BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan, menggelar seminar kegempaan bertajuk Memahami Potensi Gempa Bumi di Kalimantan Selatan, di Aula Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarbaru, Kamis (21/8).
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia sekaligus Hari Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (HMKG) ke-75.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, Daryono, Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel, Klaus Johannes Damanik, serta akademisi ULM, Sri Cahyono Wahyono.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kominfo Kalsel, Muhamad Muslim, diwakili Plt. Kepala Bidang Aptika, Tarwin Patik Mustafa, perwakilan Basarnas Kalsel, mahasiswa, hingga tamu undangan lainnya.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel, Klaus Johannes Damanik, menuturkan, bahwa seminar ini bertujuan memberikan pemahaman lebih mendalam kepada masyarakat mengenai potensi gempa bumi yang mungkin terjadi di Kalimantan Selatan.
“Melalui seminar ini, kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan mahasiswa agar lebih memahami potensi gempa di Kalsel. Pemahaman ini penting agar kesiapsiagaan dapat ditingkatkan sejak dini,” ungkap Klaus.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antar pihak, khususnya dengan perguruan tinggi, untuk mendukung penelitian lanjutan terkait kegempaan.
“Selain edukasi, kami berharap adanya kolaborasi lebih erat antara BMKG, pemerintah daerah, serta akademisi untuk memperdalam riset kegempaan di Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, Daryono mengingatkan, bahwa meskipun aktivitas kegempaan di Kalimantan relatif rendah dibanding kawasan lain di Indonesia, bukan berarti wilayah ini bebas dari ancaman gempa.
“Kalimantan memang relatif lebih aman dibanding daerah lain, namun bukan berarti tidak ada potensi gempa. Terdapat sumber gempa yang bisa berpengaruh di wilayah ini, salah satunya sesar Meratus yang merupakan sesar aktif dan berpotensi memicu gempa bumi,” jelas Daryono.
Ia mengungkapkan, catatan sejarah menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan pernah mengalami beberapa kejadian gempa yang cukup signifikan. Hal ini membuktikan bahwa potensi gempa di wilayah tersebut nyata adanya.
“Sejarah mencatat, Kalimantan Selatan juga pernah diguncang gempa, sehingga masyarakat perlu menyadari bahwa ancaman itu ada. Kita tidak boleh abai,” katanya.
Lebih lanjut, Daryono menekankan pentingnya upaya mitigasi serta kesiapsiagaan masyarakat maupun pemerintah daerah untuk menghadapi potensi bencana.
“Kita tidak bisa mencegah gempa, tetapi kita bisa meminimalkan dampaknya. Oleh karena itu, edukasi, kesiapsiagaan, dan mitigasi bencana harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (BDR/RIW/RH)

