Peringati Hari Jadi ke-75, Pemprov Kalsel Sambangi Tokoh Pemimpin Terdahulu

BANJARMASIN – Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pemimpin terdahulu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Sosial, kembali menggelar kegiatan Anjangsana menjelang peringatan Hari Jadi ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan.

Salah satu kegiatan Anjangsana Pemprov Kalsel di tahun 2024

Kegiatan ini menyasar 12 tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan. Selain menjadi ajang silaturahmi, anjangsana ini juga menjadi simbol komitmen Pemprov Kalsel dalam merawat nilai – nilai kesetiakawanan dan menghargai sejarah kepemimpinan Banua.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Farhanie, melalui Kepala Seksi Kepahlawanan dan Kesetiakawanan, Yahya menyampaikan, bahwa anjangsana ini merupakan agenda rutin tahunan yang memiliki makna khusus pada tahun ini, karena bertepatan dengan Hari Jadi ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan.

“Anjangsana ini adalah wujud rasa hormat dan terima kasih pemerintah orovinsi kepada para pemimpin terdahulu. Di momentum Hari Jadi ke-75 ini, kami ingin menunjukkan bahwa jasa mereka tidak pernah dilupakan,” jelas Yahya, Jumat (8/8).

Kegiatan anjangsana akan dilakukan secara bergiliran oleh para pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Kalsel, yang bertindak sebagai perwakilan resmi pemerintah.

Dalam kunjungan tersebut, para tokoh akan menerima langsung bingkisan dan bantuan di kediaman masing – masing.

Tahun ini, kegiatan juga didukung Bank Kalsel melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), yang turut menyalurkan bantuan bersamaan dengan kunjungan.

“Kami berterima kasih kepada Bank Kalsel yang turut berpartisipasi. Sinergi ini memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian dalam kegiatan yang penuh makna ini,” tambah Yahya.

Selain penyerahan bantuan, anjangsana juga menjadi momen berharga untuk berdialog, mengenang masa pengabdian, serta mendoakan kesehatan dan kesejahteraan para tokoh yang telah berjasa bagi Kalimantan Selatan.

“Kami ingin memastikan bahwa para pemimpin terdahulu tetap merasakan perhatian dan penghargaan dari generasi sekarang. Ini adalah budaya yang harus terus kita lestarikan,” pungkasnya. (BDR/RIW/RH)

Resmi Dimulai, Festival Wisata Budaya Pasar Terapung Kembali Tampilkan Warisan Budaya Kalsel

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, resmi menggelar Festival Wisata Budaya Pasar Terapung Tahun 2025, yang dibuka Gubernur Kalsel Muhidin, diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin. Festival tahunan ini berlangsung di Siring 0 Kilometer Banjarmasin.

Kepada sejumlah wartawan, usai pembukaan Jumat (8/8) sore, Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin mengatakan, festival ini merupakan event tahunan dalam rangkaian Hari Jadi ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan. Seperti tahun – tahun sebelumnya, beragam acara meriahkan festival tahun ini.

Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin, (sasirangan biru) saat diwancara

Diantaranya Kampoeng Bandjar, Parade Kelotok Hias, Panggung Seni dan Budaya, Festival Olahraga dan Tradisonal, Permainan Rakyat, Lomba Foto dan Video, Galeri Seni dan Pusaka.

“Gelaran berlangsung selama 3 hari mulai 8 sampai 10 Agustus,” ucapnya

Festival Wisata Budaya Pasar Terapung Tahun 2025, dimeriahkan
Kampoeng Bandjar, yaitu stand-stand kabupaten kota di Kalsel, yang menampilkan ciri khas masing-masing daerah. Seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terkenal dengan kuliner Ketupat Kandangan, Kabupaten Banjar dengan Air Guci, yaitu kerajinan tangan khas Banjar, berupa sulam manik yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Kain ini dulunya hanya boleh dipakai penguasa Kerajaan Banjar, dan sekarang menjadi warisan budaya yang dilestarikan. 

“Masyarakat dapat datang langsung untuk mengetahui berbagai informasi destinasi wisata unggulan, juga kulinernya,” jelas Syarifuddin yang juga sebagai Plt Kepala Dinas Pariwisata Kalsel

Lebih lanjut Syarifuddin menambahkan, festival tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni dengan adanya stand Galeri Seni dan Pusaka. Dimana khusus Galeri Seni, ditampilkan 21 lukisan karya perupa lintas generasi.

