.

“Harapannya, apa yang kita kerjakan sepanjang tahun ini bisa langsung berdampak. Petani bisa menanam di lahan yang sudah dioptimalisasi atau dicetak baru,” tutup Imam. (MRF/RIW/RH)

Tinggalkan Balasan

Exit mobile version