PWNU Kalsel Gelar Salat Hajat Demi Keberkahan Banua

Banjar – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah serta Badan Otonom dan Lembaga di lingkungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan, melaksanakan salat hajat dan haul tokoh-tokoh NU, di Masjid Assuada Syekh Abdul Qadir Hasan, Komplek Perguruan NU Kalsel, Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (21/10) malam.

Ketua PWNU Kalsel, Muhammad Tambrin mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi NU menguatkan akar dan menjaga keutuhan negeri, dalam doa yang dipanjatkan pada kegiatan salat hajat setelah salat maghrib, yang dilanjutkan dengan haul tokoh tokoh NU.

Ket foto : Ketua PWNU Kalsel Muhammad Tambrin

“Alhamdulillah malam ini kita bersama-sama melaksanakan salat magrib, hajat, serta haul tokoh-tokoh NU,” ungkap Tambrin.

Harapannya, dengan salat hajat, maka Kalsel dan Indonesia dilimpahkan kebaikan dan keberkahan.

“Sedangkan haul khusus untuk para kiai NU yang telah wafat, semoga para almarhum mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan di alam kubur,” ucap Tambrin.

Pada kesempatan tersebut, Tambrin juga mengajak seluruh ulama dan santri untuk terus berdoa, agar hujan segera turun.

“Kita selalu berdoa semoga kemarau panjang ini segera berakhir, sebab kita juga sudah melaksanakan salat istisqa serta kegiatan zikir bersama. Kita sudah melaksanakan semua itu tapi hanya Allah yang menentukan,” ujar Tambrin.

Sementara itu, Sekretaris PWNU Kalsel Samsul Rani mengatakan, Hari Santri merujuk pada peristiwa bersejarah pencetus Resolusi Jihad oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan santri dan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Sehingga PWNU Kalsel melaksanakan salat hajat untuk mengenang jasa jasa perjuangan para muassis, pendiri, ulama dan pimpinan NU di Banua,” ucap Samsul Rani.

Di Kalsel, lanjutnya, tradisi NU memiliki sejarah yang sangat kuat dan erat kaitannya dengan para ulama kharismatik.

Seperti diketahui, beberapa tokoh NU dari Kalsel, diantaranya KH Abdul Qadir Hasan, Syekh Kasyful Anwar, Idham Chalid, Muhammad Abdul Ghani, KH Muhammad Sya’rani Arif, serta KH Badruddin. (SRI/RIW/EPS)

Exit mobile version