19 April 2024

LPPL Radio Abdi Persada 104,7 FM

Bergerak Untuk Banua

Webinar Literasi Digital Banjar : Mempersiapkan Generasi Penerus dengan Literasi Digital

4 min read

BANJAR – Literasi digital menjadi hal penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas. Kemampuan dalam mengolah informasi dan menyampaikannya melalui teknologi digital menjadi syarat penting kesiapan kerja maupun berusaha di masa modern ini.

Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten atau informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal.

Dalam webinar literasi digital Kabupaten Banjar yang dilaksanakan Kamis (1/7) dengan mengusung tema “Mempersiapkan Generasi Penerus Dengan Literasi Digital”, beberapa narasumber mengupas tema tersebut dengan gamblang.

Diana Aziz, anggota Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) membahas tentang Mengenalkan Budaya Indonesia Melalui Literasi Digital. Ia mengarakan, bahwa dalam bermedia sosial yang baik dan benar adalah dengan etika dan harus sesuai fakta.

Ia berpendapat bahwa kekayaan Indonesia menjadi salah satu modal berharga bagi warganet untuk berkreasi di media digital. Banyak topik atau tema budaya yang dapat diangkat dan dituangkan menjadi konten kreasi yang menarik sekaligus untuk mengenalkan budaya bangsa ke publik.

“Mengenalkan budaya Nusantara di era digital dapat dilakukan dengan kemasan teknologi modern yang dikemas lewat media digital akan mengubah citra serta pandangan terhadap budaya itu sendiri,” ucap Diana.

Selain itu dia juga menyampaikan bahwa diera digital ini banyak masyarakat terutama Indonesia yang kurang sadar akan fakta dan gampang percaya dengan berita Hoax dan tumbuh subur terutama di masyarakat luas. Selain itu menurutnya masyarakat yang rukun dan saling pengertian akan membuat berita bohong atau hoaks tidak akan mudah beredar.

Ditengah masa pandemi Covid-19, kata Diana, media sosial harusnya diisi dengan konten yang menyejukkan, meneduhkan, dan mendamaikan.

“Sangat fatal jika medsos justru digunakan untuk menyebar hoaks, provokasi, kebencian, dan memecah belah masyarakat,” katanya.

Ia juga berpesan agar pengguna internet terutama generasi muda saat ini tetap harus saring sebelum sharing. Hal itu agar tidak terjadi lagi penyebaran berita bohong yang merugikan banyak orang.

“Gunakanlah internet dengan bijak, agar hasil yang didapat juga positif dan yang pasti sesuai dengan faktanya,” tambahnya.

Penting kiranya literasi digital ini bisa mengenalkan warisan budaya Indonesia kepada generasi yang ada saat ini, dari pada menyebarkan berita bohong atau hoax yang dapat merugikan diri sendiri. Lebih baik melakukan hal positif yaitu mengenali budaya Indonesia melalui literasi digital.

Narasumber kedua, M. Fazri merupakan seorang Advokat di Kalimantan Selatan menyampaikan tema bebas namun terbatas berekpresi di media sosial.

Ia mengatakan kebebasan berekspresi dan berpendapat di Indonesia yang diiringi dengan akses media informasi dan komunikasi via internet dan sosial media membuat suatu perubahan komunikasi antar masyarakat.

“Menurut data yang saya kutip dari Kominfo, pertahun 2020 ini pengguna internet di Indonesia sekitar 175,5 jiwa atau dengan presentase 65,3 persen dari jumlah keseluruhan penduduk yang ada di Indonesia,” ujar Fazri.

Banyaknya masyarakat Indonesia yang menjadi pengguna media sosial dan internet mengakibatkan adanya suatu pergeseran fungsi dan dari masyarakat internet atau netizen itu sendiri.

Dalam hal ini ia juga menyampaikan masyarakat seolah bebas dalam merepresentasikan dan mengkontrusikan dirinya sendiri di internet dan media sosial.

“Fenomena kebebasan ini dalam produksi dan pendistribusian informasi dalam internet dan media sosial menyebabkan konten informasi yang tersebar tidak dapat dikendalikan dan seolah tidak ada batasan yang mengatur,” ujar Fazri.

Maka dari itu ia menyampaikan perlunya etika dalam bermedia sosial dan mengerti batasan-batasannya supaya tidak merugikan diri sendiri karena jejak digital akan selalu ada di internet apalagi sampai terpidana dan pernah dipost dimedia online. Maka sampai kapanpun jejak digital tersebut akan selalu ada.

Narasumber ketiga yaitu Ni Putu Dwi Verayanti Utami S.S., M.Hum CSP merupakan seorang Professional Public Speaker, Lecturer, Enterprenuer Founder And CEO of @publicspeakingbali yang membahas tentang cara berinteraksi dan berkolaborasi sesuai etika.

Dalam webinar tersebut ia menjelaskan tentang pengguna internet di Indonesia sekarang mencapai 202,6 Juta jiwa dari total populasi sekitar 274,9 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2021 dan dengan total 73,7 persen penggunanya.

“Dilihat dari frekuensi penggunaan bulanan, urutan pertama aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia ternyata ditempati oleh YouTube, disusul oleh WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter secara berturut-turut,” ujar Ni Putu.

Dia juga menyampaikan bahwa jika dilihat dari total durasi pengguanaan masing-masing media sosial, jejaring-jejaring dari Facebook duduk di urutan tiga besar, mereka adalah WhatsApp di mana pengguna media sosial Indonesia rata-rata menghabiskan 30,8 jam per bulan, kemudian Facebook dengan 17 jam per bulan, dan Instagram dengan 17 jam per bulan.

Dari data tersebut menurutnya, tidak semua yang dimedia sosial berdampak positif dan juga banyak dampak negatifnya terutama kejahatan di media sosial semakin meningkat dengan antusiasnya masyarakat terhadapa penggunaan media sosial saat ini semakin banyak pula hal negatif lainnya.

Beberapa kasus negatif yang sering ditemui dimedia sosial yang mengakibatkan sisi negatif terhadap penggunanya dan merugikan dirinya sendiri seperti; Penindasan Dunia Maya (cyberbullying), Peretasan (hacking) dan Penipuan, Kecanduan, Masalah Keamanan, Media Sosial Menyebabkan Kematian, Menggunakan Narkoba dan Alkohol, Berita Hoax dan Pornografi. (ADV-RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Abdi Persada | Newsphere by AF themes.