Sering Memakan Korban, Jembatan Menuju Tanjung Semalantakan Kotabaru Kondisinya Sangat Memprihatinkan

KOTABARU – Akses jembatan menuju Tanjung Semalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan, Kabupaten Kotabaru, sungguh memprihatinkan. Tak hanya poros utama infrastuktur jalan, sejumlah kendaraan roda dua dan empat yang melintas sering kesulitan menuju daerah ini.

Salah seorang warga Desa Sakalimau, Sabar Rohayati yang profesinya sebagai penjual sayur keliling, menceritakan bahwa dirinya sempat mengalami kejadian tragis yakni jatuh dari jembatan penghubung menuju Tanjung Semalantakan yang kondisinya diakui sangat parah dan membahayakan bagi pengendara.

“Sayuran saya semuanya hanyut, kendaraan juga ikut tercebur karena kondisi lantainya itu goyang. Ketinggian air laut yang pasang cukup dalam. Saking membuat saya trauma hingga ini adalah keberadaan buaya muara yang sempat lewat di hadapan syukurnya tidak diterkam,” ucapnya kepada awak media, Minggu (16/10) sore.

Akibat insiden mengerikan tersebut, Rohayati sempat mengalami cedera yang cukup serius. Bahkan, kini kesulitan untuk berjalan.

“Mudah-mudahan segera diperbaiki agar tidak memakan korban lagi,” harapnya.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Tanjung Semalantakan yang tak mau disebutkan namanya, mengungkapkan, ada tiga jembatan yang kondisinya dianggap sudah tak layak untuk dilintasi. Mengingat, rapuhnya lantai dan ditumpuknya dengan kayu seadanya sering membuat masyarakat khawatir dan takut.

“Kami berharap Pemkab Kotabaru bisa memperhatikan persoalan infrastruktur jembatan yang kondisinya sudah memprihatinkan,” harapnya.

Di lokasi berbeda, Kepala Desa Mulyodadi, Sarli mengatakan jembatan yang kondisinya mulai rapuh dan sering tenggelam itu sudah berumur lima tahunan lebih. Ditambah lagi, penyangga lantainya juga sudah tak kuat menahan beban.

“Kendaraan saja sulit untuk mengimbangi apalagi roda empat. Kalau diprakirakan tak bisa bertahan lama takutnya roboh,” bebernya.

Terkadang jembatan ini sering mengalami pasang surut air laut (rob) yang menyebabkan rata-rata kendaraan milik masyarakat terpaksa harus berdiam diri selama satu jam lebih untuk mengembalikan ke kondisi normal.

“Sering, menunggu surut dulu baru bisa melintas. Kalau kita terjang kasihan mesin motornya karena kalau terendam bisa mogok,” imbuhnya.

Kondisi ini diperparah pula, kendaraan roda dua dan empat yang memaksakan diri untuk melintas sering mengalami mogok bahkan ketinggian air pasang laut mencapai hampir 60 sentimeter (cm) atau setinggi paha orang dewasa.

“Beberapa warga kami sempat hendak tercebur. Selain itu, adanya keberadaan buaya di sana membuat kami khawatir,” ucapnya.

Saat menjaring aspirasi di Desa Tanjung Semalantakan, Wakil Ketua Komisi II Provinsi DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi, juga memberikan komentar cukup pedas terhadap kondisi dari infrastruktur jembatan tersebut.


“Lihat saja sendiri kondisinya bagaimana. Hampir berjam-jam loh mulai dari jalan berlumpur sampai kita jumpai jembatan yang tak layak. Saya meminta dengan sangat kepada Pemkab Kotabaru dapat mendengar aspirasi ini. Apabila dipenuhi, manfaat dan amal jariah didapatkan karena posisinya membantu kesusahan orang lain,” ungkap legislatif Kalsel dari Dapil VI Kotabaru dan Tanbu.

Ditambah lagi, ia bersama Pemprov Kalsel sempat dibuat kesal dan bingung akibat terjebak di tengah jembatan karam itu hingga beberapa jam lebih untuk bisa menjangkau ke lokasi Desa Tanjung Simalantakan dalam kegiatan reses.

“Pantas saja banyak tidak mau kesini. Harusnya yang dari Dapil Kabupaten Kotabaru menyuarakan akan adanya hal ini. Melihat kondisinya tak hanya memprihatinkan tetapi sudah membahayakan keselamatan seluruh warga sekitar bahkan seluruh kecamatan yang melintas,” tutupnya.

Hingga kini, kondisi jembatan yang memprihatinkan itu terpaksa masih dimanfaatkan warga setempat sebagai jalur utama perekonomian. Bahkan, apabila tak direspon Pemkab Kotabaru, sejumlah pemerintah desa sepakat mengumpulkan bantuan dari hasil swadaya masyarakat untuk melakukan perbaikan secara gotong royong. (RHS/RDM/RH)

Rela Berjam-Jam di Klotok, Yani Helmi Datangi Rampa Cengal dan Sakadoyan

KOTABARU – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel Muhammad Yani Helmi, menaruh perhatian terhadap pedagang serta warga yang tinggal di sepanjang pesisir Rampa Cengal dan Sakadoyan Kotabaru, yang jarak tempuhnya harus menggunakan balapan (klotok).

“Ini harus didukung penuh. Hasil lautnya melimpah, tetapi, ada yang unik di sini menjual makanan ringan yakni kue khas hingga kerupuk udang asli buatan dari Desa Rampa Cengal untuk peningkatan ekonomi mereka,” ujarnya kepada awak media, Jumat (14/10) kemarin.

Tak hanya berkomentar, Yani Helmi juga ikut memborong semua dagangan dari pedagang di sekitar pesisir Rampa Cengal. Berbagai komoditi hasil tangkapan segar dari nelayan yang tinggal di wilayah itu juga ikut dibeli olehnya.

“Ini harus didukung. Selain segar guna mendongkrak perekonomian, mereka harus kita bantu juga. Keterpurukan atas pandemi ternyata tak menghalangi mereka untuk terus menghasilkan makanan khasnya,” bebernya.

Meski demikian, ia juga sempat menyerap aspirasi dari sejumlah warga di sana. Termasuk, kurangnya ketersediaan air bersih.

“Jadi di sini tadi masalahnya adalah pasokan air bersih, karena PDAM yang berwenang tidak dapat masuk. Tentu perlu mendapat perhatian dari Pemkab Kotabaru,” imbuhnya.

Saat bertandang ke Desa Sakadoyan, Pamukan Selatan, Kabupaten Kotabaru, dengan menggunakan transportasi yang sama (klotok) sekitar 45 menit mulai Tanjung Semalantakan (600 kilometer (KM) dari Banjarmasin) ini turut mendapat apresiasi dari warga yang ikut menjaring aspirasi.

“Nah, daerah ini juga harus mendapat hal yang sama atau seimbang. Ternyata, saya tak menyangka bahwa luar biasa penyambutannya. Perlu diberikan apresiasi serta dorongan agar desa yang jauh dari perkotaan turut diperhatikan. Sejauh ini, seperti internet di Sakadoyan ini masih blank spot tidak ada jaringan. Jadi, nanti tolonglah agar dapat dikoordinasikan supaya mereka bisa menikmati fasilitas seperti di kota,” paparnya.

Menurutnya mereka yang merupakan wilayah mayoritas berprofesi sebagai petani, pengelola perkebunan dan perikanan (tambak) itu turut membantu dan mendorong perekonomian. Sehingga, perlu mendapat perhatian lebih tak hanya dari kalangan legislatif tetapi juga dari eksekutif.

“Mereka sangat memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan ekonomi. Harusnya daerah pelosok ini mendapatkan perhatian. Sekali lagi, ingat loh ya mereka ini berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” ucap legislatif DPRD Kalsel Dapil VI Kotabaru dan Tanah Bumbu.

Sementara itu, Kepala Desa Sakadoyan, Badrun bersama warganya sangat membutuhkan jaringan akses internet dalam berkomunikasi. Hampir puluhan tahun tak ada fasilitas ini.

“Mudah-mudahan bisa direalisasikan. Susah kadang kalau berkirim informasi tak hanya keluarga tetapi juga di luar sana,” papar Badrun.

Dengan adanya kedatangan dari legislatif Provinsi Kalsel ini, ia sangat menyambut antusias atas kedatangan rombongan legislatif dan eksekutif dari Provinsi Kalsel. Mengingat, Paman Yani (sapaan akrab) merupakan wakil rakyat pertama yang datang mengunjungi mereka.

“Kami berterima kasih sekali atas kedatangan dari paman Yani. Jujur, ini pertama kalinya seorang legislatif dari provinsi Kalsel datang kesini. Bahkan, jajaran lain dari Kabupaten Kotabaru belum sama sekali pernah berkunjung, wajar sekali kami sangat senang dan bahkan turut mengapresiasi kedatangan dari beliau,” bebernya.

Kepala desa yang berdomisili jauh dari perkotaan ini mengemukakan Yani Helmi menjadi orang pertama mengunjungi desa terjauh seperti Besuang, Papaan, Gunung Baru Besar, Sepapah, Sungai Betung, Talusi Sakalimau, Tanjung Semalantakan, Mulyodadi di Kecamatan Pamukan Selatan dan Sampanahan. (RHS/RDM/RH)

Exit mobile version