12 Juli 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Webinar Literasi Digital Banjar: Pahami Konteks Sebelum Berkomentar di Sosial Media!

3 min read

MARTAPURA – Dunia digital di era sekarang seperti dunia baru yang sangat menarik dan memberikan semua yang dicari oleh penggunanya, hal ini mengakibatkan semakin banyaknya orang menganggap bahwa berinternet salah satu cara untuk tetap bertahan terhadap arus dunia.

Bersumber dari penetrasi pengguna internet tahun 2019 – 2020 disebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 196,71 juta jiwa dari total populasi sebesar 266,91 jiwa penduduk Indonesia.

Banyaknya warganet yang beragam menimbulkan berbagai sisi negatif dan positif dari dunia maya ini.

Manfaat positif dari internet adalah laman pencarian yang memberikan  jawaban maupun data apa saja yang dibutuhkan, game online sebagai hiburan, media pembelajaran yang mudah dan terkini, dapat mengumpulkan media apapun, tempat berkomunikasi yang memudahkan tanpa harus bertemu langsung, dan menjadi wadah untuk terus mengembangkan kreatifitas.

Sedangkan dampak negative dari internet tidak kalah banyaknya yaitu ujaran kebencian, perundungan, pencurian data pribadi untuk disalahgunakan, penipuan online, perjudian, plagiasi, dan pembajakan akun pribadi.

Menghindari ketidakseimbangan dua sisi mata pisau dari internet, maka Presiden RI, Joko Widodo membuat program literasi digital berbentuk webinar untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar semakin cakap dalam dunia digital.

Hal ini mengemuka dalam seri Webinar di Kabupaten Banjar ini pada Kamis (15/7) dimulai pukul 14.00 Wita yang dipandu oleh host Aulia Mawardhika. Webinar yang bertema “Berselancar dengan Aman di Dunia Digital” dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten Banjar, H Saidi Mansyur.

Pemateri pertama, Billy Purwacaroko, seorang Founder dan CEo Renjana Inclusive Hub, memaparkan materi bertajuk ‘Menyuarakan pendapat di Dunia Digital’. Ia mengemukakan bahwa sebagai pengguna internet perlunya memiliki sifat yang terkontrol dalam mengisi kolom komentar. “Berpendapat, mengemukakan pemikiran itu kita harus aksesibel dan aman,” ujarnya.

Billy memberikan tips dalam menyuarakan pendapat di sosial media.

“Kita harus memahami konteks, jangan berekspektasi terhadap orang lain dan apresiasi semua hal yang ditemui, diksi dan emosi yang netral, mengingat kalau pendapat kita hanyalah sebuah opsi, serta cerdaslah berpendapat tanpa menyakiti orang lain,” jelasnya.

Pemateri kedua, Didi Cahya, seorang Social Media Enthusiast dan Podcaster menyampaikan tentang ‘Etika dalam Sosial Media’. Ia memaparkan bahwa saat ini netizen sudah berada di level darurat netiket. Perlu diketahui bahwa netiket adalah tata cara berperilaku di dunia maya.

“Bentuk-bentuk pelanggaran netiket yang sering terjadi adalah postingan berbau SARA, pornografi, provokatif, kebencian, dan konteks yang tidak pantas lainnya dalam bentuk media apapun. Berita hoax, plagiasi, komentar yang bernada provokatif, menyebarkan informasi yang bersifat ranah pribadi orang lain ke khalayak umum. Yang terakhir itu, mengetik menggunakan huruf kapital saat menyampaikan pendapat atau pemikiran anda!” tegasnya.

Didi memberikan 5 tips untuk menjadi netizen yang santun:

1.            Posting hal positif dan bermanfaat

2.            Cek informasi yang diterima, saring dulu sebelum sharing

3.            Lindungi privasi anda dan keluarga

4.            Hargai waktu dan bandwith orang lain, jangan nyampah di medsos orang

5.            Gunakan jalur pribadi saat berkomunikasi dengan orang lain

Pemateri ketiga, Ni Putu Verayanti, seorang Public Speaker, Dosen, Pengusaha, Founder dan CEO @publicspeakingbali membagikan tips positif, aman, dan kreatif di dunia internet.

“Ada 5P yang harus diingat, yaitu positif konten, password yang kuat, pengaturan privasi, pelaporan konten negatif, dan posting = permanen,” ucapnya.

Pemateri terakhir, Juni Arfiandy, Direktur Litbang dan Kreatif Kanalkalimantan.com yang mengungkapkan mengenai jurnalisme warga. Ia memberikan informasi mengenai karakteristik jurnalisme warga.

“Jurnalisme warga punya nilai jurnalistrik, seringkali viral tanpa tahu orang yang menggunggahnya, tidak sesuai dengan etika jurnalistik, tidak sesuai dengan standar jurnalistik, dan bisa menimbulkan polemik terkait hak cipta,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Juni jurnalisme warga harus menguasai ilmu jurnalistik dasar, yaitu :

1. Pengertian berita

2. Nilai berita

3. Unsur berita (5W+1H)

4. Struktur naskah berita

5. Bahasa jurnalistik

6. Kode etik jurnalistik

Selain itu, Juni juga memaparkan tentang prinsip dasar jurnalistik.

“Beritanya harus akurat, menulisnya dengan cermat, transparansi, jujur, dan tidak berpihak pada pihak manapun,” ujarnya. (ADV-RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.