BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Langkah ini ditempuh untuk menekan curah hujan tinggi, sekaligus meminimalisir potensi banjir yang hingga kini masih mengancam beberapa daerah.
Direktur Kedaruratan BNPB, Agus Riyanto menyampaikan, bahwa Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan dengan penyemaian awan menggunakan pesawat khusus.
Upaya ini diarahkan agar potensi hujan dapat dialihkan ke wilayah perairan atau laut, sehingga mengurangi intensitas hujan di kawasan daratan yang rawan banjir.
“Dalam satu kali penerbangan, tim menaburkan sekitar satu ton garam sebagai bahan modifikasi cuaca. Pelaksanaan OMC tahap awal direncanakan berlangsung selama lima hari dengan evaluasi setiap hari untuk menentukan kelanjutan operasi berikutnya,” ungkap Agus, baru – baru ini.
Selain OMC, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga terus meningkatkan kewaspadaan.
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi menyampaikan, bahwa BPBD saat ini mengintensifkan pemantauan kondisi cuaca dan tinggi muka air di seluruh wilayah, yang dinilai rawan banjir.
Menurut Bambang, pemantauan dilakukan melalui pos-pos siaga banjir di berbagai kabupaten dan kota, terutama di daerah bantaran sungai serta kawasan dataran rendah yang berpotensi tergenang.
“Petugas secara berkala melaporkan perubahan tinggi muka air, curah hujan, serta potensi ancaman bencana untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan” ungkap Bambang.
Data yang dihimpun dari pemantauan tersebut, menjadi rujukan dalam menentukan langkah kesiapsiagaan, termasuk penyampaian peringatan dini kepada masyarakat, persiapan lokasi pengungsian, serta pendistribusian logistik darurat. Dengan demikian, keputusan penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Bambang menegaskan, bahwa Operasi Modifikasi Cuaca bukan satu-satunya solusi dalam penanganan banjir, upaya tersebut dikombinasikan dengan berbagai langkah lain seperti normalisasi sungai, pemeliharaan drainase, kesiapsiagaan petugas, serta koordinasi lintas instansi.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan segera melapor kepada aparat setempat apabila terjadi kenaikan tinggi air secara tiba-tiba,” tutup Bambang.
Melalui pelaksanaan OMC dan penguatan pemantauan cuaca, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap risiko banjir dapat ditekan sekecil mungkin, sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan normal dan dampak kerugian akibat bencana dapat diminimalisir. (BPBDKALSEL-MRF/RIW/RH)