Beberapa benda koleksi ratusan tahun yang dipamerkan

Kemudian untuk Galeri Pusaka, para
pengunjung akan disuguhi pameran pusaka berusia ratusan tahun yang sarat nilai sejarah dan makna. Koleksi yang dipamerkan, diantaranya keris berumur ratusan tahun, peninggalan masa awal pemerintahan Pangeran Suriansyah Raja Banjar pertama yang memeluk Islam.

“Ayo kunjungi Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2025, karena di panggung akan dimeriahkan Madihin, Musik Panting, tari-tarian, dan artis Pusakata serta Danar Widianto yang siap menggetarkan panggung utama,” tutupnya. (NHF/RIW/RH)

Menuju Adipura 2025, Provinsi Kalsel Diminta Serius Kelola Sampah

BANJARBARU – Penilaian Adipura adalah proses evaluasi yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memberikan penghargaan kepada kota – kota di Indonesia, yang berhasil menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan.

Program Adipura baru, tidak lagi hanya menjadi simbol kota bersih, melainkan indikator strategis tata kelola persampahan yang modern, adil, dan berkelanjutan. Penilaian tidak hanya bersandar pada estetika kota, tetapi pada 3 dimensi mendasar, yakni sistem pengelolaan sampah dan kebersihan 50 persen, anggaran dan kebijakan daerah 20 persen, serta kesiapan SDM dan infrastruktur pendukung 30 persen.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan, bahwa sebanyak 13 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan, masih masuk kategori Kota Kotor terkait kriteria penilaian Adipura 2025.

Adapun tujuan mengenai penilaian Adipura, yakni untuk mendorong kota – kota di Indonesia agar menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, kualitas udara, dan pengelolaan limbah.

“Penilaiannya benar-benar serius sesuai dengan kondisi daerah, dan beberapa waktu lalu kami sudah meluncurkan penilaian Adipura baru,” ungkap Hanif, usai menghadiri Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Karhutla, disalah satu hotel berbintang di Kota Banjarbaru, baru – baru ini.

Ia mengingatkan, agar Provinsi Kalsel serius mengelola sampah, karena hingga saat ini, nilai standar kabupaten/kota di Kalsel masih tergolong Kota Kotor.

Penilaian Adipura 2025 dilaksanakan melalui verifikasi yang memiliki kriteria-kriteria yang tidak hanya mengutamakan simbol kota bersih saja, tetapi mengedepankan tata kelola sampah yang baik.

“Pemerintah daerah di Kalsel melakukan langkah-langkah tata kelola sampah yang benar. Jika sampah yang ada di hulu tidak dikelola dengan baik, maka pemerintah daerah jangan berharap mendapatkan penghargaan Adipura 2025,” tutup Hanif. (MRF/RIW/RH)

Bedah Buku dan Workshop Book Review, Upaya Dispersip Kalsel Tingkatkan Budaya Literasi

BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan, menggelar Bedah Buku bersama Penulis Khoirul Trian, Romansaku, Boy Chandra, serta Mutia Indah, di Aula Dispersip Kalsel, Jumat (8/8). Bedah Buku dibuka Kepala Dispersip Provinsi Kalsel Sri Mawarni.

Mawar mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan, dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan.

Kepala Dispersip Kalsel Sri Mawarni

“Dispersip Kalsel mengajak kaum ibu dan anak pelajar terus meningkatkan minat baca atau literasi. Salah satunya dengan menghadirkan para penulis terkenal tanah air,” ungkapnya, kepada sejumlah wartawan.

Kegiatan bedah buku dilaksanakan selama dua hari, dari 8-9 Agustus 2025, dengan dihadiri 200 peserta dari perwakilan pelajar di Kota Banjarmasin.

Dalam kesempatan tersebut, Mawar mengatakan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan, terus meningkatkan program literasi dikalangan generasi muda.

“Dispersip Kalsel selalu memberikan dukungan kepada para pencinta buku di Banua, dengan menghadirkan buku yang sedang laris atau best seller saat ini,” ucapnya.

Sehingga, lanjut Mawar, perkembangan pengetahuan tentang buku yang baru, selalu diketahui para pencinta buku di Kalimantan Selatan.

“Saat ini buku yang terkategori best seller, yakni Ayah Arah Kemana Ya, yang bercerita mengenai keberadaan seorang ayah di dalam keluarga,” ujarnya.

Isi pada bulu tersebut, merupakan hal yang paling relevan dengan keadaan saat ini. (SRI/RIW/RH)

Exit mobile version