20 Juni 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Webinar Literasi Digital Tapin; Media Sosial Sebagai Wadah Demokrasi

2 min read

TAPIN – Perkembangan dunia digital saat ini tidak bisa kita pungkiri membawa dampak yang besar bagi banyak orang, rekam jejak digital adalah hal yang tak bisa hindari bagi siapapun pengguna media sosial. Maka dari itu, kita wajib meninggalkan rekam jejak digital yang positif agar tidak berdampak buruk untuk diri kita di kemudian hari.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan webinar bertema ‘Media Sosial Sebagai Wadah Demokrasi’, Jumat (3/9/2021) pukul 15.00 WITA. Acara yang dibuka oleh Bupati Tapin, Drs. H. M. Arifin Arpan, M.M ini menampilkan sejumlah pembicara kompeten.

Dalam diskusi yang dipandu oleh moderator Ronald Andretti, menghadirkan narasumber pertama yaitu Fathia Fairuza sekaligus ‘key opinion leader’ yang menyampaikan materi “Kecakapan Digital”.

Apa itu komunitas akademik?

Fathia menuturkan bahwa komunitas akademik adalah sebuah komunitas yang terdiri dari siswa yang ingin membantu dan memberi manfaat bagi sesama. Tujuannya untuk memberi dukungan kepada satu sama lain.

“Perkembangan dunia yang cepat, ditambah dengan kemajuan media, teknologi, serta peran hubungan internasional menyebabkan perkembangan globalisasi menjadi lebih cepat dan kita bertanggung jawab atas hal-hal yang akan terjadi di masa depan.” tuturnya

Kemudian ada materi dari nara sumber kedua Dosen dan pengamat sosial, Junaidy, S.Sos., M.I.Kom., M.AB yang menyampaikan materi tentang “Jari-Mu Harimau-Mu”

Apa itu internet sehat?

Junaidy menjelaskan bahwa internet sehat merupakan aktivitas manusia yang sedang melakukan kegiatan online baik browsing, chatting, sosial media, upload dan download secara tertib, baik dan beretika sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat.

Bagaimana cara berinternet sehat?

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Junaidy cara berinternet dengan sehat, antara lain;

1. Hindari situs atau forum yang menjurus ke aktifitas kejahatan;

2. Pasang aplikasi parental control bagi orang tua yang anaknya sudah mengenal dan menggunakan internet;

3. Berikan sosialisasi kepada anak sejak dini mengenai hal baik maupun buruk saat menggunakan internet;

4. Gunakan DNS yang memblok situs berbahaya seperti situs judi maupun situs dewasa;

5. Pertebal iman dan agama dalam diri pengguna internet.

Kemudian materi dilanjutkan oleh nara sumber ketiga, komika tanah air, Insan Nur Akbar yang menyampaikan materi tentang “Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik di Dunia Digital”

Jenis bahasa dalam dunia digital yang disampaikan oleh Akbar, yaitu lisan (podcast), tulisan (email), bahasa tubuh (tiktok), dan bahasa pemrograman.

Akbar yang juga seorang budayawan asal kota pahlawan Surabaya ini menjelaskan ada beberapa dampak dunia digital dalam perkembangan pemakaian bahasa, antara lain;

1. Munculnya banyak kosakata baru;

2. Kesepakatan arti pemakaian emoticon;

3. Kesepakatan arti pemakaian singkatan baru;

4. Semakin banyaknya pemakaian bahasa asing;

5. The power of #HASTAG.

Terakhir, ada materi dari narasumber Arin Swandari yang menyampaikan tentang “Menjaga Demokrasi, Menyalakan Toleransi di Media Sosial”

Arin menyampaikan hal-hal yang dapat membuat media sosial menjadi negatif, antara lain;

1. Ruang perdebatan antar-kelompok, pro dan kontra;

2. Perbedaan pendapat seolah haram;

3. Bermusuhan;

4. Merembet ke soal suku maupun agama;

5. Saling menghina, mengecam, dan melontarkan ujaran kebencian;

6. Hoax yang menjungkirkan nalar dijadikan tradisi.

Bagaimana cara membuat konten yang baik?

“Memiliki etika yang baik, tidak merasa paling benar, selalu positif, menggunakan bahasa yang sopan, saring sebelum sharing, dan berempati merupakan cara kita membuat konten yang baik di media sosial” pungkas Arin. (RILIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.