Banjar – Grand final Festival Bacatuk Dauh 2026 berlangsung meriah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha, Martapura, Rabu (4/3) malam. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) ini, menjadi puncak rangkaian festival yang telah memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan.
Grand final secara resmi dibuka Wakil Bupati Banjar, Said Idrus Al Habsyi. Ia berharap festival ini terus berkembang dan mampu menjangkau skala yang lebih luas.
“Mudah-mudahan siapa yang menang itulah yang terbaik. Ke depan semoga bisa ditingkatkan lagi skalanya sampai tingkat provinsi,” ujarnya.
Menurutnya, festival ini juga menjadi momentum penting untuk mengenalkan kembali tradisi Bacatuk Dauh kepada generasi muda, agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Mudah-mudahan dengan adanya festival ini, generasi muda lebih tahu lagi apa itu Bacatuk Dauh. Jangan sampai ditinggalkan, karena ini budaya kita dulu,” tambahnya.
Sebelumnya, sebanyak 21 grup mengikuti babak penyisihan yang digelar pada 10 hingga 12 Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sembilan grup terbaik berhasil melaju ke babak grand final untuk memperebutkan Piala Bergilir Bupati Banjar, piagam penghargaan, serta uang pembinaan.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Banjar, Irwan Jaya menyebut, kualitas peserta tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan dengan tahun kemarin, Alhamdulillah poin – poinnya meningkat. Banyak peningkatan dari segi penampilan, kostum, sampai kekompakan. Penilaian dewan juri benar-benar objektif,” katanya.
Ia juga menilai munculnya grup generasi muda dalam festival tahun ini menjadi hal positif, bagi keberlanjutan tradisi Bacatuk Dauh.
“Alhamdulillah tahun ini ada generasi muda yang menjadi pelestari. Itu menjadi nilai lebih dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya juga membuka peluang perluasan cakupan peserta agar gaung Festival Bacatuk Dauh semakin besar.
“Insya Allah nanti akan kami sampaikan kepada pimpinan, mudah – mudahan lingkupnya bisa diperluas. Minimal Banjarbakula, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu juri yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Banjar, Muhammad Syahid mengatakan, persaingan pada babak final berlangsung sangat ketat.
“Empat grup sebetulnya hanya berselisih satu poin. Itu menunjukkan persaingan yang sangat ketat karena mereka sama-sama berlatih keras,” jelasnya.
Setelah melalui penilaian dewan juri, Grup Tarbiatul Aulad berhasil keluar sebagai juara Festival Bacatuk Dauh 2026, unggul tipis dari Grup Al Munir yang merupakan juara tahun sebelumnya.
Koordinator Grup Tarbiatul Aulad, Raden, mengaku kemenangan tersebut menjadi hasil dari perjuangan panjang timnya.
“Perjuangan bertahun – tahun. Sekitar lima tahun mengikuti tapi tidak masuk final. Akhirnya tahun ini masuk final dan langsung juara satu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemenangan ini menjadi kebanggaan bagi kampung mereka.
“Pastinya senang. Marwah kampung juga naik, khususnya Desa Mekar,” katanya. (SYA/RIW/EPS)

