20 Oktober 2021

Gelar Rakornas 2020, Kemenkes Targetkan Peningkatan Penggunaan Alkes Produk Dalam Negeri

2 min read

Dirjen Farmalkes (tengah) diapit Asisten III Pemprov Kalsel (baju putih) dan Kadinkes Kalsel (sasirangan) berfoto usai membuka Rakornas Farmalkes 2020 di Banjarmasin Rabu (4/3).

BANJARMASIN – Kementrian Kesehatan melalui Direktorat Jendral Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) menggelar Rakornas tahun 2020 di Banjarmasin pada Rabu (4/3) di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin. Rakor yang diikuti seluruh Dinas Kesehatan dari wilayah Indonesia Timur ini, dibuka oleh Dirjen Farmalkes Maura Linda Sitanggang, didampingi Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor yang diwakili Asisten Bidang Administrasi Umum Pemprov Kalsel Adi Santoso, serta Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Muhammad Muslim.

Asisten III Pemprov Kalsel saat membacakan ucapan selamat datang dari Gubernur Kalsel pada Rakornas Farmalkes 2020 di Banjarmasin.

Kepada wartawan, Dirjen Farmalkes Maura Linda Sitanggang menjelaskan, bahwa Rakornas ini membahas tentang RPJMN tahun 2020-2024, khususnya pada sektor kesehatan. Salah satu yang ditekankan, adalah upaya Pemerintah untuk mengurangi penggunaan alat kesehatan impor, dan menggantinya secara bertahap hingga tahun 2024, dengan produk dalam negeri yang juga memiliki kualitas ekspor.

Para peserta Rakornas Farmalkes 2020 di Banjarnasin.

“Saat ini penggunaan produk alat kesehatan impor di Indonesia mencapai 90 persen. Karena itulah pada kegiatan Rakor ini, kita undang asosiasi dan distributor alat kesehatan untuk memperlihatkan produk andalan mereka. Ini semua produk dalam negeri, dan sudah diekspor. Negara lain saja pakai produk Indonesia, masa kita tidak. Saya harap, para pimpinan daerah, dan Kepala Dinas Kesehatan yang berhadir di sini dapat melihat langsung alat kesehatan tersebut. Apalagi tahun ini kita menargetkan, dapat mengurangi penggunaan alat kesehatan impor hingga 15 persen, dan obat impor hingga 5 persen,” jelas Maura.

Selama ini, alat-alat kesehatan yang diimpor cukup beragam, mulai dari yang harganya mahal dan berukuran besar, sampai komponen pendukung layanan kesehatan yang sederhana. Namun dari sekian banyak alat-alat kesehatan, beberapa telah diproduksi di Indonesia. Seperti alat sterilisasi portable, disposable gown, mesin anestesi, hingga jarum dan benang. Impor dilakukan karena keterbatasan bahan baku dari dalam negeri yang belum memenuhi standar mutu untuk keperluan medis.

Pemerintah kemudian menerbitkan Inpres Nomor 6 tahun 2016, dimana porsi alat-alat kesehatan di Indonesia ditargetkan 25 persen berasal dari industri dalam negeri. Target itu dipatok dapat terealisasi paling lambat tahun 2030. (RIW/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?