28 Oktober 2021

Gelar Lokakarya, Pastikan NU Harus Berani Keluar Dari Zone Nyaman

2 min read

BANJAR –  Peringatan Hari Lahir NU ke-97 hijriyah atau 94 masehi, dan menyongsong Muktamar NU ke-34 November 2020, serta perjalanan panjang NU Satu Abad 2026, PWNU Kalimantan Selatan bekerjasama dengan Universitas NU Kalsel, Kamis (20/2) menyelenggarakan “Lokakarya Regional”, bertemakan “Tantangan dan Peluang NU di Era Distription, 4.0”.

Lokakarya dilaksanakan di Gedung Dakwah NU Kalsel, di Komplek Universitas NU Kalsel, jalan Ahmad Yani KM 12, yang melibatkan 3 tokoh NU Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA (Rektor UIN Antasari, Banjarmasin), Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS (Ketua LL Dikti X Kalimantan / Fungsionaris PP ISNU), dan Badan Pengelola UNU Kalsel, HM. Syarbani Haira, M.Si.

Lokakarya dihadiri sekitar 150 peserta, terdiri dari pengurus dan aktivis NU, dosen dan civitas akademika Universitas NU Kalsel, aktivis PMII dan IPNU / IPPNU Kalsel, serta sejumlah pengurus Lembaga dan Badan otonom NU Kalsel. Point penting dari lokakarya ini adalah sebuah tantangan, keberanian NU keluar dari zone nyaman, untuk berkarya, menjalankan misi besarnya.

Mengingat topik lokakarya yang sangat menarik, semua peserta tetap di tempat hingga acara berakhir. Sejumlah peserta begitu antusias, ditambah kemampuan ketiga nara sumber yang mampu memancing peserta. Lokakarya itu sendiri dipimpin oleh Aldi Fachrisaldi Putera, Ketua BEM ULM 2018 yang kini menjadi salah satu Ketua PKC PMII Kalsel.

Prof Udiansyah, mendorong agar NU mampu mengikuti irama yang kini terus berubah. Bagi Guru Besar Fakultas Kehutanan ULM ini, tak ada pilihan lain bagi NU, selain memanfaatkan teknologi yang kini terus berkembang, dengan penekanan pada upaya peningkatan gerak usaha perekonomian. “Saya sudah melakukan di Pesantren, dengan mengembangkan ternak sapi untuk keperluan pesantren,” tegas salah satu Pengurus Pusat ISNU ini.

Pembicara lainnya, Prof Mujiburrahman juga menekankan perlunya warga NU untuk terus belajar, dan menguasai teknologi. Perubahan tak bisa dibendung. Mereka yang tak siap, dapat dipastikan akan menjadi komunitas tertinggal. Ini juga yang diajarkan oleh guru-guru di pesantren, kita harus mengikuti dinamika zaman. Tanpa harus melabrak ketentuan ajaran yang tertuang dalam falsafah Ahlussunnah wal-jamaah.

Sedang HM Syarbani Haira mengulas pengalamannya saat menjadi pengurus NU, terlebih saat menjadi Ketua PWNU Kalsel periode 2007 – 2017. Didahului tentang sejarah NU, dilanjutkan dengan uraian berbagai tantangan yang kini dihadapi NU. Jalan keluarnya menurut Syarbani, selain mengikuti dinamika zaman agar semua keluarga besar NU menguasai teknologi, juga tetap berpegang teguh pada doktrin Islam Ahlussunnah wal-jamaah yang selama ini diyakini, baik sebagai pedoman berbagama atau pedoman bermasyarakat. “Mengikuti para Kyai, para ulama, Insya Allah hidup kita selamat dunia akhirat,” tegas mantan wantawan ini.

Lokakarya sehari ini dibuka secara resmi oleh KH. Amal Fathullah, mewakili Ketua PWNU Kalsel Abdul Haris Makkie yang sedang  di luar kota. Menurutnya, lokakarya ini diharapkan, NU mendapat masukan dan ide gagasan dari banyak pihak. Untuk kepentingan NU itu sendiri di masa depan. Harapannya, ide-ide ini nantinya dipaparkan saat Muktamar NU ke-34 di Lampung, bulan November yang akan datang. (HUMNUKalsel-RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?