16 Juni 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Bernilai Budaya, Masjid Raya Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari Miliki Luas 11,75 Hektare

2 min read

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor saat menandatangani plakat bangunan masjid raya Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari

BANJARBARU – Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Sahbirin Noor, memulai peletakan batu pertama masjid raya Syech Muhammad Arysad Al-Banjari, disusul oleh para alim ulama, Forkopimda Kalsel serta Kepala Dinas PUPR Kalsel Ahmad Solhan, Rabu (7/12).

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor (tengah), saat melakukan peletakan batu pertama bangunan masjid raya Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, disaksikan ulama dan Forkopimda

Masjid yang terletak dikawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru ini, dibangun dilahan seluas kurang lebih 11,75 hektare dengan luas bangunan 4.650 m2 dan diperkirakan mampu menampung 3.000 jamaah.

Pembangunan masjid akan dimulai tahun 2023 mendatang. Progresnya akan disesuaikan dengan anggaran yang disiapkan.

“Kita berharap kaum muslimin dan muslimat di Kalsel mendoakan mudah-mudahan dapat selesai sesuai dengan harapan kita bersama,” pesan Sahbirin.

Masjid yang menggunakan ulama tersohor “Datu Kalampayan” ini diakui Sahbirin, atas dasar kesepakatan para ulama Banua.

“Semoga masjid ini monumental, kalau di Banjarmasin ada masjid raya yang dinamakan dengan kitab karangan beliau yakni Sabilal Muhtadin, dan disini atas kesepahaman para ulama dan habaib kita namakan masjid raya Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari,” ungkapnya.

Dilengkapi dengan kolam hampir separuh luas lahan, Kepala Dinas PUPR Kalsel, Ahmad Solhan mengatakan, pembangunan masjid milik Pemprov Kalsel ini menelan biaya kurang lebih Rp 243 miliar menggunakan sistem anggaran multiyears tracking atau lebih dari 1 tahun.

Kepala Dinas PUPR Kalsel, Ahmad Solhan saat memberi keterangan kepada awak media

“Ini kita bangun secara bertahap, pada tahap kedua di tahun 2023 pembayarannya kurang lebih Rp 80 miliar sementara di tahun 2024 sebesar Rp 41 miliar,” bebernya.

Solhan menyebut masjid ini akan berkonsep tropis agar memaksimalkan angin dan cahaya alami masuk ke dalam bangunan. Sehingga mampu memangkas penggunaan energi listrik.

Selain itu Solhan mengaku konsep bangunannya juga akan mengadaptasi nilai budaya dengan ciri khas yang kuat guna menjadikan semua ikon keagamaan tidak meninggalkan akar budaya.

“Pembangunan masjid akan menggunakan perpaduan Rumah Limas dengan simbol burung enggang yang bertengger di atas pohon hayat,” paparnya. (SYA/RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.