19 Oktober 2021

Hati-Hati, Kita Bisa Jadi Pelaku Berita Hoax

2 min read

BANJARBARU – Maraknya pemberitaan yang tidak benar (hoax) di sosial media hingga membuat keresahan di masyarakat, seakan menjadi ancaman lain di tengah mewabahnya Corona virus disease (Covid-19) saat ini. Hal inilah yang menjadi pembahasan utama dalam program Dialog Persada, edisi Kamis (16/4) yang mengangkat tema “Tangkal isu hoax terkait Covid-19”.

Dalam dialog imteraktif yang berdurasi satu jam ini, Kasubbag Humas Polres Banjarbaru, AKP Siti Rohayati yang bertindak sebagai narasumber menyampaikan, sedikitnya ada 5 (lima) isu hoax terkait Covid-19 terjadi di Kota Banjarbaru, bahkan salah satunya hingga sampai kepada isu nasional.

“Tepatnya tanggal 27 Maret, ada berita di Sosmed seorang wanita tergeletak dekat Polsek Banjarbaru Kota, akibat terpapar Covid-19, sampai pihak kepolisian dan tim kesehatan datang dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap,” paparnya.

Dijelaskan Rohayati, setelah di lakukan penelusuran ke lapangan, ternyata berita tersebut tidak benar alias hoax.

“Wanita tersebut ternyata hanya mengalami gangguan kejiwaan karena permasalahan keluarga,” ungkapnya.

Dialog yang dipandu oleh Rini Maskanari melalui sambungan telpon karena penerapan Physical Distancing dan Social Distancing ini, juga di paparkan berita hoax lainnya. Sepertu pada 7 April 2020, yang menyebutkan adanya razia kepada masyarakat pengguna lalu lintas apabila tidak menggunakan masker. Kemudian juga adanya pemberitaan yang menyebutkan adanya tidak bolehnya masyarakat untuk keluar rumah secara total selama 3 hari karena adanya angin pembawa virus di 3 hari tersebut.

“Operasi intan memang ada, tapi bukan razia, hanya himbauan agar menggunakan masker, sedangkan untuk 3 hari tidak boleh keluar rumah itu, langsung kami konfirmasi kepada juru bicara pemerintah, hasilnya tidak benar,” jelasnya.

Siti juga menjelaskan ancaman bagi penyebar berita hoax ini, yakni berdasarkan undang-undang nomor 1 tahun 1946, tentang peraturan hukum pidana pasal 14 ayat 2. Ancaman hukumnya tak main-main, hingga kurungan 3 tahun penjara.

“Bunyi pasalnya adalah, barangsiapa menyiarkan berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita itu bohong. Maka ancamannya adalah kurungan 3 tahun penjara,” jelasnya.

Pasal ini ditambahkan Siti dapat berlaku bagi pembuat maupun yang penyebar.

“Makanya sebelum di bagikan (sharing), saring terlebih dahulu,” ujarnya.

Dipaparkan Siti, ada beberapa ciri berita hoax yang paling mudah di kenali, yaitu isi berita dengan iming-iming ancaman, seperti menggunakan kalimat “hati-hati” atau “bagikan”.

Kemudian bahasa yang emosional, seperti “sebarkan” atau “Viralkan”.

Menggunakan huruf kapital serta berlindung di balik kekaburan data atau sumber yang tidak jelas, ini juga menjadi ciri lainnya.

Adapun banyaknya penyebar isu hoax ini, dijelaskan Siti, karena adanya kecenderungan kebanggaan diri, karena merasa menjadi orang yang pertama kali mengetahui dan berbagi informasi. Kemudian karena adanya rasa gemar berbagi informasi namun malas untuk membaca, mencari sensasi dan tidak tahu fakta juga menjadi kecenderungan lainnya orang bisa menjadi penyebar hoax.

Di akhir dialog, tak lupa Siti mengimbau kepada masyarakat, untuk cerdas dan bijaksana dalam bermedia sosial, serta tidak perlu dianggap sebagai pihak pemberi informasi pertama, dan yang tidak kalah penting adalah saring dulu berita yang belum tentu kebenarannya dan hapus saja informasi yang tidak jelas sumbernya.

“Hati-hati jika salah bertindak, anda bisa menjadi pelaku pidana, mari saling dukung dalam situasi seperti ini, dan semoga ini segera berlalu,” pungkasnya. (ASC/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?