6 Desember 2021

Pengembalian Lahan Kritis di Kalsel Diprediksi Sekurang-Kurangnya 10 Tahun

2 min read

Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA saat memberikan sambutan dalam Rakorwasinkeubang

BANJARBARU – Pemprov Kalsel masih membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 10 tahun untuk mengembalikan lahan kritis menjadi lahan hijau di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.

Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA saat usai membuka secara resmi rakor Rakorwasinkeubang, Kamis (20/5) siang.

Terlebih, Kalimantan Selatan mendapat kepercayaan untuk menutup lahan kritis sekitar 500 ribu hektar. Dalam gerakan revolusi hijau, setiap tahunnya Pemprov Kalsel juga mampu mereboisasi 50 ribu hektar.

Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA saat menerima cenderamata dari Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah, Dadang Kurnia.

Dalam kesempatan itu, Penjabat (Pj) Gubernur Kalsel, Safrizal ZA mengatakan, selain pelaksanaan rapat koordinasi bersama dengan kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Evaluasi terkait strategi pengawasan dalam penanggulangan lahan kritis dan Karhutla di provinsi ini juga menjadi pembahasan penting.

“Ini merupakan inisiasi oleh Inspektorat Kalsel bersama dengan BPKP Perwakilan Kalsel, selain strategi juga mengevaluasi,” ungkap Safrizal, usai membuka secara resmi kegiatan rapat koordinasi Pengawasan Intern Keuangan dan Pembangunan (Rakorwasinkeubang), di Gedung Idham Chalid, Kamis (20/5) siang.

Dia menjelaskan, dalam menanggulangi permasalahan ini, secara regular penanganan lahan kritis di Kalimantan Selatan setidaknya telah bisa dilakukan reboisasi atau penghijauan kembali setiap tahunnya sebanyak 50 ribu hektar.

“Pertama adalah mengevaluasi strategi yakni menyelesaikan lahan kritis dimana kita punya target untuk penutupan lahan sekitar 500 ribu hektar,” ujarnya.

Safrizal menilai, apabila penutupan lahan kritis dilaksanakan dalam kurun waktu 1 tahun dengan target realisasi sebanyak 50 ribu hektar. Maka, penyelesaiannya pun bakal diprediksikan sekurang-kurangnya adalah 10 tahun.

“Artinya kalau ini diperhitungkan, sekurang-kurangnya baru siap 10 tahun dan hal itu tentu lama,” ucapnya.

Oleh karenanya, Ia berharap dengan adanya evaluasi tersebut dapat menjadi bahan serta catatan penting bagi setiap stakeholder di pemerintahan dalam menangani penyelesaian lahan kritis di wilayah Kalimantan Selatan.

“Dengan adanya evaluasi ini, strateginya pun dapat lebih diperkuat lagi gerakannya. Sehingga, diharapkan tidak 10 tahun kita mampu menanggulangi lahan kritis di Kalsel dan angka tutupanya akan jadi lebih baik,” harapnya.

Menyikapi Karhutla secara terpisah, Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA menyebutkan, bahwa evaluasi terhadap penanganan ini juga sangat dianggap penting. Terlebih bagi stakeholder pemerintahan di tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

“Kedua, kita juga menilai dalam penanganan dan pencegahan Karhutla, dan ini juga dievaluasi baik dari personil, peralatan hingga SOPnya,” paparnya.

Safrizal mengemukakan, apabila masih terdapat kekurangan. Secara otomatis, akan segera diperbaiki kemampuannya tentang penanganan Karhutla.

“Inilah tujuan pada kegiatan rakor yang dilaksanakan pada hari ini,” pungkasnya. (RHS/RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?