19 Juni 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Dispersip Kalsel Umumkan Pemenang Lomba Kompetisi Film Pendek 2024

2 min read

Peserta dan Pemenang Lomba Kompetisi Film Pendek 2024

BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan mengumumkan para pemenang kompetisi film pendek dengan tema “Literasi dan Perpustakaan” di Gedung Teater Dispersip Kalsel pada Kamis (30/5).

Nonton Bareng Film Pendek Yang Meraih Juara I Judul Dialektika Di Ujung Joran

Juara pertama diraih film pendek berjudul Dialektika di Ujung Joran karya Dapur Budaya dari kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Kemudian juara kedua diraih judul film Pelita dari Panggoeng Senie Boedaya dari Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan juara ketiga diraih judul film Aku dan Perpustakaan karya Rezer Production dari kabupaten Tabalong.

Perwakilan Dapur Budaya HSS Menerima Penghargaan dari Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani

Sementara itu untuk juara Harapan 1 diraih Mantita Studio dengan karya film berjudul Rabu Kamis. Harapan kedua diraih Kostkine Production dengan karya film berjudul Calistung dan Harapan Ketiga diraih SSA Project dengan film berjudul Buta Aksara.

Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie menyampaikan lomba film pendek ini bertujuan untuk mempromosikan perpustakaan dan minat baca di Kalsel serta meningkatkan kreativitas anak-anak muda di bidang perfilman.

Bunda Nunung (sapaan akrabnya) juga mempersilahkan anak muda untuk menggunakan Gedung Teater Dispersip Kalsel sebagai wadah untuk berkreativitas sehingga karya mereka bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

“Saat ini zamannya audio visual, melalui lomba ini kami ingin memfasilitasi mereka untuk berkreasi dalam mengembangkan minat dan bakatnya,” ucapnya.

Sementara Perwakilan Dapur Budaya HSS, Muhammad Aditya Rahmadiyadi mengaku bersyukur karya yang dibuat telah meraih hasil terbaik. Menurutnya film Dialektika di Ujung Joran banyak mengangkat isu lokal sekaligus memperkenalkan budaya yang ada di HSS.

“Kita ketahui orang Banjar suka meunjun dan mawarung yang menjadi salah satu budayanya. Nah ini kita coba angkat ke dalam film karna lebih dekat dengan penonton,” paparnya.

Dalam karya tersebut, menurut Aditya, timnya juga ingin menunjukkan bahwa literasi dan digitalisasi satu hal yang tidak dapat dipisahkan karena pentingnya teknologi dan pemanfaatan media sosial. (NRH/RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.