Kunjungan Wisata Geopark Meratus Menurun, Status UNESCO dan Agenda Internasional Jadi Harapan Pemulihan

Banjarbaru – Kunjungan wisata ke kawasan Geopark Meratus pada awal tahun 2026 mengalami penurunan, seiring tren lesunya sektor pariwisata di Kalimantan Selatan pada triwulan pertama. Meski demikian, peluang pemulihan dinilai terbuka melalui penguatan agenda pariwisata dan eksposur internasional.

Wakil Sekretaris Badan Pengelola Geopark Meratus, Theodorik Rizal Manik mengungkapkan, penurunan tersebut tercermin dari data tingkat hunian kamar hotel yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“Pada Desember 2025 tingkat hunian kamar mencapai 59,80 persen, namun turun menjadi 49 persen di Januari dan kembali turun ke 44 persen pada Februari,” ujarnya di Banjarbaru, Rabu (29/4).

Wakil Sekretaris Badan Pengelola Geopark Meratus, Theodorik Rizal Manik

Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi minimnya agenda wisata dan kegiatan berskala besar di awal tahun. Berbeda dengan akhir tahun, yang biasanya didorong berbagai event, termasuk kegiatan keagamaan seperti Haul Sekumpul yang berdampak signifikan terhadap pergerakan wisatawan.

“Di awal tahun memang belum banyak event, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ini berpengaruh langsung terhadap kunjungan wisata,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya optimis, kondisi tersebut bersifat sementara. Sejumlah agenda pariwisata yang akan digelar dalam waktu dekat diharapkan mampu mendorong kembali minat kunjungan wisatawan ke Kalimantan Selatan, termasuk kawasan Geopark Meratus.

Selain mengandalkan event, status Geopark Meratus sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark, juga dinilai menjadi kekuatan utama dalam menarik perhatian wisatawan, khususnya dari mancanegara.

“Status UNESCO memberikan eksposur yang besar. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan kunjungan, tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga internasional,” katanya.

Ia menegaskan, Geopark Meratus tidak hanya menawarkan destinasi wisata, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang mengintegrasikan aspek geologi, keanekaragaman hayati, budaya, serta penelitian ilmiah.

“Geopark ini tidak semata pariwisata. Di dalamnya ada edukasi, penelitian, dan pelestarian lingkungan yang menjadi satu kesatuan,” tambahnya.

Dalam waktu dekat, Geopark Meratus juga dijadwalkan menerima kunjungan tim peneliti dari Prancis yang dipimpin seorang ahli geologi. Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkuat aspek penelitian, tetapi juga memberikan dampak promosi bagi kawasan tersebut di tingkat global.

“Harapannya, kunjungan ini bisa membantu memperkenalkan Geopark Meratus ke dunia internasional sekaligus mendukung pemulihan sektor pariwisata,” pungkasnya. (SYA/RIW/APR)

Exit mobile version