Belum Tetapkan Status Siaga, BPBD Banjarbaru Perketat Pengawasan Wilayah Rawan Karhutla

Banjarbaru – Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru terus meningkatkan kewaspadaan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hingga awal Juli 2026, tercatat 19 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 29,2 hektare.

Meski demikian, Pemerintah Kota Banjarbaru masih belum menetapkan status siaga darurat karhutla. Keputusan tersebut masih menunggu hasil evaluasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan serta prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Plt. Kepala BPBD Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie mengatakan, penetapan status siaga darurat akan dilakukan berdasarkan perkembangan situasi di lapangan dan rekomendasi BMKG.

“Status siaga darurat karhutla di Kota Banjarbaru saat ini memang belum ditetapkan. Keputusan itu akan diambil setelah dilakukan evaluasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan melihat perkembangan kondisi di lapangan serta mempertimbangkan informasi dan prakiraan cuaca dari BMKG,” kata Zaini.

Plt. Kepala BPBD Banjarbaru, Zaini Syahranie

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kota Banjarbaru, hingga saat ini terdeteksi tiga titik panas (hotspot).

Sementara itu, jumlah kejadian karhutla mencapai 19 kasus dengan luas lahan terdampak sekitar 29,2 hektare.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD Banjarbaru memprioritaskan pemantauan di sejumlah kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, seperti kawasan hutan di sekitar Bandara Syamsudin Noor, Kecamatan Cempaka, Kecamatan Landasan Ulin, dan Kecamatan Liang Anggang yang didominasi lahan gambut.

Zaini menjelaskan, kondisi lahan gambut yang mulai mengering menjadi perhatian khusus karena berpotensi memicu kebakaran lebih cepat.

“Kami memfokuskan pengawasan di kawasan sekitar bandara, Kecamatan Cempaka, Landasan Ulin, dan Liang Anggang karena wilayah tersebut didominasi lahan gambut. Petugas di lapangan juga melakukan pemantauan setiap hari, termasuk memonitor kondisi muka air yang mulai mengalami penurunan,” ujarnya.

Terkait penyebab kebakaran, Zaini mengungkapkan sebagian besar kasus masih belum dapat dipastikan karena petugas tidak menemukan pelaku saat kejadian berlangsung.

Namun, BPBD mencatat sedikitnya dua kejadian kebakaran di kawasan sekitar bandara dipastikan dipicu oleh aktivitas manusia.

Karena itu, BPBD Kota Banjarbaru terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Selain sosialisasi, pemantauan di wilayah rawan juga terus diperkuat agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jika menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin sehingga kebakaran tidak meluas,” tutupnya. (BDR/RIW/APR)

Exit mobile version