27 Mei 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Lakukan Imunisasi Lengkap Itu, Penting!

3 min read

Ilustrasi : bayi mendapatkan imunisasi di pusat kesehatan

BANJARBARU – Imunisasi, tentu bukan kata yang tabu di kalangan masyarakat kita saat ini. Bahkan mungkin orang-orang lebih mengenalnya lagi pasca pandemi COVID-19. Ya, imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit menular dengan pemberian vaksin. Tujuannya tentu agar terjadi imunitas (kekebalan) terhadap penyakit tersebut. Vaksin sendiri adalah jenis bakteri atau virus yang telah dilemahkan atau bahkan dimatikan untuk merangsang sistem imun dengan membentuk zat antibodi dalam tubuh. Antibodi inilah yang melindungi tubuh kita. Dengan kata lain, imunisasi adalah proses yang membuat seseorang kebal terhadap suatu penyakit melalui pemberian vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklaim, bahwa vaksinasi telah banyak mengurangi penyakit, disabilitas, kematian, dan bahkan ketidaksetaraan di seluruh dunia. Kementerian Kesehatan RI pun mendukung pemberian vaksin anak melalui program imunisasi rutin lengkap yang didalamnya terdapat pemberian imunisasi dasar dan lanjutan. Program ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

Seperti kita tahu, imunisasi diberikan dengan maksud untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat membahayakannya, sejak ia lahir. Sehingga, anak bukan saja terhindar dari penyakit, tapi juga dapat memiliki tumbuh kembang yang optimal.

Pemberian imunisasi yang digalakan Kemenkes RI, disesuaikan dengan usia anak dan kesiapan tubuhnya. Sehingga masing-masing ada waktunya. Seperti untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam, sudah seharusnya diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).

Sementara untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR). saat ia menginjak kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan (Td). Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis. Selanjutnya Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna. Untuk Imunisasi Campak diberikan agar mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella. Rubella sendiri, pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan. Selanjutnya adalah Vaksin DPT-HB-HIB, vaksin ini diberikan untuk mencegah setidaknya 6 (enam) penyakit yang kerap terjadi pada masyarakt kita. Seperti Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

Meski pada tahun 2022, Kemenkes telah mencatat cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia melampaui target diangka 90 persen, karena capaiannya berhasil berada pada angka 94,3 persen dari sebelumnya hanya 84 persen pada 2021, pemerintah tetap harus gencar menyeru pada masyarakat, agar para orang tua memberikan imunisasi kepada anak-anaknya melalui pusat-pusat layanan kesehatan yang tersebar di seluruh daerah di negeri ini. Bukan hanya di perkotaan saja, tapi juga masuk ke pelosok-pelosok desa yang mungkin masih sulit memperoleh layanan kesehatan akibat akses transportasi yang belum memadai.

Dari data Kemenes RI beberapa daerah di Indonesia, capaiannya masih kurang dari target tersebut. Termasuk Kalimantan Selatan. Tahun 2022 lalu, capaian jumlah anak yang telah diimunisasi dari data di Dinas Kesehatan setempat, hanya berada pada angka 86,4 persen, atau dengan kata lain, hanya 60.411, dari total 69.933 anak yang telah diimunisasi.

Yakin atau tidak, soal kesehatan berpengaruh besar terhadap kesejahteraan dan keberlangsungan hidup kita. Sehingga bukan tanggung jawab pemerintah saja, tapi tugas kita bersama, untuk saling bersinergi membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan imunisasi. Mengingat, saat ini masih ada saja orang tua yang berkeyakinan, bahwa imunisasi bukan hal penting untuk masa depan. Bahkan ada yang beranggapan, melakukan imunisasi malah justru memasukkan virus membahayakan ke dalam tubuh sang anak. Oleh karenanya, edukasi soal imunisasi ini sangatlah penting dilakukan.

Bila imunisasi dilakukan secara benar, maka dapat diyakini dapat menurunkan morbiditas (angka kesakitan), menurunkan mortalitas (angka kematian), terhindar dari kecacatan, dan eradikasi penyakit di suatu daerah atau negeri. Oleh karena itu, melindungi tubuh dengan imunisasi penting dilakukan saat ini.

“Ayo lindungi diri, keluarga dan masyarakat dengan imunisasi lengkap. Selamat memperingati Hari Pekan Imunisasi Dunia Tahun 2023”. (RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.