28 Mei 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Webinar Literasi Digital Barito Kuala : Berbisnis Online dan Digital Safety Saat Pandemi

2 min read

BANJARBARU – Penggunaan internet semakin tinggi di saat pandemi covid-19. Hal ini menjadi peluang besar bagi para pebisnis. Namun di sisi lain semakin tinggi juga tingkat cyberbullying di sosial media.

Terkait hal tersebut, Kemenkominfo merealisasikan visi dari Presiden Joko Widodo untuk menciptakan peta literasi digital berbentuk webinar. Acara tersebut dilaksanakan pada Jumat (16/7/2021) di Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang digelar pukul 15.00 Wita.

Acara dihadiri oleh 71 peserta via Zoom yang dipandu oleh host Reza Rahman, dibuka secara resmi oleh Hj Noormiliyani AS, Bupati Barito Kuala.

Pemateri pertama, Alexander Dimas seorang Regional Business Leader APAC of HoneyWell menyampaikan materi terkait pengetahuan dasar dalam bisnis online. Ia mengatakan saat ini 60% perdagangan online saat ini terjadi melalui platform e-commerce.

“Untuk aman menjalankan bisnis online, beberapa langkah perlu dilakukan. Pertama fokus pada tujuan, lalu pilih produk yang anda pahami, kemudian dilanjutkan membuat lapak digital, menyusun marketing, dan membangun aset,” terangnya.

“Ekosistem dalam bisnis online itu dibangun oleh pemilik usaha, pemilik online marketplace, dan seluruh masyarakat digital,” tambah Alexander.

Pemateri kedua, Nanda Candra seorang musisi dan entertainer memaparkan tentang analisis kasus cyberbullying dan menghentikannya.

“Dari penduduk Indonesia yang berjumlah 274,9 juta, 98% usia 16 – 64 tahun mempunyai gadget dan mengakses sosial media, lebih dari 15,5% pertambahan pengguna sosmed dari tahun 2020, dan penetrasi penggunaan internet di Indonesia sebesar 73,7%,” ujarnya.

Nanda membeberkan ciri-ciri cyberbullying di antaranya tidak ada kekerasan fisik, pelaku dan korban sedikit memberikan kontak fisik, dan memanfaatkan teknologi serta peralatan tertentu.

“Penghinaan, mengganggu, pencemaran nama baik, menguntit akun sosial media, peniruan, dan penyebaran foto-foto aib yang bersifat privasi itu semua termasuk jenis cyberbullying,” ucap Nanda.

Ia menjelaskan dampak dari cyberbullying itu ada beragam. Mulai menarik diri dari lingkungan sosial, perasaan dikucilkan lingkungan, gangguan kesehatan fisik dan mental, serta depresi dan keinginan bunuh diri.

“Cyberbullying ini sangat berbahaya, maka dari itu mari kita hindari bersama,” ucapnya.
Pemateri ketiga, Yansyah, seorang dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia berbagi cara mendidik anak di era digital.

“Pemberian gadget pada anak membuat waktu bermain anak tidak ada lagi, kurang sosialisasi, mengganggu kesehatan, merusak mata, kecanduan, dan merusak psikologis,” jelasnya.

Ia memberikan tips mendidik anak di era digital yaitu kuasai digital skill, digital ethics, digital safety, digital culture, tetap mengutamakan interaksi pada anak, dan dampingi anak bermain sosial media.

“Metode pendidikan yang bisa diterapkan di sekolah itu adalah komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif,” jelas Yansyah.
Pemateri terakhir, Musodikun seorang Ketua Gapoknak Wijaya Kusuma Desa Dandajaya mensosialisasikan bahwa media sosial itu juga penting untuk petani.

“Selama ini petani dan pembeli bertransaksi dan komunikasi masih konvensional, masih sedikit yang menganggap media sosial itu penting pemasaran,” ujarnya.(RILIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.