6 Desember 2021

Akhir 2020, Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Kembali Turun

2 min read

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud

BANJARBARU – Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan kembali mengalami kontraksi pada triwulan IV-2020, setelah sebelumnya sempat mengalami pertumbuhan positif pada triwulan III hingga mencapai 3,26 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel yang baru saja dirilis menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Kalsel triwulan IV-2020 dibandingkan triwulan III-2020 (q-to-q) minus 0,58 persen.

Sedangkan secara y-on-y atau perbandingan antara triwulan IV-2020 dan triwulan IV-2019 pertumbuhan ekonomi Kalsel mengalami kontraksi -2,94 persen.

Kemudian, dalam perbandingan kumulatif dari tahun sebelumnya (c-to-c) ekonomi Kalsel pada 2020 terkontraksi -1,81 persen. Berdasarkan data BPS Kalsel, angka ini menjadi yang terdalam sejak 2011.

Disampaikan Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud, ada beberapa hal yang mempengaruhi perekonomian Kalsel. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi global selama 2020 yang diprediksi mengalami pertumbuhan -3,5 persen akibat pandemi Covid-19.

“Beberapa mitra dagang Kalsel juga terdampak. Cina pada 2020 hanya tumbuh 2,3 persen, setelah 2019 mencapai 6,1 persen. Sedangkan Singapura terkontraksi -5,8 persen,” jelasnya melalui channel YouTube resmi BPS Kalsel.

Selain fenomena global, dia mengungkapkan ada beberapa catatan yang membuat perekonomian Kalsel terpuruk. Salah satunya, turunnya nilai ekspor batu bara sebagai komoditas unggulan.

“Ekspor batu bara turun sampai 29,56 persen dibandingkan 2019. Selain itu, ekspor CPO juga turun 20,22 persen,” katanya.

Di samping itu, disampaikan Edy Mahmud, berdasarkan PDRB dari sisi lapangan usaha pada triwulan IV-2020 juga ada beberapa sektor yang mengalami kontraksi. Yang paling terdalam adalah pertanian, dengan -25,92 persen. Diikuti transportasi dan pergudangan sebesar -8,37 persen.

“Lalu, perdagangan minus 7,84 persen dan industri pengolahan minus 7,26 persen,” ucapnya.

Sedangkan PDRB menurut pengeluaran, dia menyampaikan, pada triwulan IV-2020 (y-on-y) semua komponen mengalami kontraksi yang cukup dalam. Kedalaman tertinggi ialah komponen ekspor, yang mencapai -17,30 persen. Disusul impor, -14,31 persen; PMTB, -4,36 persen; konsumsi LNPRT, -4,34 persen dan konsumsi pemerintah, -1,38 persen.

“Pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) juga kontraksi sampai minus 1,03 persen, ini menunjukkan efek pandemi sangat dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya. (ASC/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?