Banjarbaru – Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan menutup Program Rehabilitasi Sosial Penerima Manfaat Anak, Klien, dan Remaja Angkatan IX di Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSAR) Mulia Satria, Banjarbaru, Kamis (25/6).
Sebanyak 77 penerima manfaat dinyatakan menyelesaikan program rehabilitasi sosial yang telah dijalankan selama enam bulan. Rinciannya, 67 klien remaja dan 10 klien anak yang masih berstatus sekolah.
Sekretaris Dinas Sosial Kalsel, Wildan Akhyar mengatakan, program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membekali anak dan remaja agar memiliki keterampilan serta kesiapan kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Programnya berlangsung enam bulan. Harapannya setelah kembali ke masyarakat, mereka bisa memanfaatkan pelatihan yang diperoleh untuk menambah kompetensi, pengalaman, dan pengetahuan, serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan program rehabilitasi sosial tidak hanya berfokus pada pembinaan di dalam panti, tetapi juga pada proses reintegrasi sosial agar para penerima manfaat dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri.
Sementara itu, Kepala PPRSAR Mulia Satria Kalsel, Sacik Kartikowati berharap, ilmu yang diperoleh para klien selama mengikuti program, menjadi bekal utama saat kembali ke daerah asal masing – masing.
“Harapannya apa yang sudah kami ajarkan di sini bisa menjadi modal mereka untuk kembali ke kampung halaman, supaya mereka bisa mandiri dan menerapkan ilmu keterampilan, sosial, maupun agama yang sudah diberikan selama enam bulan,” katanya.
Ia menjelaskan, pendampingan tidak berhenti setelah masa rehabilitasi berakhir. Pihak panti tetap melakukan pembinaan lanjutan dengan memantau perkembangan para alumni di daerah asal mereka.
“Tidak kami lepas begitu saja. Kami tetap melakukan pembinaan lanjut ke kabupaten/kota asal mereka untuk melihat perkembangan dan membantu jika ada kendala dalam penerapan keterampilan yang sudah diperoleh,” jelasnya.
Selain itu, seluruh lulusan juga menerima bantuan usaha ekonomi produktif (UEP) sebagai modal awal untuk memulai kemandirian ekonomi. Bantuan tersebut disesuaikan dengan keterampilan masing-masing penerima manfaat.
“Jika mereka mengambil keterampilan komputer, maka dibantu laptop dan printer. Kalau menjahit, ada mesin jahit dan mesin obras. Semuanya disesuaikan dengan jurusan pelatihan yang diambil,” tambahnya. (SYA/RIW/EPS)

