350 Pelaku Usaha Dikerahkan, Penanganan Karhutla Syarkawi Ditargetkan Sepekan

Banjar – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, diperkuat melalui pengerahan sekitar 350 pelaku usaha.

Penanganan difokuskan pada lahan pertanian pascapanen dan kawasan gambut, dengan target pengerjaan selama satu pekan.

Upaya tersebut ditandai dengan apel pembagian tugas penanganan karhutla yang dipimpin Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, Minggu (11/10).

Wamenko Pangan (dua kanan) memantau luasan lahan karhutla di Jalan Gubernur Syarkawi melalui pengamatan drone

Pemerintah melibatkan unsur terkait dan dunia usaha untuk mempercepat penanganan di kawasan yang menjadi salah satu prioritas tersebut.

Hanif mengatakan, keterlibatan dunia usaha diperlukan karena penanganan karhutla tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Sekitar 350 pelaku usaha dikerahkan untuk mendukung upaya di lapangan melalui penyediaan personel maupun peralatan.

“Pemerintah tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Karena itu, kita menggerakkan dunia usaha untuk bersama – sama melakukan penguatan penanggulangan karhutla,” ujarnya.

Penanganan dilakukan dengan dua pendekatan sesuai karakteristik lahan. Pada lahan pertanian yang menyisakan residu atau gagal panen, dilakukan pembalikan tanah agar sisa tanaman tertanam dan tidak dibakar.

Sementara di kawasan gambut seluas sekitar 1.650 hektare, upaya difokuskan pada pembasahan melalui penggenangan.

Pemerintah juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengalirkan air dari Sungai Martapura, untuk mendukung pembasahan kawasan gambut.

Selain itu, sebanyak 15 unit mobil tangki air dari Korem 101/Antasari dan 30 unit dari pihak swasta disiapkan untuk mendukung penanganan. Hampir 50 unit alat pembalik tanah juga dikerahkan.

Komandan Korem 101/Antasari, Brigjen TNI Ilham Yunus mengatakan, pemantauan titik api turut diperkuat menggunakan pesawat tanpa awak atau drone. Pemantauan ini terutama menyasar potensi kebakaran yang muncul pada malam hari.

“Dengan drone, kita bisa memantau titik-titik yang berpotensi terjadi kebakaran, termasuk pada malam hari. Kawasan gambut juga menjadi perhatian karena pembasahan diperlukan untuk mengurangi asap,” katanya.

Menurut Ilham, asap karhutla telah berdampak pada aktivitas penerbangan. Karena itu, pembasahan gambut menjadi salah satu langkah penting untuk menekan potensi munculnya asap yang mengganggu jarak pandang.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, menyebut kawasan Jalan Gubernur Syarkawi menjadi prioritas penanganan saat ini.

Personel dan peralatan akan difokuskan terlebih dahulu di wilayah tersebut sebelum dialihkan ke titik lain.

“Untuk sementara, kita fokus di Jalan Syarkawi. Kalau dalam satu minggu penanganannya berjalan baik, personel dan peralatan bisa kita geser ke lokasi lain yang membutuhkan,” ujarnya. (SYA/RIW/EPS)

Exit mobile version