Tabungan dan DPK Tumbuh Positif, BSI Balikpapan Perkuat Kepercayaan Nasabah

Balikpapan – PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI Area Balikpapan, mencatat penguatan kinerja positif hingga akhir Mei 2026. Pertumbuhan tersebut tercermin dari meningkatnya dana pihak ketiga atau DPK, pertumbuhan tabungan, serta kinerja pawning atau gadai emas yang berhasil melampaui target posisi Mei 2026.

Hingga posisi 31 Mei 2026, total DPK BSI Area Balikpapan mencapai Rp9,11 triliun, tumbuh Rp148,65 miliar secara year to date dibanding posisi akhir Desember 2025.

Dari jumlah tersebut, tabungan menjadi salah satu produk utama yang menunjukkan pertumbuhan positif, yakni mencapai Rp5,43 triliun atau tumbuh Rp97,57 miliar secara year to date.

Pertumbuhan tabungan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap BSI sebagai mitra transaksi dan penyimpanan dana.

Hal ini juga menjadi indikator bahwa layanan perbankan syariah semakin diterima masyarakat, baik untuk kebutuhan harian, pengelolaan keuangan keluarga, maupun aktivitas usaha.

Di sisi pembiayaan, BSI Area Balikpapan juga mencatat kinerja menonjol pada segmen pawning atau gadai emas. Hingga 31 Mei 2026, outstanding pawning BSI Area Balikpapan mencapai Rp1,03 triliun, tumbuh Rp217,10 miliar secara year to date.

Capaian ini telah melampaui target posisi Mei 2026 sebesar Rp962,53 miliar, dengan pencapaian 107,15 persen.

Secara total, pembiayaan BSI Area Balikpapan per 31 Mei 2026 mencapai Rp6,01 triliun, atau 97,12 persen dari target posisi Mei 2026 sebesar Rp6,19 triliun.

Total pembiayaan tersebut tumbuh Rp273,75 miliar secara year to date.

Regional CEO BSI RO IX Kalimantan, Sefudin Suria Hidayat mengatakan, pertumbuhan DPK, tabungan, dan pawning menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan masyarakat terhadap BSI terus menguat.

“Pertumbuhan tabungan dan DPK menunjukkan bahwa masyarakat semakin menjadikan BSI sebagai mitra utama dalam mengelola keuangan. Di saat yang sama, kinerja pawning yang melampaui target juga menunjukkan bahwa layanan gadai emas BSI semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Sefudin.

Menurutnya, BSI tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan untuk menyimpan dana, tetapi juga sebagai mitra yang menyediakan solusi keuangan syariah secara menyeluruh.

Mulai dari layanan transaksi, tabungan, pembiayaan, hingga solusi berbasis emas yang dapat digunakan untuk kebutuhan produktif maupun konsumtif.

“Gadai emas BSI menjadi salah satu layanan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Produk ini dapat menjadi solusi likuiditas yang cepat, aman, dan sesuai prinsip syariah, baik untuk kebutuhan usaha, pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Sefudin menambahkan, pertumbuhan kinerja tersebut akan terus didukung melalui penguatan layanan, literasi keuangan syariah, dan perluasan akses kepada masyarakat.

BSI juga terus mendorong agar produk-produk syariah semakin mudah dipahami dan dimanfaatkan masyarakat luas.

“Kami ingin masyarakat melihat BSI sebagai mitra keuangan yang lengkap. Tidak hanya untuk menabung, tetapi juga untuk bertransaksi, merencanakan keuangan, mengembangkan usaha, hingga memanfaatkan emas sebagai instrumen keuangan yang produktif dan aman,” tambah Sefudin.

Dengan capaian tersebut, BSI Area Balikpapan optimistis dapat terus menjaga momentum pertumbuhan hingga periode berikutnya. Pertumbuhan tabungan, DPK, dan pawning menjadi modal penting untuk memperkuat peran BSI dalam mendukung kebutuhan keuangan masyarakat di wilayah Kalimantan Timur. (BSI-RIW/EPS)

Sentuhan Wali Kota Lisa Berbuah Emas, Banjarbaru Terbaik I Penanganan Stunting dan Kemiskinan Kalimantan

Balikpapan – Banjarbaru kembali mencuri perhatian di panggung nasional. Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, sukses meraih Penghargaan Terbaik I kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting Kelompok Kota Regional Kalimantan, dalam ajang Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah Berprestasi 2026. Penghargaan prestisius itu diserahkan di Balikpapan, Selasa (5/5).

Penghargaan diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian bersama Direktur Utama Tempo, sebagai pengakuan atas performa Pemerintah Kota Banjarbaru yang dinilai paling menonjol dalam mengintegrasikan program pengentasan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting di kawasan Kalimantan.

Ajang ini bukan sekadar seremoni. Ini menjadi instrumen evaluasi berbasis indikator ketat, mulai dari konvergensi lintas sektor, capaian layanan hingga tingkat kelurahan, efektivitas intervensi, hingga laju penurunan indikator utama.

Inovasi daerah menjadi faktor pembeda utama, menguji sejauh mana pemerintah mampu menghadirkan solusi adaptif dengan dampak nyata.

Dalam sambutannya, Tito menegaskan pentingnya kompetisi sehat antar daerah.

“Sebagai kepala daerah yang dipilih rakyatnya, metode terbaik adalah menciptakan iklim kompetitif. Dari sana akan lahir kinerja dan inovasi terbaik,” tegasnya.

Sebanyak 24 pemerintah daerah menerima penghargaan dalam forum tersebut. Tak hanya simbol pengakuan, pemerintah pusat juga mengapresiasi capaian ini dengan insentif fiskal. Untuk kategori yang diraih Banjarbaru, pemerintah pusat mengalokasikan Rp3 miliar bagi peringkat pertama sebagai stimulus, agar capaian terus ditingkatkan melalui program yang semakin berdampak.

Keberhasilan Banjarbaru bukan hasil instan. Ini lahir dari orkestrasi kerja panjang yang sistematis dan kolaboratif. Penanganan stunting, misalnya, diperkuat melalui Pra Musrenbang Tematik Stunting 2026 yang melibatkan 86 pemangku kepentingan lintas sektor mulai dari SKPD, camat, lurah, kepala puskesmas, hingga kader Posyandu dan Forum RT/RW.

Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi strategis untuk menyelaraskan data dan merumuskan intervensi yang lebih presisi. Pendekatan ini menegaskan bahwa stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan persoalan multidimensi yang harus ditangani secara terpadu.

Salah satu inovasi kunci adalah program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Program ini menggerakkan para pemangku kepentingan menjadi orang tua asuh bagi anak-anak berisiko, memastikan intervensi gizi berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.

Konsistensi pada pemenuhan gizi, perbaikan sanitasi, serta keterbukaan data lapangan menjadi fondasi kuat percepatan penurunan stunting di Banjarbaru.

Pendekatan serupa juga diterapkan dalam penanggulangan kemiskinan, dengan memastikan program benar-benar menjangkau kelompok paling rentan.

Wali Kota Lisa menegaskan, capaian ini adalah milik bersama.

“Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Banjarbaru. Kami akan terus bekerja memastikan setiap anak tumbuh sehat dan setiap keluarga merasakan peningkatan kesejahteraan. Ini bukan akhir, melainkan penguat komitmen kami untuk menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Capaian ini menjadi penanda bahwa kerja berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi yang terukur bukan sekadar jargon melainkan kunci nyata dalam menghadirkan perubahan. Banjarbaru telah membuktikannya. (MedCenBjb-RIW/APR)

Exit mobile version